Kajian Masalah Matematika: Modifikasi Quantum Learning dan Metode Ekspositori untuk Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

MODIFIKASI QUANTUM LEARNING DAN METODE EKSPOSITORI UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMP

Dini Nurhadyani

 

A. Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting untuk dipelajari. Selama dan sesudah proses pembelajaran matematika, ada tiga belas kemampuan (kompetensi) matematika yang dapat dikembangkan, yaitu kemampuan pemahaman, penalaran, koneksi, investigasi, komunikasi, observasi, eksplorasi, inkuiri, konjektur, hipotesios, generalisasi, kreativitas, dan pemecahan masalah. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah diharapkan dapat memfasilitasi siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut.

Pembelajaran matematika merupakan salah satu masalah pembelajaran di Indonesia. Pada dasarnya, salah satu masalah yang dialami oleh sebagian besar guru matematika adalah rendahnya kemampuan komunikasi matematis siswa. Hal ini disebabkan oleh pandangan-pandangan negatif siswa terhadap matematika yang sering kali menghambat kemampuan komunikasi matematis mereka, sehingga partisipasi dalam pembelajaran pun sangat kurang. Padahal, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa komunikasi matematis merupakan salah satu dari kemampuan matematis siswa yang sangat penting.

Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk menumbuhkan kemampuan komunikasi matematis siswa dengan cara membentuk karakter positif pada siswa yang diharapkan dapat membuat siswa tertarik dan bersemangat dalam mempelajari matematika di kelas. Dengan demikian, partisipasi serta kemampuan komunikasi matematis siswa dalam pembelajaran akan meningkat dan siswa akan lebih mudah memahami konsep yang dipelajari.

Dalam hal ini berarti dibutuhkan sebuah pendekatan dalam pembelajaran yang dapat membangun motivasi siswa dalam pembelajaran, yaitu pendekatan Quantum Learning. Pendekatan Quantum Learning merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Quantum Learning (Susilowati, 2009) adalah pembelajaran yang mengoptimalkan belajar siswa dan motivasi berprestasi siswa. Metode yang digunakan dalam pendekatan Quantum Learning harus memperhtikan beberapa hal, seperti yang berhubungan dengan lingkungan, fisik, dan suasana.

Pendekatan Quantum Learning dapat digabungkan dengan dengan metode pembelajaran lain, salah satunya adalah dengan metode ekspositori. Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang berpusat pada guru yang mengkombinasikan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas.

Dengan diterapkannya pendekatan Quantum Learning dengan metode ekspositori, diharapkan siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan sehingga siswa dapat lebih aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, terutama dalam mengembangkan kemampuan komunikasi matematisnya.

B. Kajian Pustaka

1. Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa

Menurut Effendy (Ersah, 2007: 22), komunikasi merupakan proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media. Dalam sebuah pembelajaran, komunikasi atau interaksi antara guru dan siswa ataupun siswa dengan siswa sangatlah penting karena akan membuat pembelajaran menjadi hidup.

Berdasarkan tingkat partisipasi siswa, komunikasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu komunikasi aktif dan komunikasi pasif. Contoh dari komunikasi aktif yaitu mengemukakan pendapat, berdiskusi, mengemukakan pertanyaan, dan lain-lain. Sedangkan contoh dari komunikasi pasif adalah membaca, mendengarkan, menyimak, dan lain-lain.

Bentuk-bentuk kemampuan komunikasi dalam matematika menurut rekomendasi NCTM (Qodariyah, 2006: 21) mencakup aspek-aspek representasi dan berwawancara (Representating and Discourse), membaca (Reading), menulis (Writing), diskusi dan evaluasi (Discussing and Assesing).

Pengertian komunikasi matematis pada siswa menurut Greenes dan Schulman (Ersah, 2007), yaitu:

  1. Kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep strategi matematik.
  2. Modal keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematik.
  3. Wadah bagi siswa dalam berkomunikasi dengan temannya untuk memperoleh informasi, membagikan pikiran dan penemuan, curah pendapat, menilai dan mempertajam ide untuk meyakinkan yang lain.

Sedangkan menurut Sumarmo (Syaban, 2009), komunikasi matematis meliputi kemampuan siswa: (1) menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam idea matematika; (2) menjelaskan idea, situasi dan relasi matematik secara lisan atau tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik dan aljabar; (3) menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika; (4) mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika; (5) membaca dengan pemahaman atau presentasi matematika tertulis; (6) membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi dan generalisasi; (7) menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari.

Indikator yang menunjukkan kemampuan komunikasi matematis menurut Sumarmo (Syaban, 2009) adalah: 1) menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika; 2) menjelaskan ide, situasi dan relasi matematik, secara lisan atau tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik dan aljabar; 3) menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematik; 4) mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika; 5) membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis.

2. Pendekatan Quantum Learning

Quantum Learning (DePorter, B. & M. Hernacki, 2008: 14) berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai “suggesttology” atau “suggestopedia”. Prinsipnya adalah sugesti apapun, baik yang bersifat positif maupun negative, dapat mempengaruhi situasi belajar siswa, dan semua hal, sekecil apapun itu, dapat memberikan sugesti positif ataupun negative. Dalam proses pembelajaran di sekolah, tentu saja yang dibutuhkan adalah sugesti positif. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberikan sugesti positif pada siswa yaitu mengeset posisi tempat duduk siswa, memutar music latar di dalam kelas, memajang poster-poster yang bertuliskan kata-kata yang memotivasi siswa belajar ataupun poster-poster peta pikiran dari materi-materi yang dipelajari di sekolah, dan lain-lain. Untuk menumbuhkan sugesti positif di dalam kelas juga dibutuhkan guru-guru yang mampu dan terlatih dengan baik dalam memberikan sugesti positif.

Selain suggestology, dalam Quantum Learning juga terdapat istilah “pemercepatan belajar”, yaitu siswa memungkinkan untuk belajar dengan cepat, namun tetap dengan melakukan upaya yang normal dan disertai dengan kegembiraan. Dalam pemercepatan belajar ini terdapat beberapa unsur, seperti hiburan, warna, permainan, cara berpikir positif, kesehatan emosional, dan kebugaran fisik. Jika digabungkan, maka semua unsure tersebut dapat menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.

Quantum Learning (DePorter, B. & M. Hernacki, 2008: 14) mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik, yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Dalam program ini dilakukan penelitian mengenai hubungan antara bahasa dan perilaku. Ternyata bahasa dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang. Hasil penelitian ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran di kelas, yaitu guru harus senantiasa menggunakan bahasa-bahasa yang positif untuk merangsang tindakan-tindakan positif siswa selama pembelajaran berlangsung.

Quantum Learning menggabungkan ketiga hal di atas, yaitu suggestology, pemercepatan belajar, dan neurolinguistik. Ketiga hal tersebut tentu saja sangat mempengaruhi proses pembelajaran, serta membuat siswa belajar dengan nyaman, menyenangkan, dan efektif. Dengan demikian, siswa dapat termotivasi untuk menemukan sendiri konsep dari materi yang sedang dipelajari dan dapat mengingatnya lebih lama.

Quantum Learning (Sudrajat, 2008) ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Selain itu, Quantum Learning (Susilowati, 2009) juga merupakan pembelajaran yang mengoptimalkan belajar siswa dan motivasi berprestasi siswa. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka dapat dapat disimpulkan bahwa Quantum Learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang membiasakan siswa belajar dengan nyaman dan menyenangkan, serta menumbuhkan motivasi belajar siswa.

Asas utama yang harus dipegang oleh guru dalam melaksanakan Quantum Learning di kelas (DePorter, dkk., 1999) adalah, “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka.” Salah satu caranya adalah dengan mengaitkan materi yang diajarkan dengan peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari siswa. Dengan diterapkannya asas ini, siswa dapat mempelajari materi dengan baik, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.

Dalam Quantum Learning, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah yang berhubungan dengan lingkungan, fisik, dan suasana. Lingkungan yang diciptakan haruslah positif, aman, mendukung pembelajaran, santai, eksploratori (penjelajahan), dan menggembirakan. Hal-hal yang berhubungan dengan fisik, seperti gerakan-gerakan, permainan-permainan, dan partisipasi, harus dilaksanakan. Selain itu, suasana belajar juga harus nyaman, cukup penerangan, enak dipandang, dan ada musiknya.

Quantum Learning juga sangat memperhatikan jeda atau waktu istirahat. Memang merupakan suatu hal yang tidak baik jika seseorang terus-menerus dipaksakan untuk belajar. Ada kalanya otak juga butuh istirahat agar dapat menyerap informasi dengan baik. Oleh karena itu, dalam setiap pembelajaran, hendaknya guru selalu menyediakan waktu istirahat untuk siswa. Waktu istirahat ini dapat diisi dengan hal-hal yang dapat menyegarkan otak, misalnya minum air mineral, simulasi-simulasi, siswa berdiskusi tanpa bimbingan guru, dan lain sebagainya.

Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi kesiapan otak untuk bekerja, sehingga siswa akan lebih siap untuk menerima apa yang akan mereka pelajari di kelas. Selain itu, peta pikiran (mind mapping) yang dicetuskan oleh Tony Buzan juga dapat menjadi salah satu alternatif dalam pembelajaran Quantum Learning. Peta pikiran dibuat berdasarkan bagaimana sesungguhnya cara otak bekerja, sehingga siswa dapat lebih mudah dan cepat dalam memahami dan mengingat konsep yang telah dipelajari. Dalam proses pembelajaran juga hendaknya guru mengajar dengan melibatkan kecerdasan berganda, sehingga otak kanan dan otak kiri siswa bekerja dengan seimbang.

Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan Quantum Learning atau Kerangka Perancangan Pengajaran Quantum Teaching yang disebutkan oleh DePorter, dkk (1999: 214) adalah sebagai berikut:

Tumbuhkan : Sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan AMBAK (Apa Manfaatnya BAgi Ku).

Alami : Berikan mereka pengalaman belajar; tumbuhkan “kebutuhan untuk mengetahui”

Namai : Berikan “data”, tepat saat minat memuncak

Demonstrasikan : Berikan kesempatan bagi mereka untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru,

sehingga mereka menghayati dan membuatnya sebagai pengalaman pribadi.

Ulangi : Rekatkan gambaran keseluruhannya

Rayakan : Ingat, jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan, perayaan menambahkan belajar dengan

asosiasi positif.

Ada beberapa keunggulan dari diterapkannya Quantum Learning dalam pembelajaran di kelas, yaitu:

  1. Belajar menjadi terasa nyaman dan menyenangkan.
  2. Belajar menjadi lebih efektif, sehingga proses pembelajaran siswa bermakna .
  3. Dapat menghilangkan pandangan negative terhadap mata pelajaran yang ada di sekolah.

Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan Quantum Learning. Ada beberapa kelemahan dari diterapkannya Quantum Learning di Indonesia, yaitu:

  1. Masih banyak sekolah yang jumlah siswa dalam satu kelasnya terlalu banyak.
  2. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas atau sarana dan prasarana yang dapat menunjang pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan.
  3. Masih kurangnya kesadaran dari pihak sekolah akan pentingnya pemberian sugesti positif pada siswa.
  4. Kurang sesuai dengan kurikulum yang ada di Indonesia.

Berdasarkan kekurangan-kekurangan tersebut, solusi yang ditawarkan untuk mengatasinya adalah:

  1. Guru harus lebih kreatif lagi dalam mengelola siswa yang sedemikian banyak dalam satu kelas.
  2. Sekolah hendaknya menyediakan sarana dan prasarana yang dapat mendukung siswa dalam belajar.
  3. Diadakannya penyuluhan oleh pihak-pihak terkait mengenai pentingnya pemberian sugesti positif pada siswa.
  4. Diadakannya sekolah percobaan yang didalamnya diterapkan Quantum Learning.

3. Metode EkspositoriMetode ekspositori adalah metode ceramah yang disertai dengan ilustrasi tulisan atau gambar yang menyajikan (mengekspose, memberi penekanan) kata-kata kunci atau skema konsep dari materi yang disajikan. (Sudarti, 2008)

Menurut Depdiknas (Agisti 2009: 26), strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Dalam strategi ini, siswa tidak dituntut untuk menemukan materi, karena materi pelajaran disampaikan langsung oleh guru. Strategi ekspositori seringkali disebut strategi “chalk and talk” karena lebih menekankan kepada proses bertutur.

Strategi ekspositori adalah strategi pembelajaran yang memberikan informasi, prinsip, dan materi pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan dalam bentuk ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Strategi ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada guru (teacher centered approach). Hal ini dikarenakan dalam strategi ini guru memegang peranan penting dan dominasinya sangat besar. Melalui strategi ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai dengan baik.

Ruseffendi (Agisti, 2009: 27) menyatakan bahwa ceramah adalah suatu cara penyampaian memberikan informasi secara lisan kepada sejumlah pendengar di dalam ruangan dimana pendengar melakukan pencatatan seperlunya. Di dalam pembelajaran di kelas, pembicara adalah guru dan pendengar adalah siswa. Komunikasi yang terjadi pada umumnya hanya satu arah. Menurut Hudoyo (Agisti, 2009: 28), strategi ekspositori meliputi gabungan metode ceramah, metode tanya jawab, metode penemuan, dan metode peragaan. Selanjutnya Dimyati dan Mudjiono (Agisti, 2009: 28) menyatakan bahwa strategi ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa.

Menurut Ruseffendi (Agisti, 2009: 28), ciri-ciri ekspositori antara lain:

  1. Guru memberikan informasi hanya pada permulaan pengajaran, pada topik yang baru, pada waktu memberikan contoh-contoh soal, dsb.
  2. Setelah guru menerangkan suatu konsep, siswa bertanya, lalu guru memeriksa atau mengecek apakah siswa sudah mengerti atau belum,
  3. Setelah itu, guru memberikan contoh-contoh soal aplikasi konsep tersebut, selanjutnya meminta siswa untuk menyelesaikan soal-soal tersebut di depan kelas atau di mejanya masing-masing,
  4. Siswa bekerja individual atau bekerja sama dengan teman sebangkunya dalam menyelesaikan soal-soal latihan dan sedikit melakukan tanya jawab, dan
  5. Kegiatan terakhir adalah siswa mencatat materi yang telah diterangkan yang seringkali dilengkapi dengan soal-soal pekerjaan rumah.

Kelemahan dari strategi ekspositori (Depdiknas dalam Agisti 2006: 29) antara lain:

  1. Hanya mungkin dapat dilakukan pada siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik,
  2. Tidak dapat melayani perbedaan individual baik perbedaan kemampuan, pengetahuan, minat, dan bakat serta perbedaan gaya belajar,,
  3. Menyebabkan kesulitan dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan intrapersonal, serta berpikir kritis, dan
  4. Gaya komunikasi yang satu arah menyebabkan kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran terbatas dan juga bisa mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa terbatas dengan apa yang diberikan oleh guru.
C. Definisi Operasional

1. Kemampuan komunikasi matematis siswa

Kemampuan komunikasi matematis siswa merupakan kemampuan siswa untuk merepresentasikan permasalahan atau ide dalam matematika baik secara lisan maupun tulisan dengan menggunakan benda nyata, grafik, atau tabel, serta dapat menggunakan simbol-simbol matematika, yang diperoleh melalui pengalaman yang ia alami.
2. Pendekatan Quantum Learning

Pendekatan Quantum learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang membiasakan siswa belajar dengan nyaman dan menyenangkan, serta menumbuhkan motivasi belajar siswa, dengan memperhatikan faktor lingkungan, fisik, dan suasana. Quantum Learning terdiri dari enam tahapan, yaitu: tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan.

3. Metode Ekspositori

Metode ekspositori merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada guru yang mengkombinasikan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas.

D. Contoh Bahan Ajar

BAHAN AJAR MATEMATIKA

Satuan pendidikan      : SMP

Kelas/semester            : IX/2

Alokasi waktu               : 2 x 45 menit (dua kali pertemuan)

Standar kompetensi   : Memahami barisan dan deret bilangan serta penggunaannya dalam pemecahan masalah

Kompetensi dasar       : Menentukan pola barisan bilangan sederhana

Indikator materi          :

  1. Menyatakan masalah sehari hari yang berkaitan dengan barisan bilangan
  2. Mengenal unsur-unsur barisan dan dere
  3. Menentukan rumus suku ke- n
  4. Menentukan pola barisan bilangan

Indikator komunikasi matematis :

  1. Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika.
  2. Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematik, secara lisan atau tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik dan aljabar.
  3. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematik.
  4. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika.
  5. Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis.

A.  Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa dapat menentukan pola barisan bilangan sederhana dari kehidupan sehari hari.
  2. Siswa dapat menggunakan unsur unsur barisan dan deret.
  3. Siswa dapat menjelaskan rumus suku ke- n.
  4. Siswa dapat menjelaskan pola barisan bilangan.

B.  Kegiatan Pembelajaran

Pendekatan : Quantum Learning

Metode       : Ekspositori

Skenario pembelajaran:

Bagian Aktivitas Waktu
Pendahuluan Guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam. Setelah itu, guru memeriksa kehadiran siswa. 5 menit
Kegiatan inti: 

Tumbuhkan

Alami

Namai

Demonstrasikan dan Ulangi

Rayakan

Guru mengingatkan siswa tentang barisan bilangan dengan memberikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. 

Guru memberikan LKS pada siswa agar siswa dapat menentukan suku ke-n dari suatu barisan bilangan yang sederhana.

Guru menyimpulkan hasil yang siswa peroleh.

Guru memberikan latihan soal untuk menguatkan pemahaman siswa mengenai pola barisan bilangan sederhana.

Guru bersama siswa mengevaluasi pembelajaran yang telah berlangsung, kemudian merayakannya (misalnya dengan tos lima jari, baik sesama siswa maupun siswa dengan guru).

5 menit 

40 menit

10 menit

20 menit

5 menit

Penutup Guru memberikan tugas kepada siswa sebagai pekerjaan rumah (PR) untuk dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. 5 menit


Skenario Pembelajaran Pola Barisan Bilangan Sederhana

A. Pendahuluan

Guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam. Setelah itu, guru memeriksa kehadiran siswa.

B. Kegiatan Inti

Konsep: Pola Barisan Bilangan Sederhana

Metode yang digunakan: Ekspositori

Pendekatan yang digunakan: Quantum Learning

Langkah-langkah pembelajaran:

1. Tumbuhkan

Guru mengingatkan siswa tentang barisan bilangan dengan memberikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Soalnya adalah sebagai berikut:

Sebuah perusahaan furniture memproduksi meja-meja yang bentuk alasnya bermacam-macam. Jumlah kursi yang diproduksi untuk masing-masing meja tergantung pada bentuk alas mejanya. Banyaknya kursi untuk meja yang alasnya berbentuk segitiga adalah 3 buah, banyaknya kursi untuk meja yang alasnya berbentuk segiempat adalah 4 buah, banyaknya kursi untuk meja yang alasnya berbentuk segilima adalah 5 buah, dst. Seperti apakah barisan bilangan yang terbentuk berdasarkan penjelasan tersebut?

Kemungkinan jawaban yang dilontarkan siswa yaitu:

3, 4, 5, 6, 7, 8, …

Selain itu, guru juga mengingatkan siswa tentang barisan bilangan genap, ganjil, dan lain-lain. Dalam hal ini, siswa diminta untuk menyatakan idenya ke dalam simbol matematika. Dengan pemberian soal tersebut, siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematis, khususnya dalam menyatakan peristiwa sehari-hari ke dalam bahasa atau simbol matematik. Selain itu, siswa juga diharapkan dapat  termotivasi dan lebih siap untuk mengikuti pembelajaran.

2. Alami

Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok secara heterogen dari segi tingkat prestasi. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 – 6 orang. Setelah itu, guru memberikan LKS pada tiap kelompok agar siswa dapat menentukan suku ke-n dari suatu barisan bilangan yang sederhana. Guru membimbing siswa dalam berdiskusi. Dengan pemberian LKS tersebut, siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematis mereka, khususnya dalam menyatakan peristiwa sehari-hari ke dalam bahasa atau simbol matematik, serta menjelaskan ide dan situasi matematik secara lisan atau tulisan. Setelah diskusi, beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka, sedangkan kelompok lain menyimak dan boleh bertanya jika ada yang kurang dimengerti. (Dalam makalah ini, LKS disajikan setelah lembar skenario pembelajaran)

3. Namai

Guru menyimpulkan hasil yang siswa peroleh, yaitu mengenai pola barisan bilangan sederhana.

4. Demonstrasikan dan Ulangi

Guru memberikan latihan soal untuk menguatkan pemahaman siswa mengenai pola barisan bilangan sederhana, setelah itu, siswa diminta untuk mengerjakan dan menjelaskannya di depan kelas.

(Dalam makalah ini, lembar soal disajikan setelah LKS)

5. Rayakan

Guru bersama siswa mengevaluasi pembelajaran yang telah berlangsung, kemudian merayakannya (misalnya dengan tos lima jari, baik sesama siswa maupun siswa dengan guru).

C. Penutup

Guru memberikan tugas kepada siswa sebagai pekerjaan rumah (PR) untuk dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.

(Lebar Kerja Siswa tidak ditampilkan)

DAFTAR PUSTAKA

Agisti, Noor Sari. 2009. Implementasi Strategi Means-Ends Aalysis untuk Meninngkatkan Kemampua Siswa SMP  dalam Komunikasi Matematis. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

DePorter, B., dkk. 1999. Quantum Teaching. Allyn and Bacon: Boston.

DePorter, B. & M. Hernacki. 2008. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

Ersah, S. 2007. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Two Stay –Two   Stray Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa SMA (Penelitian Terhadap Siswa Kelas X SMA Negri 6 Bandung). Skripsi pada Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Qodariyah, N. N. 2006. Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual dalam Upaya Maningkatkan Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematik Siswa SMU. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Metematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Sudarti, Titi. 2008. Perbandingan Kemampuan Penalaran Adaptip Siswa SMP Antara Yang Memperoleh Pembelajaran Matematika Melalui teknik Probing dengan Metode Ekspositori. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Sudrajat, A. 2008. Quantum Learning. file:///C:/Documents%20and%20Settings/Budi%20Rukhaya/My%20Documents/Quantum%20Learning%20%C2%AB%20AKHMAD%20SUDRAJAT%20%20%20LET%27S%20TALK%20ABOUT%20EDUCATION%20!.htm. 3 Oktober 2009.

Susilowati, Y. 2009. Mengorkestrai Lingkungan dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra Berbasis Quantum Learning. http://agupenajateng.net/2009/07/07/mengorkrestasi-lingkungan-dalam-pembelajaran-apresiasi-sastra-berbasis-quantum-learning/. 1 Oktober 2009.

Syaban, M. 2009. Menumbuhkembangkan Daya Matematis Siswa. http://educare.e-fkipunla.net/index.php?option=com_content&task=view&id=62&Itemid=7. 1 Oktober 2009.

About these ads

27 thoughts on “Kajian Masalah Matematika: Modifikasi Quantum Learning dan Metode Ekspositori untuk Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

  1. assalmualaikum mba..
    sya mw tanya ni..
    sya kan tertarik buat mnerapkan quantum teaching pada materi aljabar.. sya dah coba cari2 rfrensinya tp g ada nemu..
    kra2 klo mnurut mba bisa g quantum teaching dtrpkan pada mteri aljabar di smp klas VIII smstr 1? mhon bantuannya.. :-)

    • Waalaikumussalam,, :)

      Hmm.. Sepengetahuan saya, Quantum Teaching ataupun Quantum Learning bisa diterapkan pada materi matematika apa saja, bahkan pada mata pelajaran lain juga bisa. Kenapa? Karena jika kita lihat dari langkah-langkah pembelajarannya, tidak ada langkah khusus yang bersifat matematis, seperti pada Open Ended, Problem Based Learning, dll. Menurut saya, Quantum Teaching/Learning ini lebih kepada pengemasan pembelajaran yang didesain untuk memotivasi siswa dalam belajar dan supaya siswa merasa nyaman selama pembelajaran berlangsung. Jadi, Quantum Teaching/Learning bisa diterapkan pada materi Aljabar di SMP kelas VIII Semester 1.

      Itu menurut pendapat saya loh, ya. Itu yang saya tangkap setelah kajian masalah matematika ini didiskusikan bersama teman-teman kuliah di kelas sekitar 2 tahun yang lalu. Kalau ternyata terdapat kesalahan persepsi, alangkah senangnya kalau kita sama-sama share about this.

      Semoga pendapat saya bisa membantu. :)

  2. aslm,,
    mbk yang cantik…
    mw tnya nih,,,mbk buku tentang komunikasi matematis ntuh tw ngak mbk??jdul buku n karangan siap??? mhN bantuan nya mbK,,,:)

    • Waalaikumussalam,, :)
      Sampe sekarang saya belum pernah baca buku khusus mengenai komunikasi matematis.
      Saya ngambilnya dari beberapa sumber.
      Jadi, saya juga nggak tau.
      Maaf, ya.
      Saya nggak bisa banyak bantu. :)

    • Waalaikumussalam, Linda. :)
      Maaf baru dibales.

      Begini. Kalau saya, kemampuan komunikasinya itu lebih ditekankan pada Lembar Kerja Siswa dan rancangan kegiatan pembelajarannya, misalkan siswa dikondisikan untuk bekerja dalam kelompok dan mempresentasikannya di depan kelas, atau bisa juga dengan bertukar pendapat. Kalau mengenai jenis soal, maka jenis soal yang ditonjolkan adalah soal uraian yang menstimulus mereka untuk menjawabnya dengan bahasa mereka sendiri. Soal uraiannya berupa soal cerita. Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan ga dikasih contoh soal juga ga apa-apa, ya. :)

      Selain itu, kemampuan komunikasi matematis siswa juga bisa kita ukur dari tes kemampuan komunikasi matematis. Jadi, ada tes khusus semacam angket namun aga berbeda dari segi bahasa dan penilaiannya. Waktu itu saya mendapatkannya dari dosen saya. Menggunakan angket juga bisa. Yang penting mengandung indikator kemampuan komunikasi matematisnya. :)

  3. kak, tolong jelaskan mengapa Tandur itu kan di pake dalam Quantum learning, padahal kan tandur itu ada di Quantum teaching! tx before

    • Saya juga belum sempat mempelajari lebih dalam lagi tentang Quantum Teaching dan Quantum Learning. Namun, yang saya tau, inti dari keduanya sama saja. Maaf, saya tidak bisa menjawab lebih detail karena saya sendiri belum menguasainya. :)

  4. asslam….
    k’dini untuk perbandingan metode quantum lerning dengan metode contextual taeching and learning itu bagaimn y..?
    n sya jg lg mncri ltar blkngny untuk perbndingna kdua metode tersebut..
    mhon dtanggapi ya k’dini..mksiii :)

    • Maaf, saya baru menanggapi sekarang.
      Begini, jujur saja, saya kurang menguasai metode CTL.
      Jadi, kali ini, saya tidak bisa banyak membantu. Khawatir ada kesalahan konsep.
      Maaf, ya. :)

  5. mba ku… kalo aku lagi bikin judul skripsii… jdlny penerapan model nht terhadap kemampuan komunikasi matematik siswa… aku cemas banget sama materinya.. kiarkira materi yang cocok di semester 1 apa ya??? mohon banget dibantu ya mba yang baik.. hehe

    • Baiklah, elis yang baik. :)
      Saya akan mencoba untuk memberikan sedikit saran.
      Setahu saya, model NHT itu lebih kepada proses pemecahan masalah. Jadi, soal-soal yang disajikan itu adalah soal-soal yang dapat mengukur kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa. Kemampuan tersebut merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. jadi, soal-soal yang disajikan bukan soal-soal standar. Tingkat kesulitannya pun lebih tinggi, sehingga siswa dituntut untuk menemukan sendiri solusinya.
      Untuk materinya, coba cari saja materi yang sekiranya mudah untuk didiskusikan oleh siswa (karena goalnya adalah kemampuan komunikasi matematik). Tapi saya tidak bisa memberi masukan untuk materinya. Coba diskusikan lagi saja dengan pembimbing skripsinya, ya. :)
      Ini hanya pendapat pribadi dan hasil baca-baca. Jadi maaf kalau ada kesalahan di dalam penjelasan saya ini, ya. :)
      SEMANGAT!! Semoga penyusunan skripsinya lancar. ;)

  6. Assalamu’alaikum mbak dini ,saya mau naya nih,,,
    saya mau membandingkan pembelajaran matematika disekolah antara yang menggunakan kooperatif dengan quantum learning,,,gimana tuch menurut mbak boleh ngga???
    ato quantum learning itu biasanya dibandingkan dg metode pembelajaran sederhana aja

    balas ya,,,,,makasih

    • Waalaikumussalam, Mbak Afrianti.
      Setau saya, dalam Quantum Learning juga bisa saja ada kooperatif learningnya.
      Menurut saya, jika ingin membandingkan dua pendekatan, lebih baik (dan lebih mudah) jika dibandingkannya dengan pendekatan konvensional saja alias pendekatan pembelajaran yang biasa diterapkan oleh sekolah.

      Itu hanya pendapat pribadi saya, ya.
      Sah-sah saja jika ingin membandingkannya dengan kooperatif learning juga.

      Kalau boleh tau, yang sudah ada di pikiran Mbak Afrianti, perbedaan dari Quantum Learning dan Kooperatif learning itu apa, ya?
      (Hehehe.. Maaf.. Saya malah balik tanya. Kesenengan nih kalo ada temen sharing) :)

    • Coba bikin soal cerita aja, mba.
      Kan nanti siswa jadi harus menerjemahkan soal cerita ke dalam simbol-simbol matematika.
      Itu juga sudah termasuk ke dalam komunikasi matematis.

      Contoh sederhananya :
      Dini membeli 10 buku A dan 5 buku B. Kedua jenis buku tersebut berharga sama.
      Jika dini harus membayar semuanya Rp300.000,00, berapakah harga satu buku?

      Penyelesaian:
      Misalkan harga buku A dan B adalah x rupiah, maka:
      10x + 5x = 300000
      15x = 300000
      x = 300000 : 15
      x = 20000
      Jadi, harga satu buku adalah Rp20.000,00

      Menurut saya ya begitu, mba. hehe..
      Coba mba cari dulu apa indikator kemampuan matematis siswa itu.
      Dari situ, mba bisa membuat soal yang lebih bervariasi lagi. :)
      Maaf, jika saya salah.

  7. assalamu’alaikum mb dini..
    terkait dengan penelitian saya tentang komunikasi matematis..
    saya penasaran dengan angket komunikasi matematis, yang mb dini peroleh dari dosen mb.
    bisa minta tolong diberi tau mb?
    terima kasih sebelumnya..

  8. Pingback: Tugas Akhir Inovasi Pendidikn | novitadamayantinovitadamayanti

  9. Pingback: Tugas Akhir Inovasi Pendidikn | novitadamayanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s