Sebuah Surat

Hari itu aku menunggumu di halaman sebuah masjid. Lama sekali hingga membuatku bosan dan malu pada petugas penitipan barang yang sudah melihatku sejak satu jam lalu. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Tapi akhirnya kuputuskan juga untuk pergi dari tempat itu, berjalan tanpa arah. Kuikuti saja kemana kakiku ingin melangkah.

Mataku sangat lincah, memandang pemandangan sekitar yang hijau. Kadang senyumku mengembang sambil menghirup udara dalam-dalam. Sejuk. Tanganku segera mengambil ponsel dari saku jaketku dan segera mengabadikan jalan-jalan yang kulalui. Aku merasa seperti turis di kota sendiri.

Tibalah aku di depan sebuah gedung milik polisi. Di mana aku? Aku melihat ke arah kiri dan kananku. Ternyata masih banyak tempat yang tidak kuketahui di sini. Atau tempat ini pernah kulalui, namun aku tak peduli. Segera kugunakan salah satu keahlian ponselku: google map. Setidaknya jangan sampai aku tersesat di kota kelahiranku sendiri.

Satu jam setengah berlalu, dan belum ada kabar juga darimu. Baiklah, daripada kesal,ย  kulanjutkan saja ‘petualanganku’.

Kakiku mulai pegal. Olahraga? Tentu bukan, sama sekali bukan. Tas yang kugendong sejak tadi tidak ringan, membuat bahuku pegal. Kepalaku mulai sakit karena tas yang menekan bahuku terlalu lama menghambat peredaran darah menuju kepala. Beruntung aku tak sampai hilang kesadaran. Aku lelah. Aku menyerah.

Dua jam sudah aku menunggumu. Pikiran negatif mulai merasuki pikiranku. Mengapa selama ini? Apa kau baik-baik saja? Aku pun segera menghubungimu dengan ponselku. Lama sekali..sampai akhirnya kau bersuara di balik ponselku di sana, di tempat yang masih jauh dari tempatku berdiri saat itu.

Ketiduran dan butuh waktu untuk bersiap-siap berangkat. Itu katamu. Ah, hampir saja aku ingin pulang mendengar alasanmu itu. Tapi, mengingat mungkin saja ini pertemuan terakhir kita sebelum aku berangkat ke luar negeri dua bulan mendatang, aku pun tetap bertahan menunggumu.

Aku sudah kembali ke masjid tempat aku menunggumu tadi. Bukan di depannya, namun kini di dalamnya, di lantai dua. Lalu ponselku berbunyi. Ada pesan masuk darimu. Kau bilang kau sudah sampai di masjid ini. Aku lega, karena kau selamat sampai sini. Tapi, aku juga menghela napas panjang karena tak habis pikir, bisa-bisanya kau membuatku menunggu begitu lama hingga aku sempat berjalan kaki begitu jauh.

Bukan. Bukan karena aku tak sabar, melainkan kau yang tak memberiku kabar membuatku harus menunggu dengan rasa yang tak karuan. Kau belum berubah, selalu saja membuatku menunggu.

Kita pun akhirnya bertatap muka. Aku sama sekali tak tertarik membahas betapa lamanya aku menunggumu. Ini membuat senyumku sulit mengembang dengan tulus. Tapi ketahuilah, entah kenapa saat itu aku tak bisa marah.

Kau bercerita banyak padaku. Cerita tentang hidup yang sedang kau jalani sekarang. Tentang masalah besar yang harus kau hadapi. Aku menyimak ceritamu dengan seksama. Mencoba membayangkan keadaan yang kau gambarkan. Memilukan. Hingga akhirnya aku melihat air matamu menetes. Ini pertama kalinya aku melihatmu menangis.. Kau yang selalu menyuruhku tersenyum, kini meneteskan air mata di hadapanku..

Sahabat, saat itu juga aku melepas semua kekesalanku. Cobaan yang kau hadapi begitu berat, sangat jauh lebih berat dari cobaanku tadi. “Kalau tidak ada iman, pasti aku sudah gila,” begitu katamu. Ya, kita punya Allah. Hanya pada-Nya kita memohon pertolongan dan perlindungan. Mungkin hanya doa-lah yang bisa kuberikan padamu, juga senyum yang sering kau minta dariku, meski senyumku tak sebagus senyum orang lain.๐Ÿ™‚

InsyaAllah, kau kuat, kau hebat, kau mampu menghadapi masalahmu dengan baik. Allah di sampingmu. Allah akan memberimu petunjuk jika kau minta. Allah menyayangimu. Allah tahu kau mampu, karena Dia tidak memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Masalah besar menimpa orang yang besar. Mungkin ini jalanmu menuju sukses, sukses dunia dan akhirat. Gunakan seluruh ilmu yang telah Allah berikan padamu untuk menyelesaikan masalahmu. YOU CAN DO IT! InsyaAllah..๐Ÿ™‚

Kau lebih tahu bagaimana cara berpikir positif. Aku hanya mencoba berbicara, menyemangatimu yang bisa menyemangati diri sendiri. SEMANGAT!!๐Ÿ™‚

Aku bersyukur bisa mengenalmu.Masalah besar yang menimpamu itu mungkin juga sebagai teguran dari Allah untukku yang sering mengeluhkan masalah-masalah kecil. Terima kasih sudah mau berbagi denganku. Aku jadi belajar darimu.๐Ÿ™‚

Ini suratku untukmu.
Semoga Allah selalu melindungimu,selalu memberikan yang terbaik untukmu. Aamiin..๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s