Say ‘Love’

Di tempat saya mengajar, tiap semester diadakan pengangketan pengajar. Setiap siswa diberikan beberapa angket untuk menilai pengajar-pengajar yang mengajar mereka di kelas. Angket itu berisi pernyataan-pernyataan yang harus ditanggapi dengan jawaban ‘sangat setuju’, ‘setuju’, ‘kurang setuju’, ‘tidak setuju’, dan ‘sangat tidak setuju’. Pada bagian bawah lembar angket terdapat dua buah pernyataan yang harus dilengkapi oleh siswa sesuai dengan penilaian mereka terhadap pengajar yang bersangkutan, terutama mengenai cara mengajarnya di kelas. Dua pertanyaan tersebut adalah :

(1) Hal yang paling saya sukai dari kakak adalah :

(2) Hal yang kurang saya sukai dari kakak adalah :

Komentar-komentar seperti “kakak baik”, “tulisannya rapi”, “menerangkan materi dengan jelas”, “humoris”, “perhatian”, “tidak suka marah-marah”, merupakan komentar yang biasa. Begitu pun sebaliknya. “Kakak suka marah-marah”, “menjelaskan materi terlalu cepat”, pun itu sudah biasa.

Namun, dari sejumlah angket yang saya terima, ada satu angket yang menarik perhatian saya. Angket dari seorang siswa kelas 9 SMP.

image

Ada bagian tulisan yang terhapus tetapi masih bisa terbaca. Seolah-olah ada unsur kesengajaan supaya saya tetap bisa membacanya.

Dari hati yang paling dalam (sedalam sumur cintaku)
‘AKU SANGAT CINTA KAKAK’

Gubraakkk!! xO

Kocak banget nih siswa! Saya tahu ini angket dari siapa. Namanya Inggar. Memang, siswa laki-laki berkulit hitam manis dan bertubuh jangkung yang satu ini sering dijadikan bahan olokan setiap saya mengajar di kelas. Konon katanya ia menyukai saya (ah, dasar anak-anak..). Tak jarang muka saya dibuat merah menahan malu karena ulah dia dan teman-teman sekelasnya.😀

Pernah ketika pembelajaran sedang berlangsung, saya memberi kesempatan pada siswa yang mau mencoba mengerjakan soal di papan tulis. Para siswa–yang seluruhnya laki-laki ini–serempak menunjuk Inggar untuk melakukannya. Dengan malu-malu, Inggar pun maju ke depan kelas. Saya menyerahkan spidol padanya, dan mulailah keluar suara-suara yang membuat kelas menjadi rusuh.

“Ciiiieeeeeee……..!!”😀

“Prikitiiiiiiwwww…….!!”😀

“Aaaahahahahaaaaa….!!”😀

Entahlah, saat itu tidak ada ekspresi yang bisa saya tunjukkan selain ikut tertawa bersama mereka. Parahnya, tawa saya terlalu nikmat sampai saya tidak sadar dengan apa yang terjadi pada muka saya.

“Eh, wajah kakaknya merah, hey!! Hahahaha!!”

Ah!! Tidak! Tidak! Tidak! Ini muka kenapa pake berubah warna segala, sih?? Jangan sampai mereka salah mengartikan merahnya wajah saya.(_ _”)

Selain itu, di hari lain ketika pembelajaran akan saya tutup, Inggar juga pernah tiba-tiba bertanya. Suaranya yang nge-bass dan keras membuat semua telinga di kelas itu mendengarnya dengan jelas. “Kak! Pulang sama siapa?” Pertanyaan Inggar disambut dengan gelak tawa teman-temannya–juga saya.😀

“Sendiri,” saya menjawab seadanya.

“Naik motor?” Ia bertanya lebih detail.

“Nggak, naik angkot.”

“Saya anter aja ya, Kak!”

Ah!! Lagi-lagi saya tertawa lepas, membuat muka saya memanas–dan merah juga pastinya. “Kamu pake motor?”

“Nggak, naik angkot juga.”

Hahahahaaa!! Kami kira ia menawarkan pulang bersama karena ia membawa motor. Tawa kami pun pecah untuk yang ke-sekian kalinya.😀

9 thoughts on “Say ‘Love’

  1. Mba ceritanya kocak banget. Saya berasa mengalami secara pribadi bahkan hanya dengan baca cerita-cerita mba. Salut pokoknya buat mba dini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s