Good Day

get_image.php
Sumber Gambar

Hari ini saya mendapat jadwal mengajar sebanyak lima sesi, yaitu satu sesi di kelas 4 SD, satu sesi di kelas 6 SD, satu sesi di kelas 12 SMA IPS, dan dua sesi di kelas 10 SMA IPA. Sesi terakhir, tepat pukul 19.00 saya mengajar di kelas 10 SMA IPA. Siswanya ada lima orang. Mereka adalah si kembar Afiah dan Azkiah, Nanda, Rafi, dan Ghazi. Kami, kecuali Nanda, sebenarnya sudah kenal sejak 2 tahun yang lalu saat mereka masih duduk di kelas 8 SMP. Mereka adalah siswa yang mayoritas cerewet namun daya tangkap mereka terhadap materi yang saya ajarkan sangat bagus. Kami sudah sangat akrab sehingga tiap pembelajaran selalu berlangsung menyenangkan. πŸ™‚

Bel berbunyi, tanda waktu istirahat telah habis. Saya memasuki kelas mereka yang ada di lantai dua dengan membawa segala perlengkapan mengajar, namun saya tidak melihat satu orang pun di dalam kelas. Di sana hanya ada tas-tas mereka, juga sepasang sepatu–yang belakangan saya ketahui sepatu itu milik Azkiah. Baiklah, mungkin mereka masih ingin beristirahat. Tidak apa-apa sesekali saya biarkan. Segera saya membuka novel “Refrain”, tepat di halaman yang dibatasi oleh pembatas buku. Saya pun melanjutkan membaca.

Tiba-tiba Azkiah dan Nanda memasuki kelas, lalu memburu tas Rafi untuk mengambil sesuatu dari dalamnya.

“Gue mau yang ini, ah!” Ujar Azkiah, diikuti dengan cekikikan mereka berdua.

Merasa tak dianggap, saya pun bertanya pada mereka, “Lagi pada ngapain, sih?”

“Nyeduh minuman, Kak!” Azkiah menjawab dengan riang.

“Ya, udah. Cepetan, ya! Udah bel, tuh. Kita harus mulai belajar lagi.”

“Iya, Kak.”

Mereka pun keluar kelas lagi, buru-buru menyeduh minuman. Terdengar samar-samar percakapan rusuh mereka di lantai bawah sana, tepatnya di ruang pengajar. Di sana tersedia dispenser yang bisa mengeluarkan air panas yang mereka butuhkan. Ya, sudah, saya lanjutkan saja membacanya.

Sepuluh menit berlalu. Mereka pun mulai memasuki kelas satu per satu dengan membawa gelas minuman mereka masing-masing. Lalu, Azkiah menaruh segelas chococinno di atas meja saya, membuat mata saya berpaling dari novel. “Apa ini?”

“Itu Good Day, Kak! Buat Kakak!” Mereka menjawab bergantian.

“Waaaah… Makasiiiih…!” Saya senang sekali dan langsung saja menyantapnya. Udara dingin yang berhembus dari AC serta hangatnya chococinno yang masuk menelusuri kerongkongan yang kering adalah paduan yang menakjubkan. Alhamdulillah… πŸ™‚

Kami pun belajar bersama sambil menikmati minuman hangat, hingga bel pulang berbunyi.

This GOOD DAY makes me feel that today is a good day. Minuman ini–seperti biasa–enak, namun kali ini terasa istimewa karena mereka yang telah membuatkannya untuk saya. Thank’s kids. πŸ™‚

(Tidak ada maksud untuk promosi. Hehehe..)πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s