Sebulan Bersama Kecoa, Cacing, Tikus, dan…Kuburan!

KKN MBS

Empat tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2009, saya bersama teman-teman dari jurusan dan fakultas yang berbeda-beda tergabung dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kami ditugaskan di salah satu  sekolah dasar di daerah Cimahi. Bukan untuk menjadi guru, melainkan untuk mendata hampir seluruh administrasi sekolah, serta memunculkan ide-ide kreatif yang mungkin kami sumbangkan untuk sekolah tersebut.

Berhubung letak sekolah cukup jauh dari tempat tinggal kami masing-masing, maka kami membutuhkan satu tempat tinggal yang dekat dengan lokasi sekolah tersebut. Awalnya kami mempercayakan pada dua orang dari kami untuk mencari tempat tinggal yang layak untuk kami. Tidak perlu waktu yang lama, kedua teman kami itu berhasil menemukan rumah yang bisa kami tinggali kurang lebih 40 hari. Bagusnya lagi, rumah untuk laki-laki dan perempuan terpisah, namun saling berdekatan. Biaya sewa rumahnya pun terbilang murah. Awal yang bagus, saya pikir.

Di antara teman-teman yang lain, sayalah yang membutuhkan perbekalan dan segala perlengkapan yang lebih banyak. Jadi, saya putuskan untuk mengangkut barang-barang saya lebih dulu agar bisa diantar oleh keluarga saya. Saya pun diberi alamat rumah yang lengkap dan mencarinya dengan semangat. Saya penasaran, seperti apa rumah yang akan saya tempati.

Ternyata rumah tersebut tidak terletak di pinggir jalan. Saya harus memasuki sebuah gang terlebih dahulu dan rumah tersebut terletak di belakang sebuah rumah yang cukup mewah. Setelah melalui jalanan yang lebih sempit di pinggiran rumah mewah itu, akhirnya saya menemukan sebuah rumah kecil yang ternyata masih milik keluarga yang menempati rumah mewah tadi. Pemilik rumah memberikan kuncinya pada saya. Bismillaah.. Saya pun membuka pintunya perlahan.

Dingin dan seram. Suasana itulah yang saya rasakan ketika saya mulai menghirup udara rumah. Di sebelah kiri pintu ada sofa panjang yang sudah terlihat tua, lengkap dengan mejanya. Ruang tamu ini tidak begitu besar dan tampak tak ada sekat yang membatasinya dengan ruang keluarga. Tidak jauh dari sofa, tampak sebuah lemari berwarna cokelat, yang juga terlihat tua, berdiri mengahadap ke depan. Sebelum saya dan bapak saya memasukkan segala perlengkapan yang kami bawa, saya ingin melihat semua ruangan di rumah ini terlebih dahulu.

Di samping ruang tamu dan ruang tengah terdapat dua pintu masuk ruangan lain. Ssetelah saya nyalakan lampu, saya tahu bahwa kedua ruangan itu adalah kamar tidur, lengkap dengan tempat tidur yang sudah terlihat lapuk. Lampu neon yang redup pun semakin menambah suram suasana kamar. Ah, sepertinya rumah ini sudah cukup berusia dan entah sudah berapa lama tidak ditempati oleh manusia. Dapur dan kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumah pun sangat gelap. Sungguh, saya tidak tahu apakah saya sanggup hidup di tempat seperti ini meski hanya sebulan lebih beberapa hari.

Ya, sudah. Mau bagaimana lagi. Saya pun mengambil barang saya yang masih di luar rumah, mengangkutnya ke dalam rumah, dan menaruhnya di atas lantai, tepat di depan lemari tua, sambil sedikit membungkuk. Saat hendak bangkit, ujung mata kanan saya menangkap suatu pajangan di lemari tua. Dan hal itu menarik mata saya untuk melihatnya lebih jelas. Betapa kagetnya saya ketika sadar dengan apa yang saya lihat: sebuah foto seorang penari tradisional wanita. Wanita itu seolah-olah sedang memandang saya dengan tatapan aneh. Aduuuuh… Sepertinya pikiran saya sudah dirasuki hal-hal berbau horor. Bagaimana ini? Kini perasaan saya mengatakan bahwa ini justru awal yang buruk. Saya merasa tidak nyaman. Bahkan saat saya memasukkan barang-barang saya ke dalam rumah pun rasanya saya ingin segera pergi dari tempat yang dingin ini.

Setelah selesai memasukkan barang, saya mengunci pintu dan berjalan dengan langkah gontai. Pikiran saya tidak karuan. Otak saya dipaksa untuk berpikir keras. Saya harus menemukan jalan keluar untuk mengatasi hal ini. Ya, sepertinya saya harus mencari tempat tinggal yang lain. Tapi bagaimana dengan uang muka yang sudah diberikan pada pemilik rumah? Dan tentu mencari tempat tinggal lain juga bukan hal yang mudah, kan? Lalu, bagaimana nasib barang-barang saya di rumah itu?

Rasa takut yang terus-menerus menghantui saya akhirnya berhasil membuat teman-teman satu kelompok berkumpul. Saya menceritakan kondisi rumah pada mereka yang belum sempat mengunjungi dan melihatnya. Emosi yang begitu dalam membuat saya bercerita sambil menangis dan diakhiri dengan permohonan untuk mencari kembali tempat tinggal yang lebih layak. Saya katakan, biarkan saya ikut turun tangan dalam pencariannya dan biarkan saya yang menanggung kerugian uang muka yang sudah dibayarkan. Alhamdulillah, teman-teman pun setuju dengan usul saya.

Keesokan harinya, saya dengan ketua kelompok dan beberapa anggota lainnya berangkat menuju lokasi kami bertugas. Sesampainya di sana, kami langsung mencari rumah yang bertuliskan “DIKONTRAKKAN”. Ada satu rumah yang cukup besar di pinggir jalan raya, namun kami kesulitan menghubungi nomor yang terpampang di papan. Akhirnya kami pun meneruskan perjalanan. Tibalah kami di sebuah rumah bertingkat tiga di sebuah kompleks perumahan yang ternyata lantai duanya sudah dikontrak untuk masa KKN oleh kelompok lain. Kami ditawarkan untuk menempati semua ruangan di lantai tiga. Namun, kamar mandi yang hanya ada di lantai dua dan keadaan lantai tiga yang sedikit menyeramkan (karena memang jarang ditempati oleh sang pemilik rumah) membuat kami enggan untuk bergabung di rumah itu. Kami memutuskan untuk mencari tempat lain saja yang masih satu kompleks perumahan dengan mereka.

Setelah dilakukan pencarian yang cukup melelahkan, akhirnya kami pun mendapatkan rumah kontrakan untuk kami tinggali selama kurang lebih 40 hari. Rumah ini lebih besar dan luas. Garasi untuk motor dan mobilnya juga cukup luas. Tetangga yang dititipi kunci mengantarkan kami untuk melihat-lihat isi rumah. Tampak tidak ada sekat atau pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Di dalam rumah tersedia empat kamar tidur, dua kamar mandi (kamar mandi depan ada bad tub-nya lengkap dengan kloset duduk, sedangkan kamar mandi belakang desainnya biasa saja), sebuah dapur, dan ada sebuah ruangan terkunci di samping ruang keluarga yang belakangan kami tahu bahwa itu adalah gudang. Di lantai dua tidak ada ruangan, dan hanya dipakai untuk menjemur pakaian. Rumah ini penerangannya cukup baik dan belum lama ditinggal oleh pemilik rumahnya. Saya merasa rumah ini akan membuat saya nyaman. Harga sewanya memang lebih mahal. Tetapi itu tidak jadi masalah karena memang kenyamanan itu ada harganya. Alhamdulillah, dengan kesabaran dan kerja keras, kami menemukan rumah yang lebih baik. Langkah selanjutnya adalah memindahkan barang-barang yang sudah terlanjur saya simpan di rumah kecil yang menyeramkan itu.

Mau tidak mau kami harus berbicara pada pemilik rumah ‘seram’ itu (sebut saja begitu) untuk membatalkan sewa rumah. Sebelumnya kami sudah putar otak, mencari alasan yang sekiranya masuk di akal. Saya lupa apa yang menjadi alasan jitu kami saat itu. Yang jelas, pemilik rumah merasa keberatan untuk mengembalikan uang muka yang sudah kami bayar karena uangnya sudah beliau gunakan untuk mengecat rumah tersebut. Kami pun merelakannya agar tidak pihak ada yang merasa dirugikan.

Ketika sedang mengeluarkan barang-barang dari rumah, ponsel saya berbunyi. Terlihat di layar ponsel : Incoming call Bapa. Saya tinggalkan teman-teman yang membantu saya mengangkat barang-barang dan menuju ke samping rumah untuk menerima panggilan dari bapak saya. Mungkin bapak ingin tahu bagaimana perkembangan usaha kami mencari tempat tinggal. Di samping rumah tampak ada lahan kosong. Saya pun menekan tombol berwarna hijau di ponsel saya dan mengucap salam pada bapak saya. Suara dari balik telepon pun menjawab salam saya, dan benar saja, bapak bertanya soal rumah kami.

“Jadi, sekarang barang-barang Dini lagi diangkut?”

“Iya, Pak. Dibantuin juga sama temen-temen dini, ko.”

“Ooh.. Terus, uang muka yang sudah dibayarkan gimana? Tidak bisa kembali, ya?”

“…”

Saya terdiam sebentar. Bukan karena pertanyaan bapak saya, melainkan karena pemandangan di depan saya yang baru saya sadari kalau itu adalah…

“Halo? Din? Halo?”

Panggilan berulang-ulang dari balik telepon membuat saya pada akhirnya tersadar. “Eh, iya, Pak..”

“Kenapa?” Bapak penasaran.

“Enggak.. Ini.. Dini kan lagi di samping rumah. Terus, di samping rumah tuh ada lahan kosong gitu. Dari tadi dini berdiri di sini, dini kira ini semacam lapangan kecil, tapi ternyata ini kawasan kuburan, Pak..” Suara saya semakin pelan saat menyebutkan ‘kawasan kuburan’. Bapak saya menanggapinya dengan tawa kecil. Saya memilih untuk mengambil langkah mundur dan menjauh dari tempat itu, kembali mendekati teman-teman sambil melanjutkan pembicaraan. “Alhamdulillah, Pak… Alhamdulillah, dini nggak jadi tinggal di sini.. Eh, tadi Bapak tanya apa?”

“Iya, syukur, atuh. Itu.. Uang mukanya gimana?”

“Ooh.. Ibu pemilik rumahnya keberatan mengembalikan, soalnya uangnya udah dipake buat nge-cat rumah, katanya.”

“Ya, sudah. Nggak apa-apa. Kalau teman-teman dini keberatan, katakan aja biar dini yang tanggung kerugiannya. Nanti bapak aja yang ganti.”

“Nggak apa-apa, Pak?” Saya merasa tidak enak pada bapak saya. Gara-gara saya yang penakut, bapak saya jadi harus menanggung uang muka sewa rumah yang tidak jadi disewa.

“Nggak, nggak apa-apa. Sok, dini lanjutkan lagi ngangkut barangnya. Hati-hati, ya!”

“Iya, makasih, Pak.”

Assalamualaikum.

Setelah saya jawab salam dari bapak, saya pun kembali bergabung dengan teman-teman saya dan memberi tahu apa yang baru saja saya lihat di samping rumah.

Singkat cerita, semua anggota KKN tiba dengan perlengkapan masing-masing. Kegiatan kami di hari pertama adalah membersihkan rumah. Rumah ini memang tidak menyeramkan, tetapi… di rumah ini banyak ditemukan kecoa, serangga rumah yang paling saya takuti. Hewan ini justru sering muncul dari kamar mandi depan yang awalnya saya kira kamar mandi itu lebih bersih daripada kamar mandi belakang. Ah, ini sangat mengancam saya. Karena keberadaan makhluk yang satu itu kerap kali membuat saya takut berlebihan, bahkan bisa sampai membuat saya menangis.😦

Keadaan itu membuat saya tidak mau berlama-lama di kamar mandi. Bahkan, saya terpaksa pulang ke rumah orang tua saya seminggu sekali untuk mencuci pakaian-pakaian kotor saya. Saat kebagian tugas mencuci piring pun mata saya tidak pernah fokus atau konsentrasi pada piring-piring yang sedang saya cuci. Justru mata saya sibuk melihat ke sana ke mari, khawatir ada kecoa yang tiba-tiba datang mendekat atau merayap tanpa saya sadari. Tak jarang kepala saya sampai harus bergerak ke kanan, kiri, bahkan belakang untuk memastikan tidak ada kecoa di sekitar saya.

Di kamar mandi belakang memang jarang muncul kecoa. Jarang bukan berarti tidak pernah, ya. Hanya saja kecoa lebih sering muncul di kamar mandi depan. Yang paling sering muncul di kamar mandi belakang adalah cacing merah, mulai dari yang pendek kecil, sampai yang panjang besar. Terkadang dalam satu waktu, saya bisa menemukan tiga sampai empat cacing yang merayap di sana. Namun, bagi saya, cacing tak seberapa menakutkannya dibandingkan dengan kecoa. Saya masih punya keberanian untuk menghadapinya, meski tubuh ini kadang merasa geli juga dibuatnya. Hehehe… 😀

Selain kecoa dan cacing, ada satu jenis hewan lagi yang menjadi “teman” kami selama tinggal di sana, yaitu tikus. Mulai dari tikus yang masih berusia kanak-kanak, remaja, sampai dewasa. Mereka banyak yang berasal dari sebuah ruangan terkunci yang dijadikan gudang penyimpanan barang-barang sang pemilik rumah. Mereka tidak keluar melalui pintu (karena mereka memang tidak memiliki kucinya. Hhahaha..), tetapi melalui fentilasi udara yang ada di atas jendela ruangan.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa gudang tersebut terletak di samping ruang keluarga. Sering juga kami jadikan sandaran ketika kami menonton televisi, rapat, atau makan bersama. Pernah suatu ketika kami sedang berbuka puasa bersama dengan segala jenis makanan yang disajikan di ruang keluarga, tiba-tiba kami dikagetkan oleh seekor tikus remaja menjelang dewasa yang loncat dari fentilasi gudang dan hampir saja mengenai makanan kami. Ia berlari kencang menuju kamar mandi belakang dan keluar melalui fentilasi kamar mandi, entah ia mau ke mana. Kejadian seperti ini sering terjadi, sehingga kami merasa terbiasa menyaksikan akrobat para tikus saat makan bersama.😀

Pernah juga saat saya dan teman saya yang perempuan  sedang menonton televisi, dan seorang teman saya yang pria sedang mandi di kamar mandi belakang. Lagi-lagi secara tiba-tiba tikus dewasa melompat dari fentilasi gudang, mendarat di depan kami, dan berlari kencang ke arah kamar mandi belakang melalui pintu bagian bawah yang bolong (sepertinya para tikuslah yang membuat bagian bawah pintu kamar mandi itu bolong). Saya dan teman saya berteriak dibuatnya. Namun, teman saya yang sedang di kamar mandi tampak tak bersuara dengan kehadiran tikus besar yang secara tiba-tiba. Di luar dugaan, justru sang tikuslah yang kembali keluar dari kamar mandi, lari terbirit-birit karena kaget telah mendapati sosok manusia di dalam kamar mandi. Mungkin sang tikus itu adalah seekor betina. Hahahahaaa.. Kejadian itu sungguh membuat kami tertawa terbahak-bahak setelah berteriak-teriak.😀

Di lantai dua, selain dijadikan sebagai tempat jemuran, juga sering dijadikan tempat kami bermain. Kami sering memanjat genting dan duduk-duduk di atasnya. Namun, setelah kurang lebih dua minggu tinggal di sana, ketika saya berhasil memanjat sampai ke puncak genting, duduk di atasnya, dan melihat-lihat keadaan di sekitar rumah, lagi-lagi saya terperanjat lalu terdiam sejenak. Ternyata, di belakang rumah kami ada area kuburan. Jadi, tepat di samping kamar mandi belakanglah letak area kuburan itu. Ini, sih, sama saja dengan rumah yang sebelumnya. Tetapi tetap saja rumah ini lebih baik. Lebih lapang dan tidak pengap. Lebih terang dan hangat. Dan…kami juga sudah lelah kalau harus mencari rumah yang lain. Kami sudah terlanjur betah. Mungkin Allah ingin menguji keberanian kami, atau ingin mengingatkan kami akan kematian yang pasti akan datang menghampiri kami.🙂

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih pada para kecoa, cacing, dan juga tikus yang telah menemani kami dalam suka dan duka KKN. Hidup bersama mereka yang saat itu begitu mengganggu, namun kini telah menjadi cerita lucu yang bisa dibagikan kepada banyak orang. Segala kejadian bersama mereka yang selalu mengagetkan kini menjadi kenangan yang menyenangkan.🙂

And of course big thank’s to Allah Swt, yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk mengalami semua ini, juga melindungi kami selama kami melaksanakan KKN.🙂

7 thoughts on “Sebulan Bersama Kecoa, Cacing, Tikus, dan…Kuburan!

      • =DHaнaɑº°˚˘˚°º≈•=Dнaнaɑº°˚˘˚°º≈•=))
        Bener2 membuat imajinasi hidup ke masa tersebut.. Jd kangen masa2 itu.. Sampai gantian sakit.. Dan yg tak terlupakan seorang asep yg msti nangis hidup tanpa hijab pd situasi trsbut. Tapi tetep asep org yg bangun paling pagi utk shlt subuh k mushola,, nu terakhir tetep weh s kodrat =DHaнaɑº°˚˘˚°º≈•=Dнaнaɑº°˚˘˚°º≈•=))

  1. haha,,, kangennya masa2 indah itu, rebutan tipi nontong sinetron Nabila, masak bareng Bu Rinceu, shalat berjamaah bareng, babakaran hui bareng, narsis di atas gebnteng, wkwkwk. Indahnya masa muda kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s