Penyesalan yang Melahirkan Kejujuran


Hari ini dan dua hari selanjutnya akan menjadi hari yang sangat menegangkan bagiku. Soal-soal yang berbau alam, kehidupan hewan dan tumbuhan, serta sistem-sistem yang ada di dalam tubuh manusia akan segera menantangku. Ditambah soal-soal bahasa dengan sajian bacaan yang tidak pendek di tiap soalnya. Belum lagi soal-soal yang penuh dengan angka, serta gambar bangun datar dan bangun ruang yang sama sekali tidak menarik perhatianku. Itu semua membuatku tegang. Aku tidak begitu pintar di kelas, namun tidak juga menjadi yang terbelakang. Biasa saja. Tapi, aku ingin lulus Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Dasar (SD) dengan nilai yang memuaskan. Oleh karena itu, beberapa hari terakhir ini aku belajar dengan sungguh-sungguh dibantu oleh kedua orang tuaku. Dan tepat di hari ini, perjuanganku dimulai.

Setelah selesai mandi dan shalat Subuh, aku segera mengenakan pakaian putih merah yang tidak lama lagi akan kutinggalkan. Kurapikan rambutku yang bergelombang dengan sisir biru kesayanganku. Lalu kuambil ikat rambut bergambar Doraemon, di kotak kecil berwarna biru yang kuletakkan di atas rak buku bergambar Doraemon. Ah, aku memang sangat menyukai tokoh anime yang satu ini. Tak heran, aku mengoleksi banyak sekali benda yang bergambar Doraemon. Mulai dari tas, tempat pensil, pensil, pulpen, penghapus, penggaris, dompet, pakaian, sampai ikat rambut yang kini sedang kuikatkan pada rambutku yang panjangnya sebahu.

Oke. Rambutku sudah rapi. Sambil berdiri di depan cermin, aku menatap bayanganku yang juga sedang menatapku. Dalam hati aku berkata, “Kamu pasti bisa, Dinda! SEMANGAT!!” Setelah itu, kuperiksa kembali perlengkapan ujianku. Kartu peserta, alat tulis, papan kayu, semuanya kumasukkan ke dalam tas. Setelah semuanya siap, aku pun membawa tasku menuju meja makan. Saatnya sarapan pagi.

“Hari ini ibu siapkan sarapan istimewa, loh,” ibuku datang membawa sop buntut kesukaanku, lengkap dengan tahu dan kerupuknya. Senangnya!

“Aku ambil tiga potong ya, Bu!”

“Iya, boleh,” ibu tersenyum begitu manisnya. Seorang ibu memang terlihat lebih cantik saat memasak dan menyiapkan makanan di meja makan. Tanpa bisa kutahan, aku pun melahap sop buntut yang sejak tadi aromanya sudah menggoda hidungku.

“Dinda, kamu sudah berdoa?” Ibu mencoba mengingatkanku dengan tatapan bermakna perintah. Parahnya, aku lupa berdoa. Buru-buru aku menelan makanan yang ada di mulutku dan menjawab pertanyaan ibu.

Hehehe… Aku lupa, Bu. Habis, masakan Ibu terlalu enak untuk ditunda, sih.

Ah, kamu ini bisa saja. Ayo, berdoa dulu!”

“Iya. Allaahumma baariklanaa fii maa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar. Aamiin.” Aku pun melanjutkan makanku. Lahap sekali.

“Nanti, setelah makan, jangan lupa berdoa lagi, ya.”

“Siap, Bu!”

Aku selesai makan dalam waktu lima belas menit. Begitulah aku. Kalau sedang betul-betul lapar, waktu makanku sangat cepat. Biasanya, aku menghabiskan waktu makan sampai 45 menit, tak jarang juga lebih dari itu. Aku terlahir dengan berat badan di bawah rata-rata. Kata dokter ahli penyakit dalam, yang pernah kutemui ketika sakit maagku kambuh, jika terlahir dengan berat badan di bawah rata-rata, maka biasanya hampir seluruh saluran dalam tubuh kecil dan sempit, termasuk saluran pencernaan. Nah, saluran tenggorokanku agak sempit. Jadi, kalau makanan tidak dikunyah sampai lembut di mulut, maka perjalanan makanan di tenggorokanku jadi terasa. Terkadang sampai sesak.

“Eh, Mi, doa setelah makan tuh gimana, sih? Kakak lupa,” aku bertanya pada adikku yang juga sedang menikmati sarapan di sebelahku. Namanya Rahmi. Biasa kupanggil Ami. Usianya empat tahun lebih muda dariku. Ia masih kelas 2 SD. Ia bersekolah di sekolah yang sama denganku, yaitu di SD Negeri Angkasa V Lanud Sulaiman Bandung. Hari ini ia libur karena semua kelas dipakai untuk UN. Senang sekali dia. Di saat kakaknya berjuang menghadapi soal-soal, ia bersenang-senang di kamarnya, bermain boneka kesayangannya, terkadang bermain bersama para tetangga yang seusia dengannya. Huuuh, lihat saja nanti. Suatu saat dia juga pasti akan merasakan ujian yang menegangkan ini.

“Ya ampun, Kakak.. Masa doa setelah makan aja nggak tau?” Huh! Sombong sekali adikku ini.

“Bukan nggak tau! Tapi kakak lupa! Depannya apa, sih?”

Alhamdulillaahilladzii atamanaa…

“Oh, iya!! STOP! STOP! Kakak ingat sekarang!” Aku pun melanjutkan doaku dalam hati.

“Hari ini kamu diantar supir saja, ya. Ayah ada urusan di kantor.”

Oke, Yah!”

Setelah itu, aku berpamitan pada kedua orang tuaku, mencium tangan mereka dan meminta doa dari mereka. Aku pun segera memasuki mobil Avanza putih yang baru seminggu lalu dibeli ayah. Ayah sengaja membeli satu mobil lagi agar ketika ayah tidak bisa mengantarku ke sekolah, aku masih bisa berangkat sekolah dengan mobil pribadi. Kedua orang tuaku sepertinya khawatir kalau aku berangkat naik angkutan kota (angkot) saja. Apalagi kabar penculikan anak sekarang sedang marak. Tidak terbayang olehku bagaimana rasanya diculik. Tapi, sepertinya asyik juga kalau aku diculik, lalu ditolong oleh sekelompok Power Rangers. Ah, khayalanku terlalu tinggi. Ini gara-gara mimpiku semalam: bertemu dengan mereka saat aku jadi tawanan monster. Mimpi itu sangat membuatku lelah. Tak heran kalau tadi aku sarapan dengan lahapnya. Hehe.

Mang Asep, supir keluargaku, sudah menungguku sejak tadi rupanya.

“Berangkat sekarang, Neng?”

“Iya! Bismillaahitawakkaltu alallaah.. Laahaula walaa quwwata illaa billaah. Aamiin. Mang, sudah berdoa, belum? Berdoa dulu, Mang! Nanti kalau ada apa-apa di jalanan, aku nggak bisa ikut ujian.” Mang Asep tersenyum dan mengatakan bahwa beliau sudah berdoa dalam hati.

Perjalanan kami menuju sekolah cukup lancar. Setibanya di sekolah, aku berpamitan pada Mang Asep sembari meminta doa. “Semangat ya, Neng!” Begitu katanya. Lalu Mang Asep kembali mengendarai mobil dan kulihat mobil putih itu semakin menjauhiku, berbelok, dan tak terlihat lagi. Aku pun memasuki kelas. Sudah ada lima orang temanku di sana. Aku segera mengeluarkan kartu ujianku dan mencocokkan nomor ujianku dengan nomor yang tertempel di atas meja. Setelah berhasil kutemukan, ternyata aku duduk di barisan kedua, selang dua bangku dari pintu masuk kelas. Tak lama kemudian, teman-temanku yang lain berdatangan disusul dengan bunyi bel, pertanda ujian segera dimulai.

Di hari pertama, aku menghadapi soal-soal Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Tak lupa aku berdoa dan membaca Basmalah terlebih dahulu, berharap semua yang kupelajari ditanyakan dalam soal. Sebelumnya, berkali-kali ibu menemaniku belajar IPA. Ibu memegang buku paket dan catatanku, lalu melontarkan banyak sekali pertanyaan yang harus kujawab dengan benar tentunya. Beberapa pertanyaan diulang sampai aku benar-benar hapal jawabannya. Namun, ternyata itu semua tidak cukup membuatku percaya diri untuk mengerjakan soal-soal yang kini sudah ada di hadapanku. Parahnya, di sepuluh menit terakhir, lima belas dari empat puluh soal pilihan ganda belum kuisi. Sepertinya sudah pernah ditanyakan oleh ibuku dulu saat latihan tanya jawab. Tapi aku lupa. Bagaimana ini..

“Waktunya tinggal lima menit lagi,” ujar pengawas sambil melihat ke arah jam tangannya yang terlihat mahal itu. Tidak. Aku tidak boleh asal menjawab dengan cara tang-ting-tung, cap-cip-cup, hitung kancing, atau apapun itu. Aku harus berpikir, mengingat kembali apa yang sudah aku hapalkan dengan susah payah. Alhamdulillah, lima soal berhasil kujawab dengan setengah yakin.

“Dua menit lagi.” Peringatan pengawas sungguh membuatku semakin tak bisa berkonsentrasi. Pikiranku kacau. Namun, di tengah kepanikan yang menyerangku, tanpa sengaja aku melihat lembar jawaban teman yang duduk di depanku. Ia mengangkat lembar jawabannya hingga sejajar dengan wajahnya. Bagus. Pengawas sedang lengah. Aku tinggal menggeserkan sedikit posisi tempat dudukku dan membuka mataku lebar-lebar, jawaban temanku pun sangat terlihat dengan jelas. Ini semacam anugrah untukku. Tanpa berpikir panjang, aku pun menyalin jawaban temanku tanpa sepengetahuannya. Beres!

“Waktu habis. Silakan keluar kelas dan tinggalkan lembar soal beserta lembar jawabannya di atas meja kalian.” Aku bernapas lega. Aku sudah mengerjakan semua soal tanpa ada yang terlewatkan. Hari pertama ini berhasil. Aku pulang ke rumah dengan senyum manis di wajahku. Namun, entah mengapa ada sedikit perasaan tidak enak di hatiku. Ah, aku tak peduli. Yang terpenting, sekali lagi, hari pertama ini berhasil. Lupakan saja dan segera fokus untuk ujian besok.

***

Hari kedua pun tiba. Saatnya menghadapi soal-soal Bahasa Indonesia. Ini pasti mudah. Setidaknya, aku kan orang Indonesia asli. Jadi, mana mungkin nilaiku dibawah 8. Hari ini aku jauh lebih percaya diri dibandingkan dengan hari kemarin. Sampai-sampai tadi malam aku sama sekali tidak membuka buku lagi dan tidur dengan nyenyaknya. Dengan senyum mengembang, aku berpamitan pada kedua orang tuaku, mencium tangan dan meminta doa dari mereka agar ujianku hari ini berjalan dengan lancar.

“Lakukan yang terbaik ya, Din! Ibu doakan semoga lancar ujiannya,” Ibu memberiku semangat sambil mengusap kepalaku.

“Iya, Bu,” aku membalas senyumnya dengan senyuman yang tak kalah manisnya. Hehe.

Seperti biasa, Mang Asep sudah menungguku di mobil. Aku memasuki mobil dan lagi-lagi mengingatkan beliau untuk berdoa. Aku tidak mau sesuatu terjadi gara-gara Mang Asep lupa berdoa.

Aku sampai di sekolah dan segera memasuki kelas. Kulihat beberapa temanku sedang sibuk menghapalkan makna kata, antonim, sinonim, susunan kalimat, dan lain-lain. Mereka sangat serius. Membuatku khawatir tertinggal. Tapi aku harus tetap tenang. Aku pun kembali meyakinkan diri bahwa aku adalah anak Indonesia dan bahasa Indonesia adalah bahasa sehari-hariku. Jadi, aku pasti bisa mengerjakan semua soal dengan baik. Tidak usah takut, Dinda. Aku bergumam dalam hati.

Bel berbunyi. Pengawas mulai memasuki ruangan, membacakan peraturan ujian, membagikan lembar jawaban, lalu membagikan soal. Aku berdoa dalam hati dan mulai mengerjakan soal satu per satu. Nomor 1 sampai 30 berhasil kujawab dengan yakin. Tapi, dari nomor 31 sampai 50, hanya tiga nomor saja yang bisa kujawab. Tujuh belas nomor lagi sangat membingungkan. Teks bacaannya panjang-panjang, pilihan jawabannya juga mirip-mirip, nyaris tak bisa kubedakan.

“Bapak ingatkan, waktunya tinggal 15 menit lagi.” Ah, lagi-lagi pengumuman pengawas yang sama sekali tidak mengenakkan, membuat detak jantungku berdegup kencang. Panik.

“Bapak mau ke ruang guru dulu. Kalian jangan mencontek atau bekerja sama saat Bapak keluar. Tetap kerja sendiri-sendiri, ya.”

“Iya, Pak,” semua siswa menjawab dengan serempak, kecuali aku. Ini adalah kesempatan emas bagiku untuk mencari tahu jawaban dari soal-soal yang belum bisa kujawab. Baiklah. Aku mulai berusaha.

“Cahya.. Ssst.. Cahyaaa…” Aku memanggil temanku yang duduk di bangku selanjutnya setelah aku (di sebelah kananku) dengan nada berbisik. Setelah bersusah payah memanggilnya, Cahya pun menoleh ke arahku.

“Nomor 31 sampai 35 apa jawabannya?” Tak tanggung-tanggung, aku bertanya lima nomor sekaligus. Tak diduga, Cahya mau memberikan jawabannya. Ia mulai menggerakkan jari-jari tangan kirinya. Banyaknya jari yang ia acungkan berturut-turut: satu, empat, satu, tiga, dua. Itu berarti jawaban dari nomor 31 sampai dengan nomor 35 berturut-turut adalah: A, D, A, C, B. Yes! Aku dapat! Ada sedikit penyesalan dalam hatiku. Kenapa tadi aku tidak bertanya sepuluh nomor atau semuanya saja pada Cahya. Mau bertanya lagi, malu. Baiklah, untuk dua belas nomor sisanya, aku akan berusaha sendiri.

Lima menit berlalu, sepuluh nomor lagi masih kosong, belum kujawab. Waktu tinggal 10 menit lagi. Itu artinya aku hanya memiliki waktu 1 menit untuk menjawab satu soal. Itu tidak mungkin. Untuk membaca teksnya saja aku membutuhkan waktu 3 menit. Aku berharap teman di depanku mengangkat lembar jawaban tepat di depan wajahnya lagi seperti kemarin.

“Sudah selesai semua? Waktunya tinggal 5 menit lagi, ya.” Pengawas tiba-tiba memasuki kelas sambil mengingatkan waktu yang tersisa. Membuatku kaget dan semakin panik. Bagaimana ini? Mata pengawas terus mengawasi gerak-gerik semua siswa di kelasku, tak terkecuali aku. Jarak tempat duduk antarsiswa cukup jauh sehingga aku kesulitan melirik lembar jawaban temanku. Baiklah. Mau tidak mau, aku tetap harus mengisinya. Jangan dibiarkan kosong. Siapa tahu keberuntungan sedang berpihak padaku sekarang. Aku pun akhirnya memakai metode “untung-untungan”. Menghitung kancing, tanggal, bulan, cap-cip-cup, tang-ting-tung, dan sejenisnya. Beres!

Hhh.. Aku lega. Waktu habis tepat setelah aku menjawab soal nomor 50. Aku pun pulang ke rumah dengan hati setengah senang. Senang karena aku telah berhasil melewati ujian kedua ini, namun sedikit menyesal karena sebelumnya aku menganggap remeh soal bahasa Indonesia. Apakah ini berarti aku belum menjadi warga Negara Indonesia yang baik,ya? Sudahlah. Toh aku masih kecil. Masih banyak waktu untuk belajar.

Sebenarnya, hari yang paling menegangkan adalah besok. Aku takut tidak lulus gara-gara mata pelajaran yang satu ini: MATEMATIKA. Hhh..  Sejak kecil aku tak suka pelajaran Matematika. Aku selalu menangis saat mengerjakan pekerjaan rumah (PR) Matematika yang diberikan oleh ibu guru. Bagaimana tidak? Ketika mengerjakan PR, aku sering dimarahi oleh ayah. Mungkin ayah juga kesal karena aku lambat dalam memahami materi sehingga jawabanku selalu saja salah, salah, dan salah lagi. Kenapa di dunia ini harus ada makhluk bermasalah yang bernama ‘Matematika’? Sungguh, kehadirannya mendatangkan masalah dalam hidupku. Kenapa ia tidak menyelesaikan masalahnya sendiri? Kenapa harus aku yang menyelesaikannya? Huh! Tapi, mau semarah apapun, tetap saja tidak bisa mengubah jadwal besok. Soal-soal Matematika tetap akan menyerang otakku. Besok aku tidak boleh kalah. Malam ini aku harus begadang. Belajar maksimal!

Tok! Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu kamarku. Kulihat jam dinding Doraemon yang selalu tersenyum padaku, jarum jamnya menunjukkan tepat pukul sembilan malam.

“Dinda, buka pintunya, sayang.” Ternyata ibuku. Pintu kamar sengaja kukunci agar tak diganggu oleh adikku yang setiap malam kerjaannya memainkan laptopku di kamar ini. Aku segera menuju pintu kamar dan membukanya.

“Ada apa, Bu?”

“Benar kan perkiraan ibu. Kamu pasti belum tidur. Tidurlah, Nak. Ini sudah jam berapa?” Ibu memandangiku sangat dalam. Jelas sekali kekhawatiran di wajahnya.

“Tapi, Bu. Besok ujian Matematika. Aku takut nggak bisa. Makanya aku latihan soal terus. Masih banyak rumus yang aku belum hapal, Bu..” Tak terasa air mata yang sejak tadi menggenang di kelopak mataku karena stress tak bisa mengerjakan soal latihan Matematika akhirnya menetes juga. Ibu tampak tak tega melihat puteri pertamanya ini menangis. Aku pun dipeluknya erat. Tangannya mengelus kepalaku penuh sayang.

“Aku belum siap menghadapi hari esok, Bu.. Aku takut nggak bisa..” Air mataku mengalir semakin deras. Dadaku pun terasa sesak. Ibu terus memelukku hingga aku merasa sedikit tenang. Lalu ibu melepas pelukannya dan menggiringku duduk di atas tempat tidur. Kini wajah ibu sangat dekat dengan wajahku. Memandangku pilu. Ibu menyeka air mataku dengan kedua ibu jari tangannya, kiri dan kanan. Terasa lembut di pipiku.

“Dinda, kamu kan sudah berusaha. Selalu berdoa setelah shalat. Iya, kan?” Aku mengangguk.

“Lakukan saja yang terbaik yang kamu bisa. Jangan memaksakan diri seperti ini. Kalau kamu terus belajar sampai pagi tiba, bisa-bisa semua yang kamu pelajari malam ini dan malam-malam sebelumnya lupa seketika karena mengantuk saat ujian. Kamu mau itu terjadi?” Aku menggelengkan kepala sambil menunduk.

“Tapi, Bu.. Kalau aku nggak bisa gimana?”

“Nggak apa-apa, sayang. Pokoknya, ibu tekankan sekali lagi, lakukan yang terbaik. Ibu yakin kamu pasti bisa. Banyak cara untuk menyelesaikan soal-soal Matematika. Kamu nggak harus hapal banyak rumus. Terkadang, dengan satu rumus saja, berbagai jenis soal bisa kamu selesaikan.” Lalu ibu menunjukkan rumus mana saja yang penting untuk kuingat. Bersyukur aku memiliki ibu yang penyayang seperti ibuku.

Tepat pukul sepuluh malam aku pun tertidur dengan muka penuh jejak air mata. Berharap hari esok akan datang seribu tahun lagi.

***

Pagi yang tak kuharapkan pun tiba. Mau tak mau, aku harus menghadapinya juga. Tak seperti dua hari sebelumnya, hari ini aku sangat tak bersemangat. Mataku jadi terlihat sipit dan bengkak akibat menangis semalam. Rasanya sedikit perih dan panas. Seharusnya aku mengantuk karena tadi malam tidak tidur tepat waktu. Tapi rasa kantukku terkalahkan oleh rasa takut yang begitu dalam. Sarapan pun jadi tak berselera. Sejak tadi ibu hanya menghela napas melihatku cemberut. Ami juga menatapku heran.

“Kenapa, Kak?” Aku diam. Tak menjawab. Sepintas kulihat ibu memberi tahu adikku dengan bahasa wajahnya untuk tidak bertanya apapun padaku. Hhh.. Aku ingin hari ini segera berlalu detik ini juga.

“Aku berangkat dulu ya, Bu,” aku mencium tangan ibuku. Seketika itu juga ibu kembali memelukku erat. Hangatkan tubuhku di pagi yang dingin ini.

“Tenang aja, sayang. Kamu pasti bisa. InsyaAllah. Oke? Semangat ya, Dinda.” Air mataku hampir menetes.

“Hari ini ayah saja yang antar kamu ke sekolah, ya,” Ayah berusaha menghiburku. Seharusnya aku senang jika berangkat sekolah diantar ayah karena sejak ada mobil baru, ayah hampir tidak pernah mengantarku ke sekolah. Selalu saja diantar Mang Asep. Tapi, sayang sekali, kali ini ayah tidak berhasil membuatku girang. Tersenyum pun aku enggan. Setelah melihat reaksiku ini, Ayah dan Ibu saling bertatapan. Mereka mencemaskanku.

Kulangkahkan kakiku yang terasa berat menuju mobil Inova putih yang biasa dipakai ayah ke tempat kerjanya. Aku duduk tepat di sebelah kursi supir. Ayah menyusulku. Kini kami duduk bersebelahan. Sambil menyetir, ayah mencoba mencairkan suasana.

“Sudah dong, Din. Jangan cemberut terus. Nanti cepet tua,loh..” Ayah mengulum senyumnya, menahan tawa yang dipaksa. Tidak lucu, batinku. Aku menyandarkan tubuhku pada jok mobil, mengambil napas dalam-dalam, dan membuangnya dengan lepas. Aku melihat keluar jendela. Pandanganku tak tentu. Aku pun bingung, sebenarnya apa yang sedang ku lihat. Kosong. Mungkin kalau di mobil ini ada hantunya, bisa-bisa aku kerasukan. Hiii… Ngeri.

“Dinda!” Ayah membuatku terbangun dari lamunan kosong. “Jangan melamun. Dengarkan ayah, Nak. Kamu tidak usah merasa terbebani dengan ujian ini. Santai saja. Toh ayah dan ibu tidak pernah memaksamu untuk mendapatkan juara, kan? Yang ayah dan ibu harapkan, Dinda tumbuh menjadi anak yang shalehah, rajin belajar, berbakti pada orang tua, dan jujur. Kalau Dinda sudah belajar dengan sungguh-sungguh tapi hasilnya tidak memuaskan, tidak apa-apa. Yang terpenting, Dinda sudah melakukan yang terbaik yang Dinda bisa.” Aku menatap ayah dengan serius, berusaha meresapi semua perkataannya. Kedua orang tuaku memang tidak pernah menuntutku dalam hal prestasi. Asalkan aku menunjukkan usaha yang baik, mereka sudah senang. Tapi, kalau nilaiku jelek, tetap saja aku yang rugi, aku yang malu. Dan aku tidak mau itu sampai terjadi.

“Dinda mengerti kan penjelasan ayah?” Ayah ingin memastikan. Kujawab pertanyaan ayah dengan satu anggukan kepala saja. Aku meraih dan mencium tangannya yang besar dan sedikit kasar.

“Doakan aku ya, Yah..”

“Iya, insyaAllah, ayah dan ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk Dinda. Semangat, ya!” Aku berusaha menyuguhkan senyum yang terasa kaku ini, berharap kekhawatiran ayah padaku berkurang. Aku pun turun dari mobil, lalu menuju kelas. Sungguh, aku tak tahan melihat teman-temanku yang sedang belajar Matematika di kelas. Wajah mereka ceria, tak terlihat beban sedikit pun. Tampaknya mereka jauh lebih siap daripada aku.

Baru saja aku duduk, belum sempat melepas lelah, bel berbunyi. Tak lama kemudian pengawas pun menunjukkan batang hidungnya di kelasku dengan membawa map besar berisi kertas-kertas soal. Apa yang dibawanya itu seperti bom waktu bagiku yang sewaktu-waktu bisa melukaiku, melukai otakku. Hhh.. Kata-kata ‘Aku takut nggak bisa’ selalu terngiang-ngiang di pikiranku. Lama-lama kata-kata itu menjadi ‘Aku takut nilaiku hancur’ dan ‘Aku takut tidak lulus’. Parah.

Pengawas mulai membagikan lembar jawaban. Belum apa-apa telapak tanganku sudah berkeringat, membuatku sulit mengendalikan pensil yang kupakai karena licin.

Ini dia, lembar soal yang sama sekali tak kunantikan akhirnya ada di atas mejaku. Ya, Allah.. Tolong aku.. Bantu aku..

Lima belas menit berlalu, lembar jawabaku masih kosong.

Satu jam sudah kulewati. Baru lima dari empat puluh soal yang bisa kujawab dengan yakin. Lima lainnya aku ragu, namun akhirnya kuputuskan juga jawabannya. Beberapa temanku tampak sudah berkali-kali membubuhkan tanda silang di lembar jawaban mereka, bahkan sepintas ada yang terlihat sudah hampir terisi semua. Memang tidak begitu jelas kelihatannya, tapi tampilan lembar jawabannya berbeda dengan lembar jawabanku yang masih banyak kosongnya. Melihat hal itu, aku semakin panik. Sepintar itukah mereka? Atau mereka juga sama denganku: tidak suka Matematika, menjawabnya dengan asal, dan ingin segera cepat selesai? Entahlah. Pemikiranku sama sekali tidak mengurangi kepanikanku.

Waktu dua jam sangat menyiksa bagiku. Rasanya aku ingin merobek-robek kertas soal ini, melemparkannya ke atas, dan membiarkannya berserakan di lantai. Lalu aku berlari ke luar kelas, berlari dengan kencang, dan semakin kencang, hingga aku menemukan hamparan kebun teh yang sangat luas. Di sana aku akan berteriak sekeras-kerasnya: ‘AAAKUU BENCI MATEMATIKAAAAA!!!!!’ Hhh.. pikiranku sangat kacau.

Kini, waktu yang tersisa sekitar satu jam lagi dan tiga puluh soal masih belum terjawab. Kalau waktu yang tersedia adalah 2 jam atau 120 menit, dan soal yang harus dikerjakan sebanyak 40 butir, maka setiap soal harus kukerjakan maksimal 3 menit. Soal yang belum kukerjakan masih 30 butir lagi. Itu artinya, aku membutuhkan waktu (30×3) menit untuk mengerjakannya, yaitu 90 menit. Sedangkan waktu yang tersisa kini tidak sampai 60 menit. Waktunya tidak akan cukup! Ah, sudahlah. Daripada aku memikirkan hal ini, lebih baik aku kerjakan saja satu per satu.

Pada 30 menit terakhir, pengawas keluar ruangan . Seketika itu kelas menjadi sedikit gaduh. Ternyata ada salah satu siswa yang membawa kunci jawaban. Katanya, ia mendapatkan itu dari salah satu pengawas ujian di sekolah kemarin. Sehelai kertas kecil yang digulung itu diedarkan ke seluruh siswa. Mereka bergiliran melihatnya. Aku tidak boleh tergoda. Tadi pagi, ayah bilang aku harus jujur. Aku akan mengerjakannya sendiri.

Kertas kunci jawaban itu berpindah-pindah dari meja satu ke meja yang lainnya. Ada yang membuka dan menyalinnya, ada yang sekedar membuka untuk melihatnya, bahkan ada yang tidak membukanya sama sekali. Dan kini, kertas ‘emas’ itu ada di mejaku. Kilaunya sangat menyilaukan pandangan hatiku. Bagaimana ini? Apakah aku harus membuka dan menyalinnya demi lembar jawabanku ini? Tapi, bagaimana dengan perkataan ayah tadi pagi? Ini jelas perbuatan yang tidak jujur. Ah, lagipula kunci jawaban ini juga belum tentu benar. Tidak ada jalan lain. Sepertinya aku harus melihatnya. Tapi…

“Dindaaaaaa… Cepetan, dong. Aku juga mau lihat. Nanti keburu pengawasnya datang,” ternyata Cahya juga tertarik pada kunci jawaban ini. Padahal kupikir dia cukup pintar dan tidak membutuhkan ini.

“Iya, sebentar, ya. Aku dulu yang lihat,” akhirnya kalimat itu pun kubiarkan keluar dari mulutku begitu saja. Baiklah. Sekali ini saja. Aku malah berharap kunci jawaban ini tak sepenuhnya benar agar guru dan orang tua tidak ada yang mencurigaiku.

Aku menyilang lembar jawabanku dengan tangan gemetar, takut pengawas tiba-tiba datang, lalu melihatku yang sedang asyik menyalin jawaban, dan akhirnya tertangkap basah. Bukan hanya itu. Bisa saja pengawas menghampiriku dan mengambil lembar jawabanku. Kalau mau, pengawas juga bisa merobek-robek lembar jawaban di hadapanku dan mengusirku keluar kelas. Gawat. Kalau itu terjadi, nilai Matematikaku sudah pasti nol besar. Hhh… Pikiranku semakin membuat tanganku berat menggerakkan pensil. Setelah menyalinnya sekuat tenaga, akhirnya… Yup! Aku selesai!

“Dindaaaaa… Lama banget, sih…” Cahya semakin tak sabar menunggu kunci jawaban dariku. Aku pun segera melemparkan kertas keramat ini padanya. Baru saja ia akan melihat kunci jawaban itu, tiba-tiba bel berbunyi, bersamaan dengan datangnya pengawas.

“Waktunya habis. Silakan ke luar kelas dan tinggalkan lembar soal dan lembar jawaban kalian di atas meja.” Cahya panik. Ia mencuri-curi kesempatan saat kelas bubar dengan terus mengisi lembar jawabannya, sesekali melihat juga ke arah kertas kunci jawaban. Aku ikut panik melihatnya, berharap ia bisa menyelesaikannya. Pengawas yang sedang duduk di kursi guru tak terlihat karena terhalang oleh beberapa orang murid yang akan ke luar kelas. Aku juga ikut berusaha menghalangi Cahya dari pandangan pengawas. Namun, aku gagal.

Hei, kamu!! Waktu ujian sudah habis! Kamu masih berani mengisi lembar jawaban?” Cahya tersentak mendengar teguran pengawas. Ia segera melepaskan pensil dari genggaman tangannya.

“Sudah! Jangan diisi lagi! Nanti bapak catat kalau kamu sudah melakukan kecurangan!” Cahya segera memasukkan seluruh alat tulis ke dalam tas Barbie-nya yang berwarna pink dengan wajah yang cemberut. Lalu ia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kelas. Sebelum keluar kelas, tepat di dekat pintu, Cahya melihat ke arahku, menampakkan wajahnya yang penuh amarah dan benci, lalu memalingkan wajahnya dan meneruskan langkahnya keluar kelas. Cahya pun hilang dari pandanganku. Kemarin ia membantuku menjawab soal. Tapi hari ini aku sudah membuatnya susah. Aku jadi sangat merasa bersalah. Bagaimana ini? Cahya pasti sangat marah padaku.

“Kenapa kamu masih di kelas? Cepat, keluarlah.” Pak pengawas mengalihkan pandanganku yang sejak tadi mengarah ke pintu.

“Iya, Pak…” Aku pun berjalan ke luar kelas. Aku ingin keluar dari sekolah melewati pintu belakang sekolah yang terletak di dekat toilet. Aku ingin menghindari pertemuan dengan Cahya. Entahlah. Untuk saat ini, aku takut dan malu menunjukkan batang hidungku padanya. Menurut perkiraanku, Cahya pulang melewati gerbang depan sekolah. Tapi ternyata aku salah. Tanpa sengaja, kulihat Cahya yang baru saja keluar dari toilet sambil menyeka air matanya yang terlihat deras. Wajahnya merah. Pemandangan ini sungguh membuat hatiku sesak. Aku segera bersembunyi di balik tembok.

Pelan-pelan kuintip Cahya dari balik tembok. Namun, ternyata ia sudah tak lagi di depan toilet. Mungkin ia sudah pulang. Tadi malam aku menangis. Dan hari ini aku membuat temanku menangis. Maafkan aku, Cahya…

***

Hatiku terasa semakin sesak. Rasa bersalah pada Cahya terus mengikutiku selama satu bulan ini. Cahya terus menjauh dariku. Ia tak pernah menyapaku. Aku pun tak punya nyali untuk menyapanya lebih dulu. Belum lagi semua hal yang kulakukan selama ujian berlangsung: mencontek, menjawab asal-asalan, dan juga melihat kunci jawaban. Kata-kata ayahku selalu menghantuiku. Ayah berharap aku menjadi anak yang jujur. Hari itu ayah mengutarakan harapannya padaku, namun hari itu pula aku mematahkan harapannya. Aku sudah berbuat yang tidak jujur. Hal ini membuat hari-hariku hampa. Tak enak makan, tak enak tidur, bahkan wajahku pun seolah enggan untuk tersenyum. Keluargaku mengkhawatirkan keadaanku. Sampai saat ini, mereka tidak pernah kuberitahu apa yang sebenarnya sedang kupikirkan. Aku terlalu takut untuk mengakui kesalahanku.

***

Hari pengumuman kelulusan pun tiba. Aku tidak berharap banyak untuk kelulusan ini. Aku sudah pasrah dengan nilai-nilaiku. Nilainya jelek-jelek pun tak apa-apa. Toh, ayah dan ibu tidak akan marah padaku. Yang terpenting bagiku saat ini adalah aku dinyatakan lulus dari Sekolah Dasar yang sudah kutempuh selama enam tahun ini.

Di hari penentuan ini, hanya ibuku saja yang bisa hadir ke sekolah bersamaku. Ayah, seperti biasa, tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di luar hari Minggu. Dan kini, ibu sudah duduk di dalam kelas bersama dengan para orang tua siswa lainnya. Aku di luar kelas bersama dengan teman-temanku. Biasanya aku bermain dengan Cahya, namun sampai hari ini pun Cahya masih memilih bermain dengan yang lain. Mau sampai kapan seperti ini… Aku mengeluh dalam hati.

Guru wali kelasku, Bu Yani, mulai memasuki ruangan kelas. Aku dan teman-temanku berlarian menuju depan kelas. Kami ingin ikut mendengarkan ucapan guru atau sekedar melihat bagaimana keadaan di dalam kelas. Aku berdiri tepat di depan pintu. Beruntung aku bisa mendengar suara guruku. Meski sama sekali tak mengharapkan nilai yang bagus, tapi tetap saja aku penasaran dengan pengumuman kelulusan itu. Ah, tapi sebenarnya, yang paling ingin ku ketahui adalah: bagaimana dengan Cahya? Apakah ia lulus? Bagaimana dengan nilainya? Aku berharap pengumuman ini mampu menepis rasa bersalahku pada Cahya.

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,” Bu Yani menyapa seluruh orang tua yang ada di dalam kelasku. Para siswa, termasuk aku, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun agar kami juga bisa ikut menyimak apa yang dibicarakan oleh Bu Yani. Namun, pembukaan yang beliau paparkan terlalu panjang sehingga membuat para siswa jenuh, bahkan sebagian ada yang menyerah dan kembali bermain di lapangan. Namun, aku masih tetap bersabar berdiri di sini, di depan pintu kelasku ini.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang saya hormati,” sepertinya Bu Yani sudah mulai ke intinya. Aku sudah tak sabar menunggu kalimat selanjutnya. Tanpa sadar, kedua tanganku terkepal di depan dada.

Alhamdulillah, semua siswa kelas 6A LULUS.”

“YYYYEEEEEEE…!!! HOREEEEEE…!!!” Kalimat Bu yani itu disambut gembira oleh seluruh siswa yang ikut mendengarkan dari luar, termasuk aku. Ada yang berjingkrak-jingkrak, berpelukan, dan ada juga yang mengepalkan tangannya dan mengatakan, “YES!” Kulihat di sudut sana, Cahya juga terlihat senang. Senyuman manis jelas terukir di wajahnya. Aku jadi ikut tersenyum melihatnya. Kalimat yang baru saja kudengar itu bagaikan bongkahan emas bagiku. Bagaimana tidak? Selain untuk Cahya, kata ‘LULUS’ itu pun tertuju padaku. Tentang rasa bersalahku pada Cahya, aku sudah sedikit tenang. Setidaknya kejadian waktu itu tidak menghambat kelulusan Cahya.

Sudah. Kabar ini saja yang kutunggu. Selebihnya, aku tak tertarik. Akhirnya kuputuskan untuk menjauh dari pintu kelas menuju kantin. Aku lapar. Mungkin biskuit bisa mengurangi rasa laparku. Semoga.

Belum sempat kulahap, Uli, salah satu teman sekelasku memanggil-manggil namaku dari kejauhan sambil berlari-lari ke arahku.

“Ada apa, Li?” Tanyaku heran.

Hhh… Hhh… Hhh…” Uli terengah-engah karena lelah berlarian.

Hhh… Hhh… Kamuhh… Kamu dipanggil samahh… Hhh… Bu Yanihh… Hhh… Hhh…” Kasihan sekali Uli. Aku heran, apa yang membuatnya sampai berlarian mengejarku. Ada apa Bu Yani memanggilku, ya? Bukankah beberapa menit lalu Bu Yani masih menyampaikan pengumuman di kelas?

“Ayooo… Cepetaaaaann… Kamu ditungguuu…” Uli menarik-narik tanganku.

“Iii…Iiiyaaa… Sebentaaar…” Aku pun jadi ikut-ikutan berlari bersama Uli, menyeberangi lapangan upacara, dan akhirnya sampai juga di depan pintu kelas. Bu yani masih berbicara di hadapan para orang tua. Dalam keadaan masih terengah-engah, aku memasuki ruangan kelas untuk menemui Bu Yani. Melihat kedatanganku, wali kelasku yang berkacamata dan berambut sebahu itu menghentikan pembicaraannya dan melemparkan senyuman manis padaku, serta menjulurkan tangan kanannya seolah tak sabar ingin meraihku yang semakin mendekatinya. Beliau menyambut kedatanganku dengan hangat.

Ku pandangi para orang tua. Sama. Mereka pun tersenyum padaku, tak terkecuali ibuku. Meski masih heran, kupaksa senyumku hadir untuk membalas senyuman mereka. Setelah tangan Bu Yani yang hangat itu berhasil merangkul bahuku, Beliau meneruskan pembicaraannya dengan para orang tua.

“Bapak, Ibu, inilah puteri kita yang berhasil menjadi juara pertama di sekolah kita. Adinda Ardyani. Ia memperoleh nilai tertinggi dengan nilai rata-rata 9,5.” Mataku mendadak terbuka lebar, menatap Bu Yani, mencoba meyakinkan kalau beliau tidak salah orang. Namun, Bu Yani membalas tatapanku dengan tatapan penuh keyakinan, bahwa akulah orangnya. Berita ini disambut dengan tepuk tangan para orang tua dan teman-temanku di luar kelas sana, kecuali Cahya. Kulihat ia di balik kaca jendela, ia masih menampakkan wajah kesalnya. Ini kabar gembira. Tapi, aku tak bisa tersenyum lepas, mengeluarkan ekspresi senang, atau mungkin meneteskan air mata bahagia. Ada sesuatu yang menghalangiku bertingkah demikian: Cahya, dan segala kecuranganku.

Setelah amplop berisi pernyataan kelulusan yang lengkap dengan nilainya, serta raporku yang sampulnya berwarna merah itu dibagikan pada orang tua, ibuku keluar kelas dan memelukku erat. Tidak. Ini sebuah pelukan bahagia yang tak pantas kuterima. Aku sesak.

“Ibuuu…” Air mataku akhirnya meleleh juga. Terasa hangat di pipi. Ibu melepas pelukannya dan menatapku penuh sayang.

“Kamu kenapa nangis, Dinda? Kamu terlalu bahagia, ya?” Ibu mengulum senyumnya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pelan.

“Bukan itu, Buuu… Aku…”

Hmm…?” Ibu mengernyitkan keningnya. Heran melihatku.

“Antarkan aku menghadap Bu Yani ya, Bu. Ada yang ingin aku sampaikan.” Masih dengan ekspresi heran, Ibu mengangguk dan mengantarkanku ke kelas. Setelah semua orang tua keluar dari kelas, kami pun mendekati Bu Yani dan duduk di depannya. Kepalaku tertunduk.

“Selamat ya, Dinda. Di akhir masa SD ini kamu berhasil mencetak prestasi yang bagus.” Senyum Bu yani mengembang. Tak ada ekspresi apapun dariku, Bu Yani dan Ibuku menatapku penuh tanya. Aku pun mengangkat kepalaku yang terasa begitu berat ini. Kubalas tatapan mereka, lalu tertunduk lagi.

“Jangan memujiku lagi. Aku tak pantas mendapatkannya.” Ibu dan Bu Yani saling bertatapan, kemudian kembali menatapku lagi. Menunggu penjelasan selanjutnya dariku.

“Aku nggak jujur, Bu. Itu bukan hasil pemikiranku sendiri. Ketika ujian berlangsung, aku mencontek, menjawab dengan asal-asalan, bahkan menyalin kunci jawaban yang beredar di kelas. Aku… Aku menyesal, Bu. Aku minta maaf…” Akhirnya kubiarkan kalimat-kalimat pengakuan itu keluar dari mulutku. Air mataku menetes lagi, lagi, dan lagi. Kupandangi dua orang yang kuhormati ini, tak ada satu pun dari mereka yang berwajah kesal, marah, atau setidaknya kaget dengan apa yang baru saja kuakui. Aneh. Ibuku malah merangkul pundakku dan tersenyum padaku. Kini giliranku yang menatapnya penuh tanya.

“Kamu benar-benar menyesalinya?” Pertanyaan Bu Yani mengalihkan pandanganku. Aku mengangguk pelan dan kembali menunduk karena malu. Bu Yani hanya tersenyum dan melanjutkan ucapannya.

“Bagus, Dinda. Kamu sudah berani mengatakan yang sebenarnya, juga menyesalinya. Baiklah. Sekarang ibu tidak akan memujimu lagi karena nilai UN-mu itu, tetapi ibu ingin memujimu karena kejujuranmu yang tulus hari ini. Lantas, apa yang membuatmu hingga begitu tertekan? Apakah karena kamu benar-benar menyesal, atau ada hal lain yang masih mengganjal di pikiranmu? Boleh kami tahu?”

“Begini, Bu. Aku takut membawa nilaiku yang tinggi ini ke SMP (Sekolah Menengah Pertama). Aku takut dibilang ‘punya nilai tinggi tapi nggak bisa apa-apa’. Aku harus gimana, Bu…?” Ibuku mengelus rambutku dengan lembut. Sungguh, ketakutan ini mulai muncul dan langsung membesar setelah aku diumumkan sebagai juara satu di sekolah, padahal kemampuanku biasa-biasa saja.

“Kalau begitu, jadikanlah rasa takutmu itu sebagai pemotivasi. Tunjukkan pada Ibu, orang tuamu, atau teman-teman dan guru-gurumu nanti, bahwa kamu bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah kamu raih ini. Buktikan pada kami, kalau kamu adalah orang yang pantas mendapatkan prestasi ini. Juga, jadikan penyesalanmu hari ini sebagai modal kejujuranmu di masa depan. Jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jangan mencontek lagi ketika ujian. Percayalah pada kemampuan diri sendiri.” Aku menatap Bu Yani dengan seksama. Berusaha menangkap semua pesan darinya. Seketika itu aliran darah dalam tubuhku terasa begitu lancar, menyebarkan semangat baru ke seluruh tubuhku. Jantungku berdegup merdu, seakan ada kehidupan indah yang akan segera kujalani. Ingin rasanya aku segera melakukan apa yang beliau sarankan.

“Bagaimana? Apakah penjelasan dari Ibu mampu menjawab ketakutanmu, Dinda?” Aku mengangguk, dan anggukanku lebih semangat dibandingkan dengan anggukan-anggukan sebelumnya. Aku berusaha menyuguhkan senyuman termanisku pada ibuku juga Bu Yani. Aku lega sekarang. Kini, aku sudah tak takut lagi menghadapi masa SMP dengan membawa prestasiku yang tak terduga ini. Aku siap mempertanggungjawabkannya. SEMANGAT, DINDA!! Perjuanganmu baru akan dimulai.

***

Malam ini ayah mengajakku, ibu, dan adikku makan malam di salah satu restoran mewah bernuansa alam yang terletak di kawasan Lembang, Bandung. Katanya, ini sebagai hadiah atas prestasiku. Eh, bukan. Tetapi atas kejujuran dan pengakuanku atas perbuatan tidak terpuji yang telah kulakukan.

“Ayah bangga padamu, Nak.” Ayah sudah tahu semua ceritanya dari ibu. Ayah merangkul pundakku erat seolah tak ingin melepaskanku. Hingga akhirnya pelukan ayah terlepas juga ketika ponsel di saku celanaku berbunyi. Rupanya sebuah pesan singkat dari Cahya.

Makasih ya, Dinda, udah nolong aku. Kalau waktu itu aku jadi nyontek, mungkin aku ga akan tenang. Kamu kan tau aku ga pernah nyontek. Aku cukup puas dengan hasil tesnya. Tapi aku ga rela nilai kamu lebih tinggi dari aku. Padahal kamu kan nyontek.

Plak! Aku merasa seperti ada yang menampar pipiku. Menyadarkanku yang sempat terlupa dengan masalah yang baru saja tersesaikan. Namun ternyata belum selesai di hadapan Cahya. Aku hampir saja lupa. Segera ku balas pesan dari Cahya, mumpung makanan pesananku belum datang.

Maaf, Cahya… Aku nyesel. Tadi aku juga udah nangis-nangis di depan Bu Yani. Aku ngaku kalo aku salah dan ga akan diulangi lagi. Nilaiku emang paling tinggi. Tapi temen-temen tau, kamu yang paling pinter. Mereka tau aku nyontek. Sekali lagi, aku nyesel. Maafin aku, ya..

Selang beberapa menit, Cahya mambalas pesanku.

Iya, gapapa. Aku maafin. Tapi aku ga akan ngasih kamu ucapan selamat, ya. Hehe..

Aku tersenyum. Justru aku lega tak dapat ucapan selamat darinya. Ucapan selamat hanya akan menambah bebanku.

Gapapa, Cahya. Makasih ya udah maafin aku. Aku akan berusaha sampai benar-benar ngalahin kamu di SMP nanti. Tapi tetep ajarin aku, ya. ^^

Makanan pesananku datang. Aku yang sudah lapar sedari sore tadi langsung saja menyantap makananku. Tak lupa berdoa terlebih dahulu. Ketika aku masih makan, ponselku kembali berbunyi. Segera kubuka pesan baru ini. Cahya lagi.

Oke. Kita lihat aja nanti. ^^

“Dinda, jangan makan sambil memainkan ponsel. Simpan dulu ponselnya,” ibu menatapku tajam.

“Iya, Bu.” Aku lanjutkan makanku. Sungguh, aku lega. Semua masalahku selesai detik ini juga. Terima kasih, Allah.

Sumber Gambar :
http://zadit.multiply.com/journal?&page_start=20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s