Saya dan Obat

Sangat menakutkan.

Itulah yang saya rasakan setiap kali saya harus meminum obat. Hal ini terjadi sejak saya masih balita (pokoknya sejak saya masih kecil, lah..).Β  Setiap kali saya harus minum obat sirup, tubuh saya tidak bisa diam karena berontak. Saya terus berteriak dan menangis. Sepupu saya memegangi kaki dan tangan saya, sedangkan tangan kiri ibu saya berusaha membuka mulut saya sementara tangan kanannya memegang sendok yang berisi obat. Haha.. Parah..πŸ˜€

Eits, jangan salah! Tidak lama dari situ, saya tumbuh menjadi anak kecil yang jago minum obat berbentuk tablet. Tapi, suatu waktu, keberanian saya hilang drastis ketika saya tiba-tiba kesulitan menelan tablet yang mungil. Tablet itu tak kunjung masuk ke dalam perut. Dia terus “berlari-lari” di dalam mulut seolah-olah enggan masuk ke dalam perut. Alhasil, mulut saya terasa pahit. Saya pun panik dan mengeluarkan kembali obat itu. Saya menangis. Akhirnya, ibu saya menghancurkan obat itu dan mencampurkannya dengan air. Dalam keadaan takut, saya pun terpaksa menelannya. Rasanya sangat pahit..😦

Suatu hari, ada pembagian obat cacing di sekolah. Saat itu, saya duduk di kelas 3 SD. Obatnya berbentuk tablet yang cukup besar. Karena harus diminum saat itu juga, akhirnya saya coba dengan segenap keberanian. Bismillaahirrahmaanirrahiim.. Ternyata Allah berkehendak lain. Obat itu sempat tersangkut dulu di tenggorokan, membuat saya sakit ketika menelan dan panik tentunya. Setelah beberapa lama, akhirnya tablet itu masuk juga ke dalam perut saya. Huuuh… Sangat menegangkan. Hampir saja saya menangis di sekolah.

Sejak kejadia-kejadian itu, setiap saya sakit dan harus meminum obat dalam bentuk tablet, terpaksa saya menghancurkannya terlebih dahulu, mencampurkannya dengan air, lalu meminumnya. Tentu saja rasa pahitnya melebihi rasa pahit obat sirup. Sering kali saya menangis jika tak kuat menahan rasa pahitnya. Saya merasa menjadi orang yang paling menderita karena kelemahan diri sendiri.

Namun, anak kecil sangatlah wajar tidak suka minum obat karena rasanya yang pahit. Yang membuat saya menjadi tidak wajar adalah kebiasaan takut minum obat itu berlarut-larut hingga saya memasuki usia remaja, bahkan dewasa. Tiap kali saya sakit, dan orang tua membawa saya untuk memeriksakan diri ke dokter, saya selalu menangis. Bukan takut akan vonis dokter, melainkan takut pada obat yang nanti akan saya bawa ke rumah untuk diminum.

Saat itu, beberapa hari setelah hari ulang tahun saya yang ke – 14, saya mengalami demam tinggi hingga mencapai 40 derajat celcius. Orang tua saya panik dan membawa saya ke rumah sakit. Setelah melakukan beberapa pengecekan, saya pun divonis sakit gejala tipes oleh dokter. Dan pastinya, Sang Dokter memberikan resep obat yang harus saya minum. Seperti biasa, saya menangis. Ingin meminumnya langsung, tapi saya takut kejadian-kejadian waktu dulu terulang lagi. Ingin menghancurkannya saja terlebih dahulu, tapi saya takut merasakan rasa pahitnya.

Pikiran dan sugesti saya bahkan kian parah. Begini kira-kira gambaran ketakutan saya:

Obat itu saya simpan di atas lidah, lalu saya meminumnya. Namun, tablet itu tersangkut di dalam tenggorokan dan membuat saya tersedak. Sang tablet terlempar ke saluran pernapasan hingga membuat saya sulit bernapas. Kesulitan bernapas dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan hal yang paling menankutkan, yaitu … (jawab sendiri, yee.. :D)

Saya tersiksa dengan pikiran saya sendiri.😦

Parah banget, kan?? Tapi, kemudian saya berpikir. Jika tablet itu dihancurkan terlebih dahulu, sudah pasti rasa pahit itu saya rasakan. Namun, jika saya berusaha langsung menelannya dengan bantuan air, belum tentu apa yang saya takutkan itu terjadi. Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk meminumnya langsung. Bukan hal yang mudah memang. Karena setiap kali saya akan meminum obat, saya selalu mengurung diri di kamar dengan posisi duduk dan kaki yang berselonjor ke depan. Punggung saya diganjal oleh setumpuk bantal. Ya, saya membuat posisi duduk saya senyaman mungkin. Untuk meminum satu tablet, tak cukup dengan segelas air. Kadang saya sampai menghabiskan dua gelas. Bukan karena tabletnya susah masuk, melainkan karena ketakutan saya yang membuat saya ingin banyak minum. Sebelum obat itu saya minum, saya pandangi obat itu kurang lebih selama 10 sampai 15 menit sambil terus minum air dan minum air lagi. Belum lagi obat yang harus saya minum tidak satu jenis saja. Tak jarang saya meminumnya sambil menangis. Setelah obat itu berhasil masuk ke dalam perut saya, perasaan saya sangat lega, namun perut saya jadi kembung.πŸ˜€

Hal ini terus terjadi hingga saya menginjak usia 20-an. Saat itu, dokter memvonis saya sakit pada saluran pencernaan. Usus saya tidak bisa menyerap sari-sari makanan. Gangguan pada pencernaan ini juga membuat saya terkena anemia. Otomatis, obat yang harus saya minum tidak sedikit. Dan itu semua berbentuk tablet. Dan lagi harus saya konsumsi selama kurang lebih 4 bulan-an. Stres luar biasa kembali saya rasakan. Di satu sisi saya ingin sembuh karena saat itu perut saya terasa sangat sakit. Di sisi lain, saya belum bisa mengendalikan rasa takut saya pada obat.

Ya, sudah. Kebiasaan-kebiasaan yang saya lakukan setiap kali akan meminum obat pun saya lakukan kembali. Namun, ada sedikit perubahan. Saya meminum obat di depan televisi sambil menonton video klip musik dari Jepang. (Huuuh.. Ada-ada aja..). Salah satu tablet yang ukurannya cukup besar saya potong terlebih dahulu supaya tidak terlalu besar.

Hingga suatu waktu salah satu sahabat saya datang menjenguk saya ke rumah dan menemani saya meminum obat. Namun, ketika saya hendak memotong obat, dia berkata, “Ngga usah dipotong, Din. Kecil gitu, kok. Pasti bisa lah kamu..”

Seketika itu juga muncul keberanian saya untuk meminum obat itu tanpa memotongnya terlebih dahulu. “Kamu yakin kalo Dini bisa?” Saya ragu.

Tapi, dengan penuh keyakinan, sahabat saya bilang, “Ya, iya, lah.. Itu tuh kecil, Din..”

“Beneran, nih..?” Saya masih ragu.

“Iya!” Dia meyakinkan saya lagi.

Saya memandangi matanya dengan tajam dan saya melihat adanya ketulusan. Begitu yakinnya dia bahwa saya pasti bisa melakukannya. Dengan membaca basmalah, saya memberanikan diri meminumnya. Dan…

ALHAMDULILLAH!!! SAYA BERHASIL!!! \(^o^)/

Saking senangnya, saya sampai meneteskan air mata dan melakukan high five dengan sahabat saya itu. Saya sangat bersyukur. Terimakasih, sahabatku.. Terimakasih, Allah..πŸ™‚

Kini, walaupun rasa takut itu masih ada, tapi sedikit demi sedikit sudah bisa saya kendalikan. Alhamdulillaahirabbil’aalamiin..πŸ™‚

Sumber gambar :

http://www.worldofstock.com/stock_photos/PHE1696.php

9 thoughts on “Saya dan Obat

  1. saya juga ga berani untuk minum obat, padahal usia saya sekarang sudah 21 tahun. setiap menelan obat saya sering sekali mengeluarkannya lagi, sulit sekali untuk menelannya, seperti mau muntah. benar dengan yg mba dini bilang, kalau saya merasa lemah dengan diri saya sendiri seiap kali ingin menelan obat. mau pakai cara apapun sepertinya saya memang tidak bisa untuk menelannya, mba dini saya minta tips dong supaya saya jadi bisa untuk menelan obat kapsul ataupun tablet😦 , saya merasa sudah sangat putus asa setiap kali ingin menelannya.

    • Waah.. Ternyata saya ngga sendirian, ya.πŸ™‚
      Saya ga bisa ngasih tips atau saran.
      Tapi saya bisa berbagi cara berdasarkan pengalaman saya.
      Kalau saya sih begini:
      1. Usahakan untuk menceriakan hati. Jangan sampai saya minum obat dalam keadaan sedih atau tertekan.
      2. Saya suka musik. Jadi, saya suka minum obat sambil menonton video-video musik kesukaan saya. Ini dilakukan sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian agar tidak terlalu fokus pada obat yang akan diminum.
      3. Jangan gunakan gelas, tapi saya lebih suka menggunakan botol plastik. Yang saya rasakan, dengan botol plastik, dorongan air yang masuk ke dalam mulut lebih kuat jika dibandingkan dengan gelas. Kalau pakai gelas, sering kali banyak air yang tumpah karena panik. Hahahaaa.. Parah.
      4. Cara seperti ini saya jauhi : meletakkan obat terlebih dahulu di atas lidah, lalu dorong dengan air. Cara ini kerap kali membuat saya gagal menelannya. Sang obat malah berlari-lari di dalam mulut, dia enggak mau masuk ke tenggorokan. Selain itu, rasa obat juga terasa. Dan jelas, itu pasti membuat saya panik.
      5. Cara ini yang saya lakukan : (a) Berdoa; (b) Masukkan sedikit air ke dalam mulut, jangan dulu ditelan; (c) Sugestikan bahwa obat ini kecil dan lucu. Dia juga manis seperti permen; (d) Masukkan obat ke dalam mulut hingga dia bergabung bersama sedikit air yang sudah ada di dalam mulut; (e) Tambahkan air dengan minum air dari botol layaknya kita minum. Jadi, sedikit air dan obat tadi ditelan bersamaan dengan tambahan air yang kita minum layaknya minum seperti biasa.

      Haduh.. Gimana, Mba Yuli? Kebayang, ngga? Tapi, percaya ga percaya, cara di atas sanggup mengatasi masalah saya dalam minum obat. Setiap kali minum obat, setiap kali itu pula saya belajar. Kalau sudah lama tidak minum obat, ketika bertemu dengan obat lagi, saya ngga pernah lepas dari menangis, baik itu menangis karena takut tidak berhasil menelannya maupun menangis karena telah berhasil menelannya. Hahahahaa.. Kalau dipikir-pikir, sangat kekanak-kanakan, ya. Tapi itulah saya. Dan saya masih terus belajar untuk mengendalikannya, mengingat usia saya sudah bukan usia kanak-kanak lagi.πŸ™‚

      Kasih kabar kalau sudah berhasil, ya!! SEMANGAT!! ^^

  2. Pingback: Question and Answer : Cara Meminum Obat Berbentuk Tablet | dini's diary

  3. Apa yg diceritain diatas persis banget sama kondisi sy, tapi dulu sy malah lancar-lancar aja tuh minum obat, tapi kenapa beberapa tahun ini sy sulit menelan obat, ketakutan sy sama dgn yg dibayangkan mbak Dini…ahh ada-ada saja…😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s