Qalbu Sebagai Panglima (Penguasa) Diri

Shaleh dan tidaknya seseorang bukan dinilai dari cerdasnya akal melainkan dari bersihnya hati.

Ada 3 fungsi qalbu, yaitu:

1. Qalbu sebagai pusat penalaran.

Penalaran berfungsi untuk:

a. Menyimak

“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” (Q.S. Sl-A’raaf, 7: 100)

Menyimak adalah memfungsikan pendengaran (mendengar sesuatu) yang kemudian diolah oleh pikiran.

Orang yang mendengar belum tentu menyimak, sedangkan orang yang menyimak sudah pasti mendengar. Walaupun telinga kita mendengar, tapi hati kita terkunci, kita tidak akan bisa menyimak.

b. Mengerti

“Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mata hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Q.S. At-Taubah, 9: 93)

(to be continued)

I wanna say:

Ini adalah catatan pribadi saya ketika mengikuti pengajian umum Majelis Percikan Iman bersama Ust. Aam Amiruddin di Jl. Geger Kalong Hilir (Minggu, 6 Februari 2011).

2 thoughts on “Qalbu Sebagai Panglima (Penguasa) Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s