Lika Liku Cita-citaku

Assalamualaikum, pengunjung setia dini’s diary!!😀

Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang cita-cita saya.

Setiap orang yang berakal dan memiliki semangat hidup pasti memiliki suatu keinginan atau cita-cita (setuju?? :D). Begitu pun dengan saya. Berhubung saya adalah orang yang berakal dan memiliki semangat hidup (harus!), maka saya juga punya suatu keinginan atau cita-cita. Pertanyaan seperti ini, “Dini kalau udah besar mau jadi apa?” sejak kecil tidak pernah saya jawab dengan jawaban, “Mau jadi dokter,” atau, “Mau jadi insinyur.” Saya selalu menjawab bahwa saya  ingin sekali menjadi seorang dosen, atau saya umumkan saja menjadi seorang guru. Guru apakah itu, saat itu saya tidak peduli. Pokoknya, saya ingin menjadi seorang guru. Titik.

Ketika saya mulai duduk di kelas 4 SD, saya sangat bermasalah dengan mata pelajaran Matematika. Saya kerap kali menangis ketika mngerjakan PR matematika di rumah karena bapak saya agak gereget mengajari saya yang tulalit. Namun, bapak saya tidak mudah menyerah hingga akhirnya mulai kelas 5 SD, saya selalu mendapat peringkat lima besar hingga dua besar sampai lulus SD. Masalah matematika sedikit demi sedikit dapat saya atasi hingga saya duduk di kelas 3 SMA. Namun, saya tidak pernah mendapat julukan “Si Jago Matematika” karena kemampuan matematika saya memang biasa-biasa saja. Yang penting saya lumayan bisa. Hehehe…😀

Sejak saya menginjak usia SMA, cita-cita saya mulai tergoyahkan. Saat itu, saya tumbuh menjadi seseorang yang senang bicara dan tampil di depan umum. Saya senang berkenalan dengan banyak orang. Selain itu, saya juga sangat suka menulis. Untuk menyalurkan semua ini, saya pun bergabung dengan tim jurnalistik sekolah. Saya mengikuti seminar menulis, mewawancarai mentri lingkungan hidup dan walikota layaknya wartawan, menuliskan hasil wawancara, mendesain majalah dinding dan mengikuti perlombaannya, serta berhasil meraih juara ke-4 pada lomba menulis tentang narkotika se-Kota Bandung dalam rangka memperingati hari anti narkotika sedunia (maaf, tidak bermaksud menyombongkan diri). Cita-cita saya pun berubah: ingin menjadi wartawan, penyiar, dan sejenisnya yang berbau komunikasi, khususnya jurnalistik.

Semua itu jelas membuat saya ingin melawan arus. Saya adalah siswa IPA yang ingin menekuni ilmu di bidang komunikasi yang dasarnya adalah IPS. Saya pun memilih Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Padjadjaran (UNPAD) sebagai tujuan saya. Ya, saya berpikir bahwa inilah jalan saya yang sesungguhnya. Saya pun mulai mencari tahu segala sesuatu tentang FIKOM UNPAD dan saya dapatkan segalanya dengan bantuan bapak saya. Karena bapak saya adalah dosen Sasra Jepang UNPAD, maka untuk mendapatkan segala informasi yang berkaitan dengan UNPAD, bukanlah hal yang sulit baginya.

Setiap kali ada pertanyaan, ”Din, nanti kamu mau kuliah di mana?” dengan penuh rasa percaya diri saya menjawab, ”FIKOM UNPAD, dong!!!”😀

Begitu seterusnya hingga suatu saat pelajaran matematika kembali membuat saya takut menghadapi UN. Dibandingkan dengan pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, Matematikalah yang paling membuat saya ragu apakah saya bisa lulus UN atau tidak. Sebagai solusinya, saya pun tidak segan-segan meminta teman saya yang saat itu menjadi juara umum 1 di sekolah untuk datang ke rumah setiap hari minggu. Ia mengajari banyak materi matematika pada saya hingga suatu saat saya bisa memecahkan soal yang saya anggap sulit dan langkahnya panjang. Namun, soal tersebut bisa saya pecahkan dan saya temukan jawabannya. Sulit dipercaya, tapi hal ini sangat membuat saya senang. Ada kepuasan dan kebahagiaan dalam hati saya yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sejak itu, saya tidak pernah bosan belajar matematika. Selalu bertanya pada teman jika ada yang tidak dimengerti. Soal-soal matematika pada buku latihan UN pun saya sikat. Kesenangan yang saya dapatkan dari hal ini melebihi kesenangan saya pada jurnalistik.

Alhamdulillah, saya lulus UN dengan nilai matematika yang tidak terlalu besar namun sangat memuaskan bagi saya yang mengerjakannya dengan kemampuan saya sendiri, yaitu 77 (pada skala 100). Lumayan. Hehehehe… Kemudian, hati saya kembali dilema. Tiba-tiba ada keinginan untuk lebih memperdalam lagi ilmu matematika saat kuliah nanti. Sepertinya saya tidak mau kehilangan rasa senang pada matematika ini. Akhirnya, saya pun berubah pikiran. Saya ingin memilih jurusan Matematika.

Teman-teman saya terkaget-kaget mendengar keinginan saya yang berubah 180 derajat ini. ”Haaaa?? Matematika?? Serius, Din?? Kamu kan orangnya banyak ngomong. Di jurusan matematika kan kerjaannya ngutak-ngatik rumus! Kamu mau ngomong sama rumus, din? Kamu ngga akan stress??” Deg! Benar juga. Duh, saya bingung lagi. Saya berpikir dan terus berpikir bagaimana caranya agar saya bisa mempelajari matematika tapi juga bisa tampil di depan umum atau kenal dengan banyak orang. Hmm..

AHA!!! Akhirnya saya pun memilih jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ya, dengan ini, saya bisa memperdalam ilmu matematika saya dan menyampaikan materi matematika di hadapan para siswa. Selain itu, cita-cita saya untuk menjadi seorang guru pun kembali lagi dan lebih jelas. Cita-cita saya: ingin menjadi guru matematika. (tambahan: guru matematika yang shalehah, supel, baik, asyik, dan ditunggu-tunggu oleh siswanya. Amin..amin..amin..).🙂

Alhamdulillah, Allah melancarkan segalanya. Saya lulus SPMB dan menjadi mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika UPI. Saya belajar matematika sekaligus belajar bagaimana cara menyampaikan materi matematika pada siswa. Selain itu, kesenangan saya untuk tampil di depan umum pun tetap terlaksana. Allah memberikan banyak kesempatan pada saya untuk menjadi MC di berbagai acara, baik di dalam maupun di luar kampus.🙂

Lagi-lagi saya ucapkan Alhamdulillah karena dengan pertolongan Allah, saya lulus menjadi sarjana pendidikan. Saya dinyatakan siap terjun ke masyarakat untuk berpartisipasi di dunia pendidikan.

Terkadang, pilihan yang kita anggap tepat dan sempurna belum tentu menurut Allah. Ternyata Allah mempunyai jalan lain yang lebih tepat dan sempurna untuk kita. Betapa kufurnya jika kita tidak bersyukur atas cerita hidup yang telah Allah ukir untuk kita. Sepedih dan sesulit apapun hidup kita, pasti selalu ada hikmah di balik semua itu. Terkadang Allah membolak-balikkan hati kita terlebih dahulu sebelum kita menentukan pilihan yang benar-benar tepat menurut Allah. Begitu uniknya jalan hidup setiap orang. Pasti teman-teman juga punya cerita masing-masing tentang apa yang baru saja saya ceritakan. Kita harus bersyukur, karena dengan pertolongan-Nya, selama ini kita mampu menghadapi berbagai rintangan. (Ayo, kita sama-sama berjuang untuk menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur, ya! Sebenarnya, saya juga masih belajar,,)🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s