Moving On

Mungkin pernah ku menangis

mungkin diriku pernah tersakiti

Namun kini ku kembali

coba nikmati indahnya dunia

Tiada lagi bayangan dirimu

yang selalu mencoba menahanku

Reff:

Bersama mentari ku bernyanyi

mewarnai hari-hari

Bersama pelangi ku menari

menyambut bebasnya hari ini

Tiada lagi yang mampu menghalangi

aku tak kan berhenti melangkah

’cause i’m moving on

Mungkin pernah ku menangis

mungkin diriku pernah tersakiti

(Namun kini ku kembali)

coba nikmati indahnya dunia

Tiada lagi bayangan dirimu

yang selalu mencoba menahanku

-Repeat Reff-

Ku percaya nanti kan ada saatnya

cinta kan datang padaku lagi

(Bersama mentari ku bernyanyi

mewarnai hari-hari

Bersama pelangi ku menari

menyambut bebasnya hati ini)

-Repeat Reff-

Moving On! Moving On!

By. Andien

My words :

Pastinya, Andien punya maksud tersendiri dengan lirik lagu yang satu ini. Terlepas dari maksud Andien itu, saya ingin menafsirkannya berdasarkan pemikiran saya sendiri. (Kan biar Dini banget.. Hehe..)πŸ˜€. Pemikiran saya ini saya kemas dalam bentuk cerita yang mungkin dialami oleh banyak orang. Check this out!πŸ˜€

Adinda menangis ketika laki-laki yang ia sayangi bertahun-tahun lamanya itu menyakiti hatinya yang sangat lembut. Laki-laki itu bukanlah muhrimnya. Bukan adik/kakak kandungnya, bukan ayahnya, bukan pula suaminya. Namun, laki-laki itu sudah seperti keluarga sendiri bagi Adinda (tapi tetep aja judulnya bukan muhrim. You know what lah, guys..). Dibilang pacaran seperti anak-anak remaja zaman sekarang juga bukan. Tapi, dibilang nggak pacaran juga beberapa kelakuan mereka seperti sepasang kekasih yang berpacaran. Ah, whatever.

Adinda masih menangis. Hatinya sakit seperti digiling setum (saking hancur dan sakitnya. Padahal Adinda nggak pernah tuh digiling setum. :D). Pikirannya melayang ke masa lalu sejak ia bertemu dengan laki-laki itu. Sempat terbesit di hatinya betapa ia menyesal karena telah bertemu dengan laki-laki yang juga pernah mengaku sayang padanya itu. Seandainya saja ia tidak pernah satu sekolah dengannya, seandainya saja ia tidak pernah mengenalnya, seandainya saja ia tidak menyimpan rasa sayang yang salah ini padanya, hati Adinda tentu tidak akan sakit.

Semua memori tentang laki-laki itu menari-nari di atas kepalanya (emangnya film kartun?! :D). Ia tak menyangka, ternyata paras tampan dan dingin laki-laki itu menyimpan sejuta kekuatan untuk menyakiti hatinya. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali (salah Adinda juga yang menyayangi laki-laki itu bertahun-tahun. Coba kalo setahun aja, mungkin sakit hatinya cma sekali. Hihi.. :D). Selama ini, Adinda selalu mengorbankan perasaanya demi meredam konflik dan demi terjalinnya persahabatan yang baik. Ia selalu berusaha untuk tidak menyakiti laki-laki itu. Namun, laki-laki itu terlalu mengedepankan logikanya sehingga sama sekali tidak memikirkan perasaan Adinda. Adinda selalu dibuat bingung, Adinda sering disalahkan. Kata-kata menyakitkan dari laki-laki itu seolah mengalir mulus tiada hambatan. Parahnya, laki-laki itu tidak pernah manyadari sifatnya dan tidak mau mengakui kesalahannya. Bodohnya lagi, Adinda selalu mempertahankan hubungan yang tidak jelas itu. Bertahun-tahun ia menelan rasa sakit hingga berkali-kali fisiknya pun ikut sakit.😦

Kini, kandas sudah impiannya untuk menjadi pendamping hidup laki-laki itu. Adinda sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit di hatinya. Dadanya terasa sesak. Namun, Adinda tak ingin larut dalam kesedihan. Ia tak mau kesedihan yang ia rasakan membuatnya tak bisa beraktivitas dengan baik. Ia pun memohon pertolongan pada Allah. Subhanallah, pertolongan Allah begitu dekat dirasakan oleh Adinda. Adinda bisa berpikir jernih kembali seolah-olah selama bertahun-tahun ini pikiran jernih itu hilang entah kemana. Ia menemukan banyak hikmah dibalik “penderitaan”nya. Adinda tak lagi menyesali pertemuan dirinya dengan laki-laki itu. Karena di balik semua itu, Allah telah memberikan pelajaran berharga untuk Adinda. Allah telah memberikan yang terbaik untuknya. Allah tak mau Adinda terus-menerus tersakiti oleh rasa sayangnya yang salah itu. Allah tidak mau Adinda jauh dari-Nya. Adinda yakin, Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya dan suatu saat nanti Allah akan mempertemukan Adinda dengan orang terbaik pilihan-Nya.

Adinda sudah tak menangis lagi. Meski luka di hatinya tak akan pernah hilang, namun Allah akan tetap setia menemani Adinda. Ya, karena Allah adalah satu-satunya Penolong bagi hamba-Nya. Allah akan selalu bersama dengan hamba-Nya yang sabar. Cinta Allah adalah segala-galanya. Kini, Adinda tak lagi memikirkan masa lalunya. Ia menatap masa depan dan mengukirnya dengan indah. Langkah Adinda tidak terhenti begitu saja karena salah satu impiannya yang kandas, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang, yaitu bunuh diri (amit-amit..). Adinda terus melangkah dengan semangat dan harapan yang baru. Moving on, Adinda!πŸ˜€

Referensi Gambar :

http://www.lyricchord.com/update-lirik-dan-chord-kunci-gitar-andien-moving-on/64/

8 thoughts on “Moving On

  1. Hm…. moving On…. saya juga suka lagu ini Bu DiniπŸ™‚.
    Semoga Adinda terus maju, meninggalkan semua kenangan tentangnya.

    • Adinda adalah sosok wanita yang tegar. Dia akan selalu melakukan yang terbaik dalam segala hal. Oiya, Des, Adinda titip salam, tuh. Katanya, makasih atas doanya. (Adinda siapa, coba? Hihihi..)

      Moving on, Desita!!!πŸ˜€

  2. hihihi i know…. hmmmm baiklah, tetep semangat ya Buat Adinda, saya tau Adinda orangnya tangguh lho, the strong womenπŸ™‚, sejauh itu saya kenal Adinda.*sotoy*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s