Gara-gara Peluang Hidup dan Mati


Tahun kemarin, tepatnya bulan Juli 2011, saya diterima bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar di Jakarta. Saya ditugaskan untuk mengajar mata pelajaran Matematika mulai dari level Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tugas ini memberikan saya banyak pengalaman berharga. Saya dilatih untuk bisa mengajar puluhan kelas dengan level berbeda dan karakter tiap kelas yang berbeda pula. Tentu semua ini saya jalani dengan enjoy, karena pada dasarnya cita-cita saya memang menjadi seorang pengajar.

Satu tahun berlalu, dan saya pun memasuki tahun kedua. Saya memperpanjang kontrak mengajar saya. Ya, bisa dibilang saya merasa nyaman bekerja di tempat saya bekerja sekarang. Lagipula, saya masih single, jadi selama orang tua tidak keberatan, saya masih bebas menentukan langkah apa yang akan saya ambil. Tentu saja saya akan mendapatkan pengalaman baru, berkenalan dengan para siswa baru, dan juga (mungkin) mendapatkan tantangan baru. Bismillah..

Ternyata benar saja! Di tahun kedua ini saya ditugaskan untuk mengajar dari level SD, SMP, sampai 11 IPA. Ini dia tantangan baru yang (mau tak mau) harus saya laksanakan. Ada sesuatu hal yang membuat saya keberatan: jangankan siswa SMA, siswa SD dan SMP saja banyak yang tinggi dan besarnya melebihi saya. Saya yang pernah disangka siswa SD ini (baca: Hey, Usia Saya Sudah Kepala Dua, Hey…) harus mengajar siswa SMA. Hahaha..๐Ÿ˜€

Baiklah. Akhirnya tantangan itu saya terima. Masuklah saya ke kelas 11 IPA. Siswanya cukup banyak. Saya sedikit takut dibuatnya. Perlahan saya mulai mengendalikan perasaan yang tak seharusnya ada. Saya belum berani menatap mereka. Saya masih memfokuskan pandangan pada laptop yang hendak saya nyalakan. Saya sambungkan kabel penghubung laptop dengan TV LCD. Lalu saya mulai menyalakan keduanya.

Mata saya masih tertuju pada laptop. Laptop saya mulai menampilkan tema Angry Birds, mulai dari boots screen, opening picture, sampai wallpaper. Ya, karena saya terbiasa mengajar anak usia 9 sampai 14 tahun, maka saya pasang tema itu untuk menarik perhatian siswa. Siswa sering kali merasa senang melihat gambar-gambar yang ditampilkan itu. Ternyata lain halnya dengan mengajar di SMA. Para siswa berbisik (tapi kedengaran oleh saya), “Ih, kok Angry Birds, sih?”

Saya yang saat itu merasa ‘dibicarakan’ menanggapi, “Biasa ngajar bocah.” Dan para siswa pun serempak bilang, “Ooohh…” tanda mengerti. Ya, saya berhasil mencegah mereka yang mungkin saja akan menyangka bahwa saya peggemar berat Angry Birds (meski saya memang menyukai permainannya. Hehe..).๐Ÿ˜€

Saya mulai membuka file berbentuk power point yang berjudul “PELUANG”. Sebenarnya materi ini sudah pernah mereka dapatkan ketika duduk di kelas 9 SMP, namun tentu saja tingkat kesulitan soalnya kali ini lebih tinggi.

Saya mulai menatap mereka. Semua mata tertuju pada saya. Itu sudah pasti. Kelas ini sangat tertib. Ketika saya berbicara di depan kelas, mulut mereka benar-benar terkunci rapat. Tidak. Ini justru bisa membahayakan saya. Jika saya salah bicara sedikit saja, mereka akan dengan sangat jelas mendengar dan memprotesnya. Setelah menjelaskan materi pengantarnya, saya mulai membahas soal-soal yang ada pada modul satu per satu.

Tibalah saya di soal nomor 28. Begini bunyi soalnya:
Peluang seorang laki-laki akan hidup 25 tahun dari sekarang adalah 3/7.
Peluang istrinya akan hidup 25 tahun dari sekarang adalah 4/5.
Peluang 25 tahun dari sekarang paling sedikit satu dari mereka masih hidup adalah …

Entah bagaimana, saat itu saya menerangkan ke siswa dengan menggunakan rumus kejadian tidak saling lepas dan sangat simpel. Beberapa siswa sempat bertanya, mengapa saya menggunakan cara itu. Dan hebatnya lagi, saya bisa mengemukakan alasannya, sehingga saya makin percaya diri dengan pekerjaan saya. Setelah menemukan hasilnya, tiba-tiba…, “Kak, kok nggak ada jawabannya?” Dezziigg!! Ternyata jawaban yang saya dapatkan tidak ada di dalam pilihan jawaban untuk soal tersebut. Saya mulai deg-deg-an alias jantung saya berdegup kencang dan tidak beraturan. Saya memaksa otak saya untuk berpikir keras. Bagaimana bisa ini terjadi? Kening saya sangat menampakkan kerutannya pertanda sedang memikirkan apa yang salah dengan pekerjaan saya.

10 detik…

20 detik…

Akhirnya saya menyerah. Pikiran pun saya alihkan untuk menemukan kata-kata apa yang bisa saya ucapkan untuk sedikit mengalihkan perhatian dari kegagalan berpikir saya. “Kok bisa nggak ada, ya? Kayaknya ini salah cetak, deh,” akhirnya saya biarkan kalimat itu meluncur dari mulut saya.

Lalu, beberapa detik kemudian… Ting! Muncul ide lain di kepala saya. Dengan nada serius tetapi dengan maksud bercanda, saya pun mengatakan, “Memang, ya, masalah hidup dan mati itu adalah sebuah misteri. Tidak ada yang tahu berapa lama seseorang hidup dan kapan ia akan mati.” Ucapan saya itu akhirnya berhasil menghangatkan suasana kelas yang sempat dirasa dingin (terutama oleh saya). “Iya, Kak. Hanya Allah Yang Tahu,” seorang siswa menambahkan, disusul dengan tawa teman-temannya.

“Ya, ampun. Kakak bisa aja ngelesnya!” Siswa paling depan tiba-tiba ikut berkomentar.

“Yaa… Namanya juga guru les!” Saya berhasil menimpalinya. Hahaha..๐Ÿ˜€

“Oke, saya akan coba cari tahu, apakah saya yang salah, atau buku yang salah,” baiklah, akhirnya saya pun menyerah dengan bijaksana.

Bel berbunyi. Saya selamat (berasa ujian jadinya). Saya pun mematikan laptop, mengucapkan salam, dan beranjak keluar dengan membawa hutang soal nomor 28 tadi. Selanjutnya, mereka belajar Fisika bersama pengajar lain.

Di ruang pengajar, saya bertemu dengan pengajar Matematika yang sudah senior. Beruntung sekali saya. Langsung saja saya ajukan soal itu pada beliau. Ternyata, benar saja, saya yang salah menerangkan pada mereka. Cara yang saya gunakan tadi jelas salah. Saya jadi merasa bersalah dan ingin segera mengklarifikasi, tidak mau menunggu sampai di pertemuan berikutnya.

Akhirnya, dengan ditemani oleh staf administrasi, saya pun menuju ke kelas tadi. Staf membantu saya berbicara pada pengajar Fisika yang sedang mengajar di kelas itu. Pengajar Fisika diminta untuk keluar kelas sebentar demi saya yang akan melepas rasa bersalah saya pada para siswa. Pengajar Fisika pun setuju, dan kebetulan (sebenarnya tidak ada yang kebetulan) beliau belum shalat Maghrib saat itu. PAS!

Saya pun memasuki ruangan dengan wajah sedikit pucat. Semua mata tertuju pada saya. Hening. Mereka menunggu apa yang akan saya katakan. “Ini… Mengenai soal yang tadi… Peluang hidup dan mati…”

“HAHAHAHAAA..!!!” Ucapan saya disambut gelak tawa oleh mereka. “Ya, ampun, Kak… Sampe segitunya! Padahal dibahasnya di pertemuan nanti juga nggak apa-apa,” ah, pernyataan mereka itu membuat saya lega.

“Nggak bisa. Saya suka kepikiran kalau nggak dibayar sekarang.” Saya pun mulai menjelaskan cara yang benar.

Peluang laki-laki hidup adalah 3/7, maka peluang laki-laki mati adalah 4/7.
Peluang istrinya hidup adalah 4/5, maka peluang istrinya mati adalah 1/5.

Minimal salah satu dari mereka masih hidup 25 tahun dari sekarang, artinya ada 3 kemungkinan, yaitu:
1. Laki-laki hidup dan istrinya mati = 3/7 x 1/5 = 3/35
2. Laki-laki mati dan istrinya hidup = 4/7 x 4/5 = 16/35
3. Laki-laki hidup dan istrinya hidup = 3/7 x 4/5 = 12/35

Maka, jumlah seluruh kemungkinan itu adalah:
3/35 + 16/35 + 12/35 = 31/35

“Ooh… Gitu… Iya, ada, kak, jawabannya!” Hutang saya akhirnya LUNAS juga. Saya mengelus dada sambil mengucapย hamdalah dan (lagi-lagi) tingkah saya disambut gelak tawa dari mereka. Hhh… Ternyata mereka tak seseram yang saya kira.๐Ÿ™‚

Ketika saya keluar dari kelas, saya melihat staf administrasi yang tadi mengantar saya sedang tertawa juga menyambut saya. Ternyata beliau menyimak apa yang terjadi di dalam kelas. Hahaha.. Pengen malu jadinya..๐Ÿ˜€

Kalau ingin berpikir negatif, maka saya akan mengatakan bahwa gara-gara soal ini saya jadi mati gaya di hadapan siswa. Tapi, saya ambil saja sisi positifnya. Justru, karena soal inilah saya bisa menjadi lebih dekat dengan siswa-siswa saya.๐Ÿ™‚

Sumber Gambar

8 thoughts on “Gara-gara Peluang Hidup dan Mati

  1. wkwkwk Dini… Dini lucu, hal serupa juga sempat saya alami *fffifuuuufff lumayan ya kadang belum apa-apa kita udah mati gaya menghadapi anak SMA yang kadang bingung cara menanganinya bagaimana supaya mereka gak bosan.
    Tapi beruntunglah dengan bekal pengetahuan dan startegi yang menarik kita bisa menhandlenya๐Ÿ™‚

  2. hahaha, aku sering banget tuh kayak gtu.. kadang satu jam pelajaran bisa habis gara2 soal yg tdk terpecahkan, dan seletah saya evaluasi, mungkin saya kurang persiapan ngajarnya. dan betul juga setelah dipersiapkan semuanya, bahkan soal yg akan diberikan dipersiapkan, alhamdulillah sudah mulai berkurang hal tersebut, tp klo ada kejadian kayak gtu, enaknya ada siswa olym yg siap dilimpahkan. strategi pembelajaran emg sangat diperlukan hehehe

  3. pengalaman seperti itu bisa jadi pernah di alami hampir semua pengajar. hal positif dari peristiwa itu menurut saya adalah jangan pernah memarahi siswa hanya karena dia tidak bisa mengerjakan soal, karena ”tidak bisa” tidak hanya milik siswa tapi bisa juga milik guru bahkan mungkin dosen

    • Wah, pak bambang… Terimakasih sudah mau berkunjung ke blog saya.๐Ÿ™‚
      Iya, betul sekali, pak. Jangan sampai deh marah-marah karena siswa nggak bisa ngerjain soal. Tapi kalau nggak bisanya karena sering bikin ulah di kelas saat guru menerangkan, paling harus disenggol dikit, pak. Hihi.. Beneran deh, pak. Saya masih harus terus belajar dan belajar.. Mohon bimbingannya ya, pak.๐Ÿ™‚

  4. superrrr sekali ceritanya. klo kata orang bijak : dengan menerangkan suatu ilmu kpd orang lain, secara otomatis kita juga akan mendapatkan ilmu.
    kejadian yg hampir sama pernah sy alamin, ttp pd waktu praktikum. saat ini kelas sdg praktikum ttg perubahan entalpi, ada siswa yg bertanya apakah bedanya dgn asas black? glekkkkk….sy tdk siap utk mendapatkan pertanyaan seperti ini apalagi siswa tsbt menjelaskan dgn masuk akal sekali, benar2 masuk akal…
    lantas sy berpikir agak lama dan urekaaa….akhirnya sy menemukan jawabannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s