Pujian Tak Selamanya Berbuah Manis

Hai, pengunjung dini’s diary!! Assalamualaikum!!πŸ˜€

Sebelum saya mulai mengetik tulisan ini, saya sempat berpikir sejenak apa yang akan saya tulis kali ini. Tiba-tiba saja saya teringat salah satu pengalaman saya ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 1. Dulu, pengalaman saya yang satu ini terbilang pahit. Namun, kini justru menjadi pengalaman unik dan lucu bagi saya. Dan yang paling penting adalah hikmah yang ada di balik semua itu. Pengalaman apa sih, Din?? Ok!! Check tis out!! πŸ˜€

Saat itu, pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran favorit saya. Setiap pelajaran ini berlangsung di kelas, saya termasuk siswa yang aktif. Ketika guru bertanya, saya mencoba menjawab. Ketika membahas tugas, saya mencoba menuliskan jawaban saya di papan tulis. Jika ada permasalahan yang tidak saya mengerti pun saya berani bertanya pada guru. Jabatan saya di kelas sebagai sekretaris juga kerap kali dimanfaatkan guru untuk menulis materi di papan tulis. Guru selalu memberikan kesempatan pada saya dalam segala hal, bahkan terkadang teman-teman yang lain sama sekali tidak ada yang diberi kesempatan. Dan ternyata semua itu membuat guru kenal dengan saya dan sering memuji saya walaupun tidak di hadapan teman-teman. (Bukan sombong, ya.. Itu kan dulu.. Sekarang lebih aktif lagi! Loh??!!)πŸ˜€

Suatu saat, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas yang harus segera diselesaikan oleh saya dan teman-teman sekelas yang lainnya. Saya pun mengerjakannya dengan teliti. Entah materi apa yang saat itu sedang dipelajari. Seingat saya, tugasnya adalah membuat kalimat. Tapi, saya lupa persisnya apa. Saya sangat suka dengan tugas itu. Jadi, sudah pasti saya semangat mengerjakannya.

Sementara semua siswa sedang mengerjakan tugas, guru berkeliling kelas sambil melihat-lihat hasil pekerjaan siswa yang mulai tampak sedikit demi sedikit. Tibalah guru tersebut di samping meja saya dan melihat hasil pekerjaan saya. Saya tidak merasa terganggu dengan kedatangannya itu. Saya tetap asyik mengerjakan tugas. Namun, tiba-tiba guru berkata, “Kamu pintar, ya. Kalimat-kalimat yang kamu buat juga bagus,” saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sebenarnya, saya tidak enak juga dengan teman sebangku, serta teman-teman yang duduk di depan dan di belakang meja saya. Guru memuji saya di depan mereka, namun mereka tidak mendapat pujian, bahkan pekerjaan mereka pun tak diliriknya sama sekali.

Tak disangka, ternyata pujian ini menjadi awal dari masalah. Teman-teman yang mendengar langsung pujian untuk saya itu merasa dirinya sudah diperlakukan tidak adil oleh guru itu. Keesokan harinya, sikap mereka pada saya terlihat berbeda. Kalau saya bertanya, mereka menjawabnya dengan malas, ketus, bahkan tidak menjawab sama sekali. Saya ajak ke kantin pun mereka enggak mau. Walaupun seharusnya saya tidak merasa bersalah, namun pada akhirnya saya merasa bersalah juga.😦

Sikap mereka terus seperti itu, berhari-hari. Ya, sudah. Toh,Β  yang membenci saya hanya lima orang. Saya masih bisa bergaul dengan teman-teman yang lainnya. Perlahan, tapi pasti, teman sebangku saya mulai meninggalkan saya. Ia pindah ke tempat duduk yang lain. Terpaksa, saya pun duduk sendiri dan berharap ada teman yang lain yang mau menemani saya.

Hal yang menyakitkan tidak berhenti sampai di situ. Suatu pagi, saya datang ke sekolah seperti biasanya. Saya masuk kelas dan menuju tempat duduk saya. Betapa kagetnya saya melihat meja saya sudah penuh dengan tulisan yang ditulis menggunakan kapur berwarna-warni dan diukir dengan kreatif namun menyakitkan: F*CK OFF!! (maaf..). Tak hanya di situ. Di toilet pun saya menemukan tulisan besar-besar yang ditulis dengan menggunakan tinta cina berwarna hitam. Kali ini tulisannya tidak kreatif, namun tetap saja menyakitkan: DINI KELAS 1-G TONG BALAGU!! (Dini kelas 1-G jangan blagu!!). Entah siapa yang menulis semua ini. Saya tidak menuduh mereka, namun kedua tulisan itu muncul bertepatan dengan permasalahan yang sedang saya hadapi saat itu. Teman-teman sekelas yang memusuhi saya pun semakin hari semakin banyak karena terpengaruh oleh lima orang pertama tadi.

Hati saya yang tegar mulai melemah. Saya pun menceritakan segala-galanya pada orang tua saya. Orang tua saya tidak marah atau lantas mendatangi sekolah untuk mengakurkan saya dengan teman-teman, tetapi mereka menyuruh saya untuk tetap sabar dan mencoba meminta maaf pada mereka. Berkali-kali saya meminta maaf, teman-teman malah acuh tak acuh dengan permintaan maaf saya, bahkan ada yang sampai berkata keras-keras, “Apa? Ada yang minta maaf nih sama kita!” dengan nada yang melecehkan.

Singkat cerita, mereka pun akhirnya memaafkan saya yang gigih meminta maaf. Mungkin mereka mulai menyadari bahwa sebenarnya saya tidak salah. Alhamdulillah, saya bisa berteman lagi dengan mereka. Teman sebangku saya pun kembali. Saya juga berkata pada mereka bahwa sebenarnya saya tidak suka dipuji berlebihan di depan mereka. Saya merasa seolah-olah saya adalah satu-satunya murid kesayangan guru itu hingga saya selalu saja mandapat pujian yang seharusnya teman-teman yang lain juga mendapatkannya.

Pelajaran yang bisa saya ambil dari pengalaman saya ini adalah:

1. Guru hendaknya tidak “pilih kasih” pada siswa-siswanya.

2. Pujian memang bagus, bisa memotivasi siswa untuk lebih maju dan sebagai bentuk penghargaan pada siswa yang memiliki kemampuan lebih. Namun, sebaiknya jangan mengesampingkan siswa-siswa yang lainnya dengan tidak memberikan kesempatan yang sama.

Hikmah/pelajaran yang lainnya silakan analisis sendiri, ya.πŸ™‚

Semoga bermanfaat,,πŸ™‚

Sumber Gambar :

http://sbelen.files.wordpress.com/2010/05/jari-memuji.jpg?w=338&h=450

5 thoughts on “Pujian Tak Selamanya Berbuah Manis

  1. hohooh betul sekali Bu Dini, sebagai guru kita harus pintar memposisikan diri, berkata dan memperlakukan setiap anak dengan adil dan sedail-adilnya jangan berlebihan , kasian, khawatir muridnya mengalamai apa yang Bu Dini alami, heu kena benget psikis nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s