Artikel: Penerapan Brain Based Learning dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa

PENERAPAN BRAIN BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA
(Studi Studi Eksperimen terhadap Siswa Kelas IX Suatu SMP Negeri di Kabupaten Bandung)

Dini Nurhadyani

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen terhadap kelas IX suatu SMP Negeri di Kabupaten Bandung semester ganjil tahun ajaran 2010/2011. Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini di antaranya adalah motivasi belajar dan kemampuan koneksi matematis siswa yang dinilai masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengkaji secara mendalam apakah peningkatan motivasi belajar dan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning lebih tinggi daripada peningkatan motivasi belajar dan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional; 2) untuk mengidentifikasi kualitas peningkatan motivasi belajar dan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning; dan 3) untuk mengidentifikasi tanggapan siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning. Berdasarkan hasil analisis terhadap data-data yang terkumpul melalui instrumen penelitian, maka kesimpulan umum dari penelitian ini adalah: 1) peningkatan motivasi belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning tidak lebih tinggi daripada peningkatan motivasi belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional; 2) kualitas peningkatan motivasi belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning yaitu rendah; 3) peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional; 4) kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning yaitu sedang; dan 5) sebagian besar siswa memberikan tanggapan yang positif terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning.

Kata kunci: Brain Based Learning, Motivasi Belajar, Kemampuan Koneksi Matematis

A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun, kualitas pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih belum menggembirakan, khususnya dalam bidang matematika. Salah satu masalah yang dialami oleh sebagian besar siswa dalam pembelajaran matematika adalah motivasi belajar yang masih rendah. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh penulis, hal tersebut dialami oleh siswa-siswa salah satu SMP Negeri di Kabupaten Bandung. Guru pengajar matematika di sana mengatakan bahwa motivasi belajar siswa, khususnya dalam mempelajari matematika, pada umumnya masih sangat rendah.
Selain motivasi belajar, masalah yang dihadapi siswa dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan koneksi matematis yang masih rendah. Rusgianto (Lestari, 2009: 4) menyatakan bahwa kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan matematika yang dimilikinya dalam kehidupan nyata masih belum memuaskan. Ruspiani (Gordah, 2009: 4) pun menemukan bahwa kemampuan siswa dalam melakukan koneksi matematis masih tergolong rendah.
Learning is most effective when it’s fun. Kalimat tersebut dicetuskan oleh Peter Kline (Hernowo, 2008: 15), seorang penulis buku yang berjudul Everyday Genius. Untuk menciptakan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan, hendaknya guru memperhatikan satu hal penting dalam tubuh manusia yang selama ini kemampuannya masih kurang dioptimalkan, yaitu otak.
Berdasarkan pemaparan di atas, berarti dibutuhkan sebuah pendekatan pembelajaran yang mengoptimalkan kerja otak serta diperkirakan dapat meningkatkan motivasi belajar dan kemampuan koneksi matematis siswa, yaitu pendekatan Brain Based Learning. Pendekatan Brain Based Learning (Jensen, 2008: 12) adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain secara alamiah untuk belajar.
Tahap-tahap perencanaan pembelajaran Brain Based Learning yang diungkapkan Jensen dalam bukunya yaitu tahap pra-pemaparan, persiapan, inisiasi dan akuisisi, elaborasi, inkubasi dan memasukkan memori, verifikasi dan pengecekan keyakinan, dan yang terakhir adalah perayaan dan integrasi. Sedangkan tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam implementasi Brain Based Learning (Sapa’at, 2009) yaitu: (1) menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa; (2) menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan; dan (3) menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa.
Berdasarkan strategi-strategi tersebut, pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning dalam pembelajaran matematika memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasah kemampuan berpikir, khususnya kemampuan berpikir matematis, termasuk kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Surakhmad (Mulyana, 2008: 2), bahwa pembelajaran matematika memang harus memberikan peluang untuk belajar berpikir matematis. Lebih lanjut, Romberg menyatakan dalam Chair (Rohendi, 2009: 30) bahwa beberapa aspek berpikir tinggi, yaitu pemecahan masalah matematika, komunikasi matematis, penalaran matematis, dan koneksi matematis. Dengan demikian, pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning dalam pembelajaran matematika memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasah kemampuan koneksi matematis. Selain itu, lingkungan pembelajaran yang menantang dan menyenangkan juga akan memotivasi siswa untuk aktif berpartisipasi dan beraktifitas secara optimal dalam pembelajaran.
Berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap pendekatan Brain Based Learning dalam kaitannya dengan peningkatan motivasi belajar dan kemampuan koneksi matematis siswa.

B. Kajian Pustaka

1. Peranan Otak dan Memori dalam Pembelajaran
Roger Sperry (Hernowo, 2008), pemenang hadiah Nobel bidang kedokteran, menemukan dua belahan otak, yaitu otak kiri dan otak kanan yang berfungsi secara berbeda. Menurut beliau, otak kiri berpikir secara rasional, sedangkan otak kanan berpikir secara emosional. Sejalan dengan hal tersebut, Dilip Mukerjea (Hernowo, 2008: 68) juga mengungkapkan bahwa otak kreatif adalah otak kiri dan otak kanan yang bekerja sinergis. Dalam pembelajaran, hendaknya penggunaan otak kiri dan otak kanan diseimbangkan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Otak juga sangat berperan dalam pembentukan memori. Berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu & Zain, 1994: 885), memori adalah ingatan atau daya ingat. Memori ini sangat penting dalam pembelajaran. Semua yang telah kita pelajari, baik secara sadar maupun tidak sadar, tersimpan dalam memori.

2. Pendekatan Brain Based Learning
Brain Based Learning (Jensen, 2008: 12) adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain secara alamiah untuk belajar. Sejalan dengan hal tersebut, Sapa’at (2009) juga mengungkapkan bahwa Brain Based Learning menawarkan sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran yang berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi otak siswa.
Dalam menerapkan pendekatan Brain Based Learning, ada beberapa hal yang harus diperhatikan karena akan sangat berpengaruh pada proses pembelajaran, yaitu lingkungan, gerakan dan olahraga, musik, permainan, peta pikiran (mind map), dan penampilan guru.
Tahap-tahap pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning yang diungkapkan Jensen dalam bukunya yaitu:

a. Pra-Pemaparan
Pra-pemaparan membantu otak membangun peta konseptual yang lebih baik (Jensen, 2008: 484).

b. Persiapan
Dalam tahap ini, guru menciptakan keingintahuan dan kesenangan (Jensen, 2008: 486).

c. Inisiasi dan akuisisi
Tahap ini merupakan tahap penciptaan koneksi atau pada saat neuron-neuron itu saling “berkomunikasi” satu sama lain (Jensen, 2008: 53).

d. Elaborasi
Tahap elaborasi memberikan kesempatan kepada otak untuk menyortir, menyelidiki, menganalisis, menguji, dan memperdalam pembelajaran (Jensen, 2008: 58).

e. Inkubasi dan memasukkan memori
Tahap ini menekankan bahwa waktu istirahat dan waktu untuk mengulang kembali merupakan suatu hal yang penting (Jensen, 2008: 488).

f. Verifikasi dan pengecekan keyakinan
Dalam tahap ini, guru mengecek apakah siswa sudah paham dengan materi yang telah dipelajari atau belum. Siswa juga perlu tahu apakah dirinya sudah memahami materi atau belum.

g. Perayaan dan integrasi
Tahap ini menanamkan semua arti penting dari kecintaan terhadap belajar (Jensen, 2008: 490).

Strategi pembelajaran utama yang dapat dikembangkan dalam implementasi Brain Based Learning (Sapa’at, 2009) yaitu: (1) menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa; (2) menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan; dan (3) menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa.

3. Motivasi Belajar
Menurut Uno (2009: 9), motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku/aktivitas tertentu lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sedangkan Makmun (2007: 37) berpendapat bahwa motivasi itu merupakan suatu kekuatan, tenaga, daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari. Dalam perkembangannya, Syah (Hidayati, 2005: 29) mengemukakan bahwa motivasi dibedakan menjadi dua tipe, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, motivasi belajar adalah suatu kekuatan, tenaga, atau daya, baik yang datang dari dalam maupun dari luar diri individu, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri yang mendorong individu untuk belajar, baik disadari maupun tidak disadari.
Menurut Makmun (2007: 40), indikator motivasi yaitu: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi; (4) ketabahan, keuletan, dan kemampuan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan belajar; (5) devosi (pangabdian) dan pengorbanan berupa uang, tenaga, pikiran atau jiwa untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi; (7) tingkatan kualifikasi prestasi, produk, atau output yang dicapai dari kegiatan; dan (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

4. Kemampuan Koneksi Matematis
Kemampuan koneksi matematis merupakan salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. Kutz (Mariana, 2008: 15) menyatakan bahwa koneksi matematis berkaitan dengan koneksi internal dan koneksi eksternal. Koneksi internal meliputi koneksi antar topik matematika, sedangkan koneksi eksternal meliputi koneksi dengan mata pelajaran lain dan koneksi dengan kehidupan sehari-hari.
Sumarmo (Gordah, 2009: 27) memaparkan beberapa indikator koneksi matematis yang dapat digunakan, yaitu: (1) mencari hubungan berbagai representasi konsep dan prosedur; (2) memahami hubungan antar topik matematika; (3) menerapkan matematika dalam bidang lain atau dalam kehidupan sehari-hari; (4) memahami representasi ekuivalen suatu konsep; (5) mencari hubungan satu prosedur dengan prosedur lain dalam representasi yang ekuivalen; dan (6) menerapkan hubungan antar topik matematika dan antara topik matematika dengan topik di luar matematika.

5. Pendekatan Konvensional
Pendekatan konvensional yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang memiliki ciri-ciri dalam pembelajarannya menurut Nasution (Sukmawati, 2009: 9) yaitu: (1) bahan pelajaran disajikan kepada kelas sebagai keseluruhan tanpa memperhatikan siswa secara individual; (2) kegiatan pembelajaran umumnya berbentuk ceramah, kuliah tugas tertulis, dan media lain menurut pertimbangan guru; (3) siswa umumnya bersifat “pasif”, karena harus mendengarkan uraian guru mengajar; (4) keberhasilan belajar umumnya dinilai guru secara subjektif; (5) hanya sebagian kecil saja akan menguasai bahan pelajaran secara tuntas, sebagian lagi akan menguasai sebagian saja dan ada lagi yang akan gagal; dan (6) guru berfungsi sebagai penyebar/penyalur pengetahuan.

C. Hipotesis Penelitian
1. Peningkatan motivasi belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning lebih tinggi daripada peningkatan motivasi belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional.
2. Kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning lebih tinggi daripada kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional.

D. Metode Penelitian
Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian eksperimen. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain kelompok kontrol non-ekivalen yang melibatkan dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen (selanjutnya disebut kelas eksperimen) dan kelompok kontrol (selanjutnya disebut kelas kontrol). Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes koneksi matematis, angket motivasi belajar, jurnal harian siswa, dan lembar observasi.
Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes kemampuan koneksi matematis dan angket motivasi belajar siswa. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan uji statistik. Data kualitatif diperoleh dari jurnal harian siswa dan lembar observasi. Data jurnal harian siswa yang diperoleh dipisahkan, mana yang termasuk tanggapan positif dan mana yang termasuk tanggapan negatif, serta didata juga berapa banyak siswa yang tidak memberikan tanggapan. Kemudian, dihitung persentasenya. Setelah itu, barulah diambil kesimpulan berdasarkan hasil persentase yang telah didapatkan. Data hasil observasi dianalisis secara deskriptif, dijelaskan dalam bentuk kalimat-kalimat untuk membantu menggambarkan suasana pembelajaran yang telah dilakukan.

E. Analisis Data Penelitian dan Pembahasan

1. Analisis Data Penelitian

a. Analisis Data Hasil Tes Koneksi Matematis

1) Kemampuan Awal Koneksi Matematis
Hasil yang diperoleh dari uji normalitas terhadap data pretes menyatakan bahwa skor pretes kedua kelas berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Dengan demikian, selanjutnya tidak dilakukan uji homogenitas varians, tetapi langsung dilakukan uji kesamaan dua rata-rata dengan menggunakan uji nonparametris Mann-Whitney.
Hasil uji Mann-Whitney memperlihatkan bahwa nilai Sig. Mann-Whitney adalah 0,404. Berdasarkan kriteria pengujian yang telah ditentukan, maka H0 diterima. Ini berarti bahwa rata-rata kemampuan awal koneksi matematis siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama. Dengan demikian, langkah selanjutnya adalah melakukan uji statistik pada data hasil postes.

2) Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis
Hasil yang diperoleh dari uji normalitas terhadap data postes menyatakan bahwa skor postes kelas eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal, sedangkan skor postes kelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Dengan demikian, selanjutnya tidak dilakukan uji homogenitas varians, tetapi langsung dilakukan uji perbedaan dua rata-rata dengan menggunakan uji nonparametris Mann-Whitney.
Hasil uji Mann-Whitney memperlihatkan bahwa nilai Sig. Mann-Whitney adalah 0,000. Berdasarkan kriteria pengujian yang telah ditentukan, maka H0 ditolak. Ini berarti bahwa kemampuan koneksi matematis siswa kelas eksperimen setelah pembelajaran lebih tinggi daripada kemampuan koneksi matematis siswa kelas kontrol. Karena kemampuan awal koneksi matematis siswa kelas eksperimen sama dengan kemampuan awal koneksi matematis siswa kelas kontrol, maka data hasil postes juga dapat memperlihatkan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa setelah pembelajaran. Dengan demikian, dari hasil uji perbedaan dua rata-rata di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas eksperimen setelah pembelajaran lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas kontrol.

b. Kualitas Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis
Hasil uji statistik deskriptif terhadap skor indeks gain tes koneksi matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol memperlihatkan bahwa rata-rata indeks gain tes koneksi matematis siswa untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 0,3892 dan 0,1760. Berdasarkan kriteria indeks gain menurut Hake, ini berarti bahwa kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas eksperimen tergolong sedang, sedangkan kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas kontrol tergolong rendah.

c. Analisis Data Angket Motivasi Belajar

1) Motivasi Awal Belajar
Hasil yang diperoleh dari uji normalitas terhadap angket motivasi awal belajar siswa menyatakan bahwa skor angket motivasi awal belajar siswa kelas eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal, sedangkan skor angket motivasi awal belajar siswa kelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Oleh karena itu, selanjutnya tidak dilakukan uji homogenitas varians, tetapi langsung dilakukan uji kesamaan dua rata-rata dengan menggunakan uji nonparametris Mann-Whitney.
Hasil uji Mann-Whitney memperlihatkan bahwa nilai Sig. Mann-Whitney adalah 0,007. Berdasarkan kriteria pengujian, maka H0 ditolak. Ini berarti bahwa rata-rata skor angket motivasi awal belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah tidak sama. Oleh karena itu, selanjutnya dilakukan analisis terhadap skor indeks gain angket motivasi belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.

2) Peningkatan Motivasi Belajar
Hasil yang diperoleh dari uji normalitas terhadap skor indeks gain angket motivasi belajar siswa menyatakan bahwa skor indeks gain angket motivasi belajar kelas eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal, sedangkan skor indeks gain angket motivasi belajar kelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Oleh karena itu, selanjutnya tidak dilakukan uji homogenitas varians, tetapi langsung dilakukan uji perbedaan dua rata-rata dengan menggunakan uji nonparametris Mann-Whitney.
Hasil uji Mann-Whitney memperlihatkan bahwa nilai Sig. Mann-Whitney adalah 0,489. Berdasarkan kriteria pengujian, maka H0 diterima. Ini berarti bahwa peningkatan motivasi belajar siswa kelas eksperimen setelah pembelajaran tidak lebih tinggi secara signifikan daripada peningkatan motivasi belajar siswa kelas kontrol.

d. Kualitas Peningkatan Motivasi Belajar Siswa
Hasil uji statistik deskriptif terhadap skor indeks gain angket motivasi belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol memperlihatkan bahwa rata-rata indeks gain angket motivasi belajar siswa untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 0,0280 dan -0,0078. Berdasarkan kriteria indeks gain menurut Hake, ini berarti bahwa kualitas peningkatan motivasi belajar siswa, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol, tergolong rendah.

e. Analisis Data Jurnal harian Siswa
Setelah dihitung banyaknya tanggapan positif, negatif, dan yang tidak memberi tanggapan, serta dihitung persentasenya, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa memberikan tanggapan positif terhadap penerapan pendekatan Brain Based Learning dalam pembelajaran matematika yang telah dilaksanakan.

f. Analisis Data Lembar Observasi
Setelah dianalisis, ternyata hampir seluruh aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran berjalan dengan baik.

2. Pembahasan
Hasil pengolahan tes koneksi matematis siswa memperlihatkan bahwa: (1) rata-rata kemampuan awal koneksi matematis siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama; (2) peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas eksperimen setelah pembelajaran lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas kontrol; dan (3) kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas eksperimen tergolong sedang, sedangkan kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas kontrol tergolong rendah. Hasil ini bisa dikatakan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Surakhmad (Mulyana, 2008: 2), bahwa pembelajaran matematika memang harus memberikan peluang untuk belajar berpikir matematis. Selain itu, hasil analisis terhadap data hasil tes koneksi matematis ini juga sesuai dengan salah satu peranan Brain Based Learning, yaitu memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasah kemampuan koneksi matematis siswa.
Hasil pengolahan angket motivasi belajar siswa memperlihatkan bahwa: (1) rata-rata skor angket motivasi awal belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah tidak sama; (2) peningkatan motivasi belajar siswa kelas eksperimen setelah pembelajaran tidak lebih tinggi secara signifikan daripada peningkatan motivasi belajar siswa kelas kontrol; dan (3) kualitas peningkatan motivasi belajar siswa, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol, tergolong rendah.
Menurut pengamatan penulis, selama proses pembelajaran, siswa kelas eksperimen terlihat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Mereka pun mengaku senang belajar dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning. Hal ini salah satunya dapat dilihat dari jurnal harian yang dibuat oleh siswa pada setiap pertemuannya. Namun, ternyata banyak dari mereka, skor angket motivasi belajarnya justru menurun. Selain itu, hasil pengolahan data angket juga menyatakan bahwa peningkatan motivasi belajar siswa kelas eksperimen tidak lebih tinggi secara signifikan daripada peningkatan motivasi belajar siswa kelas kontrol. Menurut dugaan penulis, hal ini terjadi karena siswa tidak serius dalam mengisi angket motivasi belajar. Selain itu, beberapa siswa juga terlihat saling mencontek dalam mengisi angket.
Hasil analisis terhadap jurnal harian siswa dan lembar observasi memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa memberikan tanggapan yang positif terhadap penerapan pendekatan Brain Based Learning dalam pembelajaran matematika yang telah mereka ikuti dan hampir seluruh aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran berjalan dengan baik.

F. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan
Dari seluruh rangkaian penelitian yang telah dilakukan, mulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan, hingga pada tahap analisis data, dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu: (1) peningkatan motivasi belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning tidak lebih tinggi daripada peningkatan motivasi belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional; (2) kualitas peningkatan motivasi belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning yaitu rendah; (3) peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional; (4) kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning yaitu sedang; dan (5) sebagian besar siswa memberikan tanggapan yang positif terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning.

2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, maka peneliti mengajukan beberapa saran, yaitu: (1) pendekatan Brain Based Learning dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran matematika untuk meningkatkan motivasi belajar dan kemampuan koneksi matematis siswa SMP; (2) penelitian terhadap pendekatan Brain Based Learning dalam kaitannya dengan peningkatan motivasi belajar dan kemampuan koneksi matematis siswa disarankan untuk dicoba kembali karena dalam penelitian ini motivasi belajar siswa hanya mencapai kualitas peningkatan yang rendah, dan kemampuan koneksi matematis siswa pun belum dapat menghasilkan kualitas peningkatan yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Badudu, J. S., & Zain, S. M. (1994). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Gordah, E. K. (2009). Meningkatkan Kemampuan Koneksi dan Pemecahan Masalah Matematik Melalui Pendekatan Open Ended. Tesis Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Hernowo. (2008). Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar Secara Menyenangkan. Bandung: MLC.

Hernowo. (2008). Menulis Feature di Dunia Venus. [Online]. https://internalmedia.wordpress.com/2008/02/19/menulis-feature-di-dunia-venus/. [1 Desember 2010].

Hidayati, A. (2005). Penerapan Model Pembelajaran Generatif Matematika dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Jensen, E. (2008). Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak: Cara Baru dalam Pengajaran dan Pelatihan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lestari, P. (2009). Peningkatan Kemampuan Pemahaman dan Koneksi Matematis Siswa SMK Melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual. Tesis Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Makmun, A. S. (2007). Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mariana, T. (2008). Implementasi Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Strategi Working Backward untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematika. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Mulyana, T. (2008). Pembelajaran Analitik Sintetik untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematik Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Rohendi, D. (2009). Kemampuan Pemahaman, Koneksi, dan Pemecahan Masalah Matematik: Eksperimen terhadap Siswa Sekolah Menengah Atas Melalui Pembelajaran Elektronik (E-Learning). Disertasi Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Sapa’at, A. (2009). Brain Based Learning. [Online]. Tersedia: http://matematika.upi.edu/index.php/brain-based-learning/. [6 Juli 2010].

Sukmawati, E. (2009). Pengaruh Pembelajaran ‘KUASAI’ Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SMP. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Uno, H. B. (2009). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.

About these ads

98 thoughts on “Artikel: Penerapan Brain Based Learning dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa

  1. ass,.
    maaf teh, sya riesto dari untirta serang,.
    kebetulan saya sedang menyusun proposal saya judulnya “penerapan brain based learning terhadap kemandirian belajar matemaatika siswa smp”
    saya boleh lihat RPP yang sudaah teteh buat.. soalnya saya masih bingung dengan langkah2 BBL tersebut..

    • Waalaikumussalam.. :)

      Wah, riesto sudah mulai membuat proposal? Buat skripsi, bukan? berarti sudah tingkat akhir, dong? Selamat, ya. :D

      Hmm.. Masih bingung dengan langkah-langkahnya, ya? Jujur, waktu saya masih menyusun proposal pun sama, bingung dengan langkah-langkahnya. Di buku rujukan utama saya tentang Brain Based Learning karya Eric Jensen pun ga ada contoh konkrit untuk RPP-nya. Apalagi untuk matematika. Akhirnya, saya, dengan bimbingan dosen-dosen pembimbing, menghasilkan satu kesepakatan untuk RPP-nya.

      Karena riesto hanya bingung pada langkah-langkah pembelajarannya, jadi saya memposting contoh langkah-langkah pembelajarannya saja, ya. Mudah-mudahan bisa membantu.

      Silakan dicek postingannya. Kalau ada yang ingin ditanyakan juga silakan. Selama saya bisa membantu, insyaAllah dengan senang hati saya bantu.

      Semangat, ya!!
      Good luck!! :D

      • wow.. like this,.
        aku boleh minta link untuk brain gym tidak?
        soalnya aku cari gak pernah nemu yang pas,.
        oya dalam pelaksanaanya, apakah selalu dengan diskusi kelompok?
        kenapa musik dimasukkan pula dalam pembelajaran? (apa ada dalam buku)?? jenis musik apa saja yang cocok?

        ups,. banyak juga pertanyaanya,. hehe,. :D

      • Makasih buat ‘like’-nya. :)

        Untuk brain gym, saya tidak mencari di internet, tapi dari bukunya langsung.
        Dennison, P. E., & Dennison G. E. (2006). Brain Gym. Jakarta: Grasindo.
        Silakan cari saja di toko buku.

        Sepengetahuan saya, Brain Based Learning memang cenderung mengkondisikan siswa dalam kelompok. Musik bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif variasi dalam pembelajaran serta memiliki pengaruh yang cukup baik bagi kerja otak ketika siswa belajar, khususnya bagi siswa yang memang senang belajar sambil mendengarkan musik. Riesto bisa mendapatkan informasi tentang hubungan otak dan musik di internet, tinggal searching saja di Google. Biar lebih lengkap informasinya.

        Mengenai Brain Based Learning itu sendiri, akan panjang kalau harus saya jelaskan. Riesto sudah punya buku ini, belum?
        Jensen, E. (2008). Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak: Cara Baru dalam Pengajaran dan Pelatihan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
        Sebaiknya, untuk memenuhi tugas skripsi yang berkaitan dengan Brain Based Learning, buku ini seharusnya menjadi rujukan utama. InsyaAllah, semua pertanyaan tentang Brain Based Learning ada di dalam buku ini.

        NB: Untuk contoh langkah-langkah pembelajaran yang sudah saya posting, silakan dipelajari, tapi jangan copy paste, ya! Enaknya memang menggunakan bahasa sendiri supaya lebih bisa dihayati dan dimengerti. :)

        Semoga lancar, ya. :)

  2. iya,. aku sudah punya buku itu,. Brain Based Teaching nya pun sudah punya,.
    tp belum selesai dibaca semua.. hehe..

    untuk Langkah2 pembelajaran yang saya ambil hanya esensi dari tahap2 nya saja,. saya juga menyelipkan dialog disetiap tahap2annya,. hehe..

    trima kasih yaaaa… :)

  3. ass..
    mbaa mau nnya kalo dlm pmbljrn model BBL kn pake musiik,,nah gimana kalo ada siswa yg ga suka belajar dengan menggunakan musik??
    kebetulan saya jga skrg lagi bkin proposal ngambil model Brain Based Learning…
    makasiih ya mba sblum nya.. :)

    • waalaikumussalam..
      Nah, itu memang salah satu kendala dari diterapkannya BBL.
      Tidak semua orang suka musik walaupun menurut para ilmuwan, musik tertentu sangat baik untuk pembelajaran.
      Dalam buku BBL karya Eric Jensen, ada kata-kata: sediakan arena untuk mendengarkan musik.
      Artinya, siswa yang menyukai musik dan yang tidak menyukai musik harus dipisahkan pada arena yang berbeda, supaya tidak mengganggu satu sama lain.
      Namun, pada prakteknya, saya juga kesulitan untuk mengkondisikan kelas untuk memenuhi itu.
      Akhirnya, suka nggak suka, semua siswa mendengarkan musik sambil belajar.

      Lagi nyusun proposal untuk skripsi, ya? Waah,, semangat, ya! ^^
      Kalo wina bisa mengondisikan apa yang BBL mau, berarti wina hebat!
      Dicoba, ya! Jangan lupa kabar-kabari saya dan sharing juga sama saya. Biar pengetahuan saya pun bertambah. :)

    • Duh, saya kurang mengerti dengan pertanyaannya.
      Tapi InsyaAllah saya coba jawab.
      Mudah-mudahan jawaban saya pas dengan maksud pertanyaannya, ya.
      Begini, untuk mengukur motivasi belajar siswa, saya menggunakan angket motivasi belajar.
      Indikator-indikator yang saya pegang saya dapatkan dari buku :
      Makmun, A. S. (2007). Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
      (Kalau tidak salah, bukunya yang ini. Maaf, saat ini saya tidak sedang memegang buku-buku rujukan skripsi saya)
      Setelah angketnya dijawab oleh siswa, maka selanjutnya dilakukan analisis data dengan statistika.

  4. iaa skrang lgi nyusuun prposal buat skripsii,,minta do’a nya ya kka spya lncr,,hehehe :D
    mksiih info’y….:)
    Mdh”n wna bisa mengkondisikan apa yg BBL mau,,Insya Allah..

  5. owh gtu,,mksich ea ats penjlsannya,,,

    ow ea,selain motivasi cocoknya pada BBL ini,,,kira2 bs jg g dpke untuk meningkatkan vocabulary dlm pembljrn bhs inggris atw yng lainnya misalnya speaking siswa atw writing …
    mksich sblumnya mbx,,,, :)

    • Kalau menurut saya sih sangat bisa.
      Karena yang saya tau, justru BBL ini sebelumnya sudah diterapkan dalam pembelajaran bahasa.
      Dalam buku “Brain Based Leraning” karya Eric Jensen, hampir tidak ada penjelasan rinci tentang penerapan BBL dalam pembelajaran matematika. Justru pembelajaran bahasalah yang paling ditekankan. Coba deh baca bukunya. InsyaAllah banyak bantuan dari situ. :)

    • Maaf, saya ga bisa. Instrumen motivasi belajarnya saya kembangkan sendiri dengan mengacu pada indikator motivasi belajar menurut Makmun.
      Buku-buku acuan skripsi saya sedang tidak di dekat saya sekarang.
      Kalau tidak salah, saya mengacu pada buku yang ini:
      Makmun, A. S. (2007). Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

    • Kemampuan koneksi matematis kan ada indikator-indikatornya, salah satunya adalah menerapkan hubungan antar topik matematika (termasuknya ke dalam koneksi internal). Ini contoh soalnya :

      Perhatikan tabel berikut ini.

      Jari-jari alas (r) Volume (V)
      tabung 1 1 cm 44 cm³
      tabung 2 7 cm 1232 cm³
      tabung 3 1 cm 22 cm³
      tabung 4 7 cm 1540 cm³

      Diketahui dua buah himpunan, yaitu himpunan A dan himpunan B.
      A = {tabung 1, tabung 2}
      B = {tabung 3, tabung 4}
      Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah ”lebih tinggi dari”. Nyatakan relasi tersebut ke dalam diagram panah.

      Inti dari soal tersebut sebenarnya adalah siswa diminta untuk mencari tinggi dari setiap tabung yang ada. Lalu, materi tentang tabung tersebut dihubungkan dengan materi matematikan yang lain, yaitu himpunan.

      Kurang lebih begitu contohnya, teh devi. :)

  6. Assalamu’alaikum,,
    Mba dini, sya mau tanya2 ttg BBL kbtulan sya tertarik mau ambil BBL untuk proposal sya.Tapi sya masih bingung sama cara pmbelajarannya/penerapan di kelas bagaimana?
    Lalu apakah smw materi matematika cocok dgn BBL ini?
    BBL ini termasuk metode pembelajaran ya mba?
    satu lg deh mba kira2 kalau mau tau lebih detail ttg BBL gimana ya?

    maaf bnyak tanya :)
    Terima kasih,,

    • Waalaikumussalam,,
      Wah, gimana ya cara menjelaskan pertanyaan yang pertama? Saya agak bingung juga,, Ya BBL diterapkan di kelas sesuai dengan aturan BBL yang ada serta kondisi sekolah dan kurikulum.
      Menurut saya, BBL cocok untuk semua materi matematika karena langkah-langkah pembelajarannya tidak menunjukkan langkah-langkah pengerjakaan soal matematika secara mendalam tapi lebih kepada bagaimana menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan mengoptimalkan kerja otak.
      Dalam skripsi saya, saya tidak begitu membahas apakah BBL itu sebuah metode, pendekatan, teknik, dsb. Namun, menurut buku yang saya baca, BBL itu (seingat saya) adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang berbasis kemampuan otak. kalau mau mengikuti sumber ini, berarti BBL adalah sebuah pendekatan pembelajaran, bukan metode. Jujur, saya juga masih bingung membedakan kedua kata itu (metode dan pendekatan). Jadi, akan lebih aman jika kita punya pegangan/rujukan dari buku sumber.
      Kalau mau tau lebih detail tentang BBL, baca saja bukunya. Semua tentang BBL ada di dalam buku ini :
      Jensen, E. (2008). Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak: Cara Baru dalam Pengajaran dan Pelatihan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
      Ini adalah buku yang tadinya berjudul ” Brain Based Learning” yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
      Selamat membaca! ;)

      • Mba dini, saya boleh minta contoh rpp BBL tidak?
        trus dalam BBL mba dini pake metode apa?
        klo misalkan boleh tlg kirimkan k email saya saja
        dinni.widyastuti@yahoo.com
        oia satu lagi mba, klo dalam tahap2an nya tidak terselesaikan saat pembelajaran bagaimana mba, karena waktunya kan sangat singkat?

        terima kasih banyak,, :)

      • Maaf, saya nggak bisa memberikan contoh RPP-nya. Kalau mau, silakan berkunjung saja ke perpustakaan UPI. Langsung saja lihat skripsi saya di sana. Pada dasarnya, RPP-nya sih biasa saja. Yang membedakan hanya pada langkah-langkah pembelajarannya saja. Tentu langkah-langkah pembelajarannya disesuaikan dengan aturan yang ada pada BBL itu sendiri.

        Saya menggunakan metode diskusi kelompok dan presentasi.

        Ketika tahapan pembelajaran tidak tuntas, ya nanti dijelaskan saja apa adanya pada laporan hasil penelitiannya. Bisa jadi itu dimasukkan ke dalam kendala yang dihadapi saat penelitian. Namun, sebisa mungkin diusahakan tuntas semua, walaupun sedikit memaksa. Di situlah kita dituntut untuk mengeluarkan segala kreatifitas dalam mengelola kelas agar pembelajaran berlangsung sesuai dengan rencana yang telah disusun. InsyaAllah bisa. asalkan persiapannya benar-benar matang.

        Selamat berjuang, Dinni. :)

      • mba dini, skripsi ada di repsitory upi tidak? di digilib ada tidak mba? jika ada kan saya tidak perlu ke upi langsung karena saya ingin lihat..
        makasih ya mba,. :)

    • Waalaikumussalam.. :)

      Menurut saya: iya. Karena BBL ini lebih ke bagaimana kita mengondisikan kelas, dan mempersiapkan serta mengaktifkan kerja otak siswa agar lebih mudah dalam memahami materi. :)

      • Lembar target dan evaluasi yang saya buat yaitu berbentuk tabel yang harus diisi oleh siswa sebelum dan sesudah pembelajaran. Isinya ada nomor, tanggal, target pembelajaran, target yang tercapai, target yang tidak tercapai, alasan untuk target yang tidak tercapai, serta solusinya. Sebelum pembelajaran berlangsung, siswa diminta untuk menuliskan target apa yang hendak mereka capai dari pembelajaran hari ini. Bisa dari tujuan pembelajaran yang kita sampaikan di awal pembelajaran, atau bisa juga ditambahkan dengan target siswa sendiri. Contoh : saya bisa menghitung volume tabung, saya bisa menghitung luas permukaan tabung, atau bisa juga saya bisa mengerjakan semua tugas dengan baik. Nah, setelah pembelajaran selesai, mereka mengevaluasi target yang mereka tulis tadi. Mana yang tercapai dan mana yang tidak tercapai. Kalau tidak tercapai, tuliskan alasannya. Lalu, siswa juga diminta untuk merumuskan solusinya. Misal : harus belajar lebih giat lagi, tidak boleh banyak bermain di dalam kelas, atau bisa juga harus lebih fokus ketika guru menerangkan.

        Kurang lebih seperti itu, ayu. :)

  7. desen pembimbingmu siapa wkt srkipsi? udah di cari ke perpus UPI tp skripsi pnya mu ga ada,btw angkatan brp? kpn buat skripsiny?

  8. Mbak, sy mw tax berkaitan dengan koneksi matematis. Apakah instrumen tesx berisi soal” yg brkaitan hax dng koneksi matematis sj??

  9. asslkum mbak…….
    saya maw tanya tentang BBL ini apakah ada buku lain selain buku yang dikarang oleh eric jensen mbak…
    soalnya sy sedang nulis proposal untuk skrisi mbak
    tpi dosen saya minta buku lain tentang BBl ini mbak…

    • Waalaikumussalam…

      Setau saya, buku utamanya sih bukunya Eric Jensen (Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak: Cara Baru dalam Pengajaran dan Pelatihan). Ini adalah versi terjemahannya.

      Buku lain yang bisa mendukung BBL bisa saja buku ini: DePorter, B. & M. Hernacki. 2008. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

      Lalu, untuk senam otaknya juga ada, judulnya “Senam Otak” atau “Brain Gym. tapi saya agak lupa siapa pengarangnya. Bukunya tipis.

      Ada lagi buku yang mendukung tentang mind map-nya : judulnya “Mind Map” pengarangnya saya lupa.

      Maaf, saya sedang tidak berada di dekat buku-buku itu sekarang. Kalau buku BBL yang yang lain, saya juga kurang tau apakah ada atau tidak. Kalau anda orang bandung, silakan searching bukunya di toko buku terdekat atau di Palasari. Semangat, ya. :)

      • susah sekali memasukkan langkah-langkah tersebut kedalam rpp

        bisa ngak teteh memberikan contoh rpp yang pake langkah-langkah pada kajian teorinya

      • Duh, kalau itu saya nggak bisa. :)
        Kalau mau, silakan berkunjung ke perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia.
        Di sana sudah ada skripsi saya, lengkap dengan segala macam yang mbak butuhkan, termasuk RPP-nya.
        Semangat, ya! :D

      • teh tahap pra-pemaparan & persiapan pada rpp letaknya di pendahuluan atau kegiatan inti teh ???
        trz pada tahap itu kegiatannya pa ja teh ???mohon penjelasannya ya teh.

      • Pra-pemaparan dan persiapan masuknya ke pendahuluan.
        Kegiatan yang dilakukan tergantung gurunya. Yang saya rancang untuk tahap ini intinya begini:
        1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
        2. Siswa menuliskan target pembelajaran hari ini
        3. Senam otak
        4. Guru menstimulus siswa dengan beberapa pertanyaan apersepsi
        5. Memberi gambaran awal mengenai materi yang akan dipelajari, dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

    • Kalau boleh jujur, menurut pendapat saya, Brain Based Learning memang agak sulit diterapkan di Indonesia dengan tuntutan kurikulum yang begitu padat dan waktu yang terbatas. Ditambah lagi dengan jumlah siswa yang tidak sedikit. Tapi bukan hal yang mustahi untuk dicoba. Namun, guru sangat dituntut untuk kreatif dan pandai mengelola waktu dan kelas. Secara pribadi, berdasarkan pengalaman yang saya alami, berikut ini kelemahan-kelemahannya (terutama jika diterapkan di Indonesia) :
      1. Membutuhkan waktu belajar yang lebih lama.
      2. Membutuhkan fasilitas sekolah yang memadai (sedangkan tidak semua sekolah memilikinya)
      3. Kenyataannya, tidak semua orang bisa belajar sambil mendengarkan musik. Bahkan orang-orang yang menyukai musik sekalipun belum tentu menyukai jenis musik yang sama.
      4. Jumlah siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas.

      Kalau kelebihannya sih sudah jelas. BBL ini mengoptimalkan kerja otak. BBL memfasilitasi otak dengan baik dan membuat otak bekerja senyaman mungkin, sehingga materi yang dipelajari pun mudah diserap.

      Maaf, ini hanya pendapat pribadi yang didasarkan pada pengalaman. Kalau ada pendapat lain, mohon dishare di sini, ya. ;)

  10. Teh g mana caranya mendapatkan buku brain based learning krangan sapa’at krena saya bngung menterjemah kan langkah2 bbl tsb…mhon d tnggapi c cpat x y.

  11. asslamualaikum teh,,,
    sya dewi mhsiswa s2 Unesa yg skrang sedang mnyusun proposal tesis.
    sya tertarik dg BBL.. nmun disini sya msih blm pham bgaimna prosesnya dikelas?
    mhon bantuannya teh.
    terima kasih seblumnya

  12. Mbak, klo mw lhat kemampuan koneksi matematis siswa analisis datax biasax pke pa? Pa carax sma pke statirtik derkriptif dan uji-t? Sy mhon penjelasanx…

      • Mbak, klo mw lhat koneksi matematis siswa i2 dr hsl blajarx kn? Trz hipotesis akhirx bgmn??

      • Saya melihat peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa dari hasil pretes dan postes.
        Soal-soal yang saya buat mengendung indikator kemampuan koneksi matematis.
        Inti dari kesimpulan akhir berdasarkan penelitian yang saya lakukan :
        Peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan BBL lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional. Kualitas peningkatannya tergolong sedang.

  13. teh gi mana caranya mengkolaborasikan antara bbl dengan mind map teh ??soalnya judul pp saya terkait dengan itu teh,……………

  14. Mbak, sy thu lg nyusun skripsig mw lhat koneksi jg. Tp referensi sy kurang, mhon bantuanx y. N jg sy bingung soal analisis datax.

  15. Assalam,, teh saya mau tanya apa skripsi teteh ini dibuat jurnal dan bsa di publish gt?? aq soalnya butuh buat refrensi skripsiQ tp kejauhan klo msti ke bdg soalnya tempatQ di jgja…..
    mohon balasannya ya teh,,,, terimakasih mf merepotkan

    • Waalaikumussalam..
      Berdasarkan artikel yg saya baca, musik yg cocok itu jenis musik baroque. Katanya, itu sesuai dengan gelombang otak.

      Tapi, setelah diujicobakan, musik ini sangat tidak pas diperdengarkan di kelas yg jumlah siswanya banyak dan berisik. Musiknya sangat slow dan pelan..
      f(^_^;)

      • kalo dilihat dr penerapan yg mb’ lakukan,
        pendekatan ini butuh bnyk waktu y mb’.?
        utk alokasi wktu 2X45 menit, adkh kemungkinan g mb’ waktu nya kurang dan blm sampai pd tahap perayaan dan integrasi..

      • iya. waktunya memang kurang. apalagi kalau kelas yang kita ajar kurang tertib atau susah diatur. belum lagi materi yang disampaikan tidak sedikit. jadi, mungkin saja tidak sempat terpenuhi semua. :)

    • Menurut saya, karena ini merupakan sebuah pendekatan pembelajaran, maka tidak ada karakteristik materi yang khusus. pendekatan ini lebih kepada cara belajar dan bagaimana menyajikannya menjadi lebih menyenangkan juga sesuai dengan kerja otak. tapi, untuk matematika, sepertinya materi-materi yang mengandung gambar akan lebih menarik, seperti bangun ruang, bangun datar, grafik fungsi, dll. Maaf ya kalo pendapat saya salah. :)

      • teh tanya lagi ya,, sebenernya karakteristik khusus dari pendekatan ini tuh apa ya?? mau menyamakan persepsi nih sama yang udh pernah menerapkan.. hehe”
        mksh sebelumnya

      • Hmm.. Menurut saya, karena BBL ini adalah suatu pendekatan pembelajaran yang berbasis kemampuan otak, maka karakteristik khusus dari pendekatan ini adalah adanya langkah-langkah pembelajaran yang mendukung daya kerja otak. Langkah-langkah pembelajaran tersebut diatur sedemikian rupa dan proses pembelajaran pun dilengkapi dengan alat-alat penunjang sehingga mampu mengondisikan otak untuk siap menerima materi selama pembelajaran berlangsung. Terkadang, guru sudah menyiapkan bahan ajar yang hebat, namun kurang memperhatikan kesiapan otak para siswa. Tentu akan menjadi kurang efektif jika siswa menerima bahan ajar yang hebat dalam keadaan tidak siap belajar. Nah, dengan BBl ini, diharapkan dapat memudahkan siswa untuk menyerap materi yang disampaikan oleh guru.

        Sepertinya kurang lebih begitu teori yang bisa saya tangkap. :)

      • Oh yaya,, mksh teh.. bsk” mungkin aku tanya lagi… mohon berbagi ya teh.. afwan klo menyusahkan… makasih :)

      • iya, sama-sama. selama saya bisa jawab, insyaAllah saya bantu. eh, lagi nyusun skripsi kan, ya? mau ngasih saran aja sedikit. boleh, ya? hehe.. hati-hati ketika mengutip perkataan atau pendapat orang. harus jelas siapa yang bicara dan menuliskannya. curhat sedikit: karena sedih rasanya membaca skripsi orang lain yg menggunakan bahasa dan pendapat kita tanpa dicantumkan siapa yang ia kutip seolah-olah itu pendapatnya sendiri.. huhuhu..
        #curhat selesai

        SEMANGAT, ya!! ^^

    • Waalaikumussalam..
      Menurut saya, karena ini merupakan sebuah pendekatan pembelajaran, maka tidak ada karakteristik materi yang khusus. pendekatan ini lebih kepada cara belajar dan bagaimana menyajikannya menjadi lebih menyenangkan juga sesuai dengan kerja otak. tapi, untuk matematika, sepertinya materi-materi yang mengandung gambar akan lebih menarik, seperti bangun ruang, bangun datar, grafik fungsi, dll. Maaf ya kalo pendapat saya salah. :)

  16. mbak,, bisa kasih tau link untuk lihat artikel punya mbk dlm pdf.
    izin buat jd referensi punya mbk y..
    kalo dr blog g di bolehin..

    • Maaf, Nhiela..
      Saya nggak bisa.
      Kamu kuliah di mana? Sesekali mampir aja ke perpustakaan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung.
      Di sana, kamu bisa liat langsung skripsi saya.
      Semangat, ya!! ^^

      • beberapa jurnal internasional yang saya dapatkan,, ada yang menuliskan BBL sebagai pendekatan, strategi dan model.. n sekarang sy bingung kak,, mw ambil yang mana.. Mohon penjelasannya mengapa BBL itu sebagai pendekatan pembelajaran.. karena sekarang sy mw mengajukan judul untuk skripsi dan tertarik untuk mengambil BBL.

      • Berdasarkan buku Eric Jensen yang sudah saya baca, BBL ini dipandang sebagai suatu pendekatan pembelajaran. Saya tidak tahu pasti mengapa demikian. Tetapi, kalau boleh berpendapat, maka pendapat saya adalah :
        karena BBL bisa diterapkan pada pembelajaran mata pelajaran apapun. Dibandingkan dengan strategi, metode, model, dll, pendekatan pun dinilai lebih umum.
        Ah, maaf saya tidak bisa banyak membantu. :)

  17. Asslakum.. apa kbr teh.. slm kenal.. sy desy dr upi cibiru.. sy tertrarik buat terapin BBL ini di mat. SD teh.. ekatang lg mncari sumber buku dr eric jensen.itu.. tp sy tanya ke tko buku katanya tidak terbit lg.. klo blh tau.waktu itu teteh dpt bukunya dr mana? apa skrng msh ada teh? mksh..:-)

      • iya teh mksh sy udah dpt bukunya di perpus upi ternyata ada.. sekarang lg nyari.jurnalnya yg ttg pendekatan brain.based learning waktu itu teteh pake jurnal yg siapa teh blh kirim alamatnya atau judulny klo ada? trus buat kelebihan pendekatan.BBL.di buku eric jnsen dijelasin ga y teh? mksh mf pnjng bngt pertnyaanny.. :-)

      • Oh, di sana ada, toh? Syukur, deh. :)

        Seinget saya, dulu saya ga pake jurnal, deh. Hehe..

        Iya, di buku itu kelebihan BBL dijelaskan, ko. Asal kitanya aja pandai-pandai menangkapnya. :)

        Semangat, ya! Good luck buat penelitiannya. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s