Hidup Tak Berguna

Dikisahkan seorang petani tua yang sudah sangat renta sehingga tidak dapat lagi bekerja di ladang. Karenanya, dia menghabiskan hari-harinya hanya dengan duduk-duduk di teras. Sang anak, yang sekarang mengambil alih pekerjaannya di ladang, senantiasa menjaga dari waktu ke waktu dan mengawasi ayahnya duduk di sana. “Dia tidak lagi berguna,” sang anak berkata pada dirinya sendiri. “Dia tidak bisa melakukan apapun.”

Suatu hari, sang anak dibuat frustasi oleh keadaan ini sehingga dia membuat peti kayu. Diseretnya peti tersebut ke teras dan berkata kepada sang ayah untuk masuk ke dalamnya. Tanpa berbicara sepatah kata pun, sang ayah masuk ke dalam peti.

Setelah peti ditutup, sang anak menyeret peti tersebut ke pinggir ladang yang berjurang. Ketika dia akan menjatuhkan peti, dia mendengar ketukan pelan dari dalam peti. Dia membukanya. Tetap berbaring di sana dengan tenang, sang ayah yang menatap ke arahnya. “Aku tahu kamu akan melemparkan aku ke jurang. Tapi sebelum kau lakukan itu, bolehkah aku menyarankan sesuatu?” “Apa itu?” jawab sang anak. “Lemparkan aku ke jurang, jika itu maumu,” kata sang ayah, “tapi simpanlah peti kayu yang bagus ini. Anakmu mungkin akan membutuhkannya kelak.”

Anonim, diterjemahkan oleh Sly.
Dikutip dari Majalah Percikan Iman edisi Januari 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s