Hari Melotot

Hai, pengunjung Dini’s Diary!! Berikut ini saya ceritakan kisah yang saya alami. Mengenai bahasanya, ini bukan bahasa saya sepenuhnya. Saya hanya ingin mencoba menggunakan gaya bahasa lain dalam tulisan saya. Sebenarnya, ini adalah efek dari Manusia Setengah Salmon karya Raditya Dika yang baru saja selesai dibaca. Kocak. Dan entah kenapa, setelah baca buku itu, rasanya bahasa khas Jakarta terngiang-ngiang di pikiran saya. Saya merasa kasihan sama pikiran saya kalau apa yang sudah menumpuk padanya tidak ditumpahkan dalam tulisan (Haha. Unyu, ih!).😀

Hari ini hari Selasa. Gue melakukan rutinitas seperti biasanya. Setelah beres mengajar di satu lokasi, gue berangkat ke lokasi lain. Di lokasi kedua itu, gak ada jadwal ngajar buat gue. Cuma ngawas Try Out (TO) siswa kelas 9 SMP. Ya, sejak kurang lebih sebulan yang lalu kelas 9 memang sudah mulai disibukkan dengan TO karena akhir bulan ini (bulan April 2012) mereka akan melaksanakan Ujian Nasional (UN). Jadi inget waktu gue SMP dulu. Waktu itu pertama kalinya pemerintah menentukan nilai minimal kelulusan. Dulu, nilai minimalnya masih di angka 3. Sekarang, kalau mau dinyatakan lulus, nilai rata-ratanya harus lebih dari 5,5 dan tidak boleh ada satupun mata pelajaran yang bernilai 4 (ini jadi angka mati).

Budaya contek-mencontek sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu kala. Tapi, bocoran soal belum terlalu populer saat itu dan masih menjadi aib yang memalukan. Sekolah gue sepertinya nggak dapet bocoran soal. Imbasnya ke gue. Waktu itu gue bisa dibilang siswa pinter (gue juga bingung, kenapa waktu itu gue bisa pinter. Rasanya kepintaran gue saat ini berkurang. Mesti lebih sering belajar lagi nih kayaknya). Wali kelas gue saat itu panik. Takut siswa-siswanya nggak pada lulus. Akhirnya, beliau memohon dengan sedikit memaksa (yang menurut gue sangat memaksa gue), untuk memberikan kode jawaban pada beberapa menit pertama. 10 soal aja. Setidaknya, teman-teman yang sekelas sama gue saat ujian berlangsung mencapai nilai minimal kelulusan.

Pemaksaan yang sopan ini akhirnya mau nggak mau gue turutin juga. Padahal hati gue maunya nolak setegas-tegasnya. Kalau perlu, gue berorasi di depan para guru bahwa tindakan ini adalah tindakan kriminal: mengambil hak manusia untuk merasa nyaman saat ujian (emang ada?). Tapi, apa yang bisa gue lakukan saat itu? Nggak ada. Hanya menurut saja. Kalau ujungnya begini, apa bedanya orang yang belajar sama orang yang gak belajar? Semuanya lulus. Maka, kalimat ini pun udah gak bisa lagi dijadikan motivasi bagi siswa: kalau mau lulus ujian, rajinlah belajar. Mindset siswa sudah berubah menjadi: nggak belajar pun gue pasti lulus. Sekolah pasti melakukan segala cara biar gue lulus. Kalau gue nggak lulus, sekolah juga kan yang malu? (Nah, loh!). Saking sakit hatinya disuruh memberi kunci jawaban pada teman-teman sekelas, hal ini pun masih gue inget sampai sekarang.

Kembali ke lokasi mengajar gue. Gue tiba di lokasi kedua tepat pukul dua siang. Sebenarnya jadwal ngawas gue jam setengah empat, tapi gue datang lebih awal karena ada janji konsultasi soal sama salah satu siswa gue. Sambil nunggu, gue ambil buku Manusia Setengah Salmon dari tas cokelat gue. Gue baca halaman demi halaman. Kadang senyum-senyum sendiri. Kadang juga hati gue sedikit gak setuju dengan apa yang Dika tulis di bukunya. But, it’s okay. Cari ilmu kan bisa dari mana aja. Gue tumpangin kaki kanan ke kaki kiri gue. Terus kaki kiri gue menghentak-hentak seakan lagi dengerin musik. Padahal gue gak lagi dengerin musik. Tiba-tiba… ‘NGEEEEOOOONGG!!’ Gue kaget setengah mati.  Gak sengaja gue nginjek kaki kucing. Lagipula bukan salah gue. Kucingnya aja yang nyamperin kaki gue. Dasar kucing gak sopan! Emangnya kaki gue ikan pindang, apa? Atau kaki gue emang bau ikan pindang?

Gue langsung ngusir kucing yang sepertinya masih remaja itu. Bulunya berwarna putih, ada juga yang berwarna hitam di beberapa tempat di tubuhnya, tapi tidak teratur. Lucu, sih. Tapi tetep aja namanya kucing. Gue agak takut sama kucing. Waktu kuliah, pernah ada kucing nyasar masuk ke kelas gue. Terus, kucingnya jalan menuju ke arah gue. Gue lihat dia dengan pandangan ke bawah (karena saat itu gue lagi duduk di kursi).

‘Heeeey…’ Gue nyapa baik-baik sama kucingnya, tapi dia malah nyergap kaki gue! Gue kaget dan otomatis teman-teman sekelas pada ngeliatin gue yang ketakutan. Mulai saat itu, gue takut sama kucing. Selucu apapun kucing itu. Tak terkecuali kucing yang ada di hadapan gue sekarang. Gue pasang mata melotot ke arah kucing itu, berharap dia ketakutan dan pergi. Tapi, nyatanya kucing itu tetap gak mau pergi. Pikir gue, mungkin gue yang melotot malah kelihatan lucu bagi dia. Akhirnya, gue usir aja pake buku.

‘Huuush! Huush! Pergi sana!’ Huuuh.. Akhirnya pergi juga. Gue lanjutin baca. Gak lama kemudian, tu kucing datang lagi. Dan lagi-lagi nyamperin kaki gue. Ampuuuuuun… Kalau emang kaki gue ikan pindang, udah gue makan dari tadi, Cing! Gue usir lagi dia. Gue gak bisa baca dengan tenang kalau kucing itu masih berkeliaran di sekitar gue. Setelah dia pergi ke luar ruangan, baru gue bisa baca dengan santai dan fokus lagi.

1 halaman… 2 halaman… 3 halaman…

Datanglah kucing lain yang berwarna cokelat yang besar dan gagah. Aaaaarrggghh… Kucing dari mana lagi ini?? Parahnya, kucing ini juga menghampiri kaki gue. Apa semua kucing suka sama kaki gue? Gue gak sempet melototin dia. Lagipula, kalaupun sempet, mungkin dia cuma berekspresi layaknya ingin berkata, ‘Apaan, sih.. Gak penting banget deh tampang lo..’

Gue usir dia, sama, pakai buku juga. ‘Huussh! Huuush!’ Dia pun keluar ruangan. Aman. Gue bisa baca lagi, sampai akhirnya gue bosen bilang ini: dia datang lagi! Dan menghampiri kaki gue (lagi). Kali ini, sebelum dia berhasil mendekati kaki gue, gue melotot ke arah dia. Dia pun diam. Bergerak lagi, gue pelototin lagi, dia diam lagi. Tapi, lama-lama, gue yang melotot, kenapa gue yang ketakutan? Gue sampai pindah tempat duduk sambil terus memperhatikan gerak-gerik kucing itu. Melihat gue seolah-olah ada dalam bahaya besar, salah satu staf administrasi tempat gue kerja pun ngusir kucing itu ke luar ruangan dan menutup pintu gerbangnya rapat-rapat. Hhh… Kali ini benar-benar aman.🙂

Baru aja gue ngerasa nyaman baca, siswa yang mau konsultasi soal pun datang. Baiklah, gue tutup dulu bukunya dan siap melayani siswa yang rajin ini. Oke, dia mulai menyodorkan beberapa soal matematika untuk dibahas bersama.

Waktunya ngawas TO tiba. Konsultasi pun gue akhiri. Gue masuk ke ruang administrasi untuk mengambil seluruh perlengkapan ujian, mulai dari daftar kehadiran siswa, kertas-kertas soal dan jawaban, sampai lembar isian untuk pengawas. Setelah semua siap, gue mulai masuk ke ruangan kelas. Siswa-siswa terlihat menyiapkan alat tulis yang dibutuhkan, seperti pensil 2B, penghapus, dan penyerut pensil. Beberapa siswa ada yang mengeluarkan penggaris kecil yang ada bulatan kecil di dalamnya. Mereka mungkin merasa bahwa dengan menggunakan alat itu, bulatan mereka di lembar jawaban komputer akan terlihat rapi.

Baiklah, saatnya gue membacakan aturan main selama ujian. Sebenarnya, tanpa dibacakan pun sudah seharusnya diketahui oleh seluruh peserta ujian. Ya, aturan ini seputar tidak boleh mencontek, tidak boleh bekerja sama, harus membawa kartu pengenal, harus selesai tepat waktu, dll. Mungkin ini bersifat mengingatkan saja. Setelah itu, gue bagikan lembar jawaban terlebih dahulu, disusul soal. Sip. Ujian pun dimulai.

Sejak SMP, gue emang nggak suka melihat tindakan mencontek. Jadi, sebagai pengawas ujian, gue nggak boleh lengah.Gue pandangi satu per satu siswa di dalam kelas. Gue emang berusaha asyik saat mengajar di kelas. Tapi kalau lagi ujian, gue justru berusaha tegas. Gue nggak ragu menegur siswa yang berbuat curang sambil sedikit melotot (tapi nggak nakutin). Memang itulah tugas pengawas sebenarnya. Bukan hanya membagikan soal dan lembar jawaban lalu keluar kelas dan baru masuk kelas lagi saat ujian akan usai. Sebagai pengajar, atau guru, gue ingin membiasakan siswa untuk berbuat jujur saat ujian berlangsung. Gue tahu, itu nggak gampang. Tapi, setidaknya, gue berusaha dan berdoa juga. Semoga kelak perbuatan mencontek kembali menjadi aib yang sangat memalukan di masyarakat, sehingga siapa pun tidak mau mencontek.

Ujian selesai. Setelah menandatangani kehadiran pengajar, gue pulang ke kost-an gue. Di sela perjalanan, gue belok dulu ke toko buku. Di sana, gue beli beberapa buku dan segulung plastik untuk menyampul buku. Ya, gue termasuk pecinta buku, meski baru awal-awal. Rasanya, setiap ke toko buku, gue nggak bisa pulang tanpa beli buku. Kecintaan gue sama buku membuat gue bercita-cita ingin punya toko buku sendiri, punya taman bacaan, kafe buku, atau apapun yang berhubungan dengan buku.

Setelah itu, gue melanjutkan perjalanan gue menuju kost-an. Gue naik angkot kijang warna biru. Di “lampu merah”, angkot berhenti. Di sana banyak banget anak jalanan. Dua di antaranya naik ke angkot gue. Mereka berdua nyanyi dengan suara yang alakadarnya. Selesai menyanyi, satu anak pergi dan yang satunya lagi meminta uang pada para penumpang. Nggak ada satu pun penumpang yang memberi uang padanya.

Tiba-tiba anak itu melihat ke arah gulungan plastik yang gue bawa. Tanpa ragu, dia tarik gulungan pastiknya. Dia ingin mengambil gulungan plastik ini dari tangan gue. Gue tarik lagi sebelum gulungan plastik itu berhasil dia rebut. Dia juga tetap nggak mau kalah. Akhirnya kami pun saling tarik sambil saling pandang juga. Gue keluarin jurus melotot gue seolah berkata, ‘Jangan, De. Ini punya kakak. Ini nggak akan berguna buat kamu dan ini sangat berguna buat kakak.’ Tapi, apa yang terjadi? Dia malah balas melototin gue seolah berkata, ‘Hayo, loh… Siapa yang paling kuat? Aku atau kakak?’ Cape, deh…

Lama-lama, anak itu bosan juga. Ia melepaskan tangannya dari gulungan plastik gue dan turun dari angkot. Hhhh… Ada-ada aja. Ini pertama kalinya dalam hidup gue: berebut belanjaan dengan anak jalanan. Rasanya mata gue lelah hari ini karena keseringan melotot. Melototin kucing, siswa yang nyontek, dan anak jalanan yang iseng. Gue pasti tidur nyenyak melam ini. Dan jangan sampai gue melotot juga di dalam mimpi.😀

Sumber Gambar

4 thoughts on “Hari Melotot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s