Nggak Berani Melihat Papan Tulis

Namanya Rizal (bukan nama asli). Kelas 7 SMP. Ia adalah salah satu dari ratusan siswa yang saya ajar pada tahun ajaran 2011-2012 ini.  Kulitnya putih dan tubuhnya cukup tinggi untuk anak-anak seusianya. Ia sedikit berbeda. Tingkah lakunya terkadang di luar kebiasaan. Ia punya dunianya sendiri, namun masih bisa dikatakan dapat bersosialisasi dan bergabung dengan teman-temannya, meski tak senormal yang lain. Rizal senang sekali mencari perhatian. Tak jarang ia membuat ulah di tengah-tengah pembelajaran, membuat keributan, atau memancing teman-temannya untuk bersuara di saat yang (menurut saya) tidak tepat. Bagaimana tidak? Saat saya menjelaskan materi, tiba-tiba Rizal berbicara hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pelajaran yang sedang dipelajari, lalu disambung dengan komentar teman-temannya yang disertai dengan canda tawa. Dan akhirnya saya pun diabaikan.

Pernah di saat saya pertama kali melihatnya di kelas (Rizal adalah siswa baru), di saat itu pula lah saya mulai “diganggu” olehnya. Ketika saya sedang menyinggung sedikit tentang tulisan alay yang susunan hurufnya tak karuan, tiba-tiba Rizal mengacungkan tangannya dan berkata, “Kak! Saya tau nama-nama orang Rusia. Susunan hurufnya susah.”

Saya hanya menanggapinya dengan kata, “Oya?”

“Iya, Kak. Boleh saya tuliskan namanya di papan tulis?”

“Boleh!” Saya membolehkannya dengan harapan ia menyukai saya dan mau belajar matematika bersama saya. Siswa yang lain menggunakan kesempatan ini untuk berbicara sesuka hati mereka, dan dengan suara yang lantang. Tak mau kalah satu sama lain. Hhh… Baiklah. Kali ini saya mengalah (lagi). Lalu Rizal membacakan nama seorang Rusia yang baru saja ia tulis di papan tulis. Rizal terlihat sangat senang bisa menarik perhatian dari teman-temannya, termasuk saya. Perasaan senangnya tak mudah hilang begitu saja meski tanggapan yang ia dapatkan dari teman-temannya berupa ledekan, sindiran, atau hinaan.

Hari ini, Rizal terlambat datang ke kelas lagi untuk yang ke sekian kalinya. Dua minggu lalu, saya pernah menegurnya, “Rizal, kenapa kamu datang terlambat?” Rizal tersenyum dan menjawab dengan jawaban yang tidak terduga, “Ah, percuma kalau saya jawab, Kak. Paling nanti jawaban saya dibilang alesan.”

Hmm.. Mungkinkah ia sering dibilang demikian oleh guru lain kalau datang terlambat? “Loh, kok kamu udah nyangka kaya gitu? Kakak nggak akan bilang gitu, kok. Kakak Tanya sekali lagi, ya. Kenapa kamu datang terlambat?” Dia menjawab masih dengan senyumannya, “Di luar hujan deras, Kak. Takut sakit.”

Ya, memang di luar sana sedang hujan. Saya juga tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. “Ya, udah. Kalau alasannya karena hujan, nggak apa-apa. Minggu depan jangan terlambat lagi, ya.”

“Iya, Kak,” Rizal menjawab sambil menunduk. Begitulah Rizal. Tak pernah memandang wajah saya ketika saya berbicara dengannya.

Minggu berikutnya, Rizal datang terlambat lagi. Saya kembali menegurnya dengan pertanyaan yang sama. Dia menjawab sambil melihat ke arah lain, “Macet, Kak.”

Huuuh.. Memang benar, lokasi mengajar saya yang satu ini kerap kali jalanannya macet. Mungkin memang sudah lama daerah ini menjadi sumber kemacetan, khususnya hari Minggu. “Berarti, lain kali, kamu harus berangkat dari rumah lebih awal lagi. Ya?” saya mencoba bersabar dan menjadikan itu hal yang wajar. Semoga saja tak terulang lagi.

“Iya, Kak,” Rizal tersenyum.

Ternyata tak sesuai dengan harapan. Hari ini Rizal (lagi-lagi) datang terlambat. Kedatangannya selalu membuat kelas menjadi ribut karena menertawai dan meledeknya. Disambung dengan temannya yang memberitahukan rencana yang sudah ia buat untuk sepulang les nanti dengan Rizal. Belum lagi Rizal menjawab informasi tersebut dengan suara yang tak kalah keras dengan temannya itu. Ditambah dengan suara lantang teman-teman lain yang ikut memanfaatkan kesempatan sebelum saya melanjutkan materi.

“Hahahahaaaaa… Rizal telat lagi!!” Ledek teman-temannya.

“Yaaah.. Pasrrraaaaah..” Rizal menjawab dengan suara yang lantang. Kacau sudah jika Rizal datang di tengah-tengah proses pembelajaran. Saya tak dianggap, walau hanya sementara.

“Kenapa kamu terlambat lagi, Rizal?” lagi-lagi pertanyaan yang sama. Tersenyum lagi, melihat ke arah lain lagi, Rizal menjawab, “Biasa, Kaaaak..” Ah, entahlah. Apa maksud dari jawabannya itu. Saya sudah geram dengan tingkahnya. Mungkin lain kali, saya harus membuat kesepakatan dengan siswa-siswa di kelas itu, tak terkecuali Rizal. Jika ada yang datang terlambat ketika pelajaran saya sudah dimulai, maka konsekuensinya adalah tidak diizinkan masuk kelas sampai akhirnya saya sendiri yang menyuruhnya masuk. Ya, ide ini harus saya coba untuk menanamkan kedisiplinan pada siswa.

Datang terlambat, otomatis tertinggal materi. Rizal pun tak mengerti materi yang sedang dibahas di kelas. Ia hanya diam. Tak bertanya. Saat semua teman-temannya mengumpulkan tugas, belum ada satu pun soal yang berhasil ia jawab. Ia menghampiri meja guru sambil membawa kursinya. Barulah ia bertanya, “Kak, ini gimana?”

“Kenapa kamu baru nanya sekarang? Tadi kakak tawarin, kamunya diem aja.” Rizal hanya tersenyum dan kembali melihat soal pada kertas pertanda ingin segera diberitahu cara mengerjakannya. “Yaudah, coba kamu kerjakan dulu soal nomor 3. Gampang tuh soalnya. Diketahui luas persegi, sisinya yang dicari. Gimana cara nyari sisi dari luas yang diketahui?”

“Bentar ya, Kak. Saya cari dulu di buku.”

“Nggak usah. Nih, di papan tulis juga ada, kok. Kamu tinggal pake rumusnya.” Sebelum memberikan tugas, saya memang sempat menuliskan rumus di papan tulis. Dan kini, posisi tulisan itu ada tepat di belakang kursi guru yang sedang saya duduki.

“Nggak berani, Kak!” Rizal berkata pada saya sambil melihat ke arah lain. Seperi biasa.

“Nggak berani? Nggak berani lihat papan tulis? Loh? Kenapa?” Jujur, saya heran.

“Soalnya di situ ada kakak. Kalau nggak ada kakak, saya berani lihat papan tulis.”

What? Ah, ada-ada saja siswa saya yang satu ini. Mungkinkah ia takut menatap wajah perempuan? Atau wajah saya yang menakutkan? Entahlah. Yang pasti, saya hampir tidak pernah melihat Rizal bertatapan dengan siapapun.  Lalu, bagaimana dengan penjelasan saya di papan tulis? Apakah dia memperhatikannya sementara saya sering berada di sekitar papan tulis? Apa itu pula yang menyebabkan ia tak bisa fokus dengan apa yang saya jelaskan? Sungguh, ini adalah kali pertama saya menghadapi siswa yang berbeda. Kebingungan saya ini menyadarkan saya bahwa pengetahuan saya mengenai psikologis siswa masih sangat kurang. Oke. Saya harus lebih banyak belajar lagi.

Sudah tiga minggu saya tidak melihat Rizal di dalam kelas. Heran. Tak biasanya ia tidak masuk les. Meski ia sering datang terlambat, setidaknya ia hadir. Karena penasaran, akhirnya saya bertanya juga pada teman-teman sekelasnya.

“Rizal pindah lokasi, Kak!” Ooh.. Rizal masih les di tempat bimbingan belajar yang sama, tapi di lokasi yang berbeda. Mungkin supaya lebih dekat dengan rumahnya (so’ tau! Hehe). Belum sempat saya mencari tahu lebih dalam tentang Rizal, namun Rizal sudah tidak di lokasi ini lagi. Biarlah pengajar lain yang mengatasinya. Semoga Rizal menjadi anak shaleh yang pintar dan berguna bagi orang tua, agama, bangsa, dan negaranya.

Satu lagi. Ini adalah pelajaran yang Allah berikan untuk saya: menjadi guru tak semudah membalikkan telapak tangan. Saya harus terus belajar dan belajar bagaimana caranya agar siswa mau belajar.

Terima kasih, Rizal, atas kehadiranmu dalam dunia mengajar yang sedang kakak tempuh ini.

Take care! 😉

2 thoughts on “Nggak Berani Melihat Papan Tulis

  1. Setiap anak adalah unik, keunikan itu suatu anugrah, perlu waktu untuk mengetahui secara mendalam apa yang terjadi dalam diri Rizal… diskusikan dengan orangtua dan psikolog. saran saya tetap beri kesempatan padanya untuk mengembangkan kemampuannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s