Calon Suami yang Klise Membuatku Galau

Namaku Adinda. Biasa dipanggil Dinda. Usiaku 23 tahun, usia yang cukup matang untuk menikah dan berkeluarga. Besok aku akan menikah. Situasi di rumahku dan sekitarnya sudah mulai ricuh. Banyak orang  yang membantu mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk acara besok. Di dalam rumahku dipenuhi asap dan bau masakan dari dapur. Ayah dan ibuku sedang sibuk mempersiapkan gaun pengantinku yang sederhana dan kostum-kostum yang akan dipakai ayah dan ibu serta saudara-saudaraku yang nantinya akan menjadi pagar ayu dan pagar bagus. Seharusnya hari ini aku bahagia dan sangat menantikan hari esok. Namun, ada sesuatu yang membuatku tak bisa tersenyum bahagia. Ah, rasa aneh apa yang ada di dalam hatiku ini. Sungguh tidak nyaman. Kenapa aku sulit tersenyum? Kenapa aku merasa kesepian di tengah keramaian?

Aku berjalan ke luar rumah masih dengan kegalauan yang mendalam. Keluarga dari ayahku datang menggunakan mobil suzuki berwarna biru. Keanehan kembali muncul. Sejak kapan mereka memiliki mobil biru ini? Aku tidak pernah tahu. Dan sejak kapan sepupuku itu bisa mengendarai mobil? Ah, biarlah. Mungkin memang selama ini aku kurang bergaul dengan mereka hingga aku tak tahu perubahan-perubahan apa yang terjadi. Mereka turun dari mobil dan menyapaku dengan ramah.

Di dalam rumah, mereka membicarakan tentang salah satu sepupu perempuanku yang dua bulan lalu baru saja dikhitbah oleh anak dari pemilik salah satu pesantren di Bandung. Aku baru ingat! Kapan aku pernah dikhitbah? Aku rasa, aku belum pernah dikhitbah oleh siapapun. Dan yang lebih parah lagi, SIAPA CALON SUAMIKU??

Apa-apaan ini? Apa aku terserang amnesia? Bagaimana bisa aku tidak ingat siapa pria yang akan menikahiku besok? Seketika itu juga jantungku berdegup kencang dan pandanganku sedikit kabur. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dengan semua ini?

Seolah tak terjadi apa-apa, aku mencoba menyapa sahabatku yang baru saja datang dan duduk di kursi yang ada di halaman rumahku. Namanya Rio.

“Hey, Rio!” Aku menyapanya dengan gembira. Rio hanya tersenyum dan memalingkan wajahnya. Heran, kenapa dia terlihat tidak senang? Apa aku berbuat salah padanya? Aku coba tanyakan padanya, “Kamu kenapa?”

“Kamu udah siap buat besok?” Rio tidak menjawab pertanyaanku, malah memberikan pertanyaan lain untukku.

“Udah, dong!” Ya, ampun.. Jawaban apa ini? Jelas-jelas aku sedang kebingungan siapa yang akan menikah denganku besok. Parah. Ingin rasanya aku memberi tahu sahabatku itu tentang kegalauanku. Tapi aku masih penasaran dengan apa yang aku alami ini. Jawabanku itu tak mengubah raut wajahnya. Rio tetap tidak terlihat bahagia. Atau, jangan-jangan.. Ah! Tidak mungkin! Rio tidak mungkin menyimpan rasa untukku. Walau aku ada sedikit rasa untuknya, namun rasa itu harus ku kubur dalam-dalam karena, sekali lagi, besok aku akan menikah.

Ku biarkan Rio sendiri. Aku ingin mencari tahu siapa yang akan menikahiku besok. Pertama aku beranikan diri bertanya pada salah satu sepupuku yang sedang bersantai. “Kamu tau ga siapa yang bakal nikah sama aku besok?” Tanpa basa-basi dan tanpa rasa aneh atas pertanyaanku itu, sepupuku menjawab, “Tau. Kalo ga salah sih namanya Rio.” Apa??? Aku kaget sekaligus senang. Karena ternyata orang yang akan menikahiku adalah orang baik. Tapi, aku masih belum percaya pada sepupuku itu. Kalau memang Rio adalah calon suamiku, kenapa tadi wajahnya murung? Hmm.. Aku harus bertanya pada yang lain.

Ku hampiri teman-temanku yang juga hadir untuk mengunjungiku. Jawaban mereka berbeda dengan jawaban sepupuku. Haaah.. jelas saja. Sepupuku itu tampaknya sedang bercanda denganku. Tapi, jawaban dari teman-temanku sangat aneh dan rancu. Mereka bilang calon suamiku adalah sepupu dari salah seorang teman yang tidak begitu ku kenal. Aku yang tidak begitu mengenali temanku bagaimana bisa menikah dengan sepupunya? Siapa nama sepupunya itu? Siapa nama calon suamiku itu? Bagaimana wajahnya? Seberapa tinggi badannya? Bagaimana akhlaknya? Aku semakin galau saja..

Hari semakin senja. Dan hari esok pun semakin dekat. Apa mungkin aku bisa bahagia menikah dengan orang yang belum aku kenal sama sekali? Tidak! Aku harus berpikir matang untuk menyelesaikan masalah ini. Ide “sinetron” aku pun muncul. Ya, bagaimana kalau mempelai prianya diganti saja. Tapi siapa?

Rio. Aku harus minta Rio untuk bersedia menjadi mempelai prianya. Dan otomatis, Rio juga harus mau untuk jadi suamiku. Ah, kacau. Pikiranku mulai melanglangbuana. Situasi ini memaksaku untuk mengesampingkan harga diriku di depan Rio. Bagaimana ini.. Aku sudah tidak tahan.. Rasanya napasku semakin pendek. Pengap. Aku pun menangis di hadapan Rio, “Rio.. Aku ga mungkin nikah sama orang yang ga aku kenal.. Aku harus gimana, Rio..” Rio pun terbawa suasana. Air matanya menetes juga. Hidungnya memerah. Apa mungkin dari tadi ia terlihat murung karena memikirkan ini juga? Atau mungkin dia sulit menerima kenyataan bahwa aku akan menikah dengan orang lain? Berarti, ini adalah saat yang tepat untuk memintanya menikahiku. Tidak.. Aku tidak bisa.. Aku malu..

Hari pernikahanku pun tiba. Matahari sudah semakin bersinar, tapi aku belum juga berganti pakaian. Gaun pengantinku masih tergantung manis di samping lemari baju. Kegalauanku tidak sirna diterjang angin malam. Ia masih utuh. Tiba-tiba ada keramaian di luar kamarku. Ibu berteriak keras, “Dia emang sengaja menipu kita, Pak!!” Ada apa, ya? Aku penasaran dan segera keluar dari kamarku menuju tempat keributan itu.

Ada sesosok pria mengenakan jas rapi dan seorang lagi yang terlihat lebih tua darinya. Hmm.. Mungkin ayahnya. Pria berjas itu.. Ah! Apa mungkin dia adalah calon suamiku??? Ayahnya dengan berani berdiri di atas lemari tivi kesayangan ibuku. Hatiku mendadak geram melihat tingkahnya itu.

“Heh!!! Kamu jangan sembarangan, ya!!! Turun kamu!!!” Aku sudah tak mempedulikan sopan santunku dalam berbicara. “Gara-gara kalian, saya jadi stress!! Keluar kalian!!” Aku berteriak sekuat tenaga hingga tenggorokanku terasa sakit. Ya, ternyata mereka telah mengipnotis kami agar mempersiapkan pernikahan dan menikah dengan pria berjas itu. Mereka menginginkan harta ayahku. Alhamdulillah kami disadarkan sebelum ijab qobul diikrarkan.

Rio datang menghampiriku dan memberikan pertanyaan yang cukup berat, “Dinda, kalo nikah sama aku, kamu mau, ga?” Belum sempat aku jawab, tiba-tiba duniaku berubah jadi sepi, hanya ada aku sendiri di sebuah ruangan yang ternyata itu adalah kamarku. Ah, ternyata itu semua hanya mimpi. Cape, deh..

Aku tersenyum sebentar sambil berpikir: jika memang Rio adalah jodohku, mungkinkah suatu saat nanti aku bisa menjawab pertanyaannya dengan mantap dan menikah dengannya? Wallaahua’lam. Hanya Allah Yang Tahu.🙂

Dini said :

Cerita fiktif yang aneh ya, teman-teman! Hahaha.. Ga apa-apa, deh.. Namanya juga mimpi. Emangnya ada mimpi yang enggak aneh? (Ngeles)😀

Thank’s for reading!!😀

Referensi gambar :

http://www.bukanmuslimahbiasa.com/2011/01/page/2

6 thoughts on “Calon Suami yang Klise Membuatku Galau

  1. Assalamu,alaikum.Sampurasun..Teh Dini ane jauh-jauh dr Jakarta berkunjung ke blog anti..kesan yang tertangkap bagus banget,walo belum baca semua..mugia tambih sae saterasna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s