Ingin membesuknya, tapi…

Saya memiliki seorang teman yang sedang diuji oleh Allah dengan sakit. Sebenarnya sudah seminggu yang lalu saya mendapat kabar langsung dari teman saya itu bahwa dia sedang sakit. Khawatir? Jelas. Tapi, saya berusaha untuk mengendalikan rasa khawatir itu dan mencoba berpikir positif bahwa dia akan baik-baik saja.

Selama beberapa hari dari situ, hp-nya sering tidak aktif dan blog-nya pun tidak update. Ada apa ini? Secara tidak sengaja, saya pun mendapat kabar dari keluargaya bahwa dia masih sakit, bahkan sampai susah makan, dan kini harus dirawat di rumah sakit. Jujur, sejak awal saya sudah mengira bahwa ada yang tidak beres dengan kesehatan organ dalamnya. Sejak awal, saya ingin bertindak, tapi saya siapa? Saya bukan keluarganya, melainkan hanya temannya. Ingin sekali saya merawatnya. Tapi sekali lagi, saya bukan keluarganya. Biarlah, sudah ada dokter dan suster yang menanganinya, juga ada keluarga yang mendampinginya. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

Ingin sekali saya membesuknya, tapi apa saya sanggup melangkahkan kaki saya menuju rumah sakit, tempat yang ku takuti selama ini? Apa saya kuat untuk tidak menangis saat melihatnya di ruang rawat? Apa saya mampu berkata-kata ketika bertemu dengannya? Berkali-kali aku menangis saat membesuk atau melihat orang yang sedang sakit, apalagi ada alat-alat bantu yang menempel pada tubuh orang itu, misalnya infusan, selang yang dimasukkan ke dalam hidung, atau alat-alat yang lainnya. Melihat ibu saya yang diinfus waktu dulu dirawat di rumah sakit saja saya menangis. Padahal ibu saya saja kuat menjalaninya. Tapi, saya tidak tega melihatnya. Minimal tubuhku menjadi lemas, pucat, dan dingin. Hanya dengan membayangkannya saja hatiku terasa sesak.😥

Ya, secara tidak langsung, mental saya yang lemah pun diuji. Butuh kekuatan ekstra untuk membesuknya. Atau, siapkan rasa malu kalau-kalau saya tidak bisa menahan tangis. Bagaimana ini? Saya yang biasanya kurang nafsu makan menjadi tidak ada nafsu sama sekali (Ga boleh gitu, dini..). Saya ingin mendapat kabar tentang kondisinya, apa yang baru saja dia lakukan, apa yang dia inginkan, dan apa yang dikatakan dokter padanya, tapi kabar itu langsung saya dapatkan darinya. Bisakah? Kalau tidak bisa, lantas bagaimana saya bisa mengendalikan rasa khawatir dan sesak ini.. Tolonglah.. untuk situasi seperti ini saja.. berilah saya kesempatan..😥

Untuk temanku yang baik,,🙂

“Semua doa terbaik ku persembahkan untukmu. Allah sangat tau apa yang terbaik untukmu. Pasti ada hikmah di balik semua ini. Dan yakinlah akan janji Allah, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Allah juga bersama dengan orang-orang yang sabar. Jadi, bersabarlah.. Kalau semua ini bisa dilalui dengan penuh kesabaran dan rasa syukur, insyaAllah Allah akan meninggikan derajatmu di mata-Nya.

Semangatlah untuk sembuh!! Tarik nafasmu.. senyum sedikit.. dan bilang kalo kamu bisa menjalani ini dengan baik!! Allah sayang padamu, teman,, mintalah kesembuhan pada-Nya. Semangat!!” \(^o^)/

Semoga teman saya membaca tulisan ini.. agar ketika bertemu nanti, tidak masalah bagi saya jika memang saya tidak bisa berkata-kata di hadapannya.. mungkin hanya sedikit tenaga yang saya butuhkan, yaitu untuk bisa tersenyum saat dia menatap wajah saya.

Tapi, saya tetap harus berusaha untuk menguatkan mental saya. Ayo, dini!! Latihan membesuk orang yang sedang sakit!! Kamu BISA!!!!!!!! Pikirkan caranya.. Pikirkan caranya.. Pikirkan caranya..

9 thoughts on “Ingin membesuknya, tapi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s