Hampir Saja!

Hari ini, hampir saja saya dan Esti (rekan kerja sekaligus teman satu kost saya) kehilangan harta yang kami bawa menuju lokasi mengajar, mungkin dompet, handphone, laptop, atau DVD eksternal yang ada di dalam tas kami. Ini sangat menegangkan, namun membuat kami (pada akhirnya) sangat bersyukur pada Allah Swt.

Kemarin, seperti biasa, saya dan Esti mendapatkan pesan berisi jadwal untuk mengajar hari ini. Ada yang berbeda dengan jadwal kami. Biasanya, walaupun satu lokasi mengajar, jadwal kami tak pernah sama. Namun, kali ini kami sama-sama ditugaskan untuk mengawas ujian dengan rentang waktu yang sama, yaitu pukul 13.15-17.30. Akhirnya, kami putuskan untuk berangkat bersama sekitar pukul dua belas siang.

Dari tempat kost, kami berjalan menuju jalan raya dengan menyusuri gang dan melewati sungai yang pernah saya ceritakan di tulisan sebelumnya (baca: Sungai yang Sesuatu). Namun kali ini air sungai hanya tampak berwarna coklat, tidak ada sampah yang terlihat ikut terbawa arus sungai (Sip!). Setelah berhasil menyeberang jalan, kami pun menaiki angkot yang bisa mengantarkan kami lebih cepat karena angkot ini biasanya melewati jembatan layang yang bebas hambatan.

Angkot yang kami naiki ini sepi. Di dalamnya hanya ada supir dan tiga penumpang: saya, Esti, dan seorang penumpang pria yang duduk di depan (di samping supir). Saya memilih untuk duduk di pojok belakang sejajar dengan pintu, sedangkan Esti duduk di depanย  saya (tetapi tidak terlalu pojok), sehingga kami bisa dikatakan hampir berhadapan.

Angkot melaju kemudian berhenti lagi karena ada penumpang yang akan naik. Seorang bapak berkumis serta berbadan besar memasuki angkot dan duduk tepat di belakang supir atau di sebelah kanan Esti. Beliau melihat-lihat ke arah kami seperti mempelajari situasi. Dan saya perhatikan, beliau lebih sering melihat ke arah saya.

Belum lama angkot melaju, angkot berhenti kembali. Naiklah seorang bapak yang membawa tas jinjing dan map plastik berisi amplop besar. Awalnya, beliau duduk di dekat pintu atau di sebelah kiri saya. Namun, saya melihat bapak berkumis tadi mengarahkan telunjuknya ke tempat duduk pojok di hadapan saya. Akhirnya bapak yang membawa map ini pun pindah ke sebelah kiri Esti sambil berkata, “Pindah ke sini, ah, saya masih jauh turunnya.” Ini membuat Esti harus sedikit bergeser sehingga kami tidak bisa dikatakan hampir berhadapan lagi. Sekarang yang ada di hadapan saya jelas bapak yang baru saja pindah tempat duduk ini. Dan posisi Esti kini berada di antara kedua bapak itu.

Keheranan saya yang pertama : Kedua bapak ini terlihat tidak saling mengenal. Namun, mengapa bapak berkumis tadi memberi tanda seolah meminta bapak pembawa map untuk pindah tempat duduk. Tapi, ah, ya sudah. Tidak ada salahnya kalau ada penumpang yang ingin duduk di pojok. Toh, saya juga duduk di pojok.

Keheranan saya yang kedua : Mengapa sepanjang jalan bapak berkumis ini terus memperhatikan saya? Ada apa dengan saya? Sampai sini saya masih juga berpikir positif: mungkin hari ini saya terlihat cantik. Tapi walaubagaimanapun, diperhatikan seperti itu tetap saja membuat saya risih. Saya tidak suka.

Bapak pembawa map berkomunikasi dengan temannya lewat telepon. Saya tidak mencurigai apapun karena wajar saja ada penumpang yang menggunakan handphone untuk berkomunikasi saat berada di dalam angkot. Saya tidak begitu memperhatikan apa yang dibicarakannya. Lagipula, untuk apa menguping pembicaraan orang lain. Namun, walaupun saya tidak menguping, saya bisa menangkap inti pembicaraannya: beliau memberitahukan posisinya saat itu.

Sebentar lagi, angkot memasuki jembatan layang. Tiba-tiba bapak berkumis meminta supir angkot untuk melalui jalur bawah jembatan saja. Spontan saya berkata pada Esti, “Yaaaaah… Lewat bawah, Es!” sambil menampakkan wajah kecewa. Ya, sudah. Tidak apa-apa. Saya dan Esti juga memang sedang tidak terburu-buru. Hanya saja tadinya kami ingin menghindari “lampu merah” yang angkanya sampai ratusan. Mungkin bapak berkumis itu akan turun di perempatan ini, atau agak di depannya (setelah “lampu merah”) karena ternyata di “lampu merah” ia tidak turun juga.

Di perempatan ini (atau lebih tepatnya perdelapanan, karena banyak sekali belokannya), masuklah pengamen jalanan. Ia duduk di bangku kecil tambahan dekat pintu. Ia memetik gitar sambil bernyanyi. Sang pengamen merasa terganggu permainnannya saat ada penumpang lain yang akan memasuki angkot. Lagi-lagi seorang bapak yang berbadan besar namun kali ini terlihat agak ramah. Bapak yang membawa amplop putih berisi kertas-kertas berwarna hijau ini duduk di dekat pintu atau di sebelah kiri saya. Karena merasa terganggu, pengamen itu sedikit menggerutu lalu mulai memainkan gitarnya lagi. Yang memberi recehan pada pengamen itu hanya bapak berkumis dan bapak yang disebelah kiri saya. Setelah mengucapkan terima kasih, lagi-lagi ia menggerutu. Saya tidak peduli karena saya tahu betul kalau pengamen yang satu ini memang sering menggerutu.

Bapak pembawa map yang ada di hadapan saya, tiba-tiba berkata, “Itu orang kok ngomel-ngomel terus, ya? Tadinya saya mau ngasih duit. Tapi karena saya lihat orangnya marah-marah terus, saya nggak jadi ngasih.” Saya hanya tersenyum menanggapinya. Beliau mengatakan hal serupa juga pada Esti. Esti pun demikian. Ia hanya tersenyum sambil tetap asyik memainkan handphone di tangannya.

Lampu merah kini berganti hijau. Angkot kembali melaju. Tidak lama kemudian berhenti lagi. Naiklah seorang pria muda berjaket. Ia duduk di tempat yang diduduki pengamen tadi.

Baru saja angkot melaju, penumpang yang duduk di depan meminta supir untuk berhenti. Ia telah sampai di tempat tujuannya. Setelah penumpang itu turun, bapak pembawa map berkata pada pria muda, “Dek, duduknya di depan aja. Kalau duduk di situ takut menghalangi penumpang lain yang mau naik.”

Pria muda itu menurut saja. Ia pun kini duduk di samping supir. Jadi, yang duduk di belakang tinggallah saya, Esti, dan tiga orang bapak-bapak tadi.

Keheranan saya yang ketiga : Mengapa bapak pembawa map itu menyuruh pria muda untuk pindah ke depan? Kalau memang alasannya karena takut menghalangi penumpang lain yang akan memasuki angkot, suruh saja pria muda itu duduk di antara kami. Tempat duduk di belakang ini kan masih sangat lengang. Kali ini saya tidak tahu harus berpikir positif apa.

Supir melajukan angkotnya kembali, dan…hey! Ini sudah melewati titik akhir jembatan layang!!

Keheranan saya yang keempat : Mengapa bapak berkumis yang meminta supir untuk melewati “jalan bawah jembatan” ini belum turun juga? Kalau memang tidak akan turun di sekitar “lampu merah” tadi, seharusnya beliau setuju saja kalau supir melewati jembatan layang yang jelas-jelas bebas hambatan dan bisa mengantarkan kami lebih cepat. Ada yang aneh di sini.

Angkot terus melaju. Saya melihat bapak pembawa map itu berkomunikasi dengan Esti cukup lama. Setelah itu Esti memasukkan handphone-nya ke dalam tas. Saya berpikir, mungkin bapak itu menyuruh Esti untuk mengamankan handphone-nya, atau beliau juga mengatakan untuk tidak sembarangan memainkan handphone di dalam angkot. Mungkin bapak itu melihat adanya gelagat perampokan di dalam angkot yang kami naiki ini.

Keheranan saya yang kelima : Jika bapak itu berniat untuk menolong, mengapa peringatan itu dilakukannya terang-terangan? Tidak takutkah ia ketahuan oleh perampoknya jika memang perampok itu ada di dalam angkot? Mengapa ia melakukan itu seolah justru memberi suatu tanda pada bapak pembawa amplop?

Bapak yang duduk di sebelah kiri saya tiba-tiba mengeluarkan kertas-kertas berwarna hijau dari amplop putih yang dibawanya, lalu membagi-bagikannya pada saya, Esti, dan dua bapak-bapak lainnya. “Ini ya, Dek, kasihkan sama orang tua kalian. Ini ada pengobatan penyakit parah tanpa operasi. Tempatnya ada di daerah sana,” begitu katanya sambil menunjukkan arah di mana tempat itu berada membuat mata saya dan Esti serempak melihat ke arah tersebut.

Keheranan saya yang keenam : Mengapa bapak ini baru sekarang membagikan brosurnya? Mengapa tidak sejak tadi? Mengapa tidak sejak pria muda tadi masih duduk di belakang?

“Pengobatannya sederhana aja. Contohnya begini…” Bapak yang sedang berpromosi itu tiba-tiba menarik tangan bapak berkumis lalu memijat-mijatnya. Ini gelagat tidak baik!!! Saya pernah membaca artikel tentang kasus ini: kasus perampokan dengan metode memijat tangan dan kaki penumpang. Saya tidak berpikir panjang lagi. Saya tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi di dalam angkot. Saya langsung meminta supir untuk menghentikan laju angkotnya, “Kiri, bang!” sambil menampakkan wajah yang sesantai mungkin. Saya mengembangkan senyum pada Esti dan menatapnya seolah saya mengajaknya untuk turun. Esti tampak kebingungan karena saya mengajaknya turun di tempat yang bukan tujuan kami. Sebelum kami turun, Bapak yang sedang berpromosi tadi menghentikan praktek memijatnya dan menarik kembali brosur yang kami terima tadi.

Keheranan saya yang ketujuh : Jika memang berniat beriklan dan menyebarkan brosur, mengapa brosur di tangan kami diambil lagi olehnya?

Saya dan Esti sudah berdiri di pinggir jalan. Saya lemas. Tubuh saya bergetar. Napas pun tak karuan. Saya ber-istighfar berkali-kali sambil berusaha menenangkan diri sendiri. Esti masih terlihat heran. Sepertinya ia masih belum sadar sepenuhnya dengan apa yang baru saja terjadi. “Aku juga merasakan keanehan selama di angkot tadi. Cuma aku masih cuek-cuek aja, ” ujar Esti.

Napas saya masih terengah-engah, “Bentar dulu, Es.. Dini masih belum bisa jelasin. Masih lemes banget.. Yang penting kita naik angkot dulu, deh.. Ya, Allah, Es.. Ngeri banget tadi…” Saya berceloteh sendiri sambil terus melihat kendaraan-kendaraan yang melintas, mencari angkot yang bisa mengantarkan kami langsung ke lokasi mengajar.

Sebuah angkot berhenti di depan kami. Kami memilih untuk duduk di depan, di samping supir. Sudah duduk pun saya masih saja mengatur napas saya. Setelah sedikit tenang, saya pun mulai menjelaskan kejadiannya pada Esti. Kami berdiskusi dan keheranan-keheranan saya sedikit demi sedikit terjawab juga. Ya, bapak-bapak itu, mereka bertiga bisa jadi adalah komplotan pencuri.

1. Bapak pembawa map pindah tempat duduk agar posisinya menjadi pas untuk beraksi. Beliau jadi lebih dekat dengan saya dan Esti. Beliau pindah setelah mendapat aba-aba “telunjuk” dari bapak-bapak berkumis. Pasti mereka berdua saling kenal.

2. Bapak berkumis berkali-kali menatap saya mungkin saja sedang melihat-lihat situasi. Sepertinya beliau bukan tertarik pada wajah saya, tapi pada dua tas yang saya bawa. Atau, mungkin juga beliau sedang mencari tahu di mana saya simpan handphone saya.

3. Bapak berkumis meminta supir untuk melewati jalan bawah jembatan bukan karena beliau akan turun di sekitar “lampu merah”, melainkan agar temannya, yaitu bapak pembawa amplop (yang melakukan promosi) yang sedang berada di sekitar “lampu merah” bisa naik angkot yang kami naiki.

4. Bagaimana temannya itu bisa tahu bahwa kami ada di angkot ini? Mudah saja. Bukankah tadi bapak pembawa map menghubungi seseorang dengan menggunakan handphone-nya sambil memberitahukan posisinya saat itu?ย Hmm..

5. Bapak pembawa amplop tidak segera melakukan promosi karena beliau masih terganggu dengan keberadaan pria muda. Akhirnya bapak pembawa map meminta pria muda untuk pindah saja duduknya ke depan (ke samping supir) dengan alasan supaya tidak menghalangi penumpang lain yang akan memasuki angkot. Padahal, itu hanya trik saja agar mereka bertiga bisa dengan mudah melakukan aksinya pada saya dan Esti.

6. Mengapa bapak pembawa map meminta Esti untuk memasukkan handphone-nya ke dalam tas sampai berkali-kali? Apakah beliau justru orang baik yang memberikan perlindungan? Wallaahua’lam. Dari sekian keheranan saya akan beliau, saya tidak yakin jika beliau adalah orang baik. Coba kita perhatikan kejadian selanjutnya: bapak yang melakukan promosi mulai memegang tangan bapak berkumis sambil memijat-mijatnya. Posisi mereka yang seperti itu jelas-jelas “mengepung” saya dan Esti. Perbuatan mereka seolah-olah ingin memusatkan perhatian kami pada praktek tersebut. Tidakkah itu memungkinkan bapak pembawa map menjadi mudah untuk sedikit demi sedikit mengambil barang kami? Jika handphone Esti masih saja dipegang olehnya, bagaimana bisa bapak pembawa map tersebut mengambil handphone dari tangan Esti? Tentu akan menjadi lebih mudah jika handphone itu ada di dalam tas Esti, terlebih lagi bapak pembawa map itu tahu betul di mana Esti menyimpan handphone-nya.

7. Mengapa bapak pembawa amplop itu meminta kembali brosur yang sudah kami terima? Bukankah seharusnya beliau membagikan lebih banyak pada kami agar kami bisa menyebarkannya pada yang lain? Kemungkinannya adalah beliau tidak punya persediaan kertas yang lain. Atau, bisa juga beliau mengurangi resiko karena bisa saja kami curiga dan melaporkan mereka ke polisi dengan berbekal alamat tempat pengobatan tersebut.

Semua keanehan ini tidak bisa membuat saya berpikir positif lagi tentang mereka. Ditambah lagi saya memang sudah pernah membaca kisah yang sama. Teman-teman, terutama para pengguna angkot, sebaiknya selalu waspada. Berdoalah sebelum bepergian, mintalah perlindungan pada-Nya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selama kita berada di dalam perjalanan. Kalau tidak ada pertolongan Allah, saya dan Esti tentu tidak akan selamat. Alhamdulillaah… Terima kasih, Allah..๐Ÿ™‚

Semoga Allah selalu melindungi kita. Aamiin..๐Ÿ™‚

8 thoughts on “Hampir Saja!

  1. alhamdulillah..syukurlah msih trjaga kwaspadaanya..
    Yupz walopun ga tnggal d kota bsar yg jg trkadang rawan kjahatan tntuna tp sngt berarti mngingat kjahatan bsa muncul d skeliling qta..dn trnyata beraneka ragam jg ya modusnya..hehe..

  2. Salah satu kelebihan seorang dengan kecerdasan logika-matematika yang menonjok adalah dapat dengan mudah mengumpulkan premis-premis dan menysunnya dalam sebuah prediksi. Dalam bahasa awam dikatakan memiliki intuisi yang tinggi. Jadi yg terjadi pada Dini adalah sebuah intuisi yang kuat karena memang Dini memiliki kecerdasanlogika-matematika yang menonjol.

    Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menghindari kejahatan di kendaraan umum:

    1. Percaya pada apa yang nurani kita katakan. Jika merasa ada sesuatu yang terasa janggal, segera turun, karena apa yang bawah Sadar kita katakan itu biasanya benar.

    2. Bila ada orang tidak dikenal banyak bertanya dan mengajak ngobrol, setiap pada pertanyaan ke 3, ubahlah topik pembicaraan atau jawab dengan jawaban yang tidak nyambung. Jangan sampai kita diarahkan untuk terfokus Dengan obrolan orang tersebut, karena semakin kita fokus ke 1 titik, semakin kita lengah dengan hal lain. Ini yang digunakan para pencopet. Memanfaatkan kelengahan karena membuat kita fokus dengan hal lzin, misal: obrolan, pijatan, atau ada yg tiba2 muntah.

    3. Biasakan membaca doa atau zikir di perjalanan.

    • Kecerdasan logika matematika? waw.. semoga dini benar-benar memilikinya.๐Ÿ™‚

      Anyway, makasih banyak buat tips-nya. Sangat bermanfaat. Semoga para pengunjung blog baca bagian tips-nya juga. ^^

  3. Wow… amazing.. luar biasa.. fantastis… bombastis…fenomenal…. kembali ke dinidinidini…. hehehehe TOP BGT … makasih info dan tipsnya jg tulisannya… keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s