When I was in “Taman Wisata Matahari”

brosur twm1
Sumber Gambar

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke salah satu tempat wisata di Bogor, Taman Wisata Matahari, bersama dengan rekan-rekan kerja satu wilayah. Kami menyewa satu bus besar dan satu bus kecil, berangkat dari kantor pusat, dan–akhirnya–go to Taman Wisata Matahari! Liburan, liburan! Yaay! ๐Ÿ˜€

Sesampainya di sana, kami dikumpulkan oleh panitia di dekat pintu masuk untuk memastikan bahwa seluruh peserta sudah lengkap dan siap untuk memasuki arena wisata. Satu hal yang sedikit disayangkan, kami berkunjung ke sana di saat sekolah-sekolah juga sedang libur. Bisa dibayangkan bagaimana padatnya situasi di sana. Lahan parkir pun dipenuhi oleh bus-bus besar yang artinya di dalam sana banyak sekali pengunjung yang sudah datang lebih dulu. Padahal kami datang sebelum siang.

Setelah panitia membagikan tiket, kami pun mulai memasuki arena wisata. Hijau dan cukup sejuk. Namun, saya tidak bisa menikmati sepenuhnya karena–sekali lagi–saya melihat begitu banyak pengunjung di sana. Tujuan pertama kami adalah saung keluarga. Panitia sudah mem-booking dua saung bertingkat untuk kami beristirahat. Nasi dus dibagikan, dan kami pun makan bersama, bermain games ringan bersama, tukar kado, dan bagi-bagi doorprize tentunya. Alhamdulillah, saya berhasil menjawab salah satu pertanyaan yang dilontarkan panitia. So, I got the prize! Saya mendapatkan satu set spintrong alias alat untuk olahragaย  loncat tinggi. Jujur, sampai sekarang barangnya masih utuh, masih terbungkus plastik, alias belum dipakai sama sekali. Hehehe… ๐Ÿ˜€

taman matahari

Kami tidak selamanya bersama-sama. Panitia menyediakan waktu bebas untuk kami berpencar dan menikmati arena-arena bermain di Taman Matahari yang luasnya sekitar 30 hektar ini (Waw!). Awalnya, saya berangkat bersama dengan banyak teman. Namun, kericuhan di sana membuat kami terpisah-pisah. Saya bersama dengan 3 orang rekan saya: Eka, Mbak Yayuk, dan Teh Dyah. Beruntung ada Teh Dyah, karena beliau sudah pernah mengunjungi tempat ini dan bisa menjadi pemandu untuk saya, Eka, dan Mba Yayuk yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di sini.

Yang membuat saya tertarik saat itu bukanlah wahana permainannya, namun kios ice cream yang berada di sudut jalanan. Ah, kecintaan saya terhadap es krim sungguh tak mengenal tempat. Saya paksa teman-teman saya untuk tidak dulu bermain wahana apapun sebelum saya selesai memakan habis satuย cone ice cream rasa strowberi yang ditaburi meses warna warni ini. Hmmm… Yummiiiii… ๐Ÿ˜€

Setelah es krim ini habis hingga tetes terakhir (loh?!), kami memilih untuk mencoba wahana perahu dayung. Hey, saya sedikit berpikir untuk setuju. Kenapa? Karena sebelumnya saya tidak pernah mengendarai perahu dayung. Dan kalau orang tua saya bersama saya saat itu, hampir dapat dipastikan bahwa saya tidak mendapat izin untuk melakukannya. Namun, saat itu adaย  dorongan dalam diri saya untuk mencobanya. Dan ini pasti akan menjadi hebat bagi saya–yang tidak pernah mendayung. Baiklah, dengan basmalah, saya memberanikan diri untuk mencobanya.

Sebelum menaiki perahu, petugas menawarkan pada kami untuk berfoto bersama terlebih dahulu. Kami berfoto dengan mengenakan pelampung, lengkap dengan alat dayungnya. Dua orang nyengir, dua orang senyum aja. Sebenarnya, dalam nyengirnya saya, tersimpan sedikit rasa takut. Saya sampai berdoa dalam hati, semoga kami dilindungi Allah selama mendayung, dan semoga ini bukanlah foto terakhir kami. Hihihi… Horor banget… ๐Ÿ˜€

Tanpa pemandu, tanpa petugas yang menjaga, kami–hanya berempat– mendayung perahu di danau buatan yang cukup luas. Tanpa batas waktu tertentu, kami dibiarkan petugas mendayung sesuka hati, bahkan mungkin sampai Taman Wisata Matahari ini tutup. Atau mungkin kami akan ditinggal meski seluruh petugas sudah pulang ke rumah masing-masing? Hehehe.. Yang kami angkat jadi pemimpin adalah Mbak Yayuk. Saya dan Mbak Yayuk mendayung sebelah kiri, sedangkan Eka dan Teh Dyah mendayung sebelah kanan. Kami saling membagi tugas saat akan belok ke kiri, ke kanan, maju, mundur, ataupun berhenti. Sesekali perahu kami hampir menabrak perahu lain atau terombang-ambing setelah perahu boat melewati kami.

Pernah ketika kami sedang asyik mendayung, sebuah perahu boat datang mendekati kami. Perahu boat tersebut tampak dipenuhi penumpang. Belakangan kami tahu bahwa beberapa penumpang adalah rekan kerja kami, para pejantan tangguh alias para staf dan pengajar ikhwan. Saat melewati kami, mereka dengan riangnya meneriaki kami yang mulai lelah mendayung. Sang pengendara perahu dengan lihainya mengendarai perahu mereka, sesekali membuat gerakan perahu yang tiba-tiba berbalik arah hingga para penumpang berteriak–antara kaget dan menyenangkan. Namun gerakan itu tentu saja menghasilkan gelombang-gelombang ombak yang membuat perahu kami terombang-ambing. Perahu boat itu akhirnya menjauh juga dari kami. Perahu kami perlahan tenang. Kami pun saling berpandangan satu sama lain, saling menatap dengan pandangan penuh keheranan.

“Kok, perasaan ada yang aneh, ya?” Mbak Yayuk memulai bicara. Dan pertanyaan itu disambut tawa kami berempat. Ya, kami sama-sama menyadari keanehan yang dirasakan Mbak Yayuk. Para ikhwan tadi menaiki perahu boat, sedangkan kami, para akhwat, bersusah payah mendayung ke sana ke mari untuk menelusuri danau. (Can you feel it? Pokoknya aneh ajaa.. Berasa terbalik, gitu. Haha..).๐Ÿ˜€

Ternyata, dengan izin Allah, foto kami sebelum mendayung perahu bukanlah foto yang terakhir. Saat mendayung, kami berhenti di tempat yang sepi dan berfoto sejenak untuk mengabadikan momen yang–bagi saya–amazing ini.๐Ÿ™‚

992966_659556514058682_1984060700_n
Teh Dyah (kiri) dan Saya (kanan)

Setelah puas mendayung, kami pun menuju wahana lain, yaitu sebuah terowongan atau goa yang–katanya–angker. Dari luarnya saja sudah terasa hawa-hawa dinginnya. Ah, sungguh, saya nggak suka tempat semacam itu. Siapa yang mau tanggung jawab kalau ternyata saya melihat sesuatu yang tidak semestinya saya lihat? Tapi, saya juga nggak suka ditinggal sendiri di luar goa dan menjadi “kambing conge” karena mendengar “kisah seru” mereka setelah keluar dari goa.

“Ayo, Din! Biar kamu punya pengalaman baru!” Teman-teman membujuk saya hingga saya mulai membenarkan apa kata mereka–biar punya pengalaman baru. Ya, mendayung saja saya bisa. Mungkin, masuk ke tempat seram ini juga bisa. Baiklah, akhirnya saya pun mau. Kami mulai memasuki goa. Saya pegang erat-erat lengan Mbak Yayuk. Eka dan Teh Dyah berjalan di depan kami. Sedangkan seorang ibu bersama anaknya mengikuti kami di belakang. Dingin. Musik bernada horor terdengar di telinga kami. Banyak patung orang-orang China di sana. Asap-asap buatan yang menari di udara semakin menambah seram suasana. Tibalah kami di depan sebuah tirai pembatas ruangan. Kami intip sedikit, ternyata ruangan di balik tirai ini sangat gelap.

“Bu, Silakan jalan duluan,” saya meminta ibu-ibu itu untuk menjadi pemimpin kami. Namun, ternyata ibu itu menolak, malah berteriak-teriak memanggil petugas agar kami ditemani sampai ujung goa. Petugas pun akhirnya datang dan memimpin kami untuk memasuki ruangan di balik tirai itu. Tiba-tiba musik horor itu berubah menjadi suara tawa kuntilanak yang sangat, sangat nyaring. Sungguh, suara itu membuat saya spontan berteriak, “AH!! SUARA APAAN ITU???” sambil terus menggenggam erat lengan Mbak Yayuk.ย Sementara Teh Dyah dan Eka mengikuti ke mana petugas itu melangkah–di tengah gelapnya goa. Tanpa mempedulikan apapun, saya dan Mbak Yayuk sepakat untuk mundur, kembali ke mulut goa. Kami pun berlari sekuat tenaga sampai akhirnya dapat menghirup udara segar di luar goa. Saya memegang dada saya sambil mengatur napas yang terengah-engah karena lelah. Para pengunjung lain yang sedang mengantri masuk terheran-heran melihat kami yang seperti ketakutan. Hahaha.. ๐Ÿ˜€

Selain kedua wahana tadi, kami juga memasuki wahana terapi ikan. Itu, loh… Yang masukin kaki ke sebuah kolam yang isinya ikan-ikan kecil pemakan kotoran pada kulit manusia. Konon katanya ikan-ikan ini bisa mengganti sel-sel kulit yang rusak, menyembuhkan luka, dan lain-lain. Cukup dengan membayar lima ribu rupiah per jiwa, kami bisa memasuki wahana ini. Kami memilih untuk bergabung di kolam ikan yang dikelilingi para wanita. Kami duduk, dan satu per satu dari kami mulai melepas kaus kaki dan mencelupkan kaki ke kolam, kecuali saya. Saya ingin melihat dulu bagaimana reaksi teman-teman setelah dihinggapi mulut-mulut ikan. Jujur, saya–lagi-lagi–takut. Apalagi setelah melihat kaki dua orang ibu-ibu di hadapan saya yang kerap kali berteriak–entah karena sakit atau geli–setelah beberapa lama dikerumuni ikan-ikan berwarna hitam itu. Kata mereka, “Berasa kesetrum!”

Saya bingung apa yang sebenarnya mereka rasakan. Karena kerap kali mereka tertawa terbahak-bahak setelah berteriak-teriak. Wahana ini sungguh ramai dengan suara tawa dan teriak mereka. Tak terkecuali teman-teman saya. Mereka bertiga awalnya geli juga, tapi beberapa lama kemudian mereka mulai menikmatinya. Sedangkan saya? Saya hanya sesekali mencelupkan jempol kaki saya sambil menunggu ikan yang menghampiri. Namun, begitu ada ikan yang akan menyentuhkan bibirnya pada jempol kaki saya, saya spontan menarik kaki saya kembali dari kolam. Begitu seterunya.

Melihat tingkah saya, seorang ibu-ibu terlihat gereget lalu menegur saya, “Eh! Kaki Lo turunin, dong! Biar ikannya kaga ke gue semua!”

Saya tertawa, “Hehehe.. Nggak, ah, Bu. Takut…”

“Percuma Lo bayar goceng kalo kaki Lo kaga dimasukin!” Ibu itu tetap membujuk–dengan sedikit memaksa.

Saya masih saja berkutat dengan kegiatan nggak penting ini–memasukkan jempol kaki, mengundang ikan, ikan datang, kaki diangkat. Tiba-tiba saja ibu-ibu lain di dekat saya berteriak kesakitan, “AAAAHHH!! KAKI GUE PERIH!!”

Ibu itu mengangkat kakinya. Ikan-ikan yang tadinya berkumpul di sekitar kaki ibu itu pun terlihat bubar, mencari kaki lain. “AAAAHHH!! KAKI GUE!! KAKI GUE!! KAKI GUE BERDARAH!!” Spontan semua mata tertuju padanya. Ibu-ibu di sampingnya menawari tisu untuk mengelap darah. “INI BISUL GUE PADA PECAH!!”

“”Berarti bagus, tuh! Bisul Lo bakalan sembuh!” Ibu-ibu yang tadi “menceramahi” saya akhirnya angkat bicara.

“Ada hansaplas nggak, ya?” Beliau masih khawatir dengan darah yang keluar dari bisulnya itu. Saya teringat sesuatu. Saya pernah menyimpan hansaplas di dalam dompet. Setelah dicek, ternyata benar, ada satu hansaplas di dompet saya. Segera saya berikan pada beliau. “Ada lagi, nggak?” Saya hanya geleng-geleng menjawab pertanyaannya.ย  juga ikut ngilu melihat darah yang mengalir dari bisulnya yang pecah. Uuuhh…

Saya dan teman-teman tidak sanggup mengelilingi Taman Wisata Matahari yang luas ini hanya dengan berjalan kaki. Akhirnya kami putuskan untuk menaiki mobil wara-wiri. Mobil yang kami naiki berbentuk hewan yang besar, seolah-olah kami berada di dalam perut hewan tersebut. Mobil ini mengantarkan kami ke seluruh area.

Sudah pukul tiga sore. Kami harus kembali ke saung. Kami saling bertukar cerita satu sama lain. Ada yang naik flying fox, arung jeram, dan permainan lainnya. Ada juga yang tidak bisa menikmati wahana apapun karena harus menjaga anaknya yang masih sangat kecil untuk diajak bermain. Setelah diabsen kembali satu per satu, kami pun pulang.๐Ÿ™‚

6 thoughts on “When I was in “Taman Wisata Matahari”

  1. Thnx ya, say.. a nice story..^^
    Waktu keluar dr gua horor tea, itu tth sm eka meuni seuseurian.. soalna trnyata setelah tirai eta teh udah deket pisan ke jalan keluar.. tinggal semeterlah kira2.. cm emng itu suara kuntilanakna paraaaaahhh.. ngadaregdeg tth oge gogowakan ddlm sm si eka.. hihi.. smpe di luar, teh milarian dini sm mb yayuk.. bingung
    …. soalna pas masuk pan rame2, eh keluarnya knp cm ber2?????… hmmm… trnyata kalian sdh melarikan diri duluan.. tapedeeehh..^^
    Btw, kykny dini beli es krimnya 2 kali deh ya? (Ooooops….) hihi.. laper apa doyan, neng??๐Ÿ˜‰ piss ah.. hehe..^^

    • Wah, berarti tinggal dikit lagi aja dini mecahin rekor diri sendiri, tuh.. Kirain masih panjang.. Kalo ga ada suara itu, mungkin dini masih berani.๐Ÿ˜€

      Iya, dua kali, teteh. Bukan laper, tapi doyan bangetbangetbanget. Enak pisan, ih! ^^

  2. Hai din

    Tadi kan aq abis cobain fish spa di twm, trz aq baca artikel soal fish spa berbahaya n bisa menularkan penyakit, kamu lama ga fish spa nya?
    Kamunya ga apa2 kan ya?
    Aq jadi parno gila ini

    Plis reply
    Via email jg ga papa

    Thx

    • Hai, hai, hai!๐Ÿ˜€

      Dalam artikel ini udah jelas ko kalo aku cuma berani masukin jempol kaki sesekali aja. Pas ikannya mau “nyerang”, diangkat lagi deh kakinya. Serem. Hehehe.. :p

      Awalnya aku ga berani masukin kaki karena serem sama ikan-ikannya yang pada “nafsu”. Setelah ada kejadian pengunjung pecah bisulnya gara2 digigit ikan, aku jadi mikir kalo kolam itu jadi ga steril. Dan entah orang lain bawa penyakit kulit jenis apa lagi yang pengen diobatin di situ. xO

      Aku alhamdulillah ga apa2. InsyaAllah ga akan apa-apa, lah. Berpikir positif aja. Asalkan kakinya dicuci pake sabun, lebih bagus sabun anti kuman semacam detol (bukan promosi, ya). Jangankan fish spa, teh atau kopi aja kan ada pro dan kontranya. Ada yg bilang bagus dan ada juga yg bilang bahaya. Iya, ngga?๐Ÿ™‚

      InsyaAllah ga akan kenapa-kenapa. Temen-temen aku waktu itu yg nyobainnya aga lama juga Alhamdulillah ga apa2. Padahal satu kolam sama pengunjung yg bisulnya pecah di tempat.๐Ÿ˜‰

    • Senang juga tulisan saya sudah dibaca oleh anda. Terima kasih banyak, ya. InsyaAllah kapan-kapan kalau ada kesempatan, saya akan berkunjung lagi ke sana. Sukses terus untuk Taman Matahari. Semoga semakin baik dan terus berkembang.๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s