Hati-hati Saat Berbelanja

shopping_cartoon1
Sumber Gambar

Halo.
Kamu suka belanja? Atau kamu membenci kegiatan yang satu ini?
Sepertinya kegiatan berbelanja bukan dilakukan karena suka atau tidak suka.
It’s all about necessary. Semua orang berbelanja karena kebutuhan. Suka atau tidak, kalau butuh ya belanja.😀

Saya pribadi suka dengan kegiatan ini. Maklum, naluri ibu rumah tangga (padahal sebelum nikah juga udah hobi shopping. Hehehe…). Kalau masuk toko swalayan atau supermarket, rasanya ingin membeli semua yang ada di dalam gedung. Apalagi kalau di dalamnya terdapat banyak sekali barang-barang yang bagus. Tetapi keinginan itu tidak pernah tercapai setelah melihat isi dompet. Hahaha.. 😀 Lagipula dalam sejarah perbelanjaan rasanya tidak ada cerita seorang konglomerat berbelanja hingga isi toko habis semua (atau sayanya aja yang nggak tau, ya?)

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman buruk dalam berbelanja. Ya, tidak selamanya kegiatan ini menyenangkan memang. Adakalanya kita mengalami hal-hal menyebalkan. Dan semua ini akan saya bagi dengan harapan jangan sampai terjadi pada kalian, readers. Orang yang ceroboh ada di mana-mana. Orang yang berniat jahat pun ada di mana-mana. Dan kita tidak bisa membedakan kedua jenis orang tersebut. Yang perlu kita lakukan hanyalah berhati-hati. That’s it. :)

So, here they are. Continue reading

Kakak Baik

Mengajari siswa kelas 4 SD itu tidak bisa serius, apalagi di tempat bimbingan belajar. Dunia mereka masih dunia bermain. Keseriusan hanya akan membuat mereka tegang yang akhirnya berakibat pada sulitnya mereka dalam memahami materi. Cukuplah mereka belajar formal di sekolah. Di tempat bimbingan belajar hendaknya mereka diberi sedikit kebebasan dan keceriaan dalam belajar di kelas. Oleh karena itu, tidak jarang saya bermain bersama mereka di dalam kelas (diutamakan permainan yang berhubungan dengan matematika), memberikan tips menggambar (menggambar pohon, rumah, gunung, dan lain-lain), bernyanyi, bahkan bercerita. Pokoknya, di hadapan mereka, saya sangat ekspresif. Tidak terpikirkan rasa malu jika wajah ini berekspresi yang aneh-aneh atau tubuh ini bergerak-gerak dengan lebay.😀

Suatu waktu, saya mengajar di salah satu kelas 4 SD. Karena ini akhir semester, maka semua materi sudah disampaikan. Sekarang tinggal memperbanyak latihan soal. Saya meminta mereka untuk mengerjakan soal-soal penjumlahan dan pengurangan bilangan desimal. Saat mereka berkonsentrasi pada pekerjaan mereka masing-masing, saya pun berinisiatif untuk bergabung bersama mereka. Ya barangkali saja ada yang butuh bantuan saya dan mereka tidak perlu membawa buku mereka ke meja guru untuk bertanya. Biarlah saya yang aktif menghampiri mereka yang membutuhkan saya. Semoga dengan begini pembelajaran mereka menjadi lebih menyenangkan.

duduk bersama

Saya melayani pertanyaan mereka satu per satu, bahkan mungkin hanya sekedar meyakinkan siswa yang ragu apakah pekerjaan mereka sudah benar atau masih ada yang salah. Ketika itu, seorang siswa bernama Dinda angkat bicara soal situasi belajar yang sedang ia rasakan. Berikut percakapan kami. Continue reading

Tragedi Kecoa

No

Baru saja ada siswa yang lari terbirit-birit sambil berteriak, “Ada kecoa! Ada kecoa terbang!” Saya—yang sedang shalat di mushola—seketika itu hilang konsentrasi. Saya merasa terancam saat itu juga. Masalahnya, siswa yang berteriak itu berlari ke arah mushola. Saya jadi khawatir kecoa itu terbang ke arah mushola juga dan menghampiri saya yang sedang shalat. Namun ternyata yang terjadi tidak seperti yang saya duga. Siswa tersebut sudah tenang, tidak ketakutan lagi. Dan saya pun kembali fokus shalat. Astaghfirullaah..😦

Selesai shalat, saya bertanya pada siswa tersebut, “Tadi bener ada kecoa terbang?”

Sebelum dia menjawab, temannya menimpali pertanyaan saya, “Jiiaah.. Kak Dini takut. Hahaha..”

Malu? Sama sekali tidak. Biarlah mereka menertawakan saya yang takut kecoa ini daripada saya terancam karena tidak tahu di mana kecoa itu berada. “Bener, Kak. Tadi ada kecoa terbang di situ,” ia menunjuk ke arah luar mushola.

Ah, saat itu juga saya merasa di luar sana sangat gelap, dingin, dan mencekam. Selesai memakai sepatu, saya melangkah perlahan-lahan dan sangat hati-hati. Begitu keluar mushola, saya menatap seluruh sudut—mencari sesosok kecoa. Hasilnya nihil. Saya sedikit kecewa.. Karena jika kecoa tersebut tidak ditemukan, artinya ia masih mengancam saya selama saya ada di sini, di lokasi saya mengajar hari ini. Mungkin Sang Kecoa tidak bermaksud mengancam, tetapi saya terancam. Sangat terancam. Apalagi dia bisa terbang. Uuuh… Kepakan sayap kecoa saat terbang itu sungguh tidak enak didengar.😦

Kejadian itu mengingatkan saya pada tragedi kecoa yang pernah saya alami beberapa waktu lalu. Saya tidak ingat kapan kejadian itu terjadi. Hari, tanggal, dan bulan berapa saya lupa. Yang jelas ini terjadi di tahun kemarin—tahun 2014—saat saya sudah menikah dan tinggal bersama suami di sebuah rumah kontrakan di lantai bawah. Rumah kontrakan ini berupa gedung besar dua lantai yang berisi lebih dari 20 rumah dengan tipe yang berbeda-beda. Mirip rumah susun, tapi hanya dua lantai. Ada kamar kost—yang dalamnya hanya satu kamar dan kamar mandi; ada rumah petakan—dua kamar dan satu kamar mandi; ada rumah kontrakan—berisi satu kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi, juga ada tipe rumah kontrakan yang di dalamnya terdapat dua kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Kami tinggal di rumah tipe ketiga: rumah kontrakan satu kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi.

Saat itu, pukul 10 malam, kami—saya dan suami—baru pulang dari mall dengan membawa beberapa kantung belanjaan. Banyak persediaan di rumah yang sudah habis. Jadi, belanjaan kami saat ini cukup banyak dan membuat kami lelah membawanya. Sesampainya di rumah, saya kaget karena ternyata AC di ruang tamu masih menyala. Saya lupa mematikannya sebelum berangkat kerja tadi siang. Di satu sisi saya menyesal karena otomatis pemakaian listrik jadi boros. Namun, di sisi lain, saya dan suami merasa nyaman karena begitu membuka pintu, kami disambut dengan sejuknya AC yang membuat lelah kami terobati. Ya sudah, lah. Mau bagaimana lagi, dinikmati saja. Kami sama-sama melepas lelah di ruang tamu sambil asyik dengan gadget masing-masing. Belanjaannya kami biarkan dulu.

Tak terasa, 30 menit berlalu. Saya pun berinisiatif untuk membereskan belanjaan. Saya membawa kantung-kantung plastik itu ke dapur. Ada beberapa bahan makanan yang harus dimasukkan ke dalam kulkas. Sementara itu, suami masih sibuk dengan Samsung Galaxy-nya. Begitu saya memasuki kawasan dapur, ujung mata kiri saya menangkap gerakan tiba-tiba dari depan pintu kamar mandi. Yaaah.. Kecoa. Sebel deh kalau udah kayak gini, batin saya.

“Aa…” saya memanggil suami saya segera. Biar suami saja yang urus. “Cepetan ke sini.. Ini ada kecoa di dapur.” Suami masih belum mengalihkan perhatian dari handphone­-nya. Bikin saya gereget. “Aa… Udah dulu main hapenya… Ke sini dulu…” Saya kembali memanggil suami sambil terus memfokuskan pandangan pada kecoa tersebut. Saya takut kehilangan jejaknya.

Akhirnya suami menghampiri saya juga. Saya langsung menunjuk ke arah kecoa berada. “Semprot aja, A, pake Hit.”

“Mana Hit-nya?” Saya—dengan cekatan—mengambil pembasmi serangga tersebut ke ruang tamu. Ada dua botol di sana. Saya ambil salah satunya dan segera memberikannya pada suami. Saya memperhatikan suami dan kecoa dari kejauhan (nggak jauh-jauh amat, sih. Paling jarak satu meter. Hihihi..). Suami agak kewalahan karena kecoa tersebut lincah. Ketika itu, saya melihat kecoa di belakang suami. Saya pikir suami saya kehilangan jejak kecoa tadi. Ternyata kecoanya ada dua. Ya, ampun.. Dua kecoa sekaligus merusak suasana malam kami di rumah—khususnya saya. Kalau suami, sih, biasa-biasa saja. Mungkin kecoa di matanya seperti seekor semut, tidak menakutkan sama sekali. Lain halnya dengan saya, hanya dengan menatap kecoa saja badan saya bisa merinding. Rasa takut menyeruak ke seluruh tubuh.😦

Kedua kecoa tadi agak bandel rupanya. Lincah dan kompak. Keduanya sama-sama menuju kamar mandi. Mereka masuk melalui celah pintu bagian bawah. Begitu suami saya membuka pintu kamar mandi…

“De, tutup pintu yang ke ruang tamu! Jangan ke sini! Ade di ruang tamu aja!” Suami berteriak dari dalam kamar mandi yang tadi langsung ia tutup kembali pintunya.

“Ada apa, A? Kenapa?” Saya panik. Berusaha menangkis segala bayangan seram yang mendadak muncul di pikiran saya.

“Pokoknya tutup aja dulu!”

Saya menuruti apa kata suami. Terdengar suara semprotan pembasmi serangga berkali-kali dari dalam kamar mandi. Bayangan mengerikan semakin menjadi. Mungkinkah ada banyak kecoa di dalam sana? Berapa ekor? Lima? Sepuluh? Mengapa bisa begitu? Ada apa ini? Saya semakin panik. Panik yang dibuat oleh diri sendiri karena tak mampu meredakan pikiran negatif beserta bayangannya. Tangan saya mulai gemetar. Napas pun tak beraturan. Saya benar-benar tak tahu apa yang terjadi. Suami masih saja menyemprotkan pembasmi serangga. Lagi, lagi, dan lagi. Sesekali terdengar suara batuk dan— Continue reading

Tips Menghadapi Ujian Nasional (UN)

Hai, halo, apa kabar, adikku? Semoga kamu dalam kondisi sehat wal afiat, ya. Jaga terus kesehatanmu selalu. Kenapa? Karena sebentar lagi kamu akan menghadapi Ujian Nasional (UN) yang–sampai sekarang–masih menjadi tolak ukur kelulusan (dengan segala bla-bla-bla–peraturan baru yang semakin aneh dan rumit). Ah, tapi kan menjaga kesehatan itu memang sudah seharusnya dilakukan setiap saat, bukan? (Plak! Berasa ketampar banget sama kata-kata sendiri, karena kakak masih suka cuek sama kesehatan diri sendiri. Jangan ditiru, yaw!).😀

Hey, bagaimana perasaanmu sekarang? UN tinggal menghitung hari. Setiap helaan napasmu, semakin mendekatkanmu pada UN. Tapi tenang saja. Kakak yakin, kamu sudah mempersiapkan UN dengan matang sejak beberapa bulan ke belakang, atau bahkan sejak duduk di bangku kelas 1 SMP/SMA. Jadi, nggak usah khawatir. Khawatir itu, kalau kamu belum mempersiapkan diri sama sekali (selama ini kemana aja, hey??). Namun, tidak ada kata terlambat. Saat ini kamu sadar, maka saat ini pula kamu segera bergerak. Ralat : bergeraknya setelah baca artikel ini aja, ya. InsyaAllah membaca artikel ini juga salah satu upaya kamu untuk mempersiapkan diri menghadapi makhluk bernama UN yang–katanya–mengerikan itu (padahal biasa aja, keless…)😀

Kakak pernah duduk di bangku SMP dan SMA. Jadi, tentu kakak juga pernah menghadapi UN. Eh, ini foto kakak waktu masih SMA, loh.. Waktu masih imut-imut kaya’ kamu.. Numpang eksis, yaa.. Hihihi… 😀

10444408_10204146071718157_8786955562608768649_n

Kakak punya beberapa tips menghadapi UN yang mudah-mudahan bisa membantu meringankan dan melancarkan pelaksanaannya. Tipsnya sudah umum, sih. Mungkin di sini kakak hanya mengingatkan saja. Here are some points that you can try to do if you really want to enjoy your examination. 😉 Continue reading

Lama Tak Menulis

dini

Assalamualaikum, teman-teman. Apa kabar? Semoga kita semua selalu ada di bawah lindungan-Nya. Aamiin.. Saya ucapkan banyak terima kasih pada semua pembaca yang tetap setia mantengin blog saya yang sudah kurang lebih delapan bulanan tidak update ini. Terima kasih juga ingin saya sampaikan pada followers blog saya yang kerap kali menanyakan kapan saya menulis lagi, kapan blog-nya update lagi, kapan tulisan barunya muncul lagi di dunia maya. Alhamdulillah, dengan vakumnya saya dari menulis, saya jadi tahu, di luar sana banyak yang mendorong saya untuk kembali menulis. Tanpa saya sadari, beberapa pembaca menunggu tulisan terbaru saya. Jujur, saya begitu terharu. Ini semua karena Allah Swt. Ya, saya tidak akan bisa menulis dan berbagi pengalaman tanpa bimbingan-Nya.

Sebenarnya, selama ini banyak sekali pengalaman berharga yang ingin saya bagikan di sini. Namun, sejak saya menemukan pendamping hidup, saya merasa sudah menemukan seseorang yang bisa dijadikan sebagai tempat bercerita. Setelah saya bercerita padanya, saya merasa cukup. Bahkan saya tidak terpikirkan untuk membagikannya di sini. Lalu, suami membujuk saya untuk kembali menulis dan mengaktifkan blog yang sudah lama tertidur ini. Mulailah saya berpikir, apakah saya harus menulis lagi.

Ah,, iya, saya sudah menikah. Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan seseorang yang sudah tak asing lagi bagi saya. Saya menikah dengan sahabat saya sendiri, sahabat sejak SMA. Begitu banyak kisah kasih yang saya alami setelah lulus SMA. Tak disangka, jodoh saya tidak jauh. Saya datang ke Jakarta untuk mencari pasangan yang disiapkan Allah untuk saya. Tak diduga, ia ada di kota kelahiran saya, Bandung. Jodoh memang misteri. Lalu, bagaimana kisah kami sejak SMA hingga bertemu kembali menjadi sepasang kekasih? Sungguh, ini bukanlah cerita pendek yang bisa saya bagikan dengan satu judul artikel. Kisah kami sangat unik, indah, dan menyentuh. Orang lain bilang kisah kami seperti cerita di FTV. Dengan kata lain, seperti fiksi, tapi nyata. Sepertinya tidak mungkin terjadi di dunia nyata, tetapi kami jelas-jelas mengalaminya. InsyaAllah, saya akan bagi kisah ini di lain waktu, entah lewat blog, atau bentuk lain. Semoga bisa menginspirasi banyak orang tentang hakikat jodoh.

Kini, saya telah mengaktifkan kembali blog saya yang selama ini hanya menerima dan membalas komentar di beberapa tulisan lama. Maka, dengan membaca basmalah, Bismillaahirrohmaanirrohiim, saya menulis lagi. Semoga Allah senantiasa membimbing hati, pikiran, dan jari-jemari saya untuk menuangkan tulisan bermanfaat di sini. Aamiin.. :)

The Best Parents

image

Hidup manusia selalu disertai dengan masalah. Begitu pula dengan hidup yang saya jalani. Semakin bertambah usia, masalah yang saya hadapi pun semakin bertambah tingkat kesulitannya. Sangat tidak pantas jika siswa SMA diberi soal setingkat SD untuk bisa masuk ke perguruan tinggi, bukan? Dan saya yakin, masalah itu dihadirkan untuk menaikkan derajat manusia, seperti halnya ujian setiap akhir tahun ajaran bagi siswa sekolah yang harus dilalui sebagai proses menuju kenaikan kelas.

Belakangan ini, saya sedang berada pada posisi itu. Posisi di mana saya sedang diuji untuk menghadapi masalah yang cukup berat bagi saya. Saya merasa sendiri. Tak pernah menyangka sebelumnya bahwa saya akan berada pada posisi sulit seperti ini. Saya tertekan. Air mata pun tidak sanggup saya tahan setiap kali teringat akan masalah yang sedang dihadapi. Ketakutan seolah datang bertubi-tubi memenuhi hati dan pikiran saya. Semuanya berubah menjadi gelap.

Halusinasi yang menggambarkan ketakutan pun semakin menjadi. Di hadapan saya, seolah ada tebing yang sangat terjal dan tinggi. Sedangkan di belakang saya ada jurang yang sangat dalam. Dan persediaan makanan serta minuman saya habis. Inikah akhir dari kenikmatan hidup saya? Saya tersenyum kecut saat menyadari bahwa setan pasti bersorak gembira telah membuatku hampir tersesat. Hampir kehilangan arah.

Allah Swt.
Ada Allah Yang Maha Besar.
Tentu saja Allah jauh lebih besar dari masalah yang sedang menimpa saya.

Saya berdoa pada-Nya. Sepenuh hati. Menangis. Mencurahkan isi hati. Meminta petunjuk. Memohon pertolongan. Ingin dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk, tercela, terhina, ter-menyebalkan sedunia dan akhirat. Saya hanya manusia biasa. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah Swt.

Saat diri ini hampir jatuh, hampir ingin lari dari kenyataan, pertolongan Allah datang. Tiba-tiba, Bapa (panggilan untuk ayah kandung saya yang tercinta, tersayang, tertampan, dan terhebat sedunia), menghampiri dan merangkul saya.

“Kita ngobrol, yuk. Cerita sama Bapa, apa yang bikin Dini ngerasa berat,” kata Bapa dengan lembut, membuat hati ini meleleh dan ingin menangis.

…and he suddenly kissed my forehead.
:)

Setelah itu malah air mata saya yang meleleh. Saya benar-benar dibuatnya tenang, sekaligus menangis karena tersentuh, terharu, dan terpancing kembali semua emosi yang sudah saya simpan beberapa saat sebelumnya. Saya pun siap menceritakan semua beban yang saya rasakan.

Saya bicara. Menangis. Bicara lagi. Menangis lagi. Bicara sambil menangis. Emosi meluap, tangisan menjadi tak karuan. Bapa mengambilkan minum untuk saya. Setelah minum, saya kembali berbicara. Dan lagi-lagi menangis. Emosi saya semakin meluap, mambuat irama tangisan saya seperti sesak napas. Bapa terlihat khawatir hingga tangannya menggenggam lengan saya, berharap bisa memberikan energi positif yang mampu membuat saya lebih tenang. Dan itu benar-benar membuat saya nyaman. Sangat nyaman.:)

Solusi, motivasi, ilmu, nasehat, mengalir utuh dari mulutnya. Mamah (ibu saya) pun mendekat, ikut berpartisipasi, tak kalah bijak dengan Bapa. Mereka membuat saya semakin yakin. Yakin untuk mengarungi kehidupan–yang belum tentu mudah dan juga belum tentu sulit–di depan mata saya. Yakin bahwa pertolongan Allah akan datang di setiap waktu. Yakin bahwa niat baik yang dilakukan dengan baik akan mendatangkan kebaikan. Semoga semua masalah menjadi penghapus dosa-dosa saya. Allah Maha Adil. Allah Maha Pengampun. Allah Maha Tahu apa yang saya butuhkan. Allah tak pernah salah. Allah selalu menepati janji. Allah sayang kamu, dini.. insyaAllah. :)

Makasih, Mamah..:)
Makasih, Bapa..:)

Terima kasih, Allah, telah menjadikan Mamah dan Bapa sebagai orang tua kandungku. Karena mereka adalah orang tua terbaik bagiku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku. Berikanlah kesehatan dan limpakanlah rezeki yang tak terhingga pada mereka. Muliakanlah mereka. Dan jadikanlah aku orang tua yang bijak bagi anak-anakku kelak, seperti kedua orang tuaku. Aamiin.. :)

Teman-teman, mohon diaminkan juga untuk kebaikan kedua orang tua saya, ya. Terima kasih. Semoga kebaikan itu Allah berikan juga untuk kita semua.:)

“Terima Kasih”

15840661-thank-you-blackboard-sign-thank-you-written-with-chalk-on-black-chalkboard
Sumber Gambar

Suatu hari Tante Vivin mengunjungi rumah Priza. Saat tiba di rumah bercat biru itu, Tante Vivin segera menyapa Priza yang sedang asyik bermain robot-robotan di teras rumahnya.

Tante Vivin : Assalamualaikum, Prizaaaa! ^^
Priza : Waalaikumussalam, Tante! Tante bawa apa itu?
Tante Vivin : Lihat, Tante bawa mainan buat Priza.:)
Priza : Waaaaah!! Mobil-mobilan!! Makasih, Tante!😀
Tante Vivin : Sama-sama, sayang. Priza suka?:)
Priza : Iya!! Mobilnya bagus!😀

Percakapan sederhana di atas pasti sering kita temui di dalam kehidupan sehari-hari kita, bukan? Ucapan terima kasih yang diucapkan oleh Priza pada tantenya adalah ucapan ringan yang sangat terpuji. Begitu pun dengan percakapan lain di bawah ini.

Rendi datang menjenguk Adik sepupunya, Agung, yang sedang dirawat di Rumah Sakit karena suatu penyakit yang dideritanya.

Rendi : Gimana kondisi Lo, Gung? Udah baikan?
Agung : Lumayan, Bang. Tinggal pusingnya aja.
Rendi : Sorry ya, Gung, gue nggak sempet beli apa-apa buat Lo. Jadi, gue ngasih mentahannya aja, ya.
Agung : Ya, ampun, Bang, jangan..
Rendi : Nggak apa-apa.. Ambil aja..
Agung : Jangan, Bang.. Jangan sedikit maksudnya..😀
Rendi : Yeee.. Dasar bocah! Lagi sakit masih sempet aja bercanda!😀
Agung : Hehehe.. Thank’s ya, Bang. Makasih banyak juga udah mau nengokin gue.
Rendi : Iya, sama-sama. Cepet sembuh, ya, Gung.
Agung : Aamiin..:)

Entah sejak kapan ucapan ‘terima kasih’ ini muncul di muka bumi. Kata yang enak didengar, nyaman di hati, dan mampu membuat bibir membentuk seulas senyum, baik saat mengucapkannya maupun saat menerima ucapan tersebut. Continue reading