Hati-hati Saat Berbelanja

shopping_cartoon1
Sumber Gambar

Halo.
Kamu suka belanja? Atau kamu membenci kegiatan yang satu ini?
Sepertinya kegiatan berbelanja bukan dilakukan karena suka atau tidak suka.
It’s all about necessary. Semua orang berbelanja karena kebutuhan. Suka atau tidak, kalau butuh ya belanja.😀

Saya pribadi suka dengan kegiatan ini. Maklum, naluri ibu rumah tangga (padahal sebelum nikah juga udah hobi shopping. Hehehe…). Kalau masuk toko swalayan atau supermarket, rasanya ingin membeli semua yang ada di dalam gedung. Apalagi kalau di dalamnya terdapat banyak sekali barang-barang yang bagus. Tetapi keinginan itu tidak pernah tercapai setelah melihat isi dompet. Hahaha.. 😀 Lagipula dalam sejarah perbelanjaan rasanya tidak ada cerita seorang konglomerat berbelanja hingga isi toko habis semua (atau sayanya aja yang nggak tau, ya?)

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman buruk dalam berbelanja. Ya, tidak selamanya kegiatan ini menyenangkan memang. Adakalanya kita mengalami hal-hal menyebalkan. Dan semua ini akan saya bagi dengan harapan jangan sampai terjadi pada kalian, readers. Orang yang ceroboh ada di mana-mana. Orang yang berniat jahat pun ada di mana-mana. Dan kita tidak bisa membedakan kedua jenis orang tersebut. Yang perlu kita lakukan hanyalah berhati-hati. That’s it. 🙂

So, here they are.

  1. 3 Juni 2015
    Saat itu udara sangat panas. Kayaknya enak nih kalo beli es krim lagi panas-panas gini, pikir saya. Akhirnya saya menuju toko terdekat. Sebut saja namanya BlablablaMart. Langsung saja saya menuju tempat es krim berada. Oke, di daftar harganya tertera bahwa harga es krim yang mau saya beli adalah Rp4.000,00. Saya ambil es krimnya dan menuju kasir untuk membayarnya.
    Saya harus mengantri sebentar. Ternyata cukup ramai juga pembelinya. Perhatian saya ke mana-mana hingga tiba giliran anak kecil di depan saya yang membayar belanjaannya. Dan, hey, apa yang dia beli sama persis dengan apa yang saya beli. Es krim yang sama. Sepertinya kami jodoh (gubrak. Ngaco. Skip). Namun, yang terjadi adalah anak tersebut harus membayar Rp4.300,00. Ini ada yang aneh. Bukankah harganya Rp4.000,00?
    Kini giliran saya yang membayar. Dan ternyata saya pun mengalami hal yang sama. Ya saya protes, dong. Memang sih perbedaannya hanya Rp300,00. Tetapi tetap saja hal ini harus diklarifikasi. Mungkin saja saya yang salah lihat harga.

    Saya : Loh? Mbak, bukannya harganya empat ribu, ya?
    Mbak kasir : Bukan. Empat ribu tiga ratus.
    Saya : Ah, saya liat di sananya harganya empat ribu, loh.
    Mbak kasir sepertinya tidak mau ambil pusing. Dan kesimpulannya adalah…
    Mbak kasir : Yaudah, saya kurangi aja. (Dengan wajah sedikit judes)

    Laaaaah?? Gimana, sih? Kalau memang harganya Rp4.300,00 ya bilang saja tulisan harganya belum diubah dan harganya memang naik. Atau kalau memang saya yang salah lihat harga, ya suruh saja saya lihat lagi harganya. Kali aja saya salah lihat. It’s ok. Kan kalau memang begitu berarti saya yang salah.
    Tetapi kalau kesimpulannya seperti ini malah bisa membuat saya berpikir kalau tadi harganya sengaja ditambahkan sendiri sama Mbak-nya. Nah, loh.. Nggak jelas, kan..
    (_ _”)

  2. Masih di tanggal yang sama, 3 Juni 2015
    Kelanjutan cerita seputar aktivitas perbelanjaan hari ini…
    Beberapa jam setelah berkunjung ke BlablablaMart dengan segala konflik batin dan pikiran, saya berkunjung ke tempat lain yang lebih besar untuk membeli minyak goreng. Kali ini nama tempatnya tidak memakai kata “mart” di ujungnya.
    Dengan jelas, saya melihat harganya sekitar 24 ribuan. Saya begitu memperhatikan harga karena uang tunai di dompet saya lagi pas-pasan dan saya malas ke ATM. Setelah dipastikan uangnya cukup, saya pun menuju kasir untuk membayarnya.
    Begitu discan, ternyata harganya 26 ribuan. Beda dua ribu-an.. Ah, hari ini sampai mengalami dua kali kejadian yg sama. Cape, deh…
    Lalu saya kembali protes.

    Saya : Mbak, harganya bukan 24 ribuan?
    Mbak kasir : Bukan. 26 ribu.
    Saya : Loh, tadi saya lihat di sananya tertulis 24 ribuan kok, Mbak.
    Mbak kasir : Wah.. kayaknya di sana belum diganti harganya.
    Lalu dengan sigap petugas yg lain segera memeriksa ke tekape alias ke tempat minyak goreng berasal. Karena agak lama, akhirnya Mbak kasir meneruskan pembicaraan.
    Mbak kasir : Kalo harganya memang 26 ribuan tetep mau beli nggak, Mbak?
    Saya (setelah yakin bahwa uangnya ada) : Oh, yaudah, gapapa.

    Saya sebetulnya nggak mempermasalahkan harga, hanya saja saya ingin menegur jangan sampai harganya dibiarkan tidak sesuai. Kelihatannya murah, padahal bisa jadi aslinya lebih mahal dari tempat lain.
    Setelah transaksi, saya penasaran. Apa iya saya salah lihat harga. Terus, saya bertemu dengan petugas yg mengecek harga tadi.

    Saya : Gimana, Mbak? 24 ribuan kan, ya?
    Mbak Petugas : Iya, betul. Masih belum diganti.
    Saya : Oh, iya. Ga apa-apa. Tolong segera diganti aja harganya ya, Mbak. 🙂

    Nah, kalau kasus yang ini sih oke. Terpecahkan. Berbeda dengan kasus di BlablablaMart tadi. Nggak jelas..
    (_ _”)

  3. Mundur ke tahun lalu, 2 Desember 2014
    Saat itu saya berkunjung ke toko “Ceroboh”–sebut saja begitu. Makanan yang ingin saya beli ternyata sedang kosong stoknya. Lalu saya tertarik untuk membeli biskuit. Namun, saya lihat bungkusnya sudah berdebu dan lusuh. Padahal ini toko terkenal, loh..
    Saya pikir mungkin karena penyimpanannya saja yang kurang rapi dan bersih. Tapi ternyata di bungkusnya jelas tercetak :
    24 OKT 2014
    Langsung aja saya panggil mas-mas karyawan toko yang berkeliaran di sekitar situ.

    Saya : Mas, ini udah kadaluwarsa, ya?
    Mas-mas : Coba, lihat. Oh, iya. Maaf, belum dipisahin.. (pergi begitu saja sambil membawa biskuit tersebut)
    Saya : Mas, ini masih banyak di sini. Tolong diambil juga, ya.
    Mas-mas : Oh, iya. Ini, Mbak, barang yang barunya sebelah sini.
    Saya pun menghampiri tempat yang ia tunjuk. Dan, waw.. Tanggal kadaluwarsa yang tercetak di bungkusnya justru lebih awal sebulan, yaitu bulan September. Hellooooowww…
    Saya : Ini juga udah kadaluwarsa, Mas.
    Mas-mas : (Segera mangurusi makanan-makanan kadaluwarsa tersebut dengan gugup)

    Akhirnya saya keluar dari toko dengan tangan kosong.Teman-teman, kecerobohan bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Jadi, alangkah baiknya setiap kita akan membeli makanan, perhatikan tanggal kadaluwarsanya, ya. Kalau menemukan makanan yang sudah kadaluwarsa, tegur saja pegawainya baik-baik. Bisa jadi ini memang unsur kecerobohan saja, bukan disengaja. Lebih baik kita yang tegur pegawainya baik-baik daripada mereka kena semprot kepala tokonya kalau ketahuan ceroboh. Dan dengan menegur, berarti kita juga telah menyelamatkan pembeli lain yang mungkin saja membeli dan memakan makanan tersebut tanpa melihat tanggal kadaluwarsanya.🙂

See? Menyebalkan, bukan? Tidak hanya itu, saya juga pernah membeli satu barang tetapi dihitung dua karena kasirnya ceroboh (atau mungkin sengaja? Entahlah..). Kalau harganya murah sih mendingan. Lah ini harga satuannya Rp50.000,00. Bisa tekor kalau begini terus.

Aku tuh nggak bisa diginiin.😦

Jadi, berhati-hatilah saat berbelanja. Semoga apa yang saya alami ini tidak terjadi lagi pada diri saya khususnya, dan teman-teman pembaca pada umumnya, karena kalau sampai terjadi dan baru ketahuan saat sudah sampai di rumah, sakitnya tuh di sini.😦

Semoga bermanfaat.
Happy shopping, all! 😀

2 thoughts on “Hati-hati Saat Berbelanja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s