Miris…

pray
Sumber Gambar

Shalat adalah tiangnya agama.

Jika boleh saya berpendapat mengenai kalimat di atas berdasarkan pengetahuan yang saya miliki, maka saya akan mengartikannya sebagai berikut:

Anggaplah Islam sebagai sebuah bangunan dan shalat sebagai tiang-tiang yang mengokohkan bangunan. Lalu bangunan tersebut dibuat indah dan elegan dengan amal-amal baik sang pemilik bangunan. Temboknya dicat dengan warna yang memanjakan mata. Setiap ruangan dilengkapi dengan segala perabotan yang mewah, serta dekorasi yang bernilai mahal. Namun, apalah arti dari semua itu ketika tiang bangunan tersebut tidak kokoh? Cepat atau lambat, bangunan itu akan rubuh, menimpa segala kemewahan di dalamnya. Maka yang didapat hanyalah kehancuran. Shalatlah yang akan membuat bangunan itu kokoh. Shalatlah yang akan membuat seluruh kebaikan menjadi bermakna.

Suatu saat saya shalat maghrib di sebuah mushala. Seusai shalat, tidak sengaja saya mendengar dua orang remaja SMA bercerita satu sama lain. Karena suara mereka begitu keras, mau tidak mau kalimat-kalimat yang mereka ucapkan akhirnya masuk juga ke telinga dan terolah di otak saya.

“Eh, gue belum shalat ashar!” Ujar siswa yang rambutnya sebahu.

“Ini udah masuk maghrib, kali. Udah ga bisa, lah,” temannya menimpali dengan santai.

“Yah.. Mana tadi juga gue ga shalat dzuhur, lagi.”

“Parah, Lu! Tapi gue juga kadang suka gitu kalo lagi males. Hahaha..”

MasyaAllah.. Kata-kata seperti itu diucapkan mereka dengan nada bicara yang tak menunjukkan penyesalan sama sekali. Ada yang salah di sini. Mungkinkah orang tuanya yang tidak mendidik anak-anaknya dengan benar? Ah, saya tidak berani menyalahkan orang tua mereka. Lebih baik saya bersyukur saja karena orang tua saya telah berhasil mendidik saya untuk tidak meninggalkan shalat. Tapi, bagaimana bisa seusia mereka masih tidak paham dengan pentingnya shalat? Minimal, seharusnya mereka tahu betul bahwa meninggalkan shalat adalah perbuatan dosa yang sangat dibenci Allah.

“Dosa, Lu! Lu harus minta maaf tuh sama Allah,” temannya mengingatkan gadis berambut sebahu tadi.

“Iya, gue mau minta maaf abis shalat maghrib.”

Wah, mereka terlalu menyepelekan shalat. Hati saya jadi tidak enak mendengar percakapan mereka. Tidak sadarkah mereka dosa yang telah mereka perbuat? Mereka seperti sedang berupaya menghancurkan “bangunan” mereka sendiri. Saya tidak mampu menegur, hanya mengeluh dalam hati. Terbesit doa semoga mereka disadarkan oleh Sang Khalik. Dan semoga anak cucu saya kelak adalah hamba-hamba yang tidak pernah meninggalkan shalat. Aamiin..šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s