Bagaimanakah Cara yang Benar Dalam Menyikapi Takdir?

Tipe-tipe manusia dalam menyikapi takdir terbagi menjadi 3, yaitu:

1. Ada yang meyakini bahwa manusia itu bagaikan robot. Hidupnya sudah diprogram oleh Allah. Apapun yang dikerjakan manusia, itulah yang menjadi takdirnya. Orang dengan tipe seperti ini tidak pernah berusaha untuk melakukan yang terbaik.

Contohnya:

Sehat atau sakit, itu adalah takdir dari Allah. Jadi, ketika Si A sakit, nggak usah repot-repot berobat. Berobat juga belum tentu sembuh. Tunggu saja takdir Allah. Nanti juga kalau sudah saatnya sembuh, ya sembuh. Tapi kalau ternyata Allah menakdirkan Si A tidak sembuh, ya tidak akan sembuh. Intinya, percuma kta berusaha juga. Toh Allah sudah menentukan segala-galanya.

2. Ada yang meyakini bahwa manusia memiliki kebebasan sepenuhnya untuk menentukan jalan hidup, tidak ada campur tangan siapapun kecuali ikhtiar manusia. Orang dengan tipe seperti ini tidak mengakui adanya kuasa Allah.

Contohnya:

Sehat atau sakit, itu adalah hasil dari usaha manusia. Kalau Si A sehat, ya itu berkat usaha Si A yang selalu menjaga kesehatan. Kalau Si A sakit, itu salah Si A sendiri yang tidak menjaga kesehatan. Nah, kalau ternyata Si A sudah berusaha untuk menjaga kesehatan tapi tetap terkena penyakit, itu tetap saja kesalahan Si A sendiri. Mungkin usahanya yang selama ini kurang maksimal. Intinya, nggak ada campur tangan Allah dalam setiap hal yang didapatkan. Semuanya berkat usaha Si A.

3. Tipe moderat (pertengahan), tidak ekstrim seperti tipe nomor 1 dan 2.

Lalu, bagaimana jalan pikiran orang dengan tipe moderat ini? Berikut ini adalah landasan berpikir kaum moderat.

a. Meyakini bahwa Allah telah menciptakan manusia dengan takdirnya.

b. Meyakini bahwa manusia diberi pilihan untuk memilih takdir yang paling baik bagi dirinya.

c. Keyakinan pada takdir mendorongnya untuk selalu berusaha sebaik mungkin, sementara hasilnya diyakini sebagai takdir Allah.

d. Meyakini bahwa Allah tidak akan mendzalimi hamba-Nya. Allah memberi balasan sesuai dengan ikhtiar hamba-Nya dan tidak akan salah dalam memberi balasan pada hamba-Nya.

Sudah terbayang kan bagaimana jalan pikiran orang dengan tipe moderat dalam menyikapi takdir? Ya, mereka melakukan usaha yang maksimal dan menyerahkan hasilnya pada Allah. Ingat, Allah menilai usaha kita, bukan hasil. Setelah berusaha, jika mendapatkan nikmat maka bersyukur dan jika mendapatkan kesusahan maka bersabar. Jadi, dalam menyikapi takdir, tipe moderat inilah yang paling benar.  :D

Nah, berdasarkan penjelasan tersebut, termasuk tipe yang manakah kita? Silakan renungkan sendiri. :)

Semoga Bermanfaat. :)

I wanna say :

Ini adalah catatan pribadi saya ketika mengikuti pengajian umum Majelis Percikan Iman bersama Ust. Aam Amiruddin di Jl. Geger Kalong Hilir (Minggu, 27 Maret 2011).

Referensi Gambar :

http://irdhamapriadi.wordpress.com/2010/07/09/dialog-nasib-dan-takdir/

About these ads

21 thoughts on “Bagaimanakah Cara yang Benar Dalam Menyikapi Takdir?

  1. waah kurenn.. singkat, padat jeas..
    minggu ini d bagi lg yahhh.. hehe :D
    semoga ilmu’y barokah amiin…

    makasih dini..

    • jeas?? jelas, kalii.. haha.. :D
      Duh, maaf, wir,, hari minggu kemarin mah ga kedengeran jelas suara narasumbernya,, bikin males nulis jadinya,, yang jelas, materinya tentang golden parenting gitu,, ada Astri Ivo-nya juga,, :)

  2. Ku serah kan jiwa ku yg berada di tangannya……urusan dunia ku akan ku usahakan sedaya tenaga yg ada inshallah di atas izinnya jua……..Dia yg Melahirkan , dia yg Menghidupkan dan dia juga yg Mematikan……….ku yakin itu.

  3. “Astri Ivo” itu apa?
    wah kupernya diriku…
    yg penting da niat berbagi nya.. kan dah bagus.. hehe
    smangat din…

  4. Hmmm… saya selalu kagum dengan Kekuatan ‘kata’.. maaf kalau pendapat saya cukup panjang..
    penggunaan dan pilihan kata yang tepat menjadi mediator terbaik untuk menyentuh bagian yang tak terlihat dalam diri manusia..

    Takdir adalah masa depan, dan semua manusia mempunyai takdir yang sama yaitu ‘kematian’ jika kematian sudah menjadi takdir semua umat manusia maka, jelaslah gambaran masa depan kita semua yaitu ‘kematian’.

    tipe nomor 1 dan 2 juga tidak harus disebut ekstrim, karena mereka hanya korban dari kekuatan ‘kata’ ! kenapa demikian.? perlu kita ketahui bahwa sifat dan karakter manusia terbentuk dari ucapan/tindakan yang mereka dengar/lihat sejak mereka kecil dan kemudian mengenyam sebuah asumsi yang mengLOCK mereka sejak saat itu juga sehingga mempengaruhi pikiran dan penilaian serta tindakan mereka..

    padahal hanya sebuah ‘kata’ kan.? begitu kuatnya sebuah kata sampai mempengaruhi manusia sedemikian rupa.. tapi itu hanya untuk sudut pandang yang ringan menilai ‘kata’..

    -KARENA SESUNGGUHNYA MANUSIA YANG MEMILIKI “KEPERCAYAAN” TERHADAP TUHAN SUDAH TAU SEJAK AWAL BAHWA “TUHAN” DALAM SEMUA KEPERCAYAAN YANG BERBEDA MENGGUNAKAN KATA SEBAGAI MEDIATOR UNTUK MEMBERITAHU HAMBANYA AKAN KEBESARANNYA-

    SUdah jelas bahwa kata-kata adalah Bagian dari kekuatanNYA.!
    dimana relevansinya terhadap takdir.??

    jika seseorang seperti tipe 1 meyakini bahwa ‘Hidupnya sudah diprogram oleh Allah’ adalah karena dia “mempercayai” apa yang di asumsikan kepada nya sejak kecil atau mulai beranjak dewasa dan mampu berpikir ‘lebih jauh’ dan kemudian MEYAKININYA begitu saja.. (keyakinan tercipta setelah adanya kepercayaan terhadap sesuatu) sehingga mempengaruhi tindakannya dalam menyikapi segala hal.
    *orang seperti ini telah mem(di)batasi(.) diri untuk berkembang*

    Tipe orang yang kedua sebenarnya sama seperti tipe 1. :) karena sama sama meyakini sesuatu yang mereka asumsikan setelah mempercayai asumsi tersebut, hanya saja orang seperti ini cenderung tidak membatasi diri dan mampu berkembang dengan baik.

    Dan perlu dibedakan antara orang yang berada dalam zona PERCAYA dan zona TAU.. karena kebenaran, kepercayaan dan pengetahuan adalah hal yang sudah jelas berbeda..

    Tiga tipe yang anda terangkan adalah benar dan itu merupakan sebuah perbedaan.. namun ketahuilah hal ini..

    Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan.. Perbedaan adalah hakekat penciptaan.. Perbedaan itu Indah…

    Orang2 yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan jelas akan menentang hal ini.. karena mereka lebih berpegangan kepada LOGIKA.. saya akan katakan ini kepada mereka yang tidak bertuhan dengan Logika yang mereka banggakan:

    “Hak anda untuk tidak ‘percaya’ tapi perlu anda ‘tau’ bahwa secara ‘logika’ apakah mungkin manusia dan seluruh alam semesta itu ada dengan sendirinya.? kalaupun ada proses pembentukannya, mungkinkah itu sebuah kebetulan yang tiba2.? tentu ada yang memprosesnya dan mengaturnya kan.? jawaban secara logikanya hanyalah satu yaitu TUHAN”

    Hanya berbagi pendapat saja :) mohon jangan menyalah artikan.. Thank’s

    http://www.facebook.com/zan.revolusioner1 (My facebook)

    Wassalam..

    • Terimakasih sudah mau share,, :)
      Tapi, jujur, saya kurang ngerti. Ketika baca, ko rasanya pikiran saya berputar-putar sampai baca berulang kali. Apa sayanya yang aga tulalit, ya? Hehe,,
      Tapi gapapa,, insyaAllah yang baca komentar kakak bukan cuma saya, ko.
      Yang penting, selalu sertakan Allah dalam setiap langkah kita. Ok?! ;)

  5. Pingback: Surah Al Furqon 2 « Jeruk Nipis

  6. Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)
    Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia.

    Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)

  7. Alloh tdk akan merubah seseorang atau suatu kaum selama seseorang atau kaum tsb tdk merubah dirinya sendiri,jd ya usaha dan ikhtiar tetap hrs dikedepankan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s