Tragedi Kecoa

No

Baru saja ada siswa yang lari terbirit-birit sambil berteriak, “Ada kecoa! Ada kecoa terbang!” Saya—yang sedang shalat di mushola—seketika itu hilang konsentrasi. Saya merasa terancam saat itu juga. Masalahnya, siswa yang berteriak itu berlari ke arah mushola. Saya jadi khawatir kecoa itu terbang ke arah mushola juga dan menghampiri saya yang sedang shalat. Namun ternyata yang terjadi tidak seperti yang saya duga. Siswa tersebut sudah tenang, tidak ketakutan lagi. Dan saya pun kembali fokus shalat. Astaghfirullaah..😦

Selesai shalat, saya bertanya pada siswa tersebut, “Tadi bener ada kecoa terbang?”

Sebelum dia menjawab, temannya menimpali pertanyaan saya, “Jiiaah.. Kak Dini takut. Hahaha..”

Malu? Sama sekali tidak. Biarlah mereka menertawakan saya yang takut kecoa ini daripada saya terancam karena tidak tahu di mana kecoa itu berada. “Bener, Kak. Tadi ada kecoa terbang di situ,” ia menunjuk ke arah luar mushola.

Ah, saat itu juga saya merasa di luar sana sangat gelap, dingin, dan mencekam. Selesai memakai sepatu, saya melangkah perlahan-lahan dan sangat hati-hati. Begitu keluar mushola, saya menatap seluruh sudut—mencari sesosok kecoa. Hasilnya nihil. Saya sedikit kecewa.. Karena jika kecoa tersebut tidak ditemukan, artinya ia masih mengancam saya selama saya ada di sini, di lokasi saya mengajar hari ini. Mungkin Sang Kecoa tidak bermaksud mengancam, tetapi saya terancam. Sangat terancam. Apalagi dia bisa terbang. Uuuh… Kepakan sayap kecoa saat terbang itu sungguh tidak enak didengar.😦

Kejadian itu mengingatkan saya pada tragedi kecoa yang pernah saya alami beberapa waktu lalu. Saya tidak ingat kapan kejadian itu terjadi. Hari, tanggal, dan bulan berapa saya lupa. Yang jelas ini terjadi di tahun kemarin—tahun 2014—saat saya sudah menikah dan tinggal bersama suami di sebuah rumah kontrakan di lantai bawah. Rumah kontrakan ini berupa gedung besar dua lantai yang berisi lebih dari 20 rumah dengan tipe yang berbeda-beda. Mirip rumah susun, tapi hanya dua lantai. Ada kamar kost—yang dalamnya hanya satu kamar dan kamar mandi; ada rumah petakan—dua kamar dan satu kamar mandi; ada rumah kontrakan—berisi satu kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi, juga ada tipe rumah kontrakan yang di dalamnya terdapat dua kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Kami tinggal di rumah tipe ketiga: rumah kontrakan satu kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi.

Saat itu, pukul 10 malam, kami—saya dan suami—baru pulang dari mall dengan membawa beberapa kantung belanjaan. Banyak persediaan di rumah yang sudah habis. Jadi, belanjaan kami saat ini cukup banyak dan membuat kami lelah membawanya. Sesampainya di rumah, saya kaget karena ternyata AC di ruang tamu masih menyala. Saya lupa mematikannya sebelum berangkat kerja tadi siang. Di satu sisi saya menyesal karena otomatis pemakaian listrik jadi boros. Namun, di sisi lain, saya dan suami merasa nyaman karena begitu membuka pintu, kami disambut dengan sejuknya AC yang membuat lelah kami terobati. Ya sudah, lah. Mau bagaimana lagi, dinikmati saja. Kami sama-sama melepas lelah di ruang tamu sambil asyik dengan gadget masing-masing. Belanjaannya kami biarkan dulu.

Tak terasa, 30 menit berlalu. Saya pun berinisiatif untuk membereskan belanjaan. Saya membawa kantung-kantung plastik itu ke dapur. Ada beberapa bahan makanan yang harus dimasukkan ke dalam kulkas. Sementara itu, suami masih sibuk dengan Samsung Galaxy-nya. Begitu saya memasuki kawasan dapur, ujung mata kiri saya menangkap gerakan tiba-tiba dari depan pintu kamar mandi. Yaaah.. Kecoa. Sebel deh kalau udah kayak gini, batin saya.

“Aa…” saya memanggil suami saya segera. Biar suami saja yang urus. “Cepetan ke sini.. Ini ada kecoa di dapur.” Suami masih belum mengalihkan perhatian dari handphone­-nya. Bikin saya gereget. “Aa… Udah dulu main hapenya… Ke sini dulu…” Saya kembali memanggil suami sambil terus memfokuskan pandangan pada kecoa tersebut. Saya takut kehilangan jejaknya.

Akhirnya suami menghampiri saya juga. Saya langsung menunjuk ke arah kecoa berada. “Semprot aja, A, pake Hit.”

“Mana Hit-nya?” Saya—dengan cekatan—mengambil pembasmi serangga tersebut ke ruang tamu. Ada dua botol di sana. Saya ambil salah satunya dan segera memberikannya pada suami. Saya memperhatikan suami dan kecoa dari kejauhan (nggak jauh-jauh amat, sih. Paling jarak satu meter. Hihihi..). Suami agak kewalahan karena kecoa tersebut lincah. Ketika itu, saya melihat kecoa di belakang suami. Saya pikir suami saya kehilangan jejak kecoa tadi. Ternyata kecoanya ada dua. Ya, ampun.. Dua kecoa sekaligus merusak suasana malam kami di rumah—khususnya saya. Kalau suami, sih, biasa-biasa saja. Mungkin kecoa di matanya seperti seekor semut, tidak menakutkan sama sekali. Lain halnya dengan saya, hanya dengan menatap kecoa saja badan saya bisa merinding. Rasa takut menyeruak ke seluruh tubuh.😦

Kedua kecoa tadi agak bandel rupanya. Lincah dan kompak. Keduanya sama-sama menuju kamar mandi. Mereka masuk melalui celah pintu bagian bawah. Begitu suami saya membuka pintu kamar mandi…

“De, tutup pintu yang ke ruang tamu! Jangan ke sini! Ade di ruang tamu aja!” Suami berteriak dari dalam kamar mandi yang tadi langsung ia tutup kembali pintunya.

“Ada apa, A? Kenapa?” Saya panik. Berusaha menangkis segala bayangan seram yang mendadak muncul di pikiran saya.

“Pokoknya tutup aja dulu!”

Saya menuruti apa kata suami. Terdengar suara semprotan pembasmi serangga berkali-kali dari dalam kamar mandi. Bayangan mengerikan semakin menjadi. Mungkinkah ada banyak kecoa di dalam sana? Berapa ekor? Lima? Sepuluh? Mengapa bisa begitu? Ada apa ini? Saya semakin panik. Panik yang dibuat oleh diri sendiri karena tak mampu meredakan pikiran negatif beserta bayangannya. Tangan saya mulai gemetar. Napas pun tak beraturan. Saya benar-benar tak tahu apa yang terjadi. Suami masih saja menyemprotkan pembasmi serangga. Lagi, lagi, dan lagi. Sesekali terdengar suara batuk dan—

Dug!!

“Kenapa, A?” Saya heran dengan suara tersebut. Sepertinya ada bagian tubuh suami yang terkena pintu hingga menimbulkan suara keras.

“Nggak apa-apa,” suami hanya menjawab singkat. Lagi-lagi membuat saya berpikir yang tidak-tidak, atau pikiran saya benar adanya. Ah, sedang apa suami saya di dalam sana? Sesulit itukah membasmi dua ekor kecoa? Saya mencoba berpikir positif.

Suami tak kunjung keluar. Tidak ada yang bisa saya lakukan, kecuali—

Ah! Ya! Saya kan masih punya persediaan Hit satu lagi. Saya juga heran, mengapa ada dua botol Hit di rumah ini. Tetapi saya justru bersyukur karena dengan begini saya jadi punya senjata juga, sementara senjata lain di tangan suami. Segera saya ambil pembasmi serangga tersebut dan standby di dekat pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang lain. Mata saya tak bisa diam ke satu arah. Saya khawatir ada kecoa lain di ruangan ini yang mungkin sedang bersembunyi. Saya telusuri belakang rak buku, belakang lemari televisi, tempat sepatu, pokoknya semua sudut saya selidiki dengan penuh rasa cemas dan waspada.

Saat saya sedang melihat celah satu per satu, pintu ruangan terbuka. Kepala suami menyembul dari balik pintu. Wajahnya penuh keringat. Perlahan suami masuk ke ruang tamu, menutup pintunya kembali, dan menghempaskan tubuhnya di lantai sambil terengah-engah. Saya pun ikut duduk dengannya dan menunggu penjelasan darinya dengan penuh rasa penasaran.

Hhh… Hhh… Ade nggak akan percaya. Hhh… Hhh…

“Kenapa, Aa? Ada apa? Kecoanya banyak? Ada berapa? Gimana ceritanya? Terus, sekarang udah pada mati atau gimana?” Sungguh, saya dibakar oleh rasa penasaran saya. Pertanyaan yang saya ajukan benar-benar tak bisa tertahan.

Setelah minum beberapa teguk dari botol minuman, suami akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar mandi. “Jadi gini. Tadi kan Aa lagi ngejar satu kecoa, ternyata di belakang Aa juga ada, jadi ada dua kan kecoanya,” saya mengangguk. “Terus, dua-duanya pada masuk ke kamar mandi. Pas Aa buka pintunya, ternyata di dalam kamar mandi Aa lihat kurang lebih ada lima kecoa. Ya, udah, Aa semprotin tuh kecoa-kecoanya. Aa semprot ke lantai, tapi tiba-tiba ada kecoa lain yang jatuh dari atas, kena ke Aa. Aa kaget, akhirnya tangan Aa refleks gerak dan akhirnya sikut Aa kena pintu.”

“Ooh.. Makanya tadi ada bunyi keras dari kamar mandi. Ternyata gara-gara kaget ada kecoa jatuh, toh.. Terus abis itu gimana?”

Suami melanjutkan lagi ceritanya. “Nah, terus kan Aa penasaran dari mana datangnya para kecoa itu, akhirnya Aa iseng nyemprotin Hit ke lubang tempat saluran pipa yang di kamar mandi itu. Abis nyemprot, keluarlah rombongan angkatan udara kecoa. Banyak banget, De! Ade nggak akan percaya! Aa aja kaget ngelihatnya.”

Seketika itu mulut saya menganga dan segera ditutup oleh kedua telapak tangan saya. ‘Rombongan’, katanya? Bulu kuduk saya merinding mendengarnya. Ternyata benar saja, pikiran negatif dan bayangan seram saya tadi memang terjadi. Banyak kecoa di kamar mandi, dan sepertinya bukan sepuluh ekor. Kata suami ‘banyak banget’. Apa itu berarti lebih dari sepuluh ekor? Ya, Allah… Mengapa bisa begini… Saya lemas.😦

Suami kembali ke kamar mandi hendak memeriksa apakah kecoanya bertambah atau sudah mati semua. Kali ini suami memakai masker. Saya masih belum berani melihatnya. Sejak awal suami memang melarang saya untuk melihatnya. Satu kecoa saja cukup membuat saya ketakutan, apalagi sepuluh ekor—eh, mungkin lebih? Saya tetap siaga di ruang tamu saja, khawatir ada kecoa yang kabur dari kamar mandi tanpa sepengetahuan suami dan masuk ke ruang tamu.

Hey! Sepertinya ada pertambahan kecoa. Suami masih saja menyemprotkan pembasmi serangga beraroma lavender itu. Perpaduan antara wangi lavender dan bau kecoa lama-lama membuat perut saya terasa mual. Sama sekali bukan perpaduan yang pas.

Suami kembali ke ruang tamu sambil menawarkan informasi, “De, mau tahu nggak ada berapa kecoa di dalam kamar mandi? Tadi Aa udah ngitung sambil dimasukkin kecoanya satu per satu ke dalam keresek.”

Hmm… Gimana ya, A, Dini belum berani dengernya.. Klu-nya aja, deh…

Suami menjawab, “Jumlahnya berupa bilangan genap.”

Aiihh… Matematika banget dah jawabannya. “Lebih dari sepuluh ya, A?”

“Iya, lah…” Suami menjawab dengan nada seolah-olah bilangan sepuluh jauh dari jumlah kecoa yang ada. “Semuanya ada—“

“JANGAN!!! Jangan disebutin dulu! Dini takut, ah! Dini belum berani. Nanti aja! Jangan dulu… Dini belum siap…” Jujur, saya sebenarnya penasaran, tetapi saat itu rasa takut saya melebihi rasa penasaran yang ada. Akhirnya saya minta suami untuk tidak dulu memberitahu saya.

“Ya, udah. Aa mau buang kecoa ke sungai. Mau ikut? Atau mau di rumah aja?”

“IKUT!!” Saya tidak mau ditinggal sendiri di rumah. Bagaimana kalau masih ada kecoa yang bersembunyi di rumah sementara suami lagi buang teman-temannya ke sungai?

Suami membawa keresek hitam yang kecil namun penuh dengan bangkai kecoa. Hanya melihat dari luar saja sudah membuat saya kembali merinding. Sesampainya di tepi sungai, suami membuang bangkai-bangkai kecoa itu. Tentu saja tidak dengan kereseknya. Kalau dengan kereseknya ya sama saja dengan buang sampah sembarangan. Saya melihatnya dari kejauhan (kali ini lebih dari satu meter). Saya melihat suami membuka ikatan kereseknya, lalu membalikkannya. Sepintas saya melihat kecoa-kecoa itu berjatuhan satu per satu, bahkan sesekali terlihat bersamaan. Cukup lama suami membalikkan kereseknya. Artinya, cukup banyak kecoa yang berjatuhan. Uuuuhh… Kepala saya sakit rasanya.😦

“Ada berapa, A, kecoanya?” Akhirnya saya tidak bisa menahan rasa penasaran saya lagi.

“Ada 22 ekor, De.”

WHAAAAT???!!!

“Aa aja baru kali ini ngebasmi kecoa sebanyak itu dalam sekali waktu.”

Allaahuakbar! Banyak sekali! Membasmi kecoa sebanyak itu di dalam ruangan sempit? Sungguh, suami saya benar-benar jadi pahlawan saya malam itu. Saya sangat berterima kasih padanya. (Love you full, Kakang Prabu!)😀

Malam itu, saya dan suami memutuskan untuk tidak mandi. Bahkan saya takut walaupun hanya ke kamar untuk berganti pakaian. Saya takut ada kecoa juga di kamar. Bau kecoa sudah menyeruak ke seluruh ruangan di rumah. Membuat perut mual. Akhirnya saya dan suami tidur di ruang tamu, saling menjaga satu sama lain. Lebih tepatnya, suami yang menjaga saya. Saya kesulitan tidur. Saya berusaha memejamkan mata saya agar tertidur, tetap saja tidak bisa tidur. Tiap kali mata saya terpejam, saat itu juga bayangan seram menghantui saya. Dalam bayangan saya, saya terbangun dengan tubuh yang dikerumuni oleh kecoa. Aaaaahhhhh!!! Enyah kau pikiran negatif!!! >o<

Pada akhirnya saya tertidur juga. Namun, seperti tragedi belatung yang pernah saya alami dulu, ada kecoa juga di dalam mimpi saya. Ini semua membuat malam saya terasa sangat panjang.

Saya bangun dengan kondisi yang tidak vit. Suami terpaksa tidak masuk kantor. Hari itu juga kami akan pindah rumah, tapi masih di dalam gedung yang sama. Kami akan pindah ke rumah kontrakan yang lebih besar di lantai dua. Alhamdulillah, ada yang kosong. Kami memang berencana pindah sebelumnya. Tetapi masih beberapa hari lagi. Kepindahan kami dipercepat karena tragedi semalam. Saya tidak akan sanggup tinggal di rumah itu lagi walau hanya sehari. Akhirnya kami berbenah. Saya membereskan semua barang dengan penuh kehati-hatian karena masih trauma. Sayang sekali saya tidak bisa izin kerja. Siang hari saya harus berangkat kerja dan baru akan pulang jam delapan malam. Dengan berat hati saya meninggalkan suami melanjutkan kegiatan pindah rumah itu sendirian. Sorenya, saya meminta bantuan pada rekan kerja saya yang sedang tidak bertugas untuk datang ke rumah. Tentu saja ia seorang pria. Jadi, ia bisa membantu suami saya untuk mengangkat barang-barang berat. Tak sabar rasanya saya ingin segera ada di rumah.

Selesai mengajar, saya langsung pulang dan janji bertemu dengan rekan kerja wanita yang juga ingin ikut membantu. Sesampainya di rumah, Alhamdulillah, sebagian besar barang sudah diangkut ke rumah baru di lantai dua. Jadi, saya dan rekan saya yang baru tiba tinggal membantu mengangkat barang-barang yang ringan saja. Setelah semua barang selesai dipindahkan, kedua rekan kerja saya kembali ke rumah masing-masing (thank’s, friends). Kini, tinggallah kami berdua—saya dan suami—di rumah baru yang sangat berantakan, kecuali kamar tidur. Ya, kamar tidur sudah tertata rapi. Lagipula isi kamar tidur hanya kasur dan lemari. Hehehe… 😀

And you know what?
Ketika saya hendak menutup pintu kamar, muncul sesosok kecoa berwarna agak kehitaman. Stress saya terpancing lagi. Namun kali ini hanya sebentar. Suami bilang, “Ooh… Ini mah kecoa tipe penyendiri. Dia nggak akan bawa temen-temennya yang lain kayak kejadian semalem.”

Haah? Suami tahu aja ada kecoa tipe penyendiri. Apa mungkin karena suami tahu betul bahwa saya takut kecoa, jadi selama ini ia mencari tahu jenis-jenis kecoa yang ada di dunia? Hahaha… 😀

Setelah kecoa tersebut disingkirkan oleh suami saya, kami pun akhirnya bisa beristirahat dengan tenang sampai keesokan harinya. Lantas saya berpikir, mengapa kok bisa ada kecoa sebanyak itu di rumah lama kami. Senyaman itukah kamar mandi kami sampai mereka betah di sana? Atau… Ah! AC! Apa mungkin AC yang dinyalakan seharian membuat udara di rumah menjadi terasa sangat nyaman, bahkan kecoa pun berpendapat yang sama? Entahlah…

Kecoa, oh, kecoa…
(_ _”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s