WISUDA : Sedih atau Bahagia?

Wisuda sering kali dipandang sebagai momen yang sangat membahagiakan. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak ada orang yang tidak bahagia ketika wisuda. Bagaimana tidak? Perayaan kelulusan yang membanggakan ini merupakan hadiah atas jerih payah yang dilakukan selama menjadi mahasiswa.

Penuh kebahagiaan. Itulah suasana yang dirasakan oleh semua wisudawan beserta keluarga yang mendampingi. Namun tidak bagi saya dan keluarga saya. Kami bahagia, tapi tidak sepenuhnya. Ada suatu hal yang membuat kami sulit menikmati momen indah ini sepenuh hati.

Dalam perjalanan menuju kampus, saya, adik, dan ibu saya menangis, namun bukan karena terlalu bahagia dengan wisudanya saya. Beberapa menit sebelum kami menangis, handphone adik saya berbunyi. Seseorang menghubunginya.

“Halo? Iya.. Iya..” Ooh.. Mungkin  temannya. Saya membatin.

“KENAPA, WA?” Nada suara adik saya meninggi dan terdengar khawatir. Suara di balik telepon pun terdengar lebih keras hingga saya bisa mendengarnya dengan cukup jelas tanpa harus mengaktifkan laud speaker. Dari gaya bicaranya, saya tahu bahwa yang sedang berbicara dengan adik saya adalah istri dari almarhum uwa saya, atau bisa dibilang sebagai kakak ipar ibu saya. Dan saya pun mendengar kabar itu…

“Pa Aki meninggal…”

Gambar 1. Pa Aki

Innalillaahi wa innailaihi raaji’uun..  Kakek saya meninggal dunia. Sepotong roti yang sedang saya makan sebagai sarapan itu seketika saya singkirkan dan bergegas memeluk erat ibu saya yang baru saja ditinggal oleh ayah tercintanya.

Terlepas dari apa yang dipikirkan oleh adik dan kedua orang tua saya, seketika bayang-bayang semua kenangan indah yang pernah saya lalui bersama kakek melayang-layang di pikiran saya. Tiba-tiba saya ingat kembali kata-kata dan doa yang pernah kakek ucapkan untuk saya. Satu keinginan kakek dari saya yang tidak sempat kakek penuhi adalah kakek ingin melihat saya menikah..

Saya pun tak kuasa menahan air mata. Saya sudah tak peduli lagi dengan make up yang menempel di wajah saya. Saya terlalu kaget mendengar kabar mendadak ini. Karena sebelumnya kakek dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Ternyata, inilah jalan cerita yang sudah Allah tetapkan untuk saya dan kakek. Kakek meninggal dunia tepat di hari saya wisuda.

Saya dan keluarga sempat bingung, tindakan apa yang harus dilakukan. Di satu sisi, wisuda kelulusan S1 ini hanya terjadi sekali seumur hidup. Di sisi lain, ingin rasanya kami melihat kakek untuk yang terakhir kalinya sebelum kakek dikuburkan. Namun, ayah saya segera mengambil keputusan, yaitu meneruskan perjalanan menuju kampus. Kami pun mendoakan kakek dari kejauhan. Dan saya yakin, wisuda ini menjadi kebanggaan untuk kakek saya yang selama ini paling menanti-nantikan kelulusan saya. Kakek juga pasti senang jika tahu bahwa cucunya menjadi wisudawan. Jadi, saya tidak boleh larut dalam kesedihan. Saya harus bisa bahagia. :)

Sesampainya di gerbang kampus, saya berusaha untuk tidak menangis lagi. Lalu ibu saya membantu saya untuk memperbaiki make up di wajah saya dan merapikan baju saya. Roti yang sempat saya singkirkan itu kembali saya ambil dan santap. (masih bersih, ko. :D)

Setelah beberapa lama mencari tempat parkir, akhirnya dapat juga. Kesibukan kami mempersiapkan segalanya untuk menuju gedung pelantikan wisudawan membuat kami lupa sejenak akan kabar yang sangat menyedihkan itu. Ayah dan ibu saya membantu saya untuk memakaikan baju toga dan topinya. Setelah siap, saya dan keluarga pun berangkat menuju gedung pelantikan wisudawan yang tidak terlalu dekat dengan tempat parkir mobil. Subhanallah.. Ternyata untuk sampai ke gedung itu membutuhkan cukup kesabaran. Berjalan saja rasanya sulit. Banyak sekali orang-orang di sana. Saya harus berdesak-desakan dengan wisudawan lainnya. Saya pun memegang topi toga saya yang sempat beberapa kali tersenggol. (Resiko berbadan imut.. Hihi..) :D

Gambar 2. Saya di Antara Para Wisudawan Lainnya Sedang Menuju Gedung Pelantikan Wisudawan

Berkali-kali saya mencoba menghubungi teman-teman saya, namun tak satu pun yang menjawab. Ketika saya sedang berusaha menghubungi mereka, adik saya mengabadikan momen itu. (Good job, sist!)

Gambar 3. Saya Sedang Mencoba Menghubungi Teman-teman Saya Sambil Sedikit Berpose

Saya mulai memasuki gedung dan duduk di tempat duduk yang sudah disediakan untuk kurang lebih 1.600 wisudawan, terpisah dengan tempat duduk keluarga.

Gambar 4. Saya di Antara Para Wisudawan Lainnya di Dalam Gedung Pelantikan Wisudawan

Dan bayang-bayang kakek pun hadir lagi..

Berkali-kali saya menahan air mata hingga dada saya terasa sesak. Antara percaya dan tidak percaya bahwa kakek sudah pergi meninggalkan saya untuk selamanya. Tak kan ada lagi senyumannya yang penuh kasih. Tak kan ada lagi pelukannya yang penuh rindu. Tak kan ada lagi kata-kata dan doanya untukku.

Upacara pelantikan wisudawan pun dimulai. Pembacaan ayat suci Alquran seolah-olah sengaja dibacakan untuk kakek. Mengheningkan cipta tak lagi mengenang jasa-jasa para pahlawan bangsa bagi saya, tetapi justru memberi kesempatan pada saya untuk mengenang seluruh kenangan bersama kakek. Hampir saja air mata saya menetes.. :(

Sambutan demi sambutan pun berlalu hingga tiba saatnya para wisudawan memindahkan tali topi toga, yang awalnya diletakkan di samping kiri, ke samping kanan. Saya bahagia, akhirnya saya sudah resmi menjadi sarjana pendidikan. Adik dan kedua orang tua saya pun ikut menyaksikan saya. Saya berharap momen ini bisa membuat keluarga saya bangga memiliki saya dan mampu mengurangi kesedihan atas berpulangnya kakek ke sisi-Nya.

Tidak lama kemudian, tiba saatnya saya bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju bagian depan gedunguntuk menerima ijazah dari Dekan dan Pembantu Dekan I. Sebelum menerima ijazah, tak lupa saya mempersembahkan hormat akademik pada pemberi ijazah. Ijazah pun saya terima dengan senyum bahagia diiringi dengan ucapan selamat yang sangat mahal harganya. Adik saya mengabadikan momen itu dengan video. Kedua orang tua saya pun melihat saya di sana.

Ijazah ini Dini persembahkan untuk Mamah, Bapa, Hani, dan juga Pa Aki.. Terimakasih atas doa yang telah diberikan untuk Dini selama ini. :)

Gambar 5. Saya, Toga, dan Ijazah S1 Saya

Setelah acara pelantikan selesai, saya dan para wisudawan dari Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) digiring oleh panitia wisuda dari jurusan menuju gedung FPMIPA, yaitu gedung JICA yang selama kurang lebih 4 tahun ini menjadi tempat kami menempuh perkuliahan. Keluarga para wisudawan pun mengikuti langkah kami.

Gambar 6. Adik Saya

Gambar 7. Ayah dan Ibu Saya

Inilah saatnya saya menunjukkan salah satu dari sedikit kemampuan saya pada keluarga saya. Selama kurang lebih 4 tahun saya menempuh perkuliahan, Alhamdulillah, saya berkali-kali diberi kesempatan untuk menjadi “Master of Ceremony” atau MC di berbagai acara. Namun, selama saya membawakan acara, tak satu pun penampilan saya disaksikan oleh keluarga saya. Pada acara resepsi wisuda di jurusan ini, saya bersama teman saya, yang juga sering menjadi partner saya ketika membawakan acara, diberi kesempatan untuk memberikan sambutan pada para hadirin.

Oleh karena itu, saya berusaha untuk menampilkan yang terbaik agar tidak membuat orangtua saya malu. Alhamdulillah, tak disangka, adik dan kedua orang tua saya sangat terpesona dengan penampilan saya, hingga adik saya pun lupa untuk mengabadikan momen itu dengan video.

Salah satu hal yang membuat keluarga saya terpesona adalah sikap saya di atas panggung. Selama ini, sikap saya di rumah agak manja, lincah, dan cerewet. Namun, ketika saya di atas panggung, saya berubah menjadi seseorang yang dewasa, tenang, dan kalem (Serasa punya dua kepribadian jadinya. Hihi.. :D) Bahkan orang tua saya sampai hampir tidak percaya bahwa putri pertamanya ini bisa tampil seperti itu. Ini semua membuat saya ingin selalu meningkatkan kemampuan saya dengan terus belajar dan berlatih. Saya bersyukur. Akhirnya, saya bisa membuat kedua orang tua saya bahagia. Dan saya akan terus berusaha untuk membuat mereka bahagia dengan hal-hal yang lebih membahagiakan. Semoga bisa. Amin… :)

Gambar 8. Saya Bersama Teman Saya Saat Memberikan Sambutan

Setelah memberikan sambutan, saya dan keluarga saya meninggalkan acara. kami harus bersiap-siap untuk menuju rumah kakek di Panjalu, Ciamis. Tidak ada lagi kakek di sana. Yang ada hanya barang-barang kepunyaannya saja. :(

Setelah saya renungkan kembali, sungguh indahnya skenario kehidupan yang Allah takdirkan untuk saya. Allah menakdirkan kakek meninggal tepat di hari saya wisuda. Hikmah yang saya dapatkan dari semua ini adalah:

1. Saya tidak bahagia secara berlebihan atas wisudanya saya.

2. Saya tidak sedih berlebihan atas meninggalnya kakek, hingga kakek insyaAllah merasa tenang meninggalkan saya.

Pada hari itu, Allah benar-benar melatih saya untuk bisa mengendalikan perasaan saya agar segalanya jadi tak berlebihan.. Alhamdulillah.. :)

Jadi, wisuda ini tentu membuat saya bahagia. :)

Thank You, Allah.. :)

About these ads

11 thoughts on “WISUDA : Sedih atau Bahagia?

  1. innalillahi wa inna ilaihi raji’un

    kamu hebat, ibu kamu juga… tegar..

    smoga Allah memberikan kemudahan buat Pa Aki, melapangkan kuburnya, menjauhkan siksa, dan menerima amal perbuatannya

  2. Pingback: Surat Kedua Untuk Kakek | dini's diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s