Tugas 5 : Tempat Favorit untuk Menulis


Setelah dipikir-pikir lumayan panjang, sepertinya saya belum menemukan tempat favorit saya untuk menulis. Selama ini, saya tidak begitu mempermasalahkan tempat. Tetapi, terkadang saya juga memikirkan hal ini. Di mana tempat favorit saya, bagaimana suasananya, seperti apa gambarannya, serta apa saja hal-hal yang ada di sekitarnya.

Ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya sering menulis di sekolah saat ada waktu luang. Setiap hari, kecuali hari libur, saya berusaha datang paling pagi di sekolah. Tak jarang pukul 06.00 saya sudah sampai di sekolah. Saya suka dengan suasana pagi di sekolah saya yang berbasis lingkungan. Pohon-pohon dan tanam-tanaman yang hijau membuat udara sekolah menjadi bersih. Semilir angin pun menambah kesejukan. Sepi, namun sangat menyenangkan.

Sesampainya di kelas, saya menyimpan tas, mengambil kertas dan pensil, lalu beranjak meninggalkan kelas menuju tempat duduk di di pinggir lapangan. Saya melihat ke sekeliling saya untuk mencari inspirasi, lalu saya mulai menulis. Saya menulis apa saja. Terkadang meneruskan cerita yang akan saya kemas menjadi sebuah novelet, menulis tentang bagaimana perjalanan saya dari rumah menuju sekolah, atau sekedar menceritakan apa saja yang saya lihat saat itu.

Karya terbesar saya pada usia itu adalah sebuah novelet yang banyak sekali kekurangannya, namun cukup mendorong saya semakin ingin membuat yang lebih bagus dan lebih bagus lagi. Novelet yang berjudul “Maafkan Aku, Nisa..” itu saya persembahkan sebagai kado ulang tahun saya yang ke – 17 dari saya sendiri. Tulisan itu tidak hanya saya yang membacanya, tetapi juga keluarga dan teman-teman saya. Setelah membaca, banyak dari mereka yang menuliskan komentar di halaman belakang yang kosong. Sungguh, semua saran dan kritik mereka mampu memotivasi saya hingga saya masih bertahan menulis sampai sekarang (dan semoga seterusnya).

Sejak memasuki dunia perkuliahan, kegiatan menulis saya menjadi lebih serius. Bagaimana tidak? Saya terus menerus diberi tugas ini dan itu. Tak jarang tugasnya adalah membuat makalah, karya tulis ilmiah, bahan seminar, dan puncaknya adalah skripsi. Saat mengerjakan tugas seperti ini, tempat favorit saya adalah kamar dan ruang belajar di rumah saya. Banyak ide yang mengalir ketika saya mengerjakannya. Ayah saya yang sangat peduli pada kesehatan saya pun menyediakan banyak air minum mineral kemasan gelas di dekat saya agar saya tidak lupa untuk banyak minum (Love you, Daddy!). Ternyata ada bagusnya juga mempunyai hobi menulis, sangat membantu saya dalam merangkai kata-kata untuk tugas-tugas itu. Hasilnya, yang saya tulis selalu banyak dan menghabiskan kertas A4 yang banyak pula. (Hahahaha… Dasar tukang nulis… Kalo idenya lancer, suka kaga nahaaaan…)

Sekarang, saya sedang menggeluti dunia kerja. Saya memulai kembali kegiatan menulis bebas saya. Waktu luang sering kali saya gunakan untuk menulis. Seperti saat ini, saat saya mengawas ujian Try Out SIMAK UI di tempat saya bekerja. Menulis sambil mengawasi mereka. Sebenarnya mereka tidak perlu diawasi karena mareka sudah dewasa dan memiliki tujuan masing-masing. Mereka sadar betul untuk bekerja sendiri. Jadi, ini adalah keuntungan untuk saya. Saya bisa lebih fokus pada tulisan saya.

Tak jarang kegiatan menulis juga saya lakukan di ruang pengajar atau di kamar kost. Itu semua sepertinya tidak bisa dikatakan sebagai tempat favorit. Hanya saja saya sering melakukannya di tempat itu. Faktor utamanya tetap, yaitu tergantung mood.

Meskipun saya tidak memiliki tempat khusus yang saya jadikan sebagai tempat favorit saya untuk menulis, terkadang saya juga membayangkan tempat itu dalam pikiran saya. Mungkin akan menyenangkan jika saya menulis di sebuah kafe yang dilengkapi dengan banyak buku yang bisa saya baca. Saya menulis di sana sambil makan, minum, juga membaca. Suasananya sangat tenang dan kondusif. Saya di sana bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki hobi yang sama, entah itu membaca atau menulis.

Selain itu, saya juga ingin mencoba menulis di tempat yang selalu ingin saya  kunjungi sebagai tempat untuk refreshing, yaitu kebun teh. Kebun teh yang berkabut, dingin, dan sejuk. Saya memakai jaket berwarna abu-abu yang panjangnya sedikit di atas lutut, dilengkapi dengan syal kuning yang terbelit rapi di leher saya. Saya menulis di antara hamparan kebun teh, ditemani dengan secangkir teh panas dan mie instan yang pedas. (Jadi pengen beneran, nih!)

Sepertinya suatu hari harus mencoba apa yang saya bayangkan ini. Mungkin saja setelah saya coba, lalu saya jadikan itu sebagai tempat favorit saya untuk menulis. Semoga tercapai. Amin..

Sumber Gambar :
http://4antum.wordpress.com/2012/02/19/akhwat-manja-diary-part-3/

2 thoughts on “Tugas 5 : Tempat Favorit untuk Menulis

  1. ohh mau nyoba nulis di kebun teh? ehmm mungkin bisa datang ke puncak.. klo mau lebih jauh.. ke ciwidey.. lebih jauh lagi?? coba ke pangalengan..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s