Sang Jenius yang Protes

Student Reading at Desk
Sumber Gambar

Di suatu hari, tepatnya hari Senin, saya mendapatkan jadwal mengajar kelas 8 SMP. Kelas yang satu ini cukup padat dan berisik. Jumlah siswa putera lebih banyak daripada jumlah siswa puteri. Kelas ini didominasi oleh siswa-siswa yang pintar namun sangat kurang dalam hal sopan santun. Keluar masuk kelas tanpa permisi, berbicara keras-keras atau bermain game saat pengajar menjelaskan materi, serta masuk kelas tidak tepat waktu setelah waktu istirahat habis. Mereka sudah pernah saya nasehati, dan kini mereka sudah sedikit lebih baik.

Materi yang harus saya sampaikan saat itu adalah tentang persamaan garis lurus. Sebelum memahami materi tersebut, siswa harus memahami tentang gradien atau kemiringan suatu garis. Dan itu sudah mereka pelajari pada pertemuan sebelumnya. Setelah menjelaskan materi, saya memberikan contoh soal. Kemudian, saya mengerjakannya dengan cara yang prosedural (menggunakan rumus yang baru saja diperkenalkan), sekalian saya memberikan contoh bagaimana menggunakan rumus untuk membuat persamaan garis. Soal tersebut sebenarnya bisa saja diselesaikan dengan hanya melihat gradiennya saja, sehingga akan lebih mudah dan singkat pengerjaannya. Namun, cara tersebut rencananya akan saya sampaikan nanti agar siswa dapat memahami bahwa soal seperti ini dapat diselesaikan dengan dua cara dan mereka bebas mau memilih cara yang mana.

Setelah saya menjelaskan cara menyelesaikan soal dengan rumus, tiba-tiba ada siswa yang mengungkapkan pendapatnya (lebih tepatnya protes). Siswa putera berkuliat putih dan berkacamata ini saya akui memang cerdas. Ia bisa memahami materi lebih cepat dibandingkan teman-temannya yang lain. Namun, gaya bicara saat dia berpendapat sungguh membuat seisi kelas merasa terganggu. Berikut percakapan kami dalam kelas.

Siswa A : Kak! (sambil mengangkat tangan)

Saya : Iya?

Siswa A : Itu ngapain pake cara yang panjang-panjang gitu? Kan tinggal liat gradiennya aja juga udah bisa dikerjain!

Saya : Iya, kamu betul. Memang bisa seperti itu. Hanya saja saat ini kakak ingin menjelaskan cara yang menggunakan rumus terlebih dahulu.šŸ™‚

Siswa A : Tapi kan ribet, Kak!

Saya : Ya, udah. Kalau kamu ngerasa ribet, kamu pake cara cepet yang itu juga nggak apa-apa. Bagus.šŸ™‚

Siswa A :Ā  Oh, jadi yang dijelasin sama Kakak itu cara lambatnya, ya??

Saya : (Dezigg!) Bukan begitu.. Kakak jelasin cara ini agar teman-teman kamu yang lain paham dulu dengan rumusnya.

Siswa B : (Berkata pada Siswa A) Lu nantangin guru, ya??

Siswa A : (Menanggapi Siswa B) Nggak! Gue nggak nantangin! Gue cuma nanya! Emangnya nggak boleh nanya??

Siswa B : Ya kan tadi kakaknya udah jelasin! Gue tau ya Lu pinter! Kalau masih kurang puas, nanyanya nanti aja di luar kelas! Kita kan mau belajar lanjutannya!

Akhirnya saya menenangkan mereka dan melanjutkan pembelajaran. Cape, deh.. (_ _”)

7 thoughts on “Sang Jenius yang Protes

  1. gado2 jg ya karakter murid tuch..
    Jd merasa trtantang..hmm smoga bsa..pembelajaran karakter sangat penting neh..

  2. Hehehe… seringkali siswa yang lebih menonjol merasa kurang diperhatikan karena guru memilih untukmemperhatikan mayoritas yang pemahamannya masih dasar. Langkah terbaik untuk mengakomodasi siswa seperti itu adalah dengan memberi perhatian dan pemahaman kepadanya bahwa, sebelum bisa menggunakan cara cepat dengan tepat, teman-temannya perlu tau juga asal cara lambatnya agar mengerti, bukan hanya bisa. Kemudian, ajak si pintar ini untuk membantu temannya untuk mengerti materi tersebut. Dengan begitu si pintar merasa memiliki peran di kelas.

    • Ooh.. begitu, ya. Abis mau gimana lagi. Kalau di awal pembelajaran kan pastinya perhatian kita merata, ga langsung hanya ke si pintar aja. Udah gitu, siswanya juga banyak. ga mungkin bisa melayani mereka satu per satu dalam waktu yang hanya satu jam. Si pintar ini juga kadang bermanja-manja sama dini saat dia tanya soal TF yang nggak dia ngerti. Yang dini perhatikan, emosinya nggak stabil. Lebih sering keliatan cape, uring-uringan. Tapi dia emang pinter, sih. Pernah suatu saat dia tidur di kelas, dini biarin aja. Kasian juga soalnya.šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s