Malam Jumat yang Bikin Merinding

sue_cartoon
Sumber Gambar

KECOAK
COCKROACH
CUCUNGUK

Ah, entah bagaimana sejarahnya saya bisa takut pada serangga yang satu ini. Kalau saya berada–hanya berdua saja dengan kecoak–di dalam ruangan yang kecil, saya bisa sangat panik dibuatnya, bahkan menangis pun tak tertahankan. Berkali-kali saya disuruh latihan menghadapi kecoak oleh bapak saya, namun saya lebih memilih menghindar. Ketakutan saya terhadap kecoak membuat radar saya terhadap keberadaan kecoak menjadi cukup tinggi. Kadang, kecoaknya belum muncul, tetapi baunya sudah bisa tercium.πŸ˜€

Saat itu malam jumat. Jadwal mengajar saya–seperti biasa–sampai pukul delapan malam. Tubuh saya sangat lemas. Setelah makan siang, saya tidak makan dan minum apapun lagi sampai selesai mengajar. Akhirnya, saya pun berencana untuk mampir dulu ke sebuah mall di Jakarta sebelum pulang. Sebelum sampai di lokasi restoran, bayangan satu mangkuk soto ayam yang hangat dilengkapi dengan sepiring nasi sudah memenuhi benak saya. Lapaaarrr… 😦

Setelah berjuang melawan kelelahan, akhirnya saya pun tiba di sebuah restoran kecil yang menjual soto ayam. Saya memilih duduk di pojok ruangan sebelah dapur. Tanpa basa-basi, langsung saja saya memesan makanan yang sejak tadi sudah terngiang-ngiang di pikiran saya. Sambil menunggu makanan datang, saya iseng melihat keadaan sekitar. And you know what, Guys? Dari sudut tembok yang sedikit bolong keluar banyak anak-anak kecoak. Dan saya tahu mereka berasal dari ruangan sebelah saya: dapur. Pemandangan tersebut membuat saya geli dan merasa jijik. Saya pun memutuskan untuk pindah ke tempat duduk lain yang jauh dari pojok ruangan.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya makanan yang ditunggu-tunggu pun tersaji juga di atas meja. Langsung saja saya menyantapnya dengan lahap dan–

…sebentar…Makanan ini asalnya kan dari dapur. Mungkinkah anak-anak kecoak itu ada yang bermain air di dalam kuah soto? Aaaaahhh…Β  xO

Tapi, the power of laper saya bekerja cukup bagus kali ini. Saya tetap bernafsu untuk melanjutkan makan meski sesekali ada anak kecoak yang sudah beranjak remaja melewati tembok di samping saya. Ya, saya jadi lebih berhati-hati menyuapkan makanan, juga mata ini terus awas terhadap sekeliling saya. Sungguh, makan malam kali ini sangat mengancam saya. Nggak tenang sama sekali. Ditambah lagi dengan para pegawai yang mulai mengangkat-angkat kursi ke atas meja pertanda restoran akan segera tutup. Inilah yang dinamakan “mengusir pelanggan secara halus”. Ampun, deh..😦

Alhamdulillah, selesai sudah makan di tempat yang ‘seram’Β  ini. Sepertinya saya tidak mau lagi datang ke tempat ini, kecuali kalau the power of laper saya kembali muncul dan nggak ada pilihan makanan lain. Setelah makan, saya pun berjalan ke depan mall dan menaiki angkot yang bisa mengantarkan saya ke depan gang menuju tempat kost. Saya yang saat itu berjaket hitam, berkerudung hijau, dan bermasker coklat duduk di hadapan pintu masuk agak ke dalam sedikit. Seluruh penumpangnya perempuan. Ternyata banyak juga perempuan yang pulang kerja malam-malam begini, pikir saya. Lampu angkot saat itu sangat terang, sehingga saya tertarik mengisi luang waktu selama di angkot untuk membaca buku yang saya bawa.

Tak lama setelah angkot melaju, naiklah seorang pengamen remaja yang lebih terlihat seperti orang dewasa ke angkot yang saya naiki. Ia memakai baju berlengan pendek. Botol plastik berisi sedikit beras siap mengiringi ‘konser’nya. Saya tidak begitu mempedulikannya karena sedang berkonsentrasi membaca. Namun sepintas saya melihat dia bernyanyi sambil cengar-cengir. Lagu yang dinyanyikan dengan suara yang seadanya itu perlahan mengganggu konsentrasi saya. Bagaimana tidak? Pengamen itu menyanyikan lagu sampai ke detail suara alat musiknya, “Teroret…teroreet…Jreng..jrengjreng..”

Pengamen ini telah menyanyikan satu lagu penuh. Saya pikir ia memang sudah selesai bernyanyi. Ternyata masih ada lagu yang kedua!! Ya, ampun… Kalau begini, kapan kelarnya… Saya terus berusaha memusatkan konsentrasi saya pada bacaan. Saya sampai berulang-ulang membaca kalimat-kalimat yang ada karena mendadak sulit dimengerti. Dan semua konsentrasi saya benar-benar buyar saat saya mendengar lirik lagu kedua yang dinyanyikan oleh Sang Pengamen. Kurang lebih seperti ini:

“Oh, kasihku… Cintaku… Sayangku… Kau sangat cantik sekali…”

Jujur, saya agak sulit menebak lirik lagu apa itu. Nada yang ia bawakan juga seperti seenaknya dia saja.

“Engkau yang memakai baju hitam…”

Mata saya mendadak melotot. Bukan saya, kan? Tapi kenapa perempuan di sebelah kanan saya mengarahkan wajahnya ke arah saya? Hey! Memangnya yang memakai baju hitam di sini hanya saya saja? Lagipula ini jaket, bukan baju. Tapi mata saya penasaran untuk melihat ke sekeliling ruangan angkot. Benar saja, hanya saya yang berpakaian warna hitam. Ah, mungkin memang lirik lagunya saja yang begitu. Tapi kok saya nggak pernah denger, ya..

“… berkerudung hijau…”

SAYA, DONG??? Jantung saya berdegup lebih kencang, menunggu kata-kata selanjutnya yang akan dinyanyikan Sang Pengamen. Dan ternyata lanjutannya adalah…

“… dan memakai masker.”

ITU MAH SAYA BANGEEEET!!! Uuuh.. Merinding jadinya… Pengamen zaman sekarang ada-ada aja deh, ah! Dari sekian banyak perempuan di dalam angkot, kenapa mesti saya yang jadi sasaran, Bung?? Cekikikan para penumpang angkot membuat saya malu dan gerah. Rasanya ingin segera turun, tapi nanggung. Ya, sudah. Pandangan saya saat itu tetap fokus pada buku, berpura-pura tidak mendengar nyanyian asal Sang Pengamen. Ya, saya memang fokus pada buku, tetapi tak ada satu pun kata yang saya baca. Ckckck…

Apa-apaan ini? Saya sudah mau turun, Tetapi Sang Pengamen belum turun juga. Saya sempat takut kalau nanti dia ikut saya turun dan mengikuti saya. Mana hari sudah malam dan jalan menuju ke tempat kost pun sepi. Bagaimana ini…

Saya sudah sampai di tempat tujuan. Pengamen itu turun, memberi jalan pada saya untuk keluar. Nyanyian pengamen tadi membuat saya lupa untuk menyediakan uang pas, sehingga saya harus menunggu supir angkot menghitung uang kembaliannya. Sambil menunggu, pandangan saya lurus pada supir angkot. Namun, ujung mata kanan saya menangkap bayangan pengamen yang tampaknya sedang memperhatikan saya. Setelah saya mengambil uang kembaliannya, saya segera berbalik supaya pengamen itu tak bisa memandangi wajah saya lagi. Alhamdulillah, pengamen itu kembali menaiki angkot dan ikut melaju bersama angkot, tidak mengikuti saya seperti apa yang saya takutkan sebelumnya. Tetapi sebelum ia pergi, ia mengucapkan, “Hati-hati di jalan, yaaaa…”
>.<

Apakah mungkin ya dia terinspirasi dari drama-drama Korea ataupun sinetron-sinetron Indonesia? Sang Pengamen yang menyatakan rasa sukanya pada penumpang angkot membuat penumpang angkot tersipu malu dan suka juga pada Sang Pengamen. Lalu mereka mulai saling bertemu di jalanan dan mengobrol banyak hal yang membuat Sang Gadis semakin kagum. Namun, orang tua gadis itu menentang hubungan mereka. Kemudian…bla…bla…bla… (Atau justru sayalah yang jadi korban sinetron, ya? Hahahahaaa..)πŸ˜€

8 thoughts on “Malam Jumat yang Bikin Merinding

  1. Hahahahahahhaa…. Lucu juga ceritanya mbk.. Saya jd Ikut membayangkan.. Nice storyπŸ˜‰ hati2 jd korban sinetron mbk.. Takutnya Tr kejadian beneran hahahahaha…. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s