Sampaikanlah dengan Baik


Di dunia yang hanya sementara ini, Allah menciptakan banyak manusia dengan beragam sifat dan karakter. Ada yang baik, ada pula yang belum baik. Di situlah kita dituntut untuk saling memahami dan saling mengingatkan. Sederhana, bukan? Namun, kenyataannya tak semudah itu. Bahkan seseorang yang berniat baik pun terkadang niat baiknya itu tak sampai pada sasarannya. Maksud hati ingin mengajak pada kebaikan, tetapi malah berbalik keburukan.

Apa yang salah? Ada dua kemungkinan. Pertama, sang penyampai kebaikan kurang mahir dalam mengajak kebaikan. Atau mungkin saja cara yang ia pakai tidak bisa diterima oleh orang lain, misalnya saja karena cara tersebut sangat menyakitkan, tidak santun, dan bernada merendahkan seolah dirinyalah yang paling benar dan paling pintar. Kedua, mungkin saja orang yang diingatkannya itu keras kepala.

Tidak semua orang baik dapat menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik pula.

Kalimat di atas tentu bisa kita pelajari dan pahami dengan cepat, secepat kita membacanya. Memang demikian. Dalam menyampaikan kebaikan pun kita harus berhati-hati. Lihat dulu siapa lawan bicara kita. Anak-anakkah? Remaja? Teman sebaya? Atau mungkin orang yang lebih tua dari kita. Lalu pikirkan bagaimana bahasa yang pas untuk digunakan.

Teringat seorang teman yang bercerita pada saya sambil menangis. Sebut saja Nisa (bukan nama asli). Raut wajahnya jelas-jelas memperlihatkan penderitaan mendalam. Betapa hatinya sangat sakit bagai ditusuk ribuan jarum. Saya sangat penasaran. Lantas saya bertanya padanya pelan-pelan. Namun, ia masih tak bisa menjawab, masih ingin menangis. Setelah sedikit tenang, saya mencoba menanyakannya kembali mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Teman-teman, betapa kagetnya saya setelah mendengar ceritanya. Beberapa hari yang lalu, Nisa berdebat dengan calon suaminya mengenai pakaian sehari-hari yang biasa digunakannya. Nisa selalu berpakaian seperti ini : celana jeans yang tidak ketat, baju atasan yang panjangnya sampai sedikit di atas lutut, menggunakan sandal, dan kerudung gaul (tidak menutupi dada). Lalu calon suaminya menginginkan Nisa berpakaian seperti apa yang diajarkan Islam, yaitu menutup aurat, tidak transparan, dan tidak ketat. Nisa sadar betul bahwa penampilannya masih jauh dari aturan Islam. Namun, saat itu Nisa merasa penampilannya itu baik-baik saja. Nisa memang tidak pernah memakai baju yang ketat dan transparan. Hanya saja beberapa bagian tubuh masih terlihat, seperti kaki dan lengan (terkadang pakaian lengan panjangnya tersingkap begitu saja). Satu lagi, kerudungnya tidak menutupi dada.

Nisa merasa tidak nyaman penampilan pakaiannya itu dikritik oleh calon suaminya. Ia merasa privacy-nya terganggu. Lain lagi jika calon suaminya itu sudah resmi menjadi suaminya. Jadi, rasanya ia malah ingin membela diri, bukannya menurut. Nisa meyakinkan saya bahwa kata-kata yang ia gunakan sungguh halus dan tanpa nada kesal, karena ia tidak ingin perdebatan menjadi pertengkaran. Tetapi, hasilnya, calon suaminya itu tetap saja geram mendengar jawaban Nisa dan berkata, “Kamu keras kepala, ya. Kalau begini keadaannya, lebih baik kita nggak jadi nikah.”

Nisa kaget mendengarnya. Yang benar saja, hanya karena penampilan Nisa yang tidak terlalu buruk itu, calon suaminya hendak membatalkan pernikahan mereka. Nisa kesal sekaligus sedih. Namun, ungkapan kekesalan dan kesedihan Nisa dibalas dengan kalimat yang lebih menyakitkan dari calon suaminya, “Saya merasa berat menikahimu. Kamu keras kepala, tidak mau diberitahu. Secara tidak langsung, kamu sudah menolak ajaran Allah. Nanti, setelah saya jadi suami kamu, saya nggak akan sanggup membimbing kamu.”

Sungguh, bukan kalimat-kalimat itu yang diharapkan Nisa, dan saya yang mendengarkan ceritanya. Jelas sekali, bukan itu poinnya. Bukankah kalau memang Nisa sudah menjadi pilihannya, maka calon suaminya itu seharusnya sudah menyatakan siap dengan segala kekurangan Nisa? Jika memang pakaian Nisa itu dipandang sebagai kekurangan, tidak bisakah diperbaiki bersama setelah menikah nanti? Toh Nisa juga paham betul, bahwa selama suaminya nanti menyuruhnya melakukan kebaikan, ia harus taat. Tidak bisakah kata “membimbing” itu jangan dulu terucap sebelum menikah? Semua wanita pun akan berpendapat bahwa perkataan calon suami Nisa seolah menunjukkan kesombongannya sendiri. Maksud saya, memang betul tugas seorang suami adalah membimbing istrinya ke jalan yang benar. Namun, jika kejadiannya seperti ini, kebenaran yang disampaikan calon suami Nisa malah menimbulkan persepsi yang tidak baik.

Nisa masih bersabar. Ia tidak mau pernikahannya batal. Ia sangat menyayangi calon suaminya. Terbukti dengan keluluhan hatinya yang selalu dan selalu saja memaafkan tingkah calon suaminya yang sering kali menyakiti hatinya. Nisa terus menjaga lisannya agar tidak membuat calon suaminya semakin kesal. Tetapi Nisa tak sanggup menahan kekesalan lelaki itu, hingga akhirnya muncul kalimat “melecehkan” dari calon suaminya itu.

Lelaki yang usianya sedikit di atas usia Nisa itu menunjukkan foto-foto Nisa yang rata-rata sedang bertolak pinggang. Gaya Nisa di foto-foto itu memang membuat (maaf) bentuk dadanya terlihat. Nisa diminta untuk memperhatikan foto-foto itu, lalu meluncurlah dengan lancar kalimat menyesakkan dari calon suaminya, “Coba jelaskan, apakah dua tonjolan di dadamu ini bukan aurat?”

Saya ikut tercengang mendengarnya. Nisa yang kala itu sedang bercerita pada saya kembali menangis. Air matanya mengalir lebih deras. MasyaAllah.. Awalnya saya setuju dengan lelaki itu, bahwa pakaian Nisa memang harus sedikit diperbaiki. Tetapi, kalimat itu sungguh melecehkan wanita. Saya pun ikut sakit hati. Tak tega melihat teman saya itu, saya pun segera memeluknya, berharap ia bisa lebih tenang. Ada dua kemungkinan. Mungkin calon suami Nisa tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kebaikan dengan santun. Atau mungkin juga hal ini sengaja dilakukan agar Nisa membencinya, karena ia sudah tak ada rasa lagi pada Nisa. Saya hanya bisa menyuruhnya bersabar.

Teman-teman, terbaca dengan jelas, bukan? Calon suami Nisa ingin mengubah penampilan Nisa menjadi sesuai dengan apa yang Islam perintahkan. Namun, cara yang dilakukan salah besar. Bukannya menyampaikan kebaikan, malah menyakiti hati perempuan. Bukankah itu juga hal yang dilarang Islam? Menurut saya, cara yang seharusnya dilakukan oleh calon suami Nisa adalah sebagai berikut:

1. Sampaikan bentuk protesnya itu pada teman perempuan yang juga dekat dengan Nisa. Biarlah teman perempuan itu yang bicara. Biasanya, kalau sesama perempuan lebih enak dan leluasa membahasnya. Bahkan sesama perempuan pun rasanya risih mengatakan kata-kata “dua tonjolan di dada”. Hmm…

2. Ajak sedikit demi sedikit tanpa nada perintah dan tanpa Nisa sadari bahwa calon suaminya itu sedang membawa dia pada kebaikan. Misalnya, “Nis, kayaknya kalau kamu pake rok keliatan lebih anggun, deh.” Atau bisa juga, “Nis, sesekali pake jilbabnya yang lebaran dikit, dong. Biar lebih sip di mata Allah.”

3. Beri Nisa kado berisi rok atau gamis, bisa juga kerudung yang lebar dan bisa menutupi dada. Terus, kasih note kecil di dalam kadonya: “Dipake, ya. :)”

4. Tahan saja hingga menikah nanti. Setelah resmi menjadi suami isteri, silakan menyuruh Nisa berpakaian sesuai keinginan suami dan sesuai syariat Islam. Tapi tetap, dengan cara yang baik dan santun. Jangan sampai begini, “Bunda, pake baju tu yang bener, dong! Harus sesuai dengan syariat Islam! Tuh! Lihat tetangga kita, Bu Aisyah, udah cantik, shaleh, pakaiannya tertutup, lagi! Bunda harus bisa seperti Bu Aisyah.” Beuh… Bisa jadi panjang masalahnya. Hati istri pasti tercabik-cabik.

Oh, iya. Ada juga yang begini.

Calon istri : Mas, aku mau tanya. Kenapa Mas tidak memilih calon istri yang berjilbab lebar, memakai gamis, dan bertutur kata lemah lembut? Kok Mas malah pilih aku yang tidak seshalehah mereka?
Calon suami : Yaaa.. Aku juga sadar diri, lah…

Secara sepintas, percakapan di atas tampak biasa saja. Tapi, cobalah diresapi lebih dalam lagi. Bukankah itu menyakitkan hati calon istri? Calon suami berkata demikian seolah-olah hanya ingin merendahkan dirinya. Namun secara tidak langsung, dengan jawabannya itu, calon suami juga telah merendahkan diri calon istri. Mungkin dia ingin menyampaikan bahwa perempuan yang baik untuk lelaki yang baik, dan perempuan yang buruk untuk lelaki yang buruk. Meski calon istri tahu betul bahwa dirinya tidak seshalehah akhwat-akhwat itu, tetap saja jawaban itu tak menyenangkan hati. Tidak bisakah calon suami mengatakan ini, “Karena InsyaAllah kamulah jodohku, kamulah yang terbaik yang Allah berikan untukku.”

Ada lagi seorang teman yang mencurahkan isi hatinya pada saya. Namanya Rena (nama samaran). Kali ini, (lagi-lagi) tentang calon suaminya yang tidak bisa menjaga hati perempuan. Calon suami Rena, sebut saja namanya Gara (bukan nama sebenarnya), ingin pemahaman Islamnya sama dengannya. Suatu hari Gara meminta Rena untuk membaca sebuah artikel yang cukup panjang tentang suatu pemahaman Islam. Rena menolak untuk membacanya. Tapi itu bukan berarti Rena tidak mau membacanya.

Saat itu, Rena ingin membuat Gara terlihat lebih cerdas dibandingkan dirinya. Ia ingin melihat bagaimana Gara menjelaskan suatu ilmu padanya. Ya, ia ingin Gara merasa berguna dengan ilmu yang dimilikinya. Karena selama ini, Renalah yang sering berbicara dan berbagi ilmu. Jarang sekali Rena mendengarkan Gara “ceramah”. Oleh karena itulah Rena menolak untuk membacanya. Ia meminta Gara untuk menjelaskan isinya langsung padanya. Rena pun berkata baik-baik, “Wah, bacaannya berat, ya. Aku belum terbiasa baca yang begini. Kadang suka banyak yang nggak dimengerti. Kamu aja deh yang jelasin ke aku isinya apa. Ya?”

Tak disangka, Gara menjawab, “Masa yang kaya gini aja kamu ga ngerti? Be smart, dong!” Akhirnya Rena membaca artikel itu dengan sangat terpaksa. Ya, keinginan baik Gara kini menjadi sebuah paksaan bagi Rena karena Gara sudah berani mengatainya.

Singkat cerita Rena dan Gara dirundung banyak masalah sehingga mereka tak jadi menikah. Suatu waktu, Gara mengirimkan pesan pendek padanya. Ia kembali mengungkit masa lalunya dengan Rena. “Ren, waktu itu aku nggak bisa nikahin kamu karena aku ngerasa nggak akan sanggup menasehati kamu setelah jadi suami istri nanti. Saya ingin menikah dengan orang yang cerdas.” Rena malah direndahkan. Padahal, selama ini Rena tak pernah berani menyinggung bahkan merendahkan Gara disaat kemampuan Gara menurun. Rena menangis. Hatinya ngilu. Sudah berpisah pun masih saja disakiti.

Inilah sulitnya memahami orang lain, meski tidak semua orang sulit dipahami. Di sini kita juga dituntut untuk menjaga lisan agar tak menyakiti hati orang lain. Begitulah. Sering kali kita kecewa jika berharap pada manusia. Berharap untuk diperhatikan dan dimengerti. Jadi, jangan ingin dimengerti orang lain, tetapi kitalah yang mengerti orang lain. Saling mengingatkanlah satu sama lain dengan cara yang baik dan santun. InsyaAllah, hidup kita terasa damai. Memang sulit, tapi InsyaAllah bisa diusahakan. Yuk! Kita sama-sama belajar!😀

Kesimpulan : Baiklah. Tidak semua orang baik dapat menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik pula. Namun setidaknya kita bisa belajar untuk bisa lebih baik dan lebih baik lagi agar niat baik kita dapat diterima dengan baik.

NB : Maaf jika ada kata-kata yang menyinggung. Mohon ingatkan saya jika terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat.🙂

Sumber Gambar :
http://www.edupics.com/coloring-page-argument-i23966.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s