Sirkuit Matematika: Sebuah Perjuangan yang Berakhir Indah

Ketika saya masih kuliah di jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) semester 3, saya mengontrak mata kuliah yang seharusnya dikontrak pada semester 5, yaitu Media Pembelajaran Matematika (MPM). Dalam proses perkuliahan, saya dan semua teman sekelas ditugaskan untuk membuat alat peraga matematika sebagai tugas individu. Ide yang saya tawarkan untuk tugas ini terinspirasi dari hasil studi banding ke jurusan Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Setelah saya melakukan studi banding ke UNNES bersama para dosen dan beberapa teman mahasiswa lainnya, saya menemukan sebuah alat peraga matematika yang telah mendapatkan penghargaan atas idenya yang brilian. Alat peraga tersebut dinamakan Sirkuit Matematika. Alat peraga ini terinspirasi dari permainan tradisional yang sering kita mainkan waktu kita masih kecil, yaitu permainan ular tangga. Materi yang disajikan dalam permainan tersebut adalah Bangun Datar. Permainan ini dibuat untuk menguatkan konsep siswa tentang bangun datar, khususnya tentang luas daerah bangun datar. Dengan bermain sirkuit matematika ini, diharapkan siswa dapat dengan mudah mengingat rumus luas daerah beberapa bangun datar, seperti rumus luas daerah persegi, persegi panjang, jajar genjang, belah ketupat, dan lain-lain. Berikut adalah hasil pengambilan gambar pribadi ketika saya berkunjung ke UNNES.

Gambar 1. Papan Permainan

Seperti yang kita lihat pada gambar di atas, setiap kotak bergambar bangun datar. Papan permainan juga dilengkapi dengan gambar tanda panah yang mengarah ke bawah dan ke atas seperti ular dan tangga pada permainan ular tangga yang kita kenal bersama. Dalam permainan ular tangga, selain papan permainan, terdapat pula dadu dan pion-pion. Berikut gambarnya.

Gambar 2. Dadu dan Pion-pion yang Digunakan untuk Bermain

Sebenarnya, pion yang digunakan bisa bermacam-macam. Saat itu, yang saya lihat di sana adalah tiga buah tutup spidol. Ada yang berbeda dengan dadu yang kita kenal selama ini. Dadu yang dibuat untuk sirkuit matematika ini terdiri dari enam sisi yang bertuliskan rumus-rumus luas daerah bangun datar. Pion digerakkan pada letak bangun datar yang sesuai dengan rumus luas daerah yang diperoleh setelah melakukan pengocokan dadu. Oleh karena itu, kelemahan dari permainan ini adalah bangun datar yang dapat ditampilkan pada permainan ini hanya enam buah saja.

Saya menilai bahwa ini adalah ide yang sangat luar biasa. Sederhana, namun bernilai mahal. Inilah alasannya mengapa ide ini diberi penghargaan. Sirkuit matematika ini merupakan ide dari seorang guru matematika di SMP Daar El-Qolam Tanggerang, yaitu Umi Auliya, S.Pd. Ide luar biasa ini telah membawanya pada kemenangan dalam suatu perlombaan tingkat nasional, yaitu Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran Tahun 2009 untuk Guru SMP se-Indonesia di Gedung Depdiknas, Jakarta.

Gambar 3. Umi Auliya, S.Pd. Menerima Hadiah dari Mendiknas Mohammad Nuh dan Didampingi Dirjen Mandikdasmen

Untuk memenuhi tugas saya di perkuliahan, saya ingin membuat sirkuit matematika seperti ini, namun dengan materi, tampilan, dan bahan yang berbeda. Ide saya pun diterima oleh dosen mata kuliah yang bersangkutan. Materi yang ingin saya sajikan dalam alat peraga yang akan saya buat ini adalah Bangun Ruang. Saya ingin alat peraga ini terbuat dari kayu yang kuat, bisa dilipat seperti papan catur, dan memiliki desain gambar yang menarik.

Saya sempat mengalami stres yang luar biasa karena tugas ini. Bagaimana tidak? Batas waktu pengumpulan sudah di depan mata, namun alat peraga yang saya buat belum juga selesai. Awalnya, saya ingin membuatnya dengan tangan saya sendiri. Saya bekerja dengan mesin-mesin besar dan berbahaya yang tersedia di salah satu laboratorium fakultas. Ya, karena saya ingin membuat alat tersebut dari bahan kayu. Tetapi, hasilnya gagal. Saya memang tidak mahir dalam menggunakan mesin-mesin tersebut sehingga hasilnya pun sangat tidak memuaskan.

Akhirnya, waktu yang semakin mendesak membuat saya sempat berubah pikiran. Saya membeli kertas duplek, karton putih, dan segulung plastik besar. Saya pun mulai menggambar papan permainan di atas karton dengan cara manual. Saya gambar semua kotak, yang jumlahnya seratus itu, satu per satu. Kemudian, saya warnai semuanya dengan krayon. Karton putih pun kini berubah menjadi penuh warna. Setelah itu, karton tersebut disimpan di atas kertas duplek yang kemudian disampul dengan plastik. Saya pun membuat dadu sebisa saya. Tidak ada unsur penggunaan komputer sama sekali alias murni manual.

Pada hari batas pengumpulan pun saya masih saja mengerjakan tugas yang satu ini. Paling lambat dikumpulkan pukul 15.00. Itulah informasi yang saya dapat dari teman saya melalui telepon. Pukul 12.00 saya masih ada di tempat kost dan alat peraga juga belum selesai dibuat. Saya terus berusaha sebisa saya sampai melupakan makan dan minum. Sekitar pukul 13.30, tugas pun beres. Saya berdiri dan tiba-tiba pandangan saya kabur, semakin kabur, tubuh saya hilang keseimbangan, dan saya pun menjatuhkan diri saya di atas tempat tidur. Seketika pandangan saya menjadi gelap dan hilang kesadaran dalam waktu yang singkat. Pingsan? Entahlah. Karena pada saat itu, tidak ada seorang pun yang melihat kejadian itu.

Setelah kondisi saya membaik, saya segera bersiap-siap menuju kampus. Saya berlari dan terus berlari karena dikejar waktu. Saya tidak mau sampai tidak mendapatkan nilai karena terlambat mengumpulkan setelah semua yang saya lakukan demi tugas ini. Akhirnya, saya sampai di kampus. Alhamdulillah, saya tidak terlambat. Namun, ada suatu hal yang membuat saya merasa ciut. Alat-alat peraga matematika yang dibawa oleh teman-teman saya semuanya canggih, bagus, dan terlihat mahal. Tapi mau bagaimana lagi? Saya tidak bisa mundur, harus tetap menghadap dosen untuk mempresentasikan hasil pekerjaan saya. Ucapan dari teman-temanlah yang menguatkan saya, “Waaaaw.. Ini kamu sendiri yang gambar? Lucu, ih..”

Tibalah saatnya saya memasuki ruang dosen untuk memperlihatkan apa yang telah saya buat. Belum sempat saya mempresentasikannya, dosen saya berkata, “Kenapa tidak digambar dengan bantuan komputer? Kenapa tidak menggunakan bahan-bahan yang lebih awet? Kalau alat peraganya seperti ini, tidak ada nilai jualnya. Siapa yang mau beli?”

Deg!! Saya sangat tersentak dengan perkataan beliau. Hati saya terasa hancur berantakan melebihi seribu gelas yang pecah. Ingin rasanya saya menangis sekeras-kerasnya di hadapan dosen saya. Ingin rasanya saya mengatakan, “Bu, saya sudah cape-cape membuat ini. Apa tidak ada kata-kata yang lebih baik dari apa yang barusan ibu katakan?? Apa tidak ada sedikitpun penghargaan atas hasil keringat saya ini??” Namun, saya tidak berdaya. Saya baru bisa menangis ketika sampai kembali di tempat kost. Dosen memberikan waktu 3 hari untuk memperbaikinya. Tapi saya lebih memilih untuk menyerah. Saya pun mengundurkan diri dari mata kuliah ini dan bersiap untuk menerima nilai terburuk yang akan diberikan dosen pada saya, yaitu D. Menyesal? Tidak. Karena saya merasa sudah melakukan yang terbaik.

Beberapa lama setelah itu, keluarlah nilai mata kuliah MPM. Saya tidak peduli dan tidak saya lihat sama sekali. Sampai suatu saat salah satu teman sekelas saya menemui saya dan berkata, “Din, kamu udah mengundurkan diri dari mata kuliah MPM, kan? Kamu ngga bikin alat peraga, kan?”

“Iya. Emangnya kenapa, gitu?”

“Kok bisa ya kamu dapet nilai A? Saya aja cuma dapet B.”

“Haa?? Serius?? Masa, sih??”

“Kalo ngga percaya, liat aja sendiri nilainya di papan pengumuman.”

“Ok, makasih, ya!”

Gawat, bisa-bisa, saya jadi bahan pembicaraan teman-teman. Pasti mereka merasa bahwa ini semua tidak adil. Saya juga heran, kenapa saya bisa mendapatkan nilai A. Saya pun segera melihat papan pengumuman. Benar saja, di sana jelas-jelas tertulis bahwa nilai MPM untuk Dini Nurhadyani adalah A. Saya berpikir sejenak, apa mungkin ya karena saya pernah presentasi di depan kelas dan dosen sangat antusias dengan presentasi saya? Atau mungkin karena dosen sebenarnya tau bagaimana jerih payah saya membuat alat peraga yang ‘tidak mempunyai nilai jual’ itu?

Setelah saya menemui dosen yang bersangkutan, ternyata beliau sudah salah menuliskan nilai untuk saya. Seharusnya saya mendapatkan nilai D. Sedangkan nilai ini sudah disetorkan ke pusat penilaian. Tentu saja saya tidak mau kejadian ini sampai membuat teman-teman sekelas saya keki karena merasa diperlakukan tidak adil. Saya pun segera menyelesaikan masalah ini. Saya berusaha untuk mengubah nilai saya menjadi D. Tapi ternyata ketua prodi mengatakan bahwa tidak mungkin saya bisa mengubah nilai itu. Nilai saya tetaplah A. Akhirnya, masalah ini pun sampai melibatkan ketua jurusan. Kemudian, saya dipertemukan dengan dosen mata kuliah MPM di hadapan ketua prodi, ketua jurusan, dan beberapa dosen lainnya di ruang jurusan. Kami berunding untuk mendapatkan pemecahan masalah.

Dosen saya pun angkat bicara. “Begini saja, kamu buat alat peraga sebagus mungkin. Saya beri waktu 2 minggu.” Semua sepakat. Tidak ada yang bisa membantah perkataan dosen tersebut. Tapi, sesungguhnya saya merasa berat melakukannya. Lagi-lagi saya harus berusaha membuat alat peraga dalam waktu yang singkat. Setelah pertemuan itu, saya diajak oleh ketua jurusan untuk menceritakan semua kejadiannya dari awal. Ketua jurusan berusaha menenangkan saya, “Kamu berusaha saja semampu kamu. Toh, nilai A sudah di tangan. Alat peraga yang kamu buat nanti bagus atau tidak, nilai kamu tetap A. Jadi, kamu jangan panik, tidak usah stres, lakukan saja apa yang bisa kamu lakukan untuk memenuhi keinginan dosen tadi.” Saya pun tersenyum.

Kali ini, orang tua saya melibatkan diri dalam pembuatan alat peraga. Begitupun dengan tukang kayu yang membuatkan alas papan permainan dan satu orang teman saya dari jurusan Teknik Informatika UNPAD yang membuatkan tampilan gambar untuk papan permainannya. Saya berani meminta bantuan karena setelah saya telusuri, teman-teman sekelas saya pun banyak yang meminta bantuan dari berbagai pihak. Asalkan satu, idenya kita sendiri yang buat.

Dua minggu pun berlalu. Tibalah batas akhir pengumpulan alat peraga itu. Inilah alat peraga matematika yang berhasil saya buat dengan bantuan berbagai pihak.

Gambar 4. Papan Permainan (Bisa Dilipat Seperti Papan Catur)

Gambar 5. Dadu dan Pion-pion Beserta Tempatnya yang Dapat Digunakan Sebagai Pengocok Dadu

Gambar 6. Dadu dan Pion-pion yang Tersimpan Rapi pada Tempatnya

Gambar 7. Sepaket Sirkuit Matematika Tersimpan Rapi pada Tempatnya

Sebelum saya menyerahkannya pada dosen mata kuliah yang bersangkutan, saya memperlihatkannya terlebih dahulu pada ketua prodi dan ketua jurusan Pendidikan Matematika UPI. Alhamdulillah, mereka puas dengan alat peraga ini. Ya, memang selama ini, hasil inilah yang saya bayangkan. Namun, saya tidak sanggup menggunakan mesin-mesin untuk memotong kayunya dan tidak mahir mendesain gambar yang menarik. Walaupun demikian, idenya tetap muncul dari diri saya sendiri. Hehe.. :)

Akhirnya, saya memperlihatkan sirkuit matematika ini pada dosen saya. Alhamdulillah.. Beliau pun menanggapi positif. “Nah, kalau alat peraganya seperti ini kan jelas ada nilai jualnya.”

Alhamdulillah, Ya Allah..

Terima kasih atas jalan terindah yang Kau berikan untukku. Semua ini terjadi hanyalah karena-Mu. Engkau telah memberikan yang terbaik untukku. Saat itu aku sudah menyerah. Namun, Kau berikan aku kesempatan untuk meraih nilai yang diidamkan semua mahasiswa dengan cara-Mu. Terima kasih, Allah..

Ucapan terima kasih juga saya ucapkan untuk kedua orang tua saya yang selalu setia di samping saya selama saya mengerjakan tugas ini. Terima kasih untuk teman saya dari Teknik Informatika UNPAD yang sudah meluangkan waktunya untuk membuatkan desain papan permainan. Terima kasih juga kepada tukang kayu yang telah membuat alas papan permainan yang sangat bagus, sesuai dengan apa yang saya inginkan. Dan untuk semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, terima kasih.. Semoga Allah membalas semua kebaikan mereka dengan yang lebih baik lagi. Amin.. :)

 

Referensi Gambar:

Dokumentasi pribadi

http://yasincyber.wordpress.com/2010/07/27/umi-auliya-juara-guru-kreatif-dan-inovatif-tingkat-nasional-2009/#comment-276

About these ads

46 thoughts on “Sirkuit Matematika: Sebuah Perjuangan yang Berakhir Indah

    • iya,,
      yang punya ide pertama kali hebat, ya!! ^^
      Saya hanya mengikuti saja.

      Jadi gini,, dadu itu ada 6 sisi, kan?
      Nah,, biasanya, tiap sisinya itu ada mata dadunya.
      kalau yang ini, bukan mata dadu, tapi rumus volume bangun ruang.
      Pemain mengocok dadu. Nanti dilihat, keluar rumus volume apa.
      Nah, nanti pionnya digeser sampai pada bangun ruang yang memiliki rumus volume tersebut.
      Kurang lebih begitu. :)

  1. TFS.. saya sebagai pelajar SMP sangat salut dengan penemuan Sirkuit Matematika ini.. walaupaun sederhana tapi sangat bermanfaat untuk melatih daya ingat siswa.. terus terang saja, dari SD sampai sekarang, saya terkadang masih lupa dengan rumus2 bangun datar.. dan mungkin dengan selalu memainkan permainan ini, saya bisa membawa rumus ini kapan saja dan dimana saja.. pokokNya salut deehh..

  2. Alhamdulillah memang indah pada waktunya.
    Rahasia Allah terlalu indah untuk kita ketahui lebih awal.
    saya sangat tersentuh dengan ceritanya ..
    mata saya pun lumayan berkaca-kaca.
    perjuangan yang berakhir bahagia.
    hmmm
    saya juga lagi ada tugas bikin media nih tapi itulah masalahnya saya masih bingung,
    melihat tulisan ini terlintas ini ide yang bagus.
    saluuutt..

    • Iya, betul.
      Setelah kesulitan ada kemudahan.
      Hal itu sangat saya rasakan ketika ujian ini menimpa saya.
      Alhamdulillah.. :)

      Waaaah.. Ternyata tulisan saya yang satu ini bisa membuat pembacanya tersentuh juga, ya. Hehehe..
      Terimakasih atas apresiasinya. Saya sangat senang jika pengalaman yang saya bagi ini bisa menginspirasi pembaca. :D

      Yup! Saya juga sangat salut pada pencetus ide pertamanya. Beliau yang menginspirasi saya dalam menyelesaikan tugas yang cukup berat ini. Ide yang hebat. Brilian! :D

      Ayo!! Semangat ya bikin alat peraganya!! ^^

    • Pada dasarnya, cara memainkannya hampir sama dengan ular tangga pada umumnya. Yang membedakan yaitu pada dadunya saja.
      Contoh:
      Setelah mengocok dadu, yang muncul adalah rumus volume balok. Maka, kita harus menggerakkan pion ke gambar balok yang terdekat (sesuai dengan arah bermain–tidak lompat terlalu jauh).
      Begitu, Mbak. :)

  3. mbak,, berarti loncat2 gitu, tidak dihitung berapa langkahnya??? cuma liat rumus apa yang keluar gitu?
    saya masih blm paham cara mainnya mbak,, heee,, mohon lebih dijelasin lagi,,,

      • bahannya 2 balok kayu (sebagai papan sirkuitnya), 2 engsel (agar papannya bisa dilipat), cat pelitur (agar kayunya mulus).
        Untuk gambar sirkuitnya menggunakan program flash, diprint di kertas foto yang glossy (pokoknya yang tahan air).
        Untuk dadu, saya buat dari bahan kardus yang dibentuk kubus.
        Untuk pion, tempat pion, dan tempat sirkuit, saya membelinya dari toko assesoris.
        Selamat mencoba. :)

  4. bagaimana akhir dari permainan ini? di ular tangga biasa kan dapat piala,bgm dengan permainan ini. Bolehkah saya memperkenalkan karya mbak dini untuk tugas saya?

    • Aamiin.. insyaAllah, karya Mba Umi ini akan menginspirasi banyak orang. :)

      Terima kasih ya, Mba, sudah menginspirasi saya. Terima kasih juga sudah mau mampir ke blog saya yang masih miskin ilmu ini.

      Saya mohon maaf jika pada tulisan atau segala komentar saya di atas ada yang kurang atau bahkan menyinggung hati Mba Umi.

      Jangan bosen-bosen mampir ya, Mba. Sekali lagi, terima kasih. :)

  5. Assalamualaikum..wah sy sgt terharu + bangga dgn apa yg dceritakan sm mba.. Mhn maaf sblmny mba sya mw izin jg buat ngebikin sirkuit ini tp akan sy modifikasi.. Kalo blh sya sgt brtrimakasih skli..

    • Waalaikumussalam..
      Terimakasih sudah mau baca ceritanya,, :)
      Tentu setiap orang boleh membuat sirkuit ini asalkan dengan kreasi sendiri, bukan menjiplak. Silakan, mba. Buatlah yang lebih kreatif lagi. InsyaAllah pencipta ide pertamanya juga akan senang karena lagi-lagi ada orang yang terinspirasi oleh karyanya. Semangat, ya! ^^

  6. karya yang sangat inspiratif mbak.. terimakasih sekali! ini sangat membantu..khususnya untuk guru sperti saya,,

    • Alhamdulillah..
      Sama-sama, Mas. saya juga sangat berterima kasih pada pencetus ide pertamanya. Terlebih lagi berterima kasih pada Allah, tentunya. :)

      Terimakasih atas kunjungannya, ya. :)

  7. assalamu’alaikum,,
    mohon maaf mba saya mau izin mengikuti ide mba dalam pembuatan tugas saya, tetapi saya menggunakan konsep bangun segi empat,

  8. Salam kenal Kakak
    Sirkuit Matematikanya inspiratif sekali. Saya mohon izin ikut ide media pembelajaran ini ya kak, tapi dalam konsep materi yang berbeda :D
    Terima kasih ya kak, sukses selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s