Kisah Baju Saya yang Malang

Dia bukanlah baju yang mahal. Saya membelinya di Bandung. Saya bisa mendapatkannya dengan dua puluh lima ribu rupiah saja. Berwarna pink, bercorak timbul, bergambar bunga, bergaya bali, berlengan pendek, tak berkerah, dan ada tali di di kanan dan kiri bagian bawahnya. Lucu. Itulah kesan pertama saya ketika pertama kali melihatnya. Baju ini sering saya pakai ketika tidur di malam hari. Kainnya nggak bikin gerah. Adem.

Sampai saya bekerja di Jakarta, baju ini pun masih setia menemani saya. Enam bulan berlalu sejak saya bekerja di Jakarta. Suatu pagi, saya mencucinya. Saya gunakan hanger untuk menjemurnya di luar kamar kost saya. Lalu, saya tinggalkan dia bersama baju-baju lain yang saya cuci. Saya pun pergi bekerja.

Sepulang dari tempat kerja, saya masuk kamar, menyimpan tas, kemudian kembali ke tempat jemuran untuk mengangkat jemuran saya. Apaaa??? Baju pink saya hilang beserta hanger yang menggantungnya!! Aneh. Padahal baju-baju saya yang lain ada. Hanya baju itu yang hilang. Kalau memang ada yang mencurinya, kenapa tidak baju saya yang lebih bagus saja yang dicuri?? Kemana ya baju pink saya…

Beberapa hari berlalu tanpa baju pink itu. Dari tempat jemuran, saya iseng melihat ke bawah (kamar kost dan tempat jemuran ada di lantai 2). Di bawah ada rumah penduduk lain dan ada tempat jemurannya juga. Dan, hey! Saya melihat hanger saya tergeletak tak berdaya di bawah sana!! Ooooh… Mungkin saat saya meninggalkan jemuran, terjadi angin yang begitu kencang hingga baju saya dan hangernya terbang ke rumah tetangga. Hmmm… Tapi saya tidak melihat baju pink saya di sana. Saya masih belum tau bagaimana kabarnya sekarang.

Keesokan harinya, Allah menakdirkan saya untuk bertemu kembali dengan baju pink saya. Dia terkulai tak berdaya di atas tembok pembatas tangga. Tapi saya tidak berani menyentuhnya. Terbayang di benak saya, dia telah terjatuh ke tempat yang tidak bersih. Maka saya biarkan saja dulu dia di sana. Nanti kalau ada waktu luang akan saya urus.

Dua hari kemudian, saya melihat kejadian tragis menimpa baju saya. Baju saya sudah dianggap tak ada yang memiliki. Baju saya sudah dianggap kotor. Dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat baju saya dijadikan keset kamar sebelah. Keset yang akan selalu diinjak-injak oleh penghuninya. Hhhh… Sedihnya hati ini. Ada perasaan menyesal juga. Saya saja tidak pernah menginjaknya sama sekali.

“Bajuku sayang.. Maafin dini, yaa.. Makasih udah setia sama dini.. Semoga kamu lebih bermanfaat bagi pemilikmu yang sekarang.. Dini liat kamu dari kamar aja.. Sekali lagi, maafin dini, yaa..”😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s