Pandangan Itu

Hari ini saya masuk pagi. Ada jadwal mengajar kelas 7 dan 8 SMP jam setengah delapan hingga jam setengah sebelas. Lima belas menit sebelum bel berbunyi, saya baru berangkat dari tempat kost (Hehehe.. Maklum, beginilah godaan dekatnya jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja. Jangan ditiru, ya!). Kali ini, saya berangkat ke tempat kerja tanpa minum dan sarapan terlebih dahulu. Saya hanya membawa roti untuk dimakan di tempat kerja. Biar saja! Sesekali ini, kok!

Bel berbunyi. Saya pun masuk ke dalam kelas. Siswa-siswa sudah duduk manis menunggu kedatangan saya untuk belajar bersama. Materi yang saya sampaikan bukan materi yang sulit. Tentang Kubus. Meski itu terbilang mudah, selalu ada saja siswa yang sulit memahaminya. Di sinilah saya dituntut untuk memiliki kesabaran ekstra (hei, saya bisa saja menggunakan cubitan maut dan kame-kame seperti di film Dragon Ball kalau saya tidak memiliki kesabaran. Haha).

Alangkah bahagianya jika diperhatikan oleh siswa saat saya menerangkan materi. Sepintas saya berharap mereka mengerti dan memahami apa yang saya jelaskan. Saya tahu, pandangan mereka itu belum tentu fokus pada penjelasan saya. Bisa saja pandangan mereka tertuju pada saya, tetapi pikiran mereka melanglangbuana ke galaksi tak berpenghuni. Pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, ulangan yang akan dilaksanakan besok, pertengkaran dengan adik sebelum berangkat les, uang Rp50.000,- yang hilang dua setengah hari yang lalu, kekasih yang tak kunjung memberi kabar. Maybe that’s all what they think. Namun, itu lebih baik daripada membuat keributan saat saya berbicara. Setidaknya kelas tenang dan saya tak perlu berorasi layaknya pendemo yang tak didengar pejabat.

Selesai mengajar, saya segera menuju ke suatu restoran. Sepertinya terlalu gaya kalau dibilang restoran. Hanya gerobak soto ayam yang dilengkapi dengan sedikit kursi dan meja yang merapat ke tembok dalam ruangan yang sempit. Di pojok meja ada kipas angin yang distel paling kencang putarannya. Maklum, Jakarta sedang panas udaranya (atau lebih tepatnya: hampir selalu panas). Namun, kipas itu tak sedikitpun megurangi udara panas yang saya rasakan. Ditambah lagi dengan kuah soto yang tak kalah panas. Mengalirlah sudah keringat di tubuh saya. Gerah.

Baru saja dua suap, telepon genggam saya berbunyi.

“Dini, ada siswa yang nyariin, tuh. Pengen konsul katanya.”

“Oya? Siapa?”

“Alfian, kelas 9.”

“Ooh.. Ya, udah. Dini kesana abis makan, ya.”

“Oke.”

Anak itu. Biasanya dia selalu menghubungi saya terlebih dahulu kalau mau konsultasi soal. Dia memang anak yang rajin. Cukup cepat menangkap materi yang saya sampaikan. Kritis juga.

Oke. Saya sudah selesai makan. Alhamdulillah. Akhirnya bertemu nasi juga. Belum makan namanya kalau belum makan nasi. Hehehe. Saya kembali lagi ke tempat kerja untuk “melayani” siswa saya yang katanya akan menghadapi ujian tengah semester di sekolahnya besok.

Ternyata dia tak sendirian. Ia bersama temannya yang biasa dipanggil Bintang. Mereka lalu menyodorkan beberapa soal pada saya. Mereka ingin saya memberitahukan bagaimana cara mengerjakannya. Saya pun menjelaskan sambil menuliskan caranya di papan tulis. Lagi-lagi saya mendapat pandangan dan perhatian dari siswa. Namun, kali ini hampir dapat dipastikan bahwa mereka bersungguh-sungguh memperhatikan saya. Bagaimana tidak? Kami sangat “nyambung” dalam pembelajaran ini. Seru. Rasa senang saya selalu tak tertahankan ketika siswa mengangguk dan mengatakan, “Ooh..gitu,” tanda mereka mengerti.

Sudah pukul 13.30. Kelas ini akan dipakai oleh siswa yang masuk siang. Selain itu, saya juga harus segera berangkat menuju lokasi mengajar di daerah lain. Banyak siswa yang menunggu saya di sana. Mau tidak mau, konsultasi kali ini saya akhiri dengan memberikan semangat pada mereka yang akan menghadapi ujian. Good luck, Guys! Sukses ya ujiannya! Dan saya pun berangkat ke lokasi selanjutnya.

Itu dia. Angkot yang bisa mengantarkan saya menuju ke sana. Mudah sekali memberhentikan angkot. Tinggal melambaikan tangan, dan angkot pun berhenti. Di Jepang mana boleh begini. Yang ada, kita harus berlari menuju tempat pemberhentian bis, lalu menunggu bis datang. Lebih tertib pastinya. Kalau di Jakarta, barangkali seperti Trans Jakarta. Bisnya kan tidak mengambil penumpang di sembarang tempat. Kalau mau naik bis Trans Jakarta, ya harus ke halte.

Ya, ampun! Saya baru naik angkot dan belum duduk, abang supirnya udah main tancap gas aja! Huuuh..

Eh, sepi sekali penumpangnya. Hanya ada tiga orang (termasuk saya). Satu penumpang duduk di depan yang tak lama kemudian turun. Tinggallah berdua. Saya dan penumpang lain di belakang. Saya duduk di dekat pintu, sedangkan penumpang yang satu lagi duduk tepat di belakang supir. Beliau sudah sepuh. Dilihat dari kaki dan tangannya yang panjang, sepertinya bapak ini cukup tinggi. Walau sudah lansia, di jarinya masih terselip batang rokok. Ck..ck..ck..

Awalnya, saya suka ngedumel sendiri kalau ada orang yang merokok di angkot yang saya naiki. Namun, lama-lama hal itu perlahan berkurang sejak membaca status Pak Mario Teguh di beranda Facebook saya yang kurang lebih intinya begini: Jika ingin sehat, baik fisik maupun psikis, salah satunya yaitu menganggap orang yang jahat (menurut kita) sebagai orang baik yang belum jadi. Jujur. Bagi saya, perokok yang merokok di tempat umum adalah orang baik yang belum jadi, karena ia telah mendzalimi orang lain dengan asap rokok yang berbahaya itu.

Hei. Mumpung sepi penumpang, buka cemilan, ah. Lumayan, buat ganjel perut. Tak lama kemudian, abang supir memutar wajahnya sekitar 110º ke arah saya dan bertanya dengan nada rendah dan pandangan yang menurut saya tak wajar, seperti ada maksud tersembunyi. Ia bertanya sambil tersenyum dan sedikit memainkan alis matanya (mengerti kan maksud saya?). Saya sampai bingung, apa benar ia bertanya pada saya. Dia sampai bertanya dua kali. Dan pertanyaan kedua kalinya itu membuat saya sadar bahwa pertanyaan itu memang untuk saya. Dengan wajah lempeng alias datar dan tanpa ekspresi, saya menjawab, “ABC.” (Nama tempat disamarkan. Khawatir tempatnya tersinggung. :D). Abang supir mengangguk, mengalihkan pandangannya ke depan, lalu meneruskan menghitung segepok uang ditangannya sambil menyetir.

Hei, kenapa hanya saya yang ditanya mau kemana? Bapak itu? Yang duduk di belakangnya tidak ditanya? Masa sih tidak terlihat? Waaah… Penghinaan. Bapak itu tidak dianggap. Nggak sopan. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya lebih baik tidak ditanya sekalian. Sudahlah, berpikir positif saja. Mungkin bang supir sudah tahu bapak itu mau turun di mana. Dan pertanyaan itu ditujukan agar ia bisa menentukan jalan mana yang akan ia lewati. Jalan yang sesuai dengan jalur angkot, atau jalan pintas ke jalan layang agar terhindar dari lampu merah yang menyala sampai ratusan detik itu. Yaaa.. Semoga dugaan saya itu benar. Saya tidak mau dulu menduga hal-hal mengerikan seperti yang sedang marak diberitakan di berbagai media: pemerkosaan dalam angkot, atau satu lagi: anak hilang. Ih.

Ketika angkot akan melaju ke jalan layang, bapak yang duduk di belakang bang supir itu tiba-tiba memberhentikan angkot dan turun. Ah, gawat! Tinggal saya sendiri penumpangnya. Apa saya harus ikut turun juga meski tempat tujuan saya masih jauh? Lalu saya harus ganti angkot? Atau harus berjalan kaki sedikit di bawah terik matahari agar saya mendapatkan angkot yang bisa langsung mengantarkan saya sampai tepat di depan lokasi mengajar? Jauh dan panas membuat saya malas. Akhirnya saya putuskan tidak turun di sini. Abang supir kembali menancapkan gas dan memasuki area jalan layang.

Tinggallah kami berdua. Saya dan abang supir. Ugh.

Aneh. Apa yang terjadi dengan angkot ini? Kenapa jalannya melambat? Ini kan jalan layang yang biasanya tidak mengenal kata macet. Saya lihat pemandangan ke depan juga tak ada sedikitpun tanda-tanda kemacetan lalu lintas. Jalanan kosong. Jangan-jangan… Benar saja! Ini ulah si abang supir. Dia sengaja memperlambat laju kendaraannya. Tetap berpikir positif, Dini! Mungkin itu semua karena bang supir sedang menghitung uangnya. Ia takut menabrak atau tertabrak gara-gara perhatiannya terbagi dua. Atau bisa saja kalau ia mengendarainya terlalu cepat, anginnya pasti lebih kencang. Lalu uang yang sedang ia hitung beterbangan ke luar mobil. Kasihan juga. Ya, sudah. Tak apalah lambat sedikit. Asal selamat.

“Mau ke mana?” Lagi-lagi bang supir bertanya dengan pertanyaan yang sama. Gaya sama. Senyum yang sama. Begitu pun dengan pandangannya. Pandangan yang tidak saya suka. Apa maksudnya ini? Apa jawaban saya tadi kurang terdengar dengan jelas? Tapi kan tadi dia sudah mengangguk. Bukankah mengangguk itu tanda mengerti? Baiklah, mau bagaimanapun pertanyaan itu tetap saya jawab juga akhirnya, tentu dengan ekspresi datar ditambah sedikit ekspresi keheranan. Dia mengangguk lagi dan menghitung uang lagi. Kecurigaan yang sejak tadi saya pendam, kini mulai muncul ke permukaan. Kecurigaan saya semakin menjadi ketika melihat abang supir menyembunyikan kartu identitasnya sebagai supir angkot. Awalnya, kartu identitas itu tergantung di kaca spion dalam mobil. Lalu ia selipkan ke tempat yang menurutnya tidak akan terlihat oleh siapapun. Mungkin ia tak mau identitasnya terbaca oleh saya. Dan apa mungkin ia akan melakukan sesuatu yang membuatnya sampai harus menyembunyikan identitas? Gawat. Pikiran saya mulai kacau.

Saya hadapkan wajah saya ke jendela sebelah kiri. Memandangi ramainya jalanan di bawah sana sambil sedikit-sedikit melirik abang supir. Bukan kegenitan, tapi saya ingin tahu gelagat apa lagi yang dia tunjukkan. And you know what, Guys? He looks at me many times! Bukan melirik yang sesaat, melainkan melihat ke arah saya selama 1… 2… 3 detik!! Lagi, dan lagi! Bahkan pernah mata kami hampir bertemu. Astaghfirullaah.. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan abang supir ini? Kecurigaan saya kini membludak tak tertahankan. Jantung mulai berdegup dengan kencangnya. Saya gemetaran. Khawatir diapa-apakan oleh bang supir. Dibawa kabur, mungkin. Atau ia bekerja sama dengan teman-temannya di depan sana yang mungkin akan ikut masuk ke dalam angkot, dan… Sungguh, saya nggak berani meneruskan pikiran negatif ini.

Saya harus memikirkan jalan keluarnya meski saya tahu terkadang saya tidak bisa berpikir jernih saat berada di bawah tekanan. Tolong Dini.. Tolong Dini, Allah..

Baiklah, saya akan segera memberhentikan angkot saat sudah melewati jalan layang ini. Ongkosnya sudah saya siapkan. Tapi, hei, setelah melewati jalan layang, kenapa angkot ini malah melaju lebih kencang? Otak saya bekerja keras, lebih keras dari penggali tambang. Ia terus menggali dan menggali lebih dalam dan lebih dalam lagi untuk mencari emas yang akan mengeluarkan saya dari situasi yang saya sebut dengan “jebakan abu”. Saya benar-benar dibuat bingung oleh tingkah bang supir. Saya sampai tidak bisa mengambil kesimpulan, apakah bang supir ini orang baik-baik atau bukan. Lagipula, penting amat saya memberikan penilaian padanya. Meski ini baru dugaan saya, tapi tak ada salahnya kan kalau saya waspada? Duh, sekarang saya harus gimana, nih?

Angkot terus melaju kencang. Otak saya pun semakin dituntut untuk berpikir cepat. Oke! Bagaimana kalau saya nekat saja lompat ke jalanan? Ah, itu sih namanya bunuh diri! Saya teringat berita yang dikabarkan lewat televisi sekitar dua bulan yang lalu yang kurang lebih isi beritanya seperti ini: seorang wanita dilarikan ke rumah sakit karena mengalami patah tulang akibat nekat melompat dari angkot ke jalanan karena merasa dirinya terancam dibawa kabur oleh supir angkot.

Jangan. Saya harus cari jalan lain. Tenang.. Tenang.. Ada Allah.. Ada Allah..

Tiba-tiba angkot sedikit menepi dan mengurangi kecepatan. Ya! Ini saat yang tepat untuk turun mendadak. Kalau jalannya pelan begini, kalaupun terjatuh, tidak akan parah.

“Saya berhenti di sini aja, Bang!” Saya berbicara sambil menuju pintu keluar. Biar saja saya turun meski angkot belum berhenti. Tapi, ternyata bang supir masih memiliki hati nurani (atau mungkin karena kaget tiba-tiba ada yang akan turun dari angkotnya). Ia mengerem angkotnya secara mendadak dan membiarkan saya turun begitu saja. Ketika saya hendak membayar ongkosnya, hampir saja tangan saya diraihnya. Dan lagi, sempat-sempatnya mulut saya mengucapkan, “Makasih,” pada abang supir yang sudah memberikan pandangan mengerikan beberapa menit yang lalu itu. Terdengar sedikit teriakan -yang tak jelas isinya- dari abang supir untuk saya. Sungguh, saya tak mau tahu apa yang ditanyakannya lagi pada saya. Mungkinkah masih pertanyaan yang sama, “Mau kemana?” (Uuugh.. Saya tak peduli). Segera saya berjalan dengan cepat menuju arah yang berlawanan. Lalu memberanikan diri menoleh ke belakang untuk memastikan apakah angkot itu masih ada atau sudah pergi.

… Ternyata sudah pergi.

Alhamdulillah. Puji syukur pada-Mu, Ya Allah, Yang telah melindungiku dari hal-hal mengerikan yang mungkin saja terjadi jika tak ada pertolongan dari-Mu.🙂

For you, Girls..

Be careful wherever you are. Don’t forget to pray before you go somewhere.

Hope Allah will always safe us: you and me.

Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s