RUMAH ALLAH KOK KOTOR, SIH?!

Parah, ih..

Kata-kata itulah yang saya ucapkan ketika saya dan ibu saya sampai di sebuah masjid di Bandung, ibu kota provinsi Jawa Barat. Bukan masjid biasa, bukan masjid kecil di pinggiran kota, atau pun masjid yang ada di dalam mall (Haa? Mushala kali itu mah.. Hihi..). Masjid yang saya kunjungi ini adalah sebuah masjid megah nan luas di tengah-tengah kota, yaitu Masjid Raya Bandung yang terletak di Jalan Asia Afrika.

Ada apa dengan rumah Allah yang besar ini? Bukankah bangunannya sangat hebat? Lihatlah menaranya yang menjulang tinggi itu. Di dalamnya terdapat lift yang bisa kita naiki untuk melihat keindahan kota Bandung dari puncak menara. Lihatlah halaman masjidnya yang sangat luas, tidak banyak masjid yang memiliki halaman seluas itu. Masuklah ke dalam masjid. Tempat wudlunyanya luas, memiliki kran air yang banyak sehingga tak perlu antri untuk berwudlu. Kamar mandinya juga lebih dari lima kamar. Selain itu, tempat shalatnya juga sangat sangat luas (saking luasnya). Ada yang salah dengan masjid ini?

Ya, memang benar bahwa tidak ada yang salah dengan desain masjid ini. Yang salah adalah cara mengelola, memelihara, dan memakainya. (Maksudnya??)

Maksudnya begini.. Kemegahan dari masjid yang satu ini jadi tak terlihat, bahkan jadi terkesan kotor karena terlalu banyak pedagang kaki lima di luar pagar masjid bahkan di sekitar teras masjid (emangnya ini pasar??). Pokonya, di sana, semua jajanan dan asesoris lengkap banget, dah! Mulai dari mie rebus, mie bakso, bakso tahu, bakso cuanki, bakso malang, batagor, kerak telor, lotek, ketan bakar, es teh, sirup berwarna-warni, jajanan warung (permen, chiki, minuman kemasan, biskuit, keripik, kerupuk, dll). Ada juga kerudung, jam tangan, tempat menyimpan handphone, headset, gelang, cincin, kalung, mainan anak-anak (balon, mobil-mobilan, kapal-kapalan, burung-burungan, dan mainan-mainan plastik lainnya), sarung, kopiah, mukena, dan masih banyak lagi. Ada beberapa jenis dagangan yang penjualnya lebih dari satu orang. Misalnya, pedagang ketan bakar banyaknya sekitar tiga orang pedagang yang tersebar di sekitar masjid. Bisa dibayangkan kan betapa lengkapnya dagangan di sana. Serba ada!

Loh?? Bagus dong kalau di sana serba ada. Setelah shalat, kalau perut kita lapar, kita tak perlu jauh-jauh mencari makanan, kan?

Ya..ya..ya.. Tapi nggak gini caranya. Coba kita lihat akibatnya sepeti apa. Masjid jadi terlihat ramai. Bukan ramai karena banyak orang yang shalat, tapi ramai oleh orang-orang yang datang ke masjid hanya untuk nongkrong, merokok, jajan, makan, minum, tidur (karena kenyang abis makan. Hihi..), bahkan ada juga yang pacaran di teras masjid (Maaf, bukan ’ada’, melainkan ’banyak’ yang pacaran, terutama di halaman masjid. Astaghfirullah.. Ngeri..). Selain itu, lingkungan masjid juga jadi ribut. Para penjual banyak yang menawarkan dagangan mereka.

”Sayang anak.. Sayang anak..”, ujar pedagang mainan anak-anak.

”Bu, bade ngangge saos, moal?” tanya Emang Bakso pada pelanggannya.

”Dua puluh ribu aja ya, Mang!” Si Teteh nawar sama tukang mukena.

”Aduuuh.. Adeee.. Jangan ditumpahin, atuuuuh…” Ujar Sang Ibu yang kesal karena anaknya menumpahkan kuah bakso yang berwarna merah karena banyak diberi saus. Parahnya, bekas tumpahannya di teras masjid itu tidak dibersihkan oleh Sang Ibu. Alhasil, saya pun merasa jijik ketika melewatinya. Uuugh..

Masih ada lagi. Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya pun sangat kurang. Akibatnya, sampah-sampah berserakan hingga ke teras masjid. Sampah-sampah pun kian menumpuk di halaman masjid. Koran Pikiran Rakyat hari ini (Selasa, 15 Maret 2011) mengabarkan bahwa sampah-sampah tersebut sudah sepekan tidak diangkut dan ditutupi terpal. Namun terpal tersebut tidak mampu menahan aroma busuk yang ditimbulkan sampah-sampah itu.

Kalau keadaannya seperti ini, bagaimana bisa kita merasa nyaman untuk shalat di masjid yang megah  itu??

Memang bukan suatu hal yang salah jika banyak yang mencari rezeki dengan berjualan di sana. Tapi, menurut saya, alangkah lebih indahnya jika pihak masjid menyediakan tempat khusus bagi para pedagang agar terlihat lebih rapi dan tertib, sebutlah itu sebagai kantin masjid misalnya.

Sepertinya, para petugas masjid sudah tak berdaya menghadapi itu semua. Buktinya, keadaan parah seperti yang telah dipaparkan di atas terus berlanjut dari hari ke hari, hingga hari ini. Di sini, saya tidak mau menyalahkan siapapun. Tapi, yang jelas, kita semua tahu bahwa kebersihan masjid harus dijaga. Setuju??🙂

”Kebersihan adalah sebagian dari iman.”

Jujur, saya sangat sedih melihat keadaan separah ini di rumah Allah. Sangat memalukan.. Ya, seharusnya kita malu pada Allah. Tapi, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha untuk tetap menjaga kebersihan masjid mulai dari diri sendiri dengan tidak melakukan hal-hal yang dapat merusaknya.

Semestinya, masjid ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat kota Bandung. Tapi, bagaimana mungkin saya bangga pada sesuatu yang telah dirusak oleh masyarakatnya sendiri. Justru saya malu..

Teman-teman bagaimana pendapat kalian? Apa yang harus kita lakukan untuk ”membangun” kembali Masjid Raya Bandung ini? …😦

Saya membuat tulisan ini bukan berarti saya ingin menjelek-jelekkan kota kelahiran saya. Justru lewat tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk ikut mencari solusi atas permasalahan ini. Atau, paling tidak, hal ini bisa kita jadikan sebagai pelajaran bersama. Kita harus senantiasa menjaga kebersihan di lingkungan sekitar kita. Bukankah Allah sangat mencintai kebersihan dan keindahan?🙂

Kita berusaha bersama-sama, ya.🙂

NB: Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah.🙂

Referensi Gambar:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s