Cerita di Tengah Hujan

image

Sejak tengah malam, Jakarta diguyur hujan yang cukup deras. Sampai pagi ini hujan masih saja asyik dengan kegiatan tetapnya: membasahi apapun yang dijatuhinya. Ia membuat Jakarta menjadi dingin dan…banjir. Ah! Tapi sangat tidak adil jika harus menyalahkan hujan atas banjirnya ibu kota. Tentu saja banjir tidak akan terjadi jika warganya tidak membuang sampah di sembarang tempat. (setuju?)πŸ˜€

Hujan mengingatkan saya pada Dini kecil yang malang. Saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas…hmm…saya tidak begitu ingat. Seingat saya, hari itu Bandung hujan, tapi tidak begitu deras. Dan saya terjebak di sekolah. Dalam pikiran saya, saya tetap harus pulang ke rumah. Akhirnya saya ‘nekad’ menerobos hujan, yang memang tidak seberapa, sampai saya berhasil mendapatkan angkot.

Rumah saya tidak di pinggir jalan raya. Saya harus masuk jalanan yang lebih sempit dan berjalan cukup lama untuk sampai di rumah. Kendaraan umum yang bisa mengantarkan saya ke rumah lebih cepat adalah becak. Dengan uang Rp1.000,-, saya sudah bisa menaikinya. Namun, setelah saya merogoh seluruh isi saku seragam, ternyata sisa uang saya hanya Rp400,-. Sedih. Mau tidak mau, saya harus berjalan kaki menuju ke rumah dalam keadaan hujan. Dini kecil yang polos. Padahal kan bisa saja saya naik becak, lalu sesampainya di rumah, saya minta ongkos sama ibu saya. Beres. Tapi, ini tidak terpikirkan oleh saya saat itu. Yang saya pikirkan: tidak ada uang, tidak bisa naik becak.

Di tengah perjalanan, hujan turun semakin deras. Baju seragam saya menempel dengan tubuh. Saya basah kuyup dan kedinginan. Tiba-tiba sebuah becak menyusul dari arah belakang saya.

“Neng, becak?” Tukang becak menawarkan.
Susah payah saya melihat ke arahnya. Butir-butir hujan membuat saya agak sulit memandang. Ini sudah setengah perjalanan. Saya pikir, ongkos naik becak juga berkurang setengahnya. Saya beranikan diri untuk bilang, “Iya, Mang. Mau. Tapi…” Saya merogoh saku seragam saya dan mengeluarkan empat lembar uang kertas seratusan berwarna merah yang sudah basah terkena hujan, lalu menyodorkannya pada si tukang becak, “…uangnya cuma ada segini. Boleh?” Dini kecil tidak berhasil. Tukang becak malah kembali menggoes becaknya, menjauhi saya yang sudah sangat basah kuyup. Sedih..😦

Ya, sudah, lah. Saya melanjutkan perjalanan, menyerahkan tubuh saya pada hujan. Tiba-tiba muncul becak lain, masih dari arah belakang saya. Kali ini ada orang di balik becaknya. Setelah orang itu mengangkat tirai becak, saya tahu bahwa yang ada di balik tirai itu adalah tetangga saya. Beliau menyuruh saya naik becak bersamanya. Alhamdulillah, Dini kecil senang, terharu, sekaligus malu. Akhirnya saya bisa naik becak dengan gratis.

Saya mengucapkan terimakasih pada tetangga saya yang baik hati itu. Sesampainya di rumah, saya heran, mengapa rumah begitu sepi. Pintu depan juga terkunci. Tiba-tiba tetangga saya yang lain memasuki pagar rumah saya sambil membawa sebuah kunci di tangannya dan berkata, “Din, mamah lagi nggak ada di rumah. Katanya tadi mau ke rumah uwa. Ini kunci rumahnya. Kata mamah, kalau mau, Dini nyusul mamah aja ke sana.”

Setelah mengucapkan terimakasih, saya merenung sebentar, mengingat apa yang sudah terjadi hari ini. Ditambah lagi dengan ibu saya yang sedang tidak di rumah. Saya yang saat itu belum bisa mengurus diri sendiri pun akhirnya memutuskan untuk menyusul ibu saya, namun kali ini dengan membawa payung. Cape, deh..πŸ˜€

It’s still raining out there.
Tapi saya tetap harus melakukan kegiatan, seperti Dini kecil yang terus melangkah di tengah hujan.
SEMANGAT!!πŸ˜€

2 thoughts on “Cerita di Tengah Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s