Nggak Mau Kalah

cartoon-kids-studying-2
Sumber Gambar

Siswa kelas 7 SMP bisa juga disebut sebagai kelas 6 SD yang naik satu tingkat (ya iya, lah….). Maksud saya, tingkah anak SD masih melekat pada diri mereka. Jadi, wajar saja jika kerap kali mereka ribut, berteriak, dan merengek meski ada pengajar di dalam kelas. Pengajar benar-benar dibuat kelimpungan mengelola kelas seperti itu.

Salah satu kelas yang saya ajar adalah kelas siswa putra. Saya sebut demikian karena memang di kelas tersebut hanya ada siswa putra yang berjumlah 6 orang, salah satunya bernama Andi (bukan nama asli). Andi adalah siswa yang pintar. Saya yakin akan hal itu. Namun, ia sulit berkonsentrasi (tidak bisa belajar dengan serius sedikit saja) sehingga hampir semua materi yang saya ajarkan tidak bisa ia tangkap dengan baik.

Suatu hari ia datang terlambat. Ia datang di saat yang tidak tepat, yaitu di saat saya sedang menjelaskan materi di papan tulis. Siswa-siswa di kelas yang saat itu sedang memperhatikan saya serempak mengalihkan perhatian pada Andi yang berdiri dan hanya kepalanya saja yang muncul dari balik pintu. Tingkah Andi membuat semua siswa tertawa dan lupa pada saya yang terpaku (dan terpalu) di depan kelas. Andi tidak buru-buru masuk tetapi ia malah menikmati tertawaan teman-temannya itu.

“Masuk, Andi,” saya menyuruhnya untuk segera memasuki kelas. Dia memang masuk ke kelas, tetapi tingkah caper-(cari perhatian)-nya tidak berhenti begitu saja. Langkah kakinya menuju tempat duduk sangat lama. Ia sengaja melakukannya untuk kembali memancing tawa teman-temannya. Tidak lama dari situ, ia bergaya mengikuti apa yang tengah marak saat ini: Oppa Gang Nam Style ala Opera Van Java. Tawa seisi kelas pecah, kecuali saya. Plis, deh… Saya kapan ngajarnya kalau begini??😦

“Andi, ayo duduk!” Saya mulai tegas, dan pembelajaran pun saya lanjutkan.

Setelah menjelaskan materi, saya membagikan kertas latihan berisi soal-soal pada mereka. Setelah menerima kertas tersebut, mereka langsung mengerjakannya. Saya lihat satu per satu dari mereka hingga mata saya tertuju pada Andi yang sedang asyik dengan ponsel putihnya. Sebelum saya menegurnya, ia bertanya, “Kak, boleh pake kalkulator, kan?”

“Iya, kali ini boleh, deh…” Andi kembali asyik dengan ponselnya. Saya mencoba percaya saja kalau Andi memang sedang menggunakan aplikasi kalkulator di ponselnya, bukan permainan, jejaring sosial, ataupun video.

Salah satu siswa melihat kertas Andi yang masih kosong dan meledeknya, “Ah, payah, lu! Udah pake kalkulator, ngitungnya masih telat aja!”

Andi merasa terganggu dengan celotehan temannya. Ia melirikkan matanya yang tajam ke arah teman yang duduk di sebelah kanannya itu. “Heh, ini hp siapa? Ini hp gue! Jadi, gue mau lambat, ke, gue mau cepet, ke, suka-suka gue!” Ia mengatakan itu dengan gayanya yang khas: gaya lebay yang biasa ada di acara lawakan. Ya, dia melakukan itu tidak sungguh-sungguh karena tersinggung temannya, tapi karena memang ia ingin memancing tawa teman-temannya. Dan ia berhasil. Semua temannya tertawa.

Saya yang melihat tingkahnya jadi sedikit terpancing. Bukan terpancing untuk tertawa, melainkan untuk menegur, “Tapi waktunya udah mau abis, Andi. Jadi, kamu harus cepet ngerjainnya.”

“Kak, ini hp siapa?” Andi malah mengulangi tingkahnya. Dan kali ini ia arahkan pada saya. “Ini hp gue! Jadi, gue mau lambat, ke, gue mau cepet, ke, suka-suka gue!” Ya, ampuuuuun… Saya tahu ia bercanda, dan saya juga ingin membalas candaannya. Sudah tanggung. Hihihi… 😀

Ting! Muncullah ide saya untuk mengalahkannya, “Heh! Ini kelas siapa? Ini kelas gue! Jadi, gue mau nyuruh lu cepet, ke, mau nyuruh lu lambat, ke, suka-suka gue!” Akhirnya saya juga bisa membuat semua siswa tertawa. Kecuali Andi. Ia terlihat sedang berpikir untuk membalas saya. Ia mulai memfokuskan pandangannya pada saya hingga pandangan kami beradu. (Jreng! Jreng…!) 😀

“Kak…” Seisi kelas menanti apa yang akan diucapkan Andi pada saya. “Emangnya tempat bimbel ini milik nenek moyang lu, apa?” Dezigg!! Saya tersentak sambil menahan tawa. Saya pun memutar otak untuk membuatnya tak bisa berkutik lagi. Uuuuhh!!

“Ayo, bales lagi, Kak!” Mereka, para siswa, malah memanas-manasi saya. Baiklah, kali ini saya pasti menang!😀

“Emangnya kalau tempat bimbel ini bukan milik nenek moyang gue, trus, milik nenek moyang lu, apa?”

“AAAHHAAAAHAHAHAHAAAA…Kalah, luuuu!!” Semua siswa tertawa sambil menepuk pundak Andi. Andi hanya tertunduk.

“Udah, udah! Cepet, kerjakan lagi soalnya!” Saya segera mengalihkan perhatian agar permainan ini tidak berkepanjangan. Yes! Saya berhasil. ^^

2 thoughts on “Nggak Mau Kalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s