The Story of Me and My Keyboard (Part One)

Assalamualaikum, readers!!😀

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang keyboard kesayangan saya. Dia bukanlah sebuah keyboard yang super mahal, bukan pula sebuah keyboard yang hebat yang biasa dipakai untuk para pianis band. Tetapi, yang membuatnya menjadi istimewa adalah bagaimana saya bisa mendapatkannya dan bagaimana saya merangkai cerita bersamanya selama kurang lebih 9 tahun ini.🙂

Saya tidak seperti anak orang lain yang jika menginginkan sesuatu, maka orang tuanya langsung mengabulkan apa yang ia minta. Bapak saya tidak mendidik saya untuk menjadi seorang anak yang kemauannya selalu beliau penuhi. Justru bapak saya ingin puterinya ini menjadi anak yang mampu berusaha sendiri dalam memenuhi apa yang diinginkan, terutama untuk suatu hal (atau benda) yang tidak bersifat “kebutuhan”, melainkan hobi ataupun keinginan biasa.

Begitu pun ketika saya ingin dibelikan keyboard yang terpajang di ruang pameran alat musik. Tidak mudah untuk mendapatkannya. Sebelumnya, saya memang sudah memiliki satu keyboard mini pemberian bapak saya ketika saya berumur 3 tahun. Saat itu, keyboard hanyalah sebatas mainan untuk saya. Hingga akhirnya saya duduk di kelas 3 SD, saya mulai suka mencoba not-not angka yang ada di buku kumpulan lagu nasional. Lagu pertama yang saya bisa (seingat saya) adalah lagu “Ibu Kita Kartini” (bener ga sih judulnya? lupa-lupa inget,, hehe..😀)

Saat saya kelas 5 SD, mulailah saya mencoba mencari nada-nada dari apa yang saya dengar. Saya senang bisa mengasah kemampuan saya, hingga hal ini menjadi hobi. Tiada hari tanpa memainkan keyboard mini saya. Saat itu, saya merasa bahwa hanya membunyikan melodi saja tidak cukup. Akhirnya, saya pun mulai menyatukan suara musik ritme yang ada pada menu keyboard dengan melodinya. Waw, susah, tapi sangat menantang. Setiap saya bisa memainkan sebuah lagu dari awal sampai akhir dengan karya saya sendiri, saya pun tidak segan-segan membawa keyboard saya ke sekolah. Saya pun mengadakan konser kecil-kecilan di sekolah saat beristirahat, sedangkan teman-teman yang lain mengerumuni saya yang sedang bermain keyboard. Seingat saya, lagu pop pertama yang saya bisa adalah … (duh, saya lupa judulnya..). Tapi, kurang lebih begini liriknya:

“Bintang di langit kerlip engkau di sana memberi cahanya di setiap insan. Malam yang dingin ku harap engkau datang memberi kerinduan di sela mimpi-mimpinya.”😀

Tibalah saatnya saya melaksanakan ujian praktek kesenian. Tentu saja alat musik yang akan saya mainkan adalah keyboard mini saya. Alhamdulillah, hasilnya sangat memuaskan. Namun tentu saja semua ini tidak membuat Dini Kecil berhenti berkarya. Ketika sudah duduk di bangku SMP kelas 3 pun saya masih terus meningkatkan kemampuan saya dalam memainkannya. Sampai suatu saat ada pameran piano dan keyboard yang besar di tempat pusat penjualan alat elektronik di Bandung. Jantung saya seketika berdegup kencang melihatnya. Saya sentuh benda-benda itu sambil iseng mencoba memainkannya. Ingin rasanya saya memiliki benda itu.

Saya pun meminta pada bapak saya untuk membelikan saya keyboard yang besar. Seperti biasa, bapak saya tidak serta merta mengabulkan permohonan saya.

“Dini punya uangnya, ngga?”

“Punya, Pa. Tapi setengah dari harganya juga ngga nyampe..”

“Emangnya kalau udah beli mau dipake?”

“Ya iya, dong, Pa… Pasti!”

“Ya, udah. Gini aja. Tunjukkan dulu sama bapak kesungguhan dini main keyboard.”

“Caranya?”

“Caranya, kuasai dulu 50 lagu danperlihatkan permainannya sama bapak.”

“50 lagu, Pa? Ga salah?”

“Ngga. Coba buktikan. Dini sanggup, ngga? Kalau sanggup, nanti bapak pertimbangkan untuk membeli keyboard yang besar itu.”

“Beneran ya, Pa!! Siap!! Nanti dini tunjukin ke Bapa!!”

Saat itu juga saya mulai berusaha. Setiap saya selesai mempelajari sebuah lagu, saya langsung menunjukkannya pada bapak saya. Bapak saya selalu berkomentar, “Bagus, pelajari lagi yang lain.” Wah, semangat saya sangat besar!! Sudah berhari-hari saya lewati. Sudah belasan lagu saya kuasai. Namun, entah mengapa, lagu yang saya bisa belum mencapai 50, tapi bapak saya sudah mengajak saya untuk melihat-lihat keyboard di tempat pameran itu. Bukan hanya melihat-lihat, melainkan langsung membelinya!!! Kaget bukan main saya dibuatnya. Rasanya saya ingin berteriak sekencang mungkin, saking senangnya.😀

Sesampainya di rumah, tanpa menunggu apapun lagi, saya langsung mencoba keyboard baru saya. Jari-jemari saya agak bergetar ketika mencoba menekan toots demi toots di keyboard itu. Alhamdulillah… Tak henti-hentinya saya bersyukur karena kini saya telah memiliki sesuatu yang dapat membantu saya dalam mengembangkan salah satu bakat saya. Thank You, Allah.. 🙂

2 thoughts on “The Story of Me and My Keyboard (Part One)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s