Ayam, oh, Ayam..


Tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya untuk bekerja di Jakarta dan jauh dari orang tua (padahal Jakarta-Bandung mah deket). Saya dituntut untuk mandiri, bahkan untuk urusan makan pun harus bisa cari sendiri atau bikin sendiri. Begitu pun dengan kejadian-kejadian yang tak terduga, harus dihadapi sendiri. Tidak mudah, tetapi bisa diusahakan, lah.

Hidup di Jakarta membuat saya mengenal lebih dekat suatu sosok yang bernama ayam, hewan yang bersayap namun tak bisa terbang. Di Bandung juga banyak ayam. Tetapi ada hal lain yang saya alami di sini.

1. Ayam: Menu Andalan Sehari-hari

Sempat beberapa bulan, di hampir setiap harinya, menu makan saya tak lepas dari nama ayam.
Sarapan pagi : Telur ayam
Makan siangย  : Soto ayam
Makan malam : Sate ayam
Ampun, deh… Saya sampai bosan memakannya. Itu lagi, itu lagi. Pantangan makanan untuk perut saya yang sedikit bermasalah membuat saya kesulitan mencari makanan sehat dan higienis. Padahal menu di atas juga belum tentu baik buat kesehatan saya. Saya sering memilih menu tersebut sampai suatu hari ibu saya menghubungi saya dari Bandung, “Teh, jangan makan makanan yang ada ayamnya lagi, ya! Apalagi belinya di tempat yang sembarangan. Barusan mamah nonton berita di tv, katanya di Jakarta Timur banyak beredar ayam tiren alias mati kemaren. Pokoknya teteh harus berhenti dulu makan ayam.”

2. Diseruduk Ayam

Suatu pagi, saya sudah siap berangkat kerja. Memakai gamis dan kerudung pink agak keungu-unguan, sepatu guru, jaket, tas gendong, dan tas jinjing. Saya menuruni tangga, karena memang kamar kost saya ada di lantai dua. Ketika itu, saya melihat seekor ayam jantan putih yang besar milik anak ibu kost. Tubuhnya gagah. Kalau dia manusia, mungkin saya akan bilang, “Cowok banget!!” Karena bulunya putih, kesannya jadi korea-korea gimanaaaa..gitu (apa, siiiih…? :D).

Ia berjalan bebas di luar kandangnya. Saya yang kala itu tidak memiliki rasa takut sedikit pun pada ayam berjalan dengan polosnya. Saya akan melewati sebuah motor di mana ayam itu berada di sebelah motor tersebut. Ketika itu, sang ayam mengikuti gerakan saya, seolah-olah ia tidak mau kehilangan jejak saya. Ia terus mengawasi saya, dan membuat saya jadi ketakutan melewatinya. Apa-apaan ini? Pikir saya dalam hati. Masa saya dikerjain sama ayam?

Saya nggak peduli. Saya nggak boleh kalah sama ayam. Saya pun segera melewatinya. Namun apa yang terjadi? Ayam itu malah mengejar saya dengan penuh nafsu. Melihat sayapnya yang terbentang lebar dan paruhnya yang besar, bulu kuduk saya berdiri. Saya berlari sekuat tenaga sambil berteriak, “Ooooooooooommmm!!!!! Takuuuuuuuuuttt!!!!” Saya berlari menuju kamar mandi pojok rumah. Buntu! Tak ada jalan lain. Akhirnya saya berhenti dan memasrahkan sepenuhnya tubuh saya pada ayam (eh, salah. Harusnya pada Allah, ya?). Dasar ayam nggak pernah sekolah, ia menyeruduk saya sekuat tenaga. Paruhnya mematuk kaki saya. Keras, dan sakit pastinya. Om Rudi (bukan nama asli) segera menenangkan ayam aneh itu (saya sebut saja begitu. Wong saya nggak punya salah ko tiba-tiba dikejar).

“Kamu nggak apa-apa, Dek?? Sakit nggak kakinya??” Om Rudi khawatir dengan keadaan saya. Sepertinya darah di seluruh wajah saya mendadak kabur ikut ketakutan. Pucat.

“Nggak apa-apa, Om. Sakit sedikit,” saya menjawab sambil mengusap-ngusap kaki saya. Jantung saya berdegup kencang. Kaki yang diserang, tapi seluruh badan saya yang terasa lemas. Sangat lemas.

“Makanya, lain kali Adek jangan lari. Biasa aja. Soalnya dia begitu. Kalau ada yang lari, malah pengen ngejar.” Si Om, nih. Malah menyalahkan saya. Jelas-jelas ayamnya duluan yang cari masalah. Pasti dalam hati ayam itu bersorak. Menyebalkan! Masa suka sama perempuan sampai sebegitunya?? Dasar ayam!! Sesampainya di tempat bekerja, jantung saya masih berdegup kencang. Tak terasa air mata pun meleleh. Bukan karena cengeng, ini karena saya terlalu kaget.

Tidak berhenti sampai di situ. Kejadian serupa terjadi kembali beberapa hari setelah itu. Kali ini, sebelumnya saya merasa aman karena di tempat kejadian saat itu tidak ada penampakan ayam aneh yang mengesalkan itu lagi. Syukurlah, ujar saya dalam hati. Saya segera membuka pagar dan menutupnya kembali. Ketika hendak berjalan, jantung saya tiba-tiba berdegup kencang. Bagaimana tidak? Ayam yang so’ jantan itu (padahal memang pejantan) mengikuti saya berjalan. Lagi-lagi dengan gayanya yang siap menerkam. Teringat kata-kata Om Rudi: jangan lari, jangan lari, jangan lari. Baiklah, saya berhenti. Dan ayam itu masih berani mengibas-ngibaskan sayapnya di sekitar saya, ke kanan saya, ke kiri saya, dan menyentuh pakaian saya. Saya spontan menahan napas, badan tegang, keluar keringat dingin, dan pucat.

Tiba-tiba ada sebuah motor yang hendak melewati kami. Motor tersebut memisahkan kami berdua (ooooowwww…). Ayam terlihat kebingungan. Ini kesempatan saya! Saya pun segera berjalan cepat, secepat motor itu. Saya bahkan menyusul motor tersebut. Aman.

Setelah diselidiki, ternyata ayam gila itu memang bernaluri pembunuh. Pernah Om Rudi membeli seekor ayam betina agar ayam putih itu tak kesepian dan bisa memiliki keturunan. Namun, bukannya dikawini, ayam betina tersebut malah dibunuh oleh ayam putih di kandang mereka berdua. Ampun, deh…

Sebentar, apa mungkin ayam betina itu dulu telah membuat sang jantan marah lantas membunuhnya? Lalu, apakah saya mengingatkan ayam jantan tersebut pada si betina? Masa saya disamakan dengan ayam betinaaaaaa??? Nggak sopaaaaaaan!!!

Sejak saya mengalami kejadian-kejadian itu, saya jadi takut ayam. Saya tahu betul bahwa tidak semua ayam sejahat ayam yang menerkam saya, tapi tetap saja jantung saya berdegup kencang dan badan saya lemas setiap kali melihat dan akan melewati ayam manapun. Ckckck…

Sumber Gambar :
http://www.birdclipart.com/bird_clipart_images/black_and_white_cartoon_silhouette_of_a_male_chicken_0071-1002-1400-1747.html

10 thoughts on “Ayam, oh, Ayam..

    • Kayanya sih dia cuma ayam biasa.
      Mungkin waktu kecilnya dia pernah melihat sesuatu yang keji yang dilakukan manusia pada kaum ayam.
      Jadi, dia trauma. Kalo ngeliat manusia, bawaannya pengen nerkam.
      Tapi sekarang udah aman, insyaAllah.
      Ayamnya lebih sering terlihat di kandangnya.

    • Hehehee..
      Makasih kang udah mau baca.
      Jangankan nyembelih, kang. Ngedeketinnya aja dini udah takut duluan.
      Itu ayam kesayangannya anak ibu kost.
      Sebenernya kasian juga tu ayam.
      Sikapnya membuat dia susah dapet temen.
      Siapa coba yang berani ngedeketin selain pemiliknya?
      Akang berani? Silakan coba. haha..๐Ÿ˜€

  1. hehe.. ayamnya harus kamu intimidasi. Caranya, beli ayam goreng yang terjamin sehat buat dimakan trus samperin ayamnya, pites2 dan makan ayam goreng nya di depan dia. dengan tatapan sinis tentunya, terus bilang dengan nada horor, “Kamu mau jadi ayam tiren (mati kemaren), apa mau tisok (mati besok!!)”๐Ÿ˜€

    tambahan : jangan lakukan jika lokasi ramai banyak orang. haha

    • Parah kamu, ri..
      Kejam banget pake cara kaya begitu..
      Kasian ayamnya, atuh.
      Besok-besok dia bisa langsung stress..
      Penyakit maagnya bisa kambuh, trus jadi sering kunang-kunang.
      Kan repot jadinya.

      Kayanya dia bermasalah di jiwanya.
      Entah punya unsur trauma atau apalah itu.
      Kaya gajah yang di keong mas.

    • Ya biar dia kapok aja nggak macem-macem lagi sama kamu. Dini si pemakan ayam. *halah -__-”
      tapi iya sih, kasian ayamnya klo stress, mana dia nggak punya temen.. jangan-jangan dia galak ma kamu cuma karena pengen diperhatiin aja. Sebenernya pengen temenan.
      (makin ngaco)

      Hmm.. gajah. hmm..๐Ÿ˜„

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s