Panggilan Baru yang Lumayan “Keren”

Sejak saya mencari sebongkah emas (baca: bekerja) di Jakarta, banyak sekali hal dan pengalaman baru yang saya dapatkan. Salah satu hal baru tersebut adalah soal panggilan. Bukan hal besar, tetapi ini cukup mengesankan untuk dikenang.

Di Bandung, saya biasa dipanggil :

1. Dini
2. Dinceu
3. Neng/Neng Dini
4. Teteh/Teh Dini
5. Ibu/Bu Dini

Begitulah keluarga, teman-teman dunia nyata dan maya, sahabat, guru, dosen, siswa, orang tua siswa, asisten dokter, tetangga, tukang pulsa, tukang ojeg, sampai satpam komplek memanggil saya. Tidak ada yang aneh. Dan saya nyaman dengan panggilan-panggilan itu.

Begitu saya bekerja di Jakarta, beberapa panggilan tersebut masih sering saya dengar. Yang membuat saya heran, panggilan “Dinceu” ternyata berlaku juga di Jakarta. Banyak rekan kerja yang spontan memanggil saya demikian. Di tempat kerja, sebagai pengajar Matematika, tentu saya banyak bertemu dan berkenalan dengan siswa-siswa saya. Ternyata, panggilan “teteh” tidak begitu populer, sehingga saya lebih sering dipanggil dengan sebutan “Kakak”. Maka, saya tambahkan daftar panggilan tersebut:

6. Kakak/Kak Dini

Di tempat kerja, saya mendapat kode pengajar. Kode pengajar untuk saya adalah MDI (Matematika DIni). Dan kode pengajar ini tidak jarang dijadikan sebagai nama panggilan untuk saya. Biasanya staf dan pengajar yang memanggil saya seperti itu. “eM-De-Iiii (MDI)… ini ada pesan pengajar buat besok!” Dengan demikian, baiklah, saya tambahkan panggilan baru ini pada daftar nama panggilan saya :

7. MDI (Baca: eM-De-I)

Tidak hanya di tempat kerja, tetapi saya juga memiliki siswa-siswa yang privat dengan saya di rumahnya. Saat itu saya baru saja selesai belajar bersama salah satu siswa privat saya yang berasal dari keluarga yang sangat berada. Kedua orangtuanya berpendidikan tinggi dan sangat peduli terhadap perkembangan pendidikan anak-anaknya. Sebelum saya pulang, ibunya mengajak saya berdiskusi mengenai perkembangan belajar anaknya. Beliau bertanya, “Gimana perkembangan belajar anak saya, Miss? Ada perkembangan, ndak?”

What?? “Miss”?? Waaaah… Saya cukup terkejut ketika mendengar panggilan ini. Perasaan saya bercampur, antara kaget, senang, merasa sedikit keren, mendadak seperti dianggap orang luar negri, atau sebaliknya: merasa sedang berurusan dengan orang luar negri. Ah, lucu sekali saya mendengarnya. Tidak terasa senyum saya mengembang sebelum menjawab pertanyaan beliau. Tidak lama dari situ, orang tua siswa privat yang lain pun demikian, memanggil saya dengan sebutan “Miss”. Eh, belakangan ini juga saya suka dipanggil “Miss” oleh siswa saya yang duduk di kelas 6 SD, “Miss, sini, deh. Aku nggak ngerti gimana cara ngerjain soal ini.” Okelah kalau begitu. Saya tambahkan lagi ke dalam daftar nama panggilan saya :

8. Miss/Miss Dini

Seiring berjalannya waktu, tahun ajaran baru (tahun kedua saya bekerja), saya mulai ditugaskan mengajar sampai level 11 SMA. Ketika saya sedang mengajar di kelas 10 SMA, tiba-tiba ada siswa yang meminta izin untuk mengambil gambar (take a photo) papan tulis yang penuh dengan tulisan saya. Karena memang waktunya sangat singkat sedangkan materi cukup padat, akhirnya saya izinkan juga. Tetapi tetap saja mencatat manual itu lebih baik. Sebelum ia menekan tombol untuk foto, saya bercanda, “Difoto dengan penulisnya sekalian juga boleh.” Pernyataan saya diikuti tawa semua siswa dalam kelas itu.

“Narsis banget sih, Kak!” Salah satu siswa mengomentari. Saya hanya tersenyum. :)

“Sini, beneran saya foto ya, Kak!” Siswa yang hendak memotret mengarahkan ponselnya pada saya.

“Jangan, ah!! Saya lagi nggak kobe!” Saya spontan menolak sambil menutup wajah.

“Kobe tuh apaan, Kak? Tepung?” Ternyata semua siswa baru mendengar istilah tersebut. Padahal saya sudah sangat biasa mengatakannya di Bandung. Semua orang Bandung saya pikir sudah tahu artinya. Saya baru tahu, ternyata kata ‘kobe’ tidak populer di Jakarta.

“Kalian nggak tau? ‘Kobe’ tuh artinya semacam.. Hmm..” saya memutar otak untuk mengartikannya.

“… begini. Kita bilang wajah kita nggak ‘kobe’ di saat wajah kita lusuh, berminyak, atau kerudungnya lagi kurang rapi. Pokoknya, bener-bener nggak siap buat difoto, deh!” Saya kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya.

“Ooh… Gitu, toh! Ah, mulai sekarang kita panggil Kak Dini dengan sebutan Kakak Kobe, yuk!” Ajakan salah satu siswa itu disetujui semua siswa. Mereka ada-ada saja. Berhubung kata ‘kobe’ bukan sesuatu yang buruk, baiklah, satu lagi nama panggilan saya :

9. Kak Kobe/Kakak Kobe

Hikmah yang ingin saya bagi di sini adalah ternyata memang benar apa kata Alquran dan As-sunnah, bahwa kita hendaknya memanggil seseorang dengan nama yang disukai oleh orang tersebut. Setidaknya, nama panggilan bisa mempengaruhi rasa percaya diri seseorang. Bukan begitu, teman-teman? :)

Sumber Gambar

About these ads

12 thoughts on “Panggilan Baru yang Lumayan “Keren”

  1. Apalah arti sebuah panggilan ..eh nama , abraham lincoln, mungkin kata miss sudah tersemat pada diri non dini (laqob; panggilan baru tuuuh), ada yg pake ga tuuh ¿

  2. Betul!!! Nama adalah doa dan doa adalah harapan. Harapan siapa? orang tua alias Pak Budi sama anaknya. Ada panggilan baru mau? Yakni MEDI! atau MEMEDI ‘jurig’ hehehehe btw tulisannya bagus! dua kata aja yang salah ejaannya, komplek seharusnya kompleks dan mempengaruhi seharusnya memengaruhi. Oya, dirimu unik ya, guru matematika, tapi suka musik dan nulis. Cool!!!

    • Aduh… Nama Pak Budi jadi eksis juga deh di sini.. :D

      Emang gitu ko, kang. Banyak juga yang suka manggil dini “MEDI”. Maksa banget.. :(

      Oh, harusnya memengaruhi, ya. Apa karena termasuk K-P-T-S, jadi harus luruh? Tapi ko asa ga enakkeun, ya.. Tapi kalo pelafalannya gimana, kang? sama juga kaya tulisannya?

      Alhamdulillah, makasih banyak, kang. Dini juga masih harus banyak belajar. Masih terus menunggu saran dan kritik dari para pembaca. Pengen banget bisa nulis buku. Doain ya, kang! :D

      Btw, Thanks for visiting my blog. Jangan bosen-bosen mampir, ya. Kalo ga keberatan, plis baca juga tulisan-tulisan yang lainnya. Hehe.. (maksa). Dini seneng kalo dapet banyak masukan dan dukungan dari pembaca. Apalagi dari pakarnya langsung. Okey?! ;)

      • Ya sama dengan pembacaannya juga: memengaruhi, memesona, menyinyalir! hehe wayahna we dibacanya gitu coz tidak populer jadi ganjil di telinga.Ya nanti dibaca yang lainnya. btw nama Budi kan populer di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia SD-SMA. Hebat ya Bapak kamu. hehehe

      • “Ini Budi”
        “Ini ibu Budi”
        Begitu maksudnya?
        Hahahaa.. :D

        Oiya, kang. Untuk novel, sejauh mana kita harus memperhatikan EYD? Apakah novel punya kebebasan tersendiri untuk menyimpang dari EYD? Setelah banyak baca novel, kayanya sebagian besar tidak sepenuhnya baku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s