Sungai yang Sesuatu


Sungai itu, sungai yang ada di dekat tempat tinggal saya di kawasan Jakarta Timur. Sungai yang sampai sekarang belum saya ketahui bernama siapa (baca: namanya apa). Setiap berangkat menuju tempat kerja, saya menyebrangi sungai itu. Begitu pun saat saya pulang kerja. Jangan membayangkan saya menyebranginya dengan perahu karet ataupun rakit, ya. Hehehe… Di sana ada jembatan yang menghubungkan sebelah kanan dan kiri sungai. Di dekat sungai itu, kadang saya harus berpapasan dengan seorang gelandangan, yang sampai sekarang pun saya tidak tahu siapa namanya (mau kenalan juga sayanya udah ngacir duluan). Dia gelandangan yang (InsyaAllah) tidak mengganggu. Awalnya saya takut. Tetapi sekarang saya sudah terbiasa. Jadi, kalau mau melewati orang itu, saya lempeng-lempeng aja.

Kembali ke sungai itu.
Ketika menyebrangi sungai, mata saya selalu saja “iseng” melihat apa saja yang dibawa hanyut oleh air sungai. Tak jarang saya melihat kantong plastik berwarna hitam berisi sampah rumahan. Ya, mungkin banyak orang yang membuang sampah yang dikumpulkan dari rumahnya ke sungai ini. Jujur, saya nggak habis pikir, bagaimana perasaan orang yang membuang sampah yang tidak sedikit itu. Tidak tahukah mereka bahwa bungkus permen yang kecil saja bisa menyebabkan banjir? Tidak sadarkah mereka bahwa banjir adalah suatu bencana yang sangat merugikan banyak orang? Tidak takutkah mereka jika di akhirat nanti dituntut banyak orang yang menjadi korban banjir akibat perbuatan mereka di dunia?

Pernah ketika saya berada di dalam angkot sepulang bekerja, saya melihat suatu perbuatan yang tidak terpuji yang dicontohkan orang tua pada anaknya. Di dalam angkot yang sama, ada seorang ibu yang menggendong anak balita. Di samping kanan sang ibu duduk pula anak lelaki yang terlihat lebih besar dari anak yang digendong sang ibu. Mungkin anak itu adalah anak pertama dan yang digendong adalah anak kedua (sotoy nih saya). Kedua anak itu memegang plastik minuman. Anak pertama sudah habis meminumnya, yang tersisa hanya setumpuk es batu di dalam plastiknya. Lalu anak tersebut bertanya pada ibunya, “Mah, ini abis. Ke manain?”

Dengan lancarnya, sang ibu meluncurkan kata-kata, “Buang aja ke luar!” Ya, namanya juga anak kecil, dia menuruti apa kata ibunya. Akhirnya, plung! Brakk! Plastik minuman itu meluncur dari dalam angkot dan terjatuh bebas di jalanan bersama es batu di dalamnya. Saya yang melihat kejadian itu spontan menggeleng-gelengkan kepala saya sambil memandangi plastik minuman yang tergeletak tak berdaya di jalanan itu. Setelah itu, sang adik juga sudah habis meminum bagiannya. Sang kakak mengambil wadahnya dan hendak membuangnya lagi ke jalanan. Tapi, apa yang terjadi? Tiba-tiba sang ibu menahannya sambil berkata, “Jangan dibuang ke luar! Nanti kakaknya marah.”

Laaah?? Ternyata sang ibu melihat gelagat saya tadi waktu menggeleng-gelengkan kepala. Saya jadi malu sekaligus senang. Malu karena… entahlah, saya malu saja. Dan merasa senang karena telah berhasil mencegah perbuatan yang salah. Bukan. Saya bukan berbangga diri. Mungkin lebih pas kalau dibilang lega. Ya, siapa sih yang hatinya tidak tenang setelah berbuat kebaikan? Saya memang paling tidak suka melihat orang yang terang-terangan di depan mata saya membuang sampah sembarangan. Saya tidak tahan melihatnya.

Selain itu, masih di dalam angkot, ada sekelompok siswa SMP. Salah satu dari mereka membawa (lagi-lagi) plastik minuman. Saya melihat anak itu tengah bersusah payah membuka jendela di dekatnya. Saya mulai curiga. Jangan-jangan anak ini akan membuang minumannya ke jalanan. Benar saja! Melihat tanda-tanda buang sampah sembarangan itu jantung saya tiba-tiba berdegup kencang, ingin segera mencegahnya. Akhirnya, saya beranikan diri untuk berbicara sebelum semuanya terjadi. Saya tidak mau menyesal nantinya. “Dek! Buangnya jangan ke luar!” Alhamdulillah, (lagi-lagi) saya bisa mencegahnya. Saya tidak jadi menyesal.

Ups! Melenceng lagi. Mari kita kembali ke sungai yang tadi.😀
Intinya, sudah jadi pemandangan yang tidak aneh lagi banyak sampah yang terbawa hanyut oleh sungai itu. Namun, apa yang teman-teman rasakan ketika melihat sebuah kasur yang ikut mengalir dengan air sungai? Saya sangat kaget ketika itu. Besar kasur itu berapa kali lipatnya bungkus permen?? Bagaimana ceritanya ada orang yang tega membuang kasur ke sungai?? Apakah sang pemilik kasur sedang mencoba cara baru untuk pindah rumah? Apakah saya harus berkhusnudzan kalau sang pemilik kasur tidak memiliki uang untuk menyewa mobil, jadi beliau memindahkan barang-barang di rumahnya dengan cara menghanyutkannya hingga sampai ke rumah barunya? Apakah selanjutnya saya akan melihat sofa, lemari, dan peralatan dapur yang juga akan melewati sungai ini? MasyaAllah… 😦

Entah berapa lama dari situ, saya melihat sesuatu yang mengagetkan lagi. BUAYA yang besar!!! Di kota Jakarta ada buaya besar di sungai!! Ini juga tidak masuk di akal!! Meski buaya yang saya lihat itu sudah mati, tetap saja saya tercengang melihatnya. Bahkan beberapa detik mulut saya terbuka, disusul tangan kanan saya yang menutupnya. Saya pandangi terus hewan itu sampai ia hanyut jauh dari pandangan saya. Tidak percaya. Bagaimana bisa? Darimana datangnya hewan buas itu? kaburkah dari kebun binatang Ragunan yang ada di Jakarta Selatan sana? Tetapi, setahu saya, sungai ini tak sampai ke Jakarta Selatan. Justru sungai ini memanjang ke arah bogor. Ah! Mungkinkah dari Taman Safari?? Entahlah…

Itulah mengapa saya beri judul tulisan ini dengan “Sungai yang Sesuatu”. Saya tidak tahu harus berkata apa terhadap sungai ini. Kadang saya bermimpi, sungai-sungai di Jakarta, atau di kota lainnya dapat diubah menjadi tempat wisata atau tempat orang-orang bersantai di pinggirnya untuk sekedar refreshing. Bahkan kita bisa memancing ikan. Airnya jernih hingga mata kita pun mampu melihat sampai ke dasarnya. Mungkinkah?

Lewat tulisan ini, saya tidak bermaksud merendahkan siapapun. Justru saya ingin mengajak teman-teman pembaca untuk menjaga kebersihan lingkungan. Lingkungan kita ini sudah rusak. jangan sampai kita menambah kerusakan padanya. Mulailah dengan selalu membuang sampah pada tempatnya. Ajarkan itu pada anak-anak kita, adik-adik kita, pada orang-orang di sekitar kita. Semua ini juga kita lakukan untuk keberlangsungan hidup kita. Banjir bukanlah bencana alam, tetapi bencana yang sebagian besar ditimbulkan karena kelalaian manusia, salah satunya karena banyak yang membuang sampah sembarangan.

Membuang sampah pada tempatnya itu bukan hal yang sulit, kok! Yuk, kita mulai dari diri kita sendiri!🙂

Sumber Gambar

One thought on “Sungai yang Sesuatu

  1. Pingback: Hampir Saja! | dini's diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s