Doraemon was Part of My Life


Entah sejak kapan saya mulai menyukai tokoh anime yang satu ini: DORAEMON. Saya tidak pernah ingat. Yang saya ingat, kesukaan saya pada Doraemon menjadi sangat parah ketika saya mulai mengenakan seragam putih abu. Jelas, ini bukan usia kanak-kanak lagi, melainkan remaja, Bro! Di saat teman-teman lain mengagumi bintang sinetron, bintang film, penyanyi, atau grup band papan atas, baik tingkat nasional maupun internasional, yang memiliki wajah rupawan, tubuh ideal, dan kecerdasan sosial, saya malah tergila-gila pada sosok robot halusinasi, tidak jelas apa dia kucing atau musang (yang jelas bukan manusia), berwarna biru, dan (sekali lagi) dia bukan manusia.😀

Mengapa saya katakan bahwa saya tergila-gila pada Doraemon? Itu karena perasaan aneh yang timbul ketika saya melihat sesuatu yang bergambar atau berbentuk Doraemon. Suatu perasaan yang sering saya coba untuk kendalikan, namun saya tak kuasa. (Lebay banget, ya?!) 😀

Terkesan berlebihan, tapi itu nyata. Perasaan ini sering muncul saat saya berada di sebuah mall atau toko assesoris. Ya, di sanalah saya bisa menemukan sosok robot (yang katanya) dari masa depan itu. Ketika melihatnya, maka seketika itu pula jantung saya berdegup keras dan kencang, tubuh saya lemas, dan muncul keinginan kuat untuk membeli dan memilikinya.

Suatu hari, sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, sepulang sekolah, saya mengunjungi sebuah toko di Bandung bersama dengan teman saya, Annisa namanya. Biasa kupanggil “Ica”. Toko itu menjual banyak barang, seperti alat-alat tulis, perlengkapan perkantoran, boneka, jam dinding, jam duduk, pajangan atau hiasan untuk meja atau lemari, tirai untuk hiasan di pintu, dan lain-lain.

Di sana tidak hanya menjual barang dengan desain biasa, tetapi juga ada yang gambar dan bentuknya unik, kreatif, dan lucu. Perasaan aneh itu muncul ketika saya melihat tirai untuk hiasan di pintu yang bergambar wajah Doraemon. Wajah Doraemon itu sangat banyak. Dan mata saya benar-benar dibutakan olehnya. Keinginan saya sangat keras untuk memilikinya. Saya harus membelinya.

Sayang. Begitu saya merogoh saku seragam, saku jaket, juga dompet saya, uang yang saya punya saat itu tidak cukup untuk membelitirai Doraemon yang berharga Rp50.000,00 itu. Jelas, saat itu harga tersebut bukanlah harga yang murah bagi saya. Namun, saya tidak habis pikir dan tidak mau menyesal nantinya, takut tirai ini dibeli oleh orang lain. Akhirnya saya pun menutup rasa malu saya di hadapan Ica. Saya meminjam uang darinya sambil sedikit memohon. Ica yang kala itu memiliki uang lebih mau meminjamkannya untuk saya. Dan akhirnya tirai Doraemon itu saya bawa pulang dengan senyum mengembang sepanjang jalan.
🙂

Diberi suatu benda yang bergambar atau berbentuk Doraemon? Tentu saat itu saya sangat mengharapkannya! Jangankan hal yang disukai, hal yang biasa-biasa saja jika itu adalah sebuah pemberian yang tentunya gratis, maka akan terasa luar biasa. Hari itu, saya tepat berusia 16 tahun. Pagi hari di sekolah, ketika masih sedikit siswa yang datang, seorang teman memberikan sebuah kotak kado berwarna hijau dan berpita cantik. Ketika saya membukanya, (lagi-lagi) seketika itu pula jantung saya berdekup cepat. Saya sangat senang! Betapa tidak? Benda di dalam kotak manis itu adalah sebuah dudukan ponsel yang di depannya duduk sosok Doraemon yang sedang tersenyum. Lucunya! ^^

Begitu pun ketika paman saya sedang ada di Jepang. Saya memintanya untuk membawakan oleh-oleh Doraemon untuk saya. Apa saja. Yang penting benda tersebut berbentuk atau bergambar doraemon. Dan paman saya yang baik hati itu benar-benar membawakannya untuk saya. Saat itu, paman berkunjung ke rumah. Ia membawa sebuah kotak berwarna coklat dan memberikannya pada saya. Tanpa basa-basi, saya langsung membukanya. Hmm.. Aroma “Jepang” dari dalam kotak tersebut sangat terasa. Dan darah dalam tubuh saya pun mengalir dengan cepatnya ketika saya melihat dua benda “Doraemon” di dalamnya. Jam “waker”  yang bunyinya tidak biasa seperti bunyi alarm pada umumnya. Saat waktunya tiba, jam ini mengeluarkan suara lagu Doraemon versi midi atau poliponik. How cute. Benda satunya lagi adalah celengan berbentuk Doraemon yang terbuat dari barang pecah. Ah, kedua benda ini tersenyum manis pada saya. Thank’s so much, uncle. 🙂

Sekarang, terhadap Doraemon, saya sudah tidak ada perasaan apapun. Ketika melihatnya, hanya akan mengatakan, “Ih, lucu!” dan tidak berlanjut dengan membelinya. Alhamdulillah, saya sudah bisa mengendalikan perasaan tak wajar itu. Tapi, mau dikatakan seperti apapun, Doraemon pernah menjadi bagian dalam hidup saya. Yes, Doraemon was part of my life. 🙂

Sumber Gambar

2 thoughts on “Doraemon was Part of My Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s