Hey, Usia Saya Sudah Kepala Dua, Hey…

Hari ini saya mengunjungi sebuah mall di dekat Taman Mini Indonesia Indah untuk sekedar makan siang di sela-sela mengantor. Saya manfaatkan waktu istirahat untuk makan di luar. Tepat di lantai empat tempat foodcourt itu berada. Saya dihampiri oleh dua pelayan dari dua kios makanan sekaligus. Yang satu menawarkan soto ayam, yang satunya lagi menawarkan ayam goreng. Di sela-sela berpikir, saya jadi teringat masa lalu yang hampir setiap harinya memakan makanan berbahan dasar ayam (baca : Ayam, oh, Ayam..). Baiklah, akhirnya saya putuskan untuk memesan soto ayam, berharap ada sayur di dalamnya. Pelayan yang satu lagi merasa ingin dibeli juga dagangannya. Langsung ia menawarkan aneka minuman yang dijualnya. Tetapi, dengan berat hati, saya menolaknya. Karena saya memang sedang tidak ingin mengeluarkan uang hanya untuk segelas minuman. Toh, minuman bisa saya dapatkan secara gratis di tempat kerja sepulang dari sini nanti. Kalau sayanya kuat, satu galon air minum pun bisa saya dapatkan dengan cuma-cuma. Betapa baiknya tempat kerja saya. Hehehe… 😀

Saya pun dipersilakan duduk di tempat duduk yang tersedia. Saya diminta untuk menunggu hidangan pesanan saya. Sambil menunggu, saya mengeluarkan buku novel dari dalam tas kuning saya. Salah satu novel karangan Tere Liye (penulis Hapalan Surat Delisa) ini belum juga selesai saya baca. Karena saat ini ada dua buku yang sedang saya baca. Selain novel ini, juga Catatan Hati Seorang Istri-nya Asma Nadia. Satu fiksi, satunya lagi non-fiksi. Sengaja saya pilih dua jenis buku berbeda agar pengetahuan saya berimbang. Akhirnya, saya melanjutkan membaca buku sambil menunggu hidangan.

Ketika saya sedang asyik membaca buku, tiba-tiba pelayan yang dagangannya sama sekali tidak saya beli melontarkan pertanyaan pada saya, “Pulang kuliah ya, Kak?” Wow, saya disangka anak kuliahan. Saya jawab saja kalau saya sudah bekerja. Ia hanya mengangguk tanda mengerti. Tidak lama dari situ, pesanan saya pun tiba. Hhh… Sayang sekali. Di dalam sotonya tidak ada sayur, kecuali potongan tomat yang kecil-kecil. Ya sudah, lah.. Mau bagaimana lagi. Sudah dipesan ini.

Sambil menyantap makanan, saya jadi teringat cerita-cerita lucu yang berkaitan dengan usia dan tubuh saya. Satu per satu cerita itu saya coba hadirkan kembali dalam pikiran saya.

1. Di Toko Buku

Waktu itu saya masih di Bandung. Saya dinyatakan diterima bekerja sebagai pengajar Matematika di sebuah lembaga bimbingan belajar ternama di Jakarta. Saya ditugaskan untuk mengajar dari tingkat SD sampai SMP. Suatu hari, saya pergi ke salah satu toko buku di Bandung untuk membeli buku-buku paket Matematika sebagai pegangan saya nanti. Saat itu saya masih berpakaian ala remaja: celana jeans panjang, atasan panjang, kerudung langsung, dan jaket. Saya membeli buku paket Matematika kelas 7, 8, dan 9 SMP. Setelah saya mendapatkannya, saya pun menuju kassa untuk membayarnya. Dengan cekatan, seorang pria yang menjadi kasir itu menghitung belanjaan saya. Saya melihat kebingungan di wajahnya. Belum sempat saya bertanya, ia berbicara lebih dulu, “Kelas 7 SMP, kelas 8 SMP, kelas 9 SMP.”

Saya malah semakin heran mendengar ucapannya sampai ia melontarkan pertanyaan unik pada saya, “Sebenernya, Ade kelas berapa?” Gubrakk!! Jadi itu yang membuatnya bingung?? Ampun, deh… Saya disangka anak sekolahan. SMP pula. Saya pun segera mengklarifikasi, “Bukan, Mas. Saya guru.”

Hah? Guru? Kecil banget!” Haduuuuh… Biasa aja dong, Mas.. Sudah tanggung dibilang begitu, sekalian saja saya tambahkan, “Hehehe… Saya emang masih pantes jadi siswa SMP, Mas.”😀

2. Hari Pertama Bekerja

Sebelumnya, saya tidak tahu menahu tentang apa yang dipikirkan para pengajar yang sudah lebih lama bekerja di sana. Saya baru tahu setelah beberapa bulan bekerja. Seorang pengajar yang sudah lumayan senior berterus terang pada saya. Ternyata, di hari pertama saya bekerja, saya jadi bahan pembicaraan para pengajar lama. Saya disangka siswa baru! Katanya, kalau bukan siswa SMP, ya SMA, lah. Waduh!😀

3. Saat Menunggu Bel Masuk Berbunyi

Saat itu, saya berada di salah satu lokasi mengajar. Sambil menunggu waktu masuk, saya duduk di kursi-kursi yang tersedia di lobi. Saya duduk bersama dengan siswa-siswa saya yang kelas 6 SD. Tiba-tiba datanglah seorang ayah yang mengantarkan anaknya. Anaknya itu adalah siswa saya, yang juga teman dari siswa-siswa yang sedang duduk bersama saya. Anak itu masuk ke kelas untuk menaruh tasnya, kemudian bergabung bersama kami dan duduk tepat di sebelah saya yang kala itu memakai rok rempel berwarna cokelat (nyaris mirip rok pramuka).

Sang ayah hendak pulang dan pamit pada anaknya, “De, Papa pulang dulu, ya!” Sang anak mengangguk. Namun, sebelum keluar ruangan, sang ayah tiba-tiba memposisikan tubuhnya seperti ruku (salah satu gerakan dalam shalat) di hadapan saya dan anaknya agar wajahnya setara dengan wajah kami yang sedang duduk. Saya agak kaget melihatnya. Dan kaget saya bertambah-tambah setelah mendengar pertanyaan yang meluncur lancar dari mulutnya sambil menunjuk-nunjuk saya, “Ini temen sekelasnya, ya?”

Aaaappaaa????? (lebay) Saya disebut teman sekelas anaknya?? Itu berarti, saya disangka anak SD?? Spontan semua siswa yang ada di dekat kami saat itu tertawa, termasuk staf administrasi yang juga mendengar pertanyaan sang ayah.  Sungguh, ini yang terparah. Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa tinggi badan dan besar tubuh saya tidak jauh beda dengan siswa-siswa saya. Saya lantas menjawab, “Bukan, Pak..”

“Itu guru kita, Pak! Hahahahaaaa…” Siswa-siswa membantu saya menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Waw.. Seimut itukah penampilan saya? Padahal usia saya kan sudah kepala dua, hampir usia perak. Hihihi…😀

Saya yang sedang menyantap soto ayam jadi tersenyum sendiri mengingat semua peristiwa unik itu.🙂

Sumber Gambar

4 thoughts on “Hey, Usia Saya Sudah Kepala Dua, Hey…

  1. kerennnnn din, Masya Allah. din saya unya ide gimana kalo dini pake seraagam smp lagi kayanya bakalan jadi kereeeen ^^

  2. Sabar aja non…banyak orang mungil pintar, cerdas dan cerdik plus rendah hati..contohnya habibi heheheh….karena kenapa konon katanya hati dan pikirannya deket😉, tapi ga enaknya terlalu banyk maslah di emban…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s